Kebangkitan Sinema Kolektif:
Next Step Studio Indonesia Menuju Panggung Dunia
Next Step Studio Indonesia debut di Semaine de la Critique! Simak kolaborasi epik 8 sutradara Asia Tenggara dalam 4 film pendek inovatif yang mengeksplorasi perspektif baru langsung dari jantung Jakarta.
Industri perfilman Asia Tenggara tengah menyaksikan sebuah eksperimen artistik yang ambisius dan penuh gairah. Next Step Studio Indonesia secara resmi memperkenalkan edisi pertamanya dengan visi yang melampaui batas-batas geografis. Mengusung semangat kolaborasi tanpa batas, studio ini berhasil menyatukan delapan sineas muda berbakat untuk melahirkan empat film pendek yang tidak hanya mengeksplorasi narasi baru, tetapi juga merayakan keberagaman identitas regional.
Keberhasilan program ini semakin nyata dengan penayangan perdana (premiere) di Semaine de la Critique, salah satu bagian paling bergengsi dari Festival Film Cannes. Pencapaian ini menegaskan bahwa suara-suara dari Indonesia dan Asia Tenggara memiliki resonansi yang kuat di kancah internasional.
.jpg)
Source : Instagram @kawankawanmedia
Empat Film, Delapan Sutradara, Satu Visi
Inti dari Next Step Studio Indonesia adalah format kolaborasi yang unik: mempertemukan empat sutradara asal Indonesia dengan empat sutradara dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara (Malaysia, Myanmar, Filipina, dan Singapura). Mereka melakukan proses penulisan bersama (co-writing) dan penyutradaraan bersama (co-directing) di Jakarta, menciptakan sebuah kuali peleburan ide yang menghasilkan perspektif segar.
Berikut adalah empat karya yang lahir dari kolaborasi lintas negara tersebut:
HOLY CROWD
.jpg)
Source : Instagram @kawankawanmedia
Disutradarai oleh M. Reza Fahriyansyah (Indonesia) dan Ananth Subramaniam (Malaysia). Kolaborasi ini menyatukan dua talenta yang dikenal dengan pendekatan visual yang kuat dan narasi sosial yang tajam, mengeksplorasi dinamika massa dalam konteks budaya lokal yang kental.
ORIGINAL WOUND
.jpg)
Source : Instagram @kawankawanmedia
Karya dari Shelby Kho (Indonesia) dan Sein Lyan Tun (Myanmar). Film ini menjanjikan kedalaman emosional, menggabungkan sensibilitas puitis Sein Lyan Tun dengan visi kontemporer Shelby Kho dalam membedah luka-luka psikologis maupun sejarah.
ANNISA
.jpg)
Source : Instagram @kawankawanmedia
Sebuah kolaborasi yang sangat dinantikan antara aktor kawakan yang kini merambah dunia penyutradaraan, Reza Rahadian (Indonesia), dan sineas berbakat Sam Manacsa (Filipina). Melalui Annisa, keduanya mencoba menangkap esensi karakter perempuan dalam balutan narasi yang intim namun universal.
MOTHERS ARE MOTHERING
.jpg)
Source : Instagram @kawankawanmedia
Disutradarai oleh Khozy Rizal (Indonesia) dan Lam Li Shuen (Singapura). Dengan gaya Khozy yang seringkali nyeleneh namun jujur, dipadukan dengan ketelitian visual Lam Li Shuen, film ini mengeksplorasi tema keibuan dari sudut pandang yang tidak konvensional.
Ansambel Pemain Bertabur Bintang
Kualitas narasi dalam keempat film ini didukung oleh barisan aktor kelas atas Indonesia yang memberikan nyawa pada setiap karakternya. Nama-nama besar seperti Prilly Latuconsina dan Happy Salma bersanding dengan talenta-talenta berkarakter kuat seperti Asmara Abigail, Yusuf Mahardika, dan aktor senior Arswendy Bening Swara.
Daftar pemain lengkap yang terlibat menunjukkan komitmen Next Step Studio dalam menghadirkan akting yang berkualitas:
- Yudi Ahmad Tajudin
- Agnes Naomi
- Omara Esteghlal
- Vivian Idris
- Nazira C. Noer
- Choirunnisa Fernanda
Shakeel Fauzi
Kehadiran mereka tidak hanya sebagai penarik penonton, tetapi sebagai instrumen artistik yang menerjemahkan visi rumit para sutradara ke dalam performa yang memukau.
Kekuatan di Balik Layar: Produksi Lintas Sektor
Next Step Studio Indonesia bukan sekadar proyek film, melainkan sebuah konsorsium kreatif yang melibatkan banyak pihak. Dipimpin oleh KawanKawan Media, rumah produksi yang telah lama dikenal konsisten membawa film Indonesia ke festival kelas dunia, proyek ini juga merupakan hasil koproduksi dengan DW, Indra Sashi Kalanacitra, VMS Studio, Visinema Pictures, Navvaros Entertainment, Poplicist Publicist, dan Arungi Films.
Di kursi produser, nama Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma menjadi motor penggerak utama, didampingi oleh produser internasional Dominique Welinski serta Fanni Mardhotillah, Hannan Cinthya, dan Nazira C. Noer sebagai co-producers.
Dukungan finansial dan visi strategis juga datang dari barisan Eksekutif Produser yang impresif, termasuk Angga Dwimas Sasongko, Prilly Latuconsina, Melyana Tjahyadikarta, Madeleine Tjahyadikarta, Tony Ramesh, Antonny Liem, Muhammad Noviar Rahman, dan Trivet Sembel. Keterlibatan tokoh-tokoh ini menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara kreativitas seni dan keberlanjutan industri.
Estetika dan Keahlian Teknis
Keindahan visual dan auditif dari film-film ini dikerjakan oleh para profesional terbaik di bidangnya. Penulisan skenario mendapatkan sentuhan dari Makbul Mubarak (sutradara Autobiography) sebagai konsultan naskah, memastikan kekuatan cerita tetap terjaga.
Visual film ditangani oleh para sinematografer handal seperti Vera Lestafa I.C.S, Faozan Rizal I.C.S, dan Deska Binarso I.C.S, yang masing-masing membawa gaya unik dalam menangkap atmosfer Jakarta. Di meja penyuntingan, Carlo Francisco Manatad—editor ternama asal Filipina—bertugas merajut potongan gambar menjadi cerita yang kohesif.
Detail estetika lainnya didukung oleh:
- Production Designer: Sigit D. Pratama
- Costume Designer: Retno Ratih Damayanti
- Makeup & Hair: Adi Wahono & Aktris Handradjasa
- Art Directors: Dimas A. Kurniawan & Fairus Phiong
Sedangkan aspek teknis produksi di lapangan dikomandoi oleh Line Producers Fanni Mardhotillah dan Rayner Wijaya, memastikan proses syuting di Jakarta berjalan lancar meskipun melibatkan kolaborasi lintas negara yang kompleks.
Dukungan Ekosistem Sinema
Proyek ambisius ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan ekosistem film yang luas. Next Step Studio Indonesia mendapat dukungan penuh dari berbagai lembaga pemerintah dan organisasi kebudayaan, di antaranya:
- Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud)
- Disparekraf DKI Jakarta dan Jakarta Film Week
- Institut Français Indonesia (IFI) dan Kedutaan Besar Prancis
Selain itu, dukungan teknis dan fasilitas dari mitra seperti Titra Film, Alaplage Studio, Prodigi House Jakarta, dan Arungi Films memastikan standar pasca-produksi memenuhi kualitas internasional. Poster yang ikonik dikerjakan oleh seniman Wulang Sunu, memberikan identitas visual yang kuat bagi program ini.
Menatap Masa Depan Sinema Asia Tenggara
Next Step Studio Indonesia telah membuktikan bahwa Jakarta dapat menjadi episentrum kreativitas regional. Dengan menyatukan sutradara dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, dan Singapura, proyek ini telah meruntuhkan tembok-tembok isolasi kreatif.
Keberhasilan menembus Semaine de la Critique hanyalah langkah awal. Yang lebih penting adalah terciptanya jaringan kerja sama yang berkelanjutan antar sineas Asia Tenggara. Di tengah arus globalisasi, kolaborasi semacam ini menjadi kunci agar suara-suara dari "selatan" tetap terdengar nyaring, otentik, dan relevan.
Melalui Holy Crowd, Original Wound, Annisa, dan Mothers Are Mothering, kita diajak untuk melihat bahwa meskipun kita berasal dari latar belakang yang berbeda, ada emosi-emosi universal yang selalu menghubungkan kita semua. Next Step Studio Indonesia bukan sekadar studio; ia adalah sebuah gerakan menuju masa depan sinema yang lebih inklusif dan kolaboratif.
Melampaui Batas Narasi: Diplomasi Budaya Lewat Lensa
Kehadiran Next Step Studio Indonesia bukan sekadar proyek kolektif, melainkan sebuah bentuk diplomasi budaya yang organik. Di tengah dinamika geopolitik Asia Tenggara, sinema hadir sebagai jembatan yang menghubungkan keresahan serupa—mulai dari isu identitas, struktur keluarga, hingga kritik sosial yang dibalut dalam estetika visual. Jakarta, yang menjadi lokasi syuting utama, bukan lagi sekadar latar tempat, melainkan sebuah karakter yang hidup. Kota ini menjadi ruang temu di mana dialek Indonesia bersinggungan dengan sensibilitas sutradara asal Filipina atau Singapura, menciptakan tekstur audio-visual yang kaya dan belum pernah ada sebelumnya.
Keberanian untuk menduetkan sutradara lintas negara dalam satu kursi penyutradaraan adalah langkah yang sangat berisiko namun berbuah manis. Proses ini menuntut kerendahan hati artistik; di mana ego individu harus dikesampingkan demi visi bersama. Melalui bimbingan konsultan naskah seperti Makbul Mubarak, setiap film berhasil mempertahankan keunikan lokalnya namun tetap memiliki aksesibilitas bagi audiens global di festival internasional.
Pencapaian di Semaine de la Critique memberikan validasi bahwa model produksi kolaboratif ini adalah masa depan bagi industri film regional. Dengan dukungan kuat dari sektor swasta, komunitas kreatif, dan pemerintah, Next Step Studio Indonesia telah menetapkan standar baru. Proyek ini membuktikan bahwa ketika sineas Asia Tenggara bersatu, mereka tidak hanya menjadi penonton dalam industri global, tetapi menjadi pemain utama yang mampu mendefinisikan ulang arah sinema dunia. Ini adalah perayaan atas keberanian, kreativitas, dan persaudaraan tanpa batas di balik layar perak.