4 Film Remake dari Korea Selatan dengan Jumlah Penonton Terbanyak
Indonesia pernah beberapa kali membuat kembali sejumah film populer dari Negara Ginseng. Punya alur yang mirip, tapi digarap sesuai budaya lokal, membuat film remake tersebut tetap diminati.
Mengadopsi sebuah karya kemudian dibuat versi barunya atau remake merupakan hal yang wajar saja di industri hiburan. Salah satu produk yang sering mengalami perjalanan demikian ialan film. Ketika sebuah film sukses dan meledak di pasaran, maka banyak production house yang rela antre untuk mendapatkan lisensi membuat kembali cerita film yang sama tetapi diolah sesuai pasar lokal. Para sineas sudah sering melakukannya, khususnya film-film epik dengan atensi besar dari Korea Selatan. Jika diperhatikan, mungkin lebih dari 5 film telah dibuat kembali menggunakan versi yang telah disesuaikan, walaupun ide pokoknya masih sama.
Sayangnya, tidak semua film remake mengalami kesuksesan sebesar film aslinya. Tentu saja, salah satu kekurangan dari remake film yaitu harus siap dibandingkan dengan versi aslinya. Bisa jadi hasil remake tidak sesuai ekspektasi, sebab sudah ada patokan yang menjadi pembanding. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa remake justru lebih meyakinkan daripada versi original-nya.
Seperti di bawah ini, beberapa film remake dari Korea Selatan yang meraih kesuksesan besar di Indonesia.
Miracle in Cell No 7
Judul pertama pastinya tidak asing. Di negara asalnya, Miracle in Cell No 7 digadang-gadang jadi salah satu film tersedih sepanjang masa. Film tersebut dirilis pada tahun 2013 silam, menggandeng aktor kenamaan Ryu Seungryong hingga Park Shinhye sebagai pemeran dalam ceritanya. Miracle in Cell No 7 meneritakan tentang seorang ayah yang harus masuk ke penjara karena dituduh menjadi pelaku kriminal. Padahal, sang ayah hanya mengungkapkan pengakuan palsu setelah ditekan oleh orang yang lebih tinggi. Kisah semakin mengharukan saat anak sang anak yang mencoba menerobos masuk ke sel tahanan, dibantu oleh para narapidana yang lain. Kesuksesan Miracle in Cell No 7 sampai juga ke telinga para produser di Indonesia. Film tersebut akhirnya di-remake pada tahun 2022 dengan judul yang sama. Miracle in Cell No 7 teteap mempertahankan plot yang ada dengan pengubahan menyesuaikan keadaan di Indonesia. Tidak kaleng-kaleng, sutradara film ini, Hanung Bramantyo, mengajak aktor dan aktris papan atas, diantaranya Vino G. Bastian, Indro Warkop DKI, Tora Sudiro, Bryan Domani, Indra Jegel, Rigen Rakelna, dan Graciella Abigail. Perjalana Dodo Rozak yang diperankan oleh Vino G. Bastian begitu mengharukan. Sempat mengalami perundungan di sel tahanan, akhirnya Dodo mampu membuat para tahanan percaya tentang kebaikan hatinya. Mereka bahkan membantu Kartika, anak Dodo, untuk bertemu ayahnya. Miracle Cell in No 7 versi Indonesia nyatanya mampu meraih 4,9 juta penonton dan beragam penghargaan. Tidak disangka, hasil remake-nya tetap mendapatkan sambutan meriah dari para penonton. Di tahun 2024, sekuelnya dirlis, meskipun tidak sebesar musim pertamanya.
Sweet 20
Di tahun 2017 kemarin, sebuah film berjudul Sweet 20 sempat membuat publik penasaran. Film ini merupakan versi pembuatan ulang dari film Korea Selatan yang bertajuk Miss Granny, dirilis tahun 2014. Miss Granny merupakan film komedi drama yang digabungkan dengan unsur fantasi. Miss Granny mengambil cerita tentang seoraang nenek berusia 74 tahun yang mendadak kembli jadi muda setelah masuk ke sebuah studio foto. Fisiknya seolah terlempar ke usia 20-an, dimana dirinya masih segar bugar, dan tampak begitu cantik. Dari Oh Malsoon usia 74 tahun, kemudian berubah menjadi Oh Doori usia 20-an. Cerita itu lalu digubah versi Indonesia dengan title Sweet 20. Sederet nama senior muncul dalam list pemain, seperti Niniek L. KArim, Lukman Sardi, hingga Cut Mini. Sedangkan aktor utamanya dipegang oleh Tjana Saphira yang berperan begitu apik. Plot-nya masih sama, yaitu berkisah nenek-nenek 70 tahun yang kembali muda. Namun, di Sweet 20, Mieke atau Fatmawati memiliki cita-cita yang ingin dicapai ketika muda, yaitu menjadi penyanyi. Gaya bicaranya yang unik pun membuat tiga laki-laki jatuh hati padanya. Film ini digarap dengan sentuhan musikal yang menjadikannya terasa berbeda. Selama durasi penayangan di bioskop, film ini mendapatkan lebih dari satu juta penonton. Angka itu cukup besar yang membuktikan bahwa remake ini berhasil.
My Annoying Brother
Di tahun 2016 lalu, film My Annoying Brother di Korea Selatan dirilis untuk pertama kalinya. Film ini dibintangi oleh Jo Jungsuk, Doh Kyungsoo, dan Park Shinhye, mendapatkan atensi khusus sebab cerita yang mengharukan juga skill akting menjanjikan. Ceritanya mengambil genre drama dengan selingan komedi yang tepat pada sasaran. Berkisah tentang sepasang saudara yang tidak akur. Si adik yang seorang atlet judo sangat membenci kakaknya yang hanya sering menghambur-hamburkan uang. Sayangnya, si adik mengalami cedera hingga menyebabkan kebutaan. Situasi ini justru dimanfaatkan sang kakak untuk menipu adiknya. Penonton benar-benar diajak naik turun menyaksikan film ini. Sebab, bagian awalnya begitu mengocok perut, bikin jengkel, tapi pungkasannya bisa membuat banjir air mata. Kesuksesan My Annoying Brother di negara asalnya, menarik perhatian produser Indonesia membuat kembali. Akhirnya di tahun 2024, dengan judul sama, My Annoying Brother punya versi Indonesia. Alur ceritanya mirip, diperankan sangat cocok oleh Angga Yunanda serta Vino G. Bastian. Film ini mendapatkan animo yang positif dari masyarakat. Walaupun remake, tapi My Annoying Brother versi Indonesia tetap memberikan sisi khasnya, sebab sudah dibalut budaya lokal. Film ini mampu mencapai lebih dari 600 ribu penonton dalam durasi penayangannya.
Bebas
Di nomor berikutnya ada film yang berjudul Bebas, hasil remake dari film bertajuk Sunny. Versi Koreanya, Sunny dirilis pada tahun 2011 dan dibintangi oleh Shim Eunkyung, Kang Sora, Yoo Hojeong, Kimm Minyoung, Park Jinjoo, Nam Bora, serta Jin Heekyung. Film tersebut mengidahkan tentang seorang ibu rumah tangga paruh baya yang punya keinginan untuk melakukan reuni bersama sahabat SMA-nya sebagai permintaan terakhir. Ia pun harus emncari keberadaan para anggota geng Sunny yang kini telah menyebar ke berbagai penjurus. Dalam karya visualnya, Sunny menggabungkan era masa kini dan masa lalu untuk menjembatani cerita yang lebih dramatis. Kemudian, di tahun 2019, Indonesia membuat versi remake dengan judul Bebas dengan menggandeng aktor dan aktris papan atas, seperti Marsha Timothy, Susan Bachtiar, Indy Barends, Scholastica Sylvia, Prisia Nasution, Baim Wong, serta sebagainya. Alur cerita dari Bebas tidak jauh berbeda dari Sunny, tetap mempertahankan premis menyatukan persahabata setelah lama terpisah. Reuni itu diinisiasi oleh Vina yang bertemu dengan Kris di rumah sakit. Mengetahui sahabatnya sakit parah dan usianya diprediksi sudah tak lama lagi, Vina ingin mengumpukan kembali sahabat-sahabatnya yang telah berpencar, yaitu geng Bebas. Cerita pun kembali ke masa-masa ketika para anggota geng Bebas masih SMA bersama segala konflik dari remaja sampai situasi politik saat itu di Indonesia. Film Bebas berhasil mendapatkn lebih dari 500 ribu penonton, angka yang cukup fantastis pastinya.
Empat film di atas menjadi beberapa karya yang mendulang kesuksesan selama beberapa tahun terakhir. Pada dasarnya remake memang wajar, tapi menggubahnya sesuai kondisi lokal akan memberikan percikan berbeda. Walaupun ceritanya hampir sama, tapi film remake tetap membuat penasaran para penonton.
Adakah fim yang pernah kam tonton?
Featured image: pexels.com/Cottonbro Studio