5 Alasan Desa Penglipuran jadi Desa Terbersih di Bali
Desa Penglipuran bukan objek wisata baru di Pulau Bali. Desa ini dinobatkan menjadi desa paling bersih di Bali. Namun, predikat ini didapatkan karena beberapa faktor yang memengaruhinya.
Desa Penglipuran menjadi salah satu destinasi wisata favorit para wisatawan, khususnya yang berasal dari luar daerah. Desa Penglipuran sendiri lumrahnya memang ada di deretan paket trip wisata, sehingga memang termasuk rekomendasi tinggi. Lokasinya ada di Kabupaten Bangli. Profil Desa Penglipuran pun bisa kamu akses dengan mudah melalui internet, termasuk predikat sebagai desa paling bersih di Bali sekaligus masuk 10 besar dunia. Desa Penglipuran pun pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru, ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award), dan Sustainable Destinations Top 100 oleh Green Destinations Foundation. Banyak testimoni yang mengatakan jika desa ini berbeda. Udaranya masih begitu sejuk, tata ruang yang rapi, serta masyarakat yang masih menunjung kearifan lokal. Namun, ada alasan tersendiri mengapa desa ini mendapatkan title tersebut. Kamu bisa menjadikannya pertimbangan jika ingin coba mengunjungi desa ini saat senggang nanti.
Yuk, intip alasan mengapa Desa Penglipuran bisa dinobatkan sebagai desa terbersih!

Komitmen Terhadap Kelestarian Lingkungan
Masyarakat yang tinggal di Desa Penglipuran merupakan Bali Aga. Masyarakat di sini memang memiliki komitmen tinggi terhadap kelestarian lingkungan. Menurut keyakinan warga lokal, menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab personal, jadi setiap individu memang harus berperan aktif dalam menjaga lingkungan. Contoh yang bisa diambil dari komitmen ini adalah pengelolaan sampah yang dijalankan secara sistematis. Rumah-rumah di sana memiliki tempat sampah terpisah, antara organik dan non-organik. Memisahkan tipe sampah ini dapat mempermudah pengolahan selanjutnya, sebab sampah organic bisa dibuat jadi pupuk yang berguna untuk pertanian organic. Penduduk Desa Penglipuran sendiri telah lama menggunakan sistem pertanian tanpa adanya bahan kimia, seperti pestisida. Tentang konsep melestarikan lingkungan itu didukung dengan sosialisasi dan pendidikan pada di setiap lapisan masyarakat. Tujuannya tentu saja agar tugas menjaga lingkungan desa bisa dilakukan secara bersama-sama. Lebih menakjubkan, Desa Penglipuran telah memanfaatkan energy terbarukan, diantaranya sumber matahari dan tenaga air untuk memasok listrik. Peralatan yang digunakan juga hemat energy. Mereka punya aturan tersendiri terkait penggunaan kendaraan bermotor, dimana penduduk yang punya transportasi tidak boleh memasuki area utama desa, supaya lingkungan tidak tercemari oleh polusi udara maupun suara.
Falsafah Hidup Tri Hita Karana
Masyarakat Bali Aga yang mendiami Desa Penglipuran menganut falsafah hidup Tri Hita Karana yang memiliki makna kurang lebih menjaga hubungan yang harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam semesta dalam menjalani kehidupan. Tri Hita Karana diambil dari Bahasa Sansekerta, yaitu tri yang berarti tiga, hita artinya sejahtera atau bahagia, dan karana artinya sebab. Dari tiga kata tersebut, bisa disimpulkan bahwa sumber dari kebahagiaan ada tiga. Sumber tersebut diantaranya Parahyangan (keseimbangan antara manusia dengan Tuhan), Pawongan (keseimbangan manusia dengan manusia), dan Palemahan (keseimbangan manusia dengan alam). Falsafah hidup itulah yang dipegang kuat oleh masyarakat Desa Penglipuran untuk menjajaki tiap langkah hidup agar tercipta keselarasan yang adil bagi manusia, alam, dan Sang Pencipta. Oleh karena itu, tumbuhlah komitmen untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan menerapkan berbagai adat yang diturunkan turun temurun.

Tata Ruang Berdasarkan Tri Mandala
Masih melanjutkan falsafah Tri Hita Karana, Desa Penglipuran punya sistem tersendiri dalam menata lingkungannya. Jika kamu perhatikan bangunan yang ada di Desa Penglipuran, kamu akan menemukan deretan teratur di jalan utama. Bangunan-bangunan ini didirikan atas konsep Tri Mandala. Konsep tersebut faktanya memang umum digunakan di kawasan Bali. Tri Mandala membagi tiga wilayah penting dalam sebuah area. Bagian pertama disebut utama mandala, yaitu kawasan paling suci, terletak di bagian utara dan tinggi. Fungsi dari utama mandala sebagai tempat ibadah dan pemujaan. Bagian kedua disebut madya mandala atau wilayah tengah, yaitu tempat yang difungsikan untuk pemukiman warga. Madya mandala lurmrahnya menghadap selatan atau timur. Selanjutnya nista mandala, bagian paling belakang, digunakan sebagai zona transisi, area yang dianggap kotor, jadi dipakai untuk lokasi pemakaman atau pengelolaan sampah. Di samping itu, pembangunan rumah-rumah di Desa Penglipuran didasarkan kearifan lokal setempat, yaitu menggunakan bata merah dan bambu. Bangunan rumahnya berdesain sama, seragam, membuatnya begitu presisi, memanjakan mata. Sedangkan penggunaan bambu dikarenakan Desa Penglipuran punya hutan bamboo yang luas di bagian belakangnya.
Adanya Hutan Bambu yang Luas
Desa Penglipuran bukan sekadar desa yang didiami oleh masyarakat dan rumah. Desa ini jauh lebih kompleks dengan keberadaan area hutan bambu yang cukup luas. Hutan ini terletak di sisi belakang area pemukiman. Sebelumnya, sudah dikatakan bahwa penduduk Desa Penglipuran menerapkan pertanian organic, pengelolaan sampah, konsep Tri Mandala, serta falsafah Tri Hita Karana. Itu juga yang membuat hutan bambu di desa ini tetap lestari hingga kini. Bambu-bambu tumbuh lebat dan rimbun. Wisatawan yang datang kemari bisa memasuki area hutan dan melakukan eksplorasi. Di sisi lain, masyarakat lokal juga menjadikan bambu-bambu ini sebagai bahan baku untuk membuat rumah mereka. Selain itu, sejumlah penduduk membuat kerajinan dari bambu yang asalnya dari hutan tersebut. Workshop kerajinan bambu ini menjelma jadi daya tarik Desa Penglipuran untuk wisatawan. Namun, mengingat harmonisasi kehidupan berdasarkan hubungan Tuhan, manusia, dan alam, maka mereka tidak berlebihan dalam mengambil bambu. Para warga menggunakan seperlunya dan mengembalikan apa yang seharusnya tertanam di tempat itu. Konsistensi itu membuat hutan bambu Desa Penglipuran tetap lebat sampai sekarang.

Pendidikan dan Sosialisasi pada Generasi Penerus
Masyarakat Desa Penglipuran yang dihuni oleh Bali Aga tetap mempertahankan kearifan lokal dari genereasi ke generasi. Mereka tidak akan memberikan celah untuk kebudayaan itu lepas. Buktinya, meskipun saat ini kemajuan teknologi dan modernisasi begitu kental, Desa Penglipuran tetap mampu bertahan sesuai jalur adat istiadat. Kuncinya ada pada memberikan pendidikan dan sosialisasi pada para penerus tetua. Orang tua mengajarkan bagaimana bertani, membuat kerajinan lokal, dan menjaga lingkungan dari sampah. Sosialisasi selalu dicanangkan, memperluas informasi terkait kelestarian alam yang begitu krusial di Desa Penglipuran. Sistem ini bahkan sudah divalidasi melalui hukum adat yang berlaku. Terdapat sanki kuat jika ada warga yang melanggar. Peraturan benar-benar dibuat agar penduduk taat, hidup teratur, dan selaras terhadap tiga sumber kesejahteraan.
Tidak salah kalau Desa Penglipuran bisa didapuk jadi desa terbersih di Bali, Indonesia, hingga masuk ke 10 daftar terbaik dunia. Desa Penglipuran punya lingkungan yang begitu bersih. Suhu dingin, udara sejuk, dan penataan lingkungan terasa pas, tidak berlebihan. Masyarakat hidup berdampingan dengan ramah. Wisatawan yang datang pun merasa nyaman karena disambut baik oleh penduduk lokal. Tidak lupa, warga Desa Penglipuran selalu melaksanakan upacara adat sesuai tradisi yang berlaku. Mereka memiliki beberapa ritual yang begitu khas, salah satunya adalah Ngusaba Bantal. Upacara Ngusaba Bantal ialah upacara tahunan yang diadakan pada bulan Sasih Kesanga, menjelang Nyepi. Tujuan dari Ngusaba Bantal yaitu rasa syukur terhadap hasil panen yang telah didapatkan. Upacara Ngusaba Bantal dilaksanakan di Pura Ratu Ayu Melasem.
Featured image: unsplash.com/Galuh Sari