Thea News
Travel // 2026 Lea

5 Transportasi Unik di Yogyakarta untuk Keliling Kota

Jalan-jalan ke Yogyakarta rasanya akan rugi kalau tidak cobain naik sejumlah transportasi unik ini. Hanya dengan merogoh kocek receh, kamu bisa dapat pengalaman keliling kota tak terlupakan.

Jalan-jalan di Yogyakarta memang jadi hal yang menyenangkan, khususnya di kawasan wisata, seperti Malioboro, Kotabaru, Kotagede, dan sebagainya. Pengalaman bisa jadi lebih menyenangkan ketika kamu bisa menjajal menaiki transportasi unik yang ada di daerah tersebut. Di Yogyakarta sendiri, ada sejumlah kendaraan unik yang bisa kamu coba untuk mengitari area perkotaan. Kendaraan-kendaraan ini bisa membantu kamu mengenal Yogyakarta lebih dekat. Sembari menikmati suasana liburan, kamu bisa menambah wawasan bermanfaat terkait Kota Budaya yang satu ini.

 

Mau tahu apa saja kendaraan unik itu? Kamu boleh cek di bawah!

 

Kereta Kuda, Andong

 

Source: pexels.com/Man Fong Wong

 

Kalau ke Yogyakarta, kamu pasti sering melihat banyak kereta kuda terparkir rapi di sekitar Malioboro. Kereta kuda itu disebut dengan andong atau delman (atau ada juga yang menyebutnya dokar, meskipun keduanya punya sedikit perbedaan), salah satu transportasi tradisional yang masih eksis sampai sekarang. Andong sudah ada sejak lama, menjadi alat yang dipakai masyarakat tempo dulu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Andong atau kereta kuda inipun jadi bagian bersejarah di keluarga Kraton Yogyakarta. Di masa lalu, ketika kendaraan bermotot belum semasif sekarang, andong adalah pilihan efektif untuk melakukan perjalanan dari satu tempaat ke tujuan lain. Sayangnya, setelah motor, mobil, dan transportasi modern muncul, andong mulai tersingkir. Walaupun begitu, para penarik andong tetap menjalankan kereta mereka di kawasan wisata. Biasanya, andong-andong ini memang ngetem di sekitar Malioboro, berjajar urut dari utara ke selatan, dari pagi sampai malam tiba. Wisatawan bisa memilih andong dan menanyakan rute yang akan dilalui karena nantinya bisa memengaruhi tarif harga. Lumrahnya, harga satu kali jalan dipatok mulai dari Rp 75.000. Harga ini bisa bertambah jika rute semakin jauh. Kelihatannya mahal, tetapi andong bisa dinaiki antara 4-7 orang, jadi bisa patungan agar lebih hemat.

 

Sepeda Roda Tiga, Becak

 

Source: pexels.com/may umaran

 

Di samping adanya andong, kendaraan tradisional yang kini masih cukup banyak terdapat di kawasan wisata Yogyakarta adalah becak. Memang, becak bukan lagi prioritas kendaraan utama untuk bepergian, tapi tidak ada salahnya berkeliling Malioboro dengan menaiki sepeda roda tiga ini. Becak merupakan kendaraan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu, salah satu yang paling praktis karena bisa membawa beban berat. Becak-becak sepeda ini kerap nongkrong di Malioboro, Pasar Beringharjo, area Kraton Yogyakarta, dan sekitarnya. Sama seperti kereta kuda, becak wisata sudah punya rute sendiri. Terkadang, mereka bekerja sama dengan toko oleh-oleh, jadi wisatawan bisa langsung diarahkan ke toko tersebut. Semakin berkembangnya zaman, muncul pesaing dari becak sepeda, yaitu becak motor atau bentor. Becak motor bentuknya mirip dengan becak sepeda, tetapi alat penggeraknya mesin bermotor. Becak motor memang kelihatan lebih mudha dan cepat, tapi becak sepeda tidak kalah menyenangkan dinaiki untuk mengitari Malioboro dan kiri-kanannya. Tarifnya bisa kamu tanyakan sebelum berangkat, jangan sampai terkejut setelah sampai tujuan.

 

Menyusuri Sumbu Filosofi Yogyakarta, Bus Heritage Jogja

 

Source: pramukadiy.or.id

 

Transportasi unik lainnya yang bisa kamu temukan di Yogyakarta adalah bus heritage Jogja atau Jogja Heritage Track. Bus ini sebenarnya bukan kendaraan umum, seperti becak atau andong, tetapi kamu bisa mengaksesnya secara terbuka dengan reservasi terlebih dahulu. Bus ini secara khusus diluncurkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tujuan untuk mempromosikan warisan budaya, Sumbu Filosofi Yogyakarta. Rutenya juga special, yaitu menyusuri jalanan yang dilewati garis filosofis tersebut. Ada beberapa track yang disediakan oleh pihak penyelenggara, diantaranya sangkan paraning dumadi, paraning dumadi, colonial heritage, the legacy, sangkaning dumadi, dan Jogja culinary space. Menariknya, kamu tidak perlu membayar biaya untuk naik layanan bus ini. Namun, sebelum berangkat, kamu perlu mendaftar terlebih dahulu lewat website resmi Jogja Heritage Track. Paling lambat tiga hari sebelum tanggal keberangkatan. Ada beberapa armada bus yang sudah didesain modern dan kapasitasnya 8 orang, dilengkapi tour guide yang akan menjelaskan berbagai hal sepanjang perjalanan dimulai. Ingat juga, kamu harus mengenakan pakaian batik dan bersepatu sesuai ketentuan yang berlaku. Kamu bisa memilih stop point untuk menentukan titik penjemputan.

 

Transportasi Panoramic, Shuttle Si Thole

 

Source: warta.jogjakota.go.id

 

Ada satu kendaraan unik berwarna hijau yang sering hilir mudik di sekitar kawasan wisata Kraton Yogyakarta, bentuknya seperti angkot tapi lebih lebar. Transportasi itu sebenarnya adalah shuttle yang dinamai Si Thole. Kendaraan ini merupakan besutan dari Forum Komunitas Kawasan Alun-Alun Utara (FKKAU) yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta. Shuttle ini bisa kamu temui di dua titik, yaitu kawasan Senopati dan Ngabean. Walaupun umum, armadanya masih sedikit yaitu kurang lebih lima unit saja yang beroperasi setiap hari. Kapasitasnya kurang lebih hanya 15 orang sekali berangkat. Kamu bisa mencari keberadaan Si Thole di kedua tempat parkir tersebut. Biaya untuk naiknya dipatok Rp 5.000, sangat terjangkau di samping fasilitasnya cukup nyaman. Si Thole akan membawa penumpang untuk mengitari kawasan Jeron Beteng, atau area dalam kompleks Kraton Yogyakarta. Tiga lokasi yang dikunjungi oleh Si Tholeh meliputi Kraton Yogyakarta, Tamasari, dan Titik Nol Kilometer. Uniknya, beberapa armada Si Thole telah menggunakan bahan bakar yang terbuat dari sampah plastic. Ide brilian ini dicetuskan oleh FKKAU bersama Get Plastic Indonesia. Bahan bakar sampah plastic itu dipicu dari keresahan masyarakat terhadap menumpuknya sampah di Yogyakarta beberapa tahun terakhir. Pemerintah bersinergi dengan masyarakat, bahu membahu mengatasi masalah tersebut, termasuk pengelola Si Thole yang kreatif menciptakan bahan bakar minyak. Alasan lain merujuk pada kebijakan bahwa di masa depan, kendaraan umum di garis Sumbu Filosofi harus ramah lingkungan. Tentu, Si Thole merupakan daya tarik tersendiri di daerah wisata Yogyakarta.

 

Dari Halte ke Halte, Bus Trans Jogja

 

Source: dishub.jogjaprov.go.id

 

Transportasi menarik lain yang bisa kamu gunakan untuk wisata di Yogyakarta adalah bus trans Jogja. Bus ini bisa dibilang kendaraan multifungsi dengan biaya murah dan bisa menjangkau berbagai daerah sesuai rute. Sama seperti bus trans di daerah lain, bus trans Jogja juga beroperasi dengan berhenti di setiap halte yang tersedia. Bus ini sudah punya trayek yang mengantar masyarakat sampai ke lokasi tujuan. Bus Trans Jogja melewati beberapa lokasi wisata, seperti Malioboro, Kotabaru, Kotagede, Pakualaman, Prawirotaman, bahkan sampai Kabupaten Bantul. Kamu hanya perlu membayar Rp 3.500 rupiah saja untuk satu kali perjalanan melewati rute yang sama. Pembayaran bisa menggunakan e-money atau barcode, jadi lebih mudah dalam transaksi. Bus trans Jogja pun berkapasitas banyak, penumpang bisa berdiri dan duduk. Bus sudah dilengkapi pendingin udara, sehingga lebih nyaman. Kamu bisa menaiki transportasi ini lewat halte-halte yang sudah tersedia.

 

Itu dia lima transportasi unik yang bisa kamu naiki saat menyambangi Yogyakarta. Pengalaman perjalanan pasti akan lebih menyenangkan. Berkeliling Yogyakarta bersama sepoi angin, sembari menambah wawasan jadi kegiatan menarik untuk mengisi waktu senggang liburan.

 

Featured image: pexels.com/Hartono Subagio

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Daya Tarik Wisata 5 Kawasan di Daerah Istimewa Yogyakarta

Next Entry

Mahakarya Alam Negeri Laskar Pelangi: Menjelajahi Pesona Megah Pantai Tanjung Tinggi

Next Entry

Lorong Waktu Fangorn Forest di Dunia Nyata: Keajaiban Mistis De Djawatan Benculuk Banyuwangi