Thea News
Health // 2026 Yusham

5 Catatan Kesehatan Penting yang Perlu Diketahui Perempuan

Pada 2020, 22.430 orang pamitan selamanya karena kanker payudara.

Ada berbagai faktor seseorang terjangkit penyakit. Salah satunya faktor jenis kelamin. Ada beberapa penyakit yang sering terjadi kepada perempuan dibandingkan pria. Misalnya, kanker payudara. 

 

Berdasarkan data dari The Global Cancer Observatory (Globocan) pada 2018, ada 18,1 juta kasus kanker baru. Dari angka itu, sebesar 9,6 juta orang meninggal karena kanker. Di mana 1 dari 5 pria dan 1 dari 6 perempuan mengalami kejadian kanker di dunia. Dari data tersebut juga menyatakan bahwa 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan meninggal karena kanker.

 

Kanker payudara masuk ke dalam daftar kanker paling banyak ditemukan pada perempuan Indonesia di 2020 lalu. Dengan persentase 30,8 persen dari total kasus kanker lainnya. Rendahnya awareness menjadi faktor penyebab utama tingginya angka kasus kanker payudara. Selain kanker payudara, ada beberapa penyakit lain yang juga mengincar para puan. Apa saja itu?

 

Endometriosis

 

bettermedcare.com

 

Di dunia, 1 dari 10 perempuan diduga mengalami endometriosis. Dari hasil penelitian diperkirakan, 10 persen dari populasi perempuan di dunia mengalami endometriosis. Itu artinya, ada lebih kurang 176 juta puan hidup berdampingan dengan endometriosis. Salah satu gejala endometriosis adalah nyeri saat datang bulan. Endometriosis menjadi salah satu penyakit yang cukup mengkhawatirkan bagi kesuburan. 

 

Dokter Mohammad Luky Satria Syahban Marwall SpOG-KFER menuturkan, penanganan yang tepat dapat meredakan rasa nyeri dan mengembalikan produktivitas perempuan. Tidak hanya itu. Penanganan yang tepat juga meningkatkan peluang memiliki buah hati. Karena itu, butuh awareness yang juga tinggi. Kuncinya tidak boleh acuh kepada diri sendiri. 

 

Luky menjelaskan, endometriosis merupakan kondisi ginekologis ketika jaringan membentuk lapisan dalam dinding rahim atau endometrium tumbuh di luar rahim dan tempat lain yang bukan seharusnya. Jaringan ini akan tumbuh di indung telur, tuba fallopi (saluran telur), vagina, rahim, usus, saluran kencing, dan lapisan dalam dinding perut. 

 

Jaringan endometrium yang tumbuh di luar rahim akan ikut meluruh ketika menstruasi. Luky mengungkapkan, hal itu disebabkan pertumbuhan jaringan di lokasi yang tidak seharusnya. Alhasil, jaringan endometrium tidak bisa keluar melalui vagina seperti kondisi normal. Justru mengendap di sekitar organ reproduksi. 

 

Kalau dibiarkan apa ada efeknya? Tentu saja ada. Setelah sekian lama, endapan itu menyebabkan peradangan, kista, jaringan parut, hingga menimbulkan berbagai gangguan lain. Dalam kasus langka, Luky menyatakan, jaringan endometriosis ditemukan di paru-paru, mata, tulang belakang, hingga otak. 

 

Dokter yang pernah menerima fellowship minimal access surgery dari rumah sakit laparoskopi di New Delhi, India, itu belum ada metode dan pendekatan yang pasti untuk menyembuhkan endometriosis secara menyeluruh. Namun, lanjut Luky, mengingat endometriosis dipengaruhi hormon estrogen maka terapi hormone menjadi salah satu solusi awal yang ditawarkan. 

 

Selain itu, mengonsumsi obat pereda rasa sakit (painkiller) juga menjadi opsi. Meski, pemberian obat painkiller ini bersifat simtomatik. Hanya meredakan gejalanya. Tapi, yang penting diingat, painkiller ini tetap harus diawasi dokter. Jangan asal dikonsumsi.

 

Sementara itu, dr Primandono Perbowo SpOG(K)Onk menjelaskan, insiden terjadinya polip endometrium pada perempuan premenopousal sebanyak 6% dan pada perempuan postmenopousal sebanyak 12%. Faktor risiko terjadinya polip endometrium adalah pemakaian tamoxifen (11% pasien yang menggunakan tamoxifen dapat terjadi polip endometrium), obesitas, penggunakan terapi sulih hormon pada perempuan menopouse, dan Lynch and Cowden syndrome

 

Dokter yang berpraktik di Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya itu menuturkan, pada pasien dengan lynch and cowden syndrome didapatkan pula peningkatan insiden terjadinya kanker endometrium dan hiperplasia endometrium. Gejala utama yang dialami oleh pasien dengan polip endometrium yakni perdarahan pervaginam abnormal (AUB). Yaitu, AUB-P pada PALM-COEIN dan infertilitas. ”Sebagian besar polip endometrium tidak menimbulkan gejala dan ditemukan tidak sengaja pada prosedur histeroskopi, sitologi serviks, biopsi endometrium, dan prolapse polip endometrium,” terang Primandono. 

 

Lantas, apa pengobatan yang dapat dilakukan? Primandono menyatakan, dengan melakukan kuretase dan ekstipasi polip endometrium apabila polip menimbulkan gejala perdarahan abnormal. Ukuran polip > 1,5cm mengarah pada keganasan endometrium. 

 

Primandono menambahkan, keganasan yang terjadi pada endometrium disebut kanker endometrium. Insidennya, 1-2% di Amerika Serikat. Kanker endometrium terjadi terbanyak pada perempuan usia 60-70 tahun. Sekitar 2-5% terjadi pada wanita dengan usia kurang dari 40 tahun. Faktor risiko terjadi kanker endometrium adalah pemakaian estrogen seperti tamoxifen, menarche lebih awal, menopouse lambat, obesitas, diabetes mellitus, serta lynch syndrome.

 

Kanker payudara

 

Getty Image

 

Pada 2020 lalu, ada 9,9 juta orang harus berpamitan untuk pergi selama-lamanya karena kanker. Angka kematian akibat kanker payudara diparkirkan oleh The Global Canver Observatory (Globocan) di posisi keempat di Indonesia. Posisi pertama diduduki kanker paru (lung cancer).

 

Masih data dari Globocan, di Indonesia, kanker payudara termasuk kanker paling banyak ditemukan pada perempuan dengan proporsi 30,8 persen dari total kasus kanker lainnya, yakni terdapat 65.858 kasus baru. 

 

Di tahun yang sama, ada 65.858 kasus breast cancer. Sementara, sebanyak 22.430 orang meninggal akibat kanker payudara. Dokter Desak Gede Agung Suprabawati SpB (K) Onk menuturkan, sebetulnya, kanker payudara bisa dideteksi sejak dini. Dengan begitu, penanganannya akan lebih maksimal. “Sampai saat ini, kanker payudara sendiri tidak bisa dicegah. Kalau kanker leher rahim atau hati bisa dengan vaksin,” ujarnya.

 

Salah satu faktor penyebab kaker payudara adalah genetik. Tapi, tidak mudah begitu saja menentukan faktor ini. Seseorang perlu menjalani serangkaian tes. Salah satunya tes mutasi gen. Menurut Desak, angka faktor genetik kecil. Diperkirakan hanya 5-10 persen. 

 

Nah, begitu seseorang memiliki mutasi gen, berarti deteksi dininya harus lebih awal. Seseorang bisa deteksi dini di rumah dengan sederhana. Pertama, coba berdiri dengan setegak mungkin. Lalu, perhatikan apakah ada perubahan dari bentuk hingga permukaan kulit di payudara. Ternyata tidak ada perubahan. Tunggu, cermati kembali, apakah ada pembengkakan atau perubahan di bagian puting?

 

Kedua, angkat kedua lengan lalu tahan. Tekuk siku dan posisikan tangan ke belakang kepala. Lalu, coba dorong siku ke depan dan cermati payudara. Dan, terakhir, dorong siku ke belakang lants cermati bentuk atau ukuran payudara. Perlahan, jangan terburu-buru. 

 

Ada beberapa hoaks tentang payudara yang harus disingkirkan! Apa saja itu? Pertama, kanker payudara ibarat hukuman mati. Tenang. Saat kanker payudara terdiagnosis sejak awal sangat bisa ditangani. Jadi, bukan langsung hukuman mati. Seolah-olah tidak ada jalan. Ada, asal jangan sampai dibiarkan ketika ada perubahan yang aneh di payudara. 

 

Kedua, kanker payudara menular. Kanker payudara tidak akan menulari kok, meski ada kontak langsung dengan penderita kanker payudaranya. Misalnya, menggunakan alat makan bekas penderita.

 

Terakhir, ketika didiagnosis kanker payudara otomatis payudara akan diangkat. Salah besar. Kemajuan teknologi menghadirkan beragam cara untuk mengatasi kanker payudara. Namun, tim medis perlu melihat dan mengkaji dulu kondisi stadium kanker payudaranya.

 

Kanker serviks (kanker leher rahim)

 

ayosehat.kemkes.go.id

 

Jika kanker payudara duduk santai di posisi keempat sebagai pembunuh terbanyak di Indonesia, di atasnya ternyata ada kanker kanker serviks (kanker leher rahim). The Globocan mencatat ada 18.279 orang meninggal akibat kanker serviks.

 

You have to know ladies, kanker serviks ini bisa dicegah. Dr dr Brahmana Askandar SpOG (K) menuturkan, alasan pertama yaitu perubahan serviks normal menjadi kanker butuh waktu yang lama. Lebih kurang 10 tahun. Untuk berubah kanker juga bertahap. Penyebab kanker serviks adalah infeksi virus HPV risiko tinggi. Persentasenya sekitar 99,7 persen. 

 

Brahmana menyatakan bahwa yang termasuk HPV risiko tinggi ada 14 tipe. Dengan 70 persennya yakni HPV 16 dan 18. Namun perlu dicatat, bukan berarti jika perempuan terinfeksi HPV risiko tinggi lalu pasti jadi kanker serviks. Sebagian besar, infeksi HPV risiko tinggi bakal tereliminasi dengan imunitas tubuh seseorang. Hanya 10 persen dari perempuan yang terinfeksi bakal berisiko menjadi kanker serviks.

 

dr Primandono Perbowo SpOG (K) Onk mengungkapkan, sebanyak 84% kasus kanker serviks terjadi di negara berkembang. Angkanya sekitar 15,7 per 100.000 wanita. Di negara Afrika dan Amerika Tengah, kanker serviks merupakan kanker terbanyak dan penyebab kematian kanker terbanyak pada wanita. 

 

Insiden kanker serviks meningkat sejak awal tahun 2000. Di Amerika Serikat, kasus baru kanker serviks ditemukan sebanyak 14.500 dengan kematian 4.300 setiap tahunnya. Primandono menyatakan, kanker serviks merupakan kanker ginekologi ketiga terbanyak setelah kanker ovarium dan kanker uterus. Dengan angka kematian yang lebih rendah. Pada negara berkembang, didapatkan 75% penurunan insiden dan kematian karena kanker serviks sejak 50 tahun terakhir. “Hal ini disebabkan karena cakupan vaksinasi kanker serviks mencapai 70% pada negara berkembang,” terangnya.

 

Gejala kanker serviks yang banyak dialami pasien seperti perdarahan pervaginam, keputihan berbau, nyeri perut bawah, dan perdarahan setelah berhubungan seksual (post coital bleeding). Apabila kanker serviks sudah stadium lanjut dapat memberikan gejala gangguan berkemih. Seperti kemih berdarah atau berkemih dari vagina serta gangguan buang air besar. Misalnya, buang air besar berdarah atau buang air besar dari vagina. Selain itu juga dapat menyebabkan pasien tidak bisa berkemih sama sekali dan perut kembung. Jika kanker serviks sudah menyebar ke paru-paru dapat menimbulkan rasa sesak.

 

Sebagai upaya pencegahan kanker serviks dapat dilakukan tindakan pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Tindakan pencegahan primer yaitu dengan pemberian vaksinasi HPV pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual dengan dosis interval 0-1-6 bulan dan dapat diberikan 2 dosis pada wanita usia kurang dari 15 tahun. Tindakan pencegahan sekunder yaitu dengan melakukan skrining kanker serviks pap smear atau IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) bila tidak didapatkan sarana pap smear.

 

Nah, pap smear sebaiknya dilakukan setidaknya 1 tahun setelah melakukan hubungan seksual pertama kali dan diulang setiap 3 tahun. Pemeriksaan HPV DNA juga dapat ditambahkan, jika wanita berusia lebih dari 30 tahun. Dan, apabila pemeriksaan pap smear dan HPV DNA dilakukan maka pemeriksaan dilakukan setiap 5 tahun. 

 

Lantas, bagaimana jika didapatkan hasil pap smear yang tidak normal? Primandono menuturkan, langkah berikutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi. Lalu, untuk tindakan pencegahan tersier yaitu tindakan yang dilakukan bila sudah terjadi kanker serviks. Yakni, tindakan pengobatan kanker serviks. 

 

Pengobatan kanker serviks disesuaikan dengan stadium saat pasien terdiagnosis kanker serviks, dapat berupa prosedur pembedahan, kemoterapi, dan radiasi. Prosedur pembedahan dapat dikerjakan pada kanker serviks sampai dengan stadium 2A. Pada kanker serviks stadium 2B ke atas dapat dilakukan tindakan kemoradiasi.

 

Menopause Dini

 

asancup.com

 

Tiap bulan, ada hari istimewa bagi para puan. Yang hanya dirasakan oleh kaum perempuan. Tidak mungkin kaum pria merasakan ini. Apa itu? Menstruasi atau datang bulan. Menstruasi itu proses di mana darah keluar dari vagina. Tapi, hari-hari istimewa itu tidak selamanya dirasakan oleh para ladies. Karena darah bakal berhenti di usia tertentu yang disebut menopause. 

 

Nah, ternyata, dalam pemberhentian darah ini ada yang lebih cepat. Yang kemudian disebut menopause dini. Menopause bukan hal yang tidak wajar. Itu wajar. Tapi, jika terlalu cepat menopause itu tidak wajar. Usia ideal mengalami menopause sekitar 45 - 55 tahun. Dikatakan menopause dini ketika usia di bawah 40 tahun tapi sudah berhenti menstruasi. 

 

Dokter Salmon Charles Siahaan SpOG mengatakan, menopause dini menggambarkan suatu keadaan fungsi organ reproduksi wanita. Terutama yang berhubungan dengan hormonal berhenti sebelum waktunya. Di beberapa keadaan, hal tersebut menyebabkan perubahan dalam tubuh. 

 

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra tersebut menyatakan, ada beberapa penyebab seseorang mengalami menopause dini. Antara lain, kelainan genetik seperti sindroma turner, penyakit autoimun (sistem imun atau antibodi seseorang menyerang tubuh sendiri), beberapa infeksi seperti tuberculosis/malaria/gondong (parotitis epidemica), pengobatan kanker seperti radioterapi dan kemoterapi, serta pembedahan yang mengangkat kedua ovarium.

 

Terpisah, dr Andry SpOG menuturkan, yang perlu dicermati yakni seseorang yang mengalami menopause dini akan merasakan gejala atau keluhan baik fisik dan psikologis seperti menopause pada umumnya. Gejala tersebut meliputi hot flushes (sensasi rasa panas yang datang secara tiba-tiba dari wajah, leher, hingga seluruh tubuh), vagina kering, inkontinensia urin, kulit kering, kerontokan rambut, nyeri persendian, berat badan bertambah, kecemasan, kelelahan mental, insomnia, sampai kepada depresi. ”Jenis pekerjaan atau aktivitas sehari-hari bukan menjadi penentu menopause. Kecuali jika merokok,” ucapnya.

 

Penyakit Autoimun

 

mayapadahospital.com

 

 

Dibandingkan pria, perempuan ternyata mempunyai respons imun lebih kuat terhadap infeksi dan vaksinasi. Alhasil, tingkat antibodi yang dihasilkan itu lebih kuat atau tinggi. Tapi, jangan senang dulu. Karena fakta itu sering kali menjadi boomerang bagi para puan. Mereka memiliki risiko tinggi terserang penyakit autoimun. 

 

Varian penyakit autoimun banyak sekali. Ada sekitar 100 jenis. Namun, jenis yang sering ditemui antara lain lupus eritematosus sistemik, sindrom sjogren, anemia hemolitik autoimun, rheumatoid artiritis, scleroderma, dan sebagainnya.

 

Gejala penyakit autoimun sangat bervariasi. Mayoritas, penyakit autoimun sifatnya sistemik. Prof Dr dr Iris Rengganis SpPD-KAI FINASIM mengatakan, gejala autoimun yang timbul tergantung organ yang terkena. Apabila organ yang terkena darah, maka sel darah merah bisa saja berkurang jumlahnya, timbul anemia, dan merasa mudah letih hingga mengantuk. Kemudian, jika organ yang terkena sendi, gejala yang timbul berupa nyeri dan bengkak di sendi-sendi. Baik itu sendi kecil ataupun besar. Pada kondisi yang berat, penyakit autoimun seperti lupus dapat menyerang otak. Sehingga bisa timbul kejang atau menyerang ginjal yang dapat menyebabkan ginjal mengalami kerusakan berat.

 

Penderita autoimun harus segera berobat ke dokter. Tidak jarang, kali pertama mendiagnosis cukup sulit. Sehingga, perlu ditangani dokter spesialis yang ahli dalam bidang autoimun. Setelah diagnosis ditegakkan, penderita perlu menjalani pola hidup sehat. Seperti makan teratur dan bergizi seimbang. ”Penderita juga mengurangi stres psikologis, olahraga teratur, mengonsumsi obat teratur, dan control rutin ke dokter,” papar Iris. 

 

Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah itu menyarankan, cara mencegah penyakit autoimun harus menerapkan pola hidup sehat. Perlu mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan teratu, mengurangi mengonsumsi makanan yang mengandung gluten (seperti yang terdapat di tepung terigu, tepung gandung, dan oatmeal), olahraga teratur, jaga berat badan, hingga tidak stres. 

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Hantavirus: Ancaman Laten di Tengah Dinamika Kesehatan Publik Indonesia 2026

Next Entry

Wabah "Burning Chest" Generasi Digital: Membedah Akar Masalah GERD yang Merusak Masa Depan Anak Muda