Thea News
Travel // 2026 Lea

5 Upacara Adat Bali Unik, Tambah Daya Tarik Pariwisata

Masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi adat istiadat. Namun, justru budaya itulah yang semakin menarik daya tarik pariwisata, khususnya turis mancanegara.

Banyak orang mengetahui Pulau Bali sebagai wilayah yang penuh destinasi wisata. Pulau kecil yang terletak di antara Pulau Jawa dan Nusa Tenggara tersebut memang memiliki khasanah alam yang luar biasa. Hutan-hutan hijau menutupi, berdampingan dengan pasir putih pantai laut yang mengelilingi. Bali juga dipenuhi hiruk pikuk modernitas yang memanjakan wisatawan, khususnya mancanegara. Dari pagi sampai pagi lagi, Bali tidak pernah tidur, selalu gemerlap, semarak penuh gempita. Namun, segala hal itu tetap berdampingan dengan adat istiadat yang masih kental. Masyarakat Bali dikenal masih menjunjung tinggi budaya yang diturunkan secara turun temurun. Pemandangan itu dapat dilihat dari lingkungan, perilaku, hingga ritual yang tetap dilaksanakan secara rutin. Masyarakat pun sangat terbuka, ketika ada wisatawan yang datang ingin menyaksikan pelaksanaan kegiatan kebudayaan. Tetap memegangi etika bertingkahlaku, wisatawan luar daerah dapat turut berpartisipasi jadi penonton beberapa upacara adat jika beruntung.

 

Di upacara adat apa saja? Mari kita cek di bawah.

 

Melasti

 

Bagi masyarakat Hindu, Melasti merupakan proses yang krusial menjelang Hari Raya Nyepi. Melasti diadakan setiap setahun sekali dengan tujuan menyucikan diri secara fisik dan batin dalam menghadapi hari besar yang segera datang. Mengutip dari halaman web Pemerintahan Kota Denpasar untuk Kelurahan Padangsambian, tertulis jika pelaksanaan Melasti tertuang pada Lontar Sunarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Dari lontar tersebut disimpulkan bahwa Melasti dilakukan untuk meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada Dewata bersama lima tujuan kehidupan yang baik diantaranya ngiring prewatek Dewata (memuja dan mengikuti tuntunan Tuhan), anganyutaken laraning jagat (meluruhkan penderitaan manusia), papa kelesa (menghilangkan sifat buruk atau keleas manusia), letuhing bhuwana (menghilangkan sifat manusia yang merusak alam), dan ngamet daringing amerta ring telenging segara (menyerap hal-hal baik untuk keseimbangan lahir serta batin). Upacara ini dilaksanakan di ruang terbuka, sehingga masyarakat umum bisa menyaksikannya. Melasti dilakukan di laut, danau, atau sumber mata air suci. Dimulai dari persiapan mengenakan pakaian adat, melakukan kirab atau arak-arakan, penyucian oleh Pemangku atau pemimpin ritual, melarungkan sesaji, dan diakhiri sembahyang, memohon keselamatan juga keseimbangan sebelum menjalani Catur Brata Penyepian.

 

Ngerupuk

 

Upacara adat selanjutnya yang selalu jadi bahan perbincangan khalayak adalah Ngerupuk. Upacara ini dilaksanakan pada Tilem Sasih Kesanga, sehari sebelum Hari Raya Nyepi datang. Ngerupuk dilaksanakan pada pergantian antara siang dan malam atau sandhyakala. Bagi masyarakat yang menganut agama Hindu, Ngerupuk merupakan perwujudan dari pengusiran Bhuta Kala atau hawa negative yang konon bisa mengganggu pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Ngerupuk termasuk Bhuta Yadnya atau upacara persembahan untuk Bhuta Kala yang dilakukan dari berbagai tingkatan lapisan. Ngerupuk diawal dengan tradisi Mecaru. Di Bali, Upacara Ngerupuk ditandai dengan munculnya banyak ogoh-ogoh yag akan diarak di sepanjang jalan. Saat itu tiba, masyarakat umum bisa menyaksikan kemegahan dari ogoh-ogoh yang didesain begitu seram, perwujudan dari Bhuta Kala. Berbagai jenis ogoh-ogoh itu akan dimainkan, digoyangkan, membentuk atraksi menkjubkan. Selain itu, masyarakat akan berkeliling di lingkungan rumah, membawa obor, menaburkan nasir tawur, dan membunyikan bunyi-bunyian keras (biasanya kentongan).

 

Upacara Galungan dan Kuningan

 

Di dalam ajaran Hindu, Hari Raya Nyepi bukan satu-satunya hari besar yang dirayakan. Setiap 210 hari sekali, masyarakat Bali akan merayakan Hari Raya Galungan, tepatnya di hari Budha Kliwon Dungulan atau hari Rabu Kliwon wuku Dhuwungan. Tanda dari perayaan hari raya ini adalah dipasangnya penjor di sepanjang jalan depan rumah. Penjor merupakan hiasan yang terbuat dari bambu, dihias menggunakan bunga, dan daun kelapa muda. Hari Raya Galungan memiliki tujuan untuk merayakan kemenangan atas hal-hal baik (dharma) atas sesuatu yang jahat (adharma). Mereka membuat penjor dan sesaji untuk dipersembahkan ke Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara. Kemudian, berjarak 10 hari dari Hari Raya Galungan, masyarakat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Kuningan, tepatnya pada hari Sabtu wuku Kuningan. Filosofi dari dijalankannya Hari Raya Kuningan yaitu mendoakan keselamatan serta perlindungan para dewa juga leluhur ke nirwana. Hari Raya Galungan dan Kuningan biasanya dirayakan setiap keluarga, termasuk pemasangan penjor. Namun, masyarakat dapat menikmati penjor yang tampak melebur dengan keindahan lingkungan Bali. Selain itu, penjor menunjukan bahwa penduduk lokal selian mencintai lingkungan juga memiliki sifat religious. Penjor memang bagian dari upacara keagamaan, tapi juga melekat pada identitas Pulau Bali itu sendiri.

 

Ngaben

 

Upacara adat yang satu ini tentu sudah dikenal oleh banyak orang. Ngaben adalah ritual pembakaran atau kremasi jenazah masyarakat Hindu di Bali. Makna dari pelaksanaan Ngaben yaitu melepaskan roh leluhur ke tempat asalnya. Masyarakat Hindu percaya, Ngaben akan mempercepat ragha sarira kembali ke asalnya. Di samping itu, Ngaben jadi tanda bakti anak pada orang tua dalam melepaskan lima unsur pembentuk tubuh yang disebut Panca Maha Bhuta. Ngaben memiliki beberapa prosesi yang harus dilalui. Pertama disebut ngulapin atau memanggil sang atma (roh jenazah). Kedua, disebut nyiramin atau ngemandusin yaitu proses memandikan jenazah disertai penyematan berabagai ubarampe. Ketiga, prosesi ngajun kajang atau menekan kertas yang telah ditulisi aksara sebagai penanda siap melepas jenazah. Keempat disebut ngaskara¸yaitu proses penyucian roh sesuai kepercayaan dari pihak keluarga agar nantinya atma dapat kembali ke sisi Tuhan. Kelima adalah mameras, tapi prosesi ini hanya dilakukan oleh orang yang sudah memiliki cucu. Keenam ialah papegtan yang bermakna bahwa keluarga sudah mengikhlaskan jenazah untuk dikremasi. Lalu, proses paling meriah berada pada pakiriman ngutang dimana jenazah diantarkan menuju pemakaman, diiringi tetabuhan gamelan. Dilanjutkan ngeseng, yaitu proses pembakaran jenazah sampai habis, setelah selesai sisa abunya akan dimasukan ke dalam buah kelapa. Ketika abu sudah terkumpul, berikutnya akan dihanyutkan, disebut prosesi nganyud. Terakhir setelah 12 hari pasca Ngaben, untuk penutup, keluarga bakal melaksanakan mangelud atau mangoras, yaitu penyucian dan pembersihan lingkungan. Ngaben memang membutuhka biaya yang cukup banyak, bahkan bisa menyesuaikan kasta dari keluarga. Masyarakat bisa menyaksikan prosesi Ngaben, khususnya pakiriman ngutang yang lumrahnya di adakan di luar ruangan.

 

Makare-kare

 

Tradisi lain yang bisa disaksukan oleh umum bernama Makare-kare. Ritual ini bisa dibilang unik, menggabungkan prosesi peperangan dengan kearifan lokal di Karangasem, Desa Tenganan. Makare-kare jadi daya tarik wisata tersendiri, terlepas dari pengadaannya yang dilakukan setahun sekali pada Sasih Kelima atau bulan kelima. Konsep Makare-kare yaitu peperangan menggunakan daun pandan berduri. Perang ini bertujuan untuk memberikan penghormatan pada Dewa Indra dan para leluhur. Makare-kare diadakan selama dua hari dan dibuka oleh umum di depan Patemu Kaja dn Bale Agung. Wisatawan yang sengaja datang ke Karangasem, bisa menyaksikannya secara langsung. Ritual yang juga disebut sebagai Perang Pandan ini bisa dilaksanakan oleh seluruh kalangan laki-laki dari usia remaja sampai dewasa. Mereka yang berperang akan mengenakan udheng tanpa atasan, membawa tameng, dan pedang dari daun pandan yang sudah dipotong. Peserta akan saling menyerang, diiringi musik gamelan, ditengahi oleh seorang wasit. Setelah perang selesai, luka dari duri pandan akan disembuhkan melalui ramuan khusus.

 

Itu dia beberapa upacara atau ritul adat Bali yang bisa disaksikan oleh para wisatawan umum. Kebudayaan di Bali memang sangat dijunjung tinggi, tercermin dari banyak hal, termasuk perilaku masyarakatnya terhadap setiap momentum yang ditandai melalui perayaan. Di samping tetap menjalankan ajaran para leluhur, ada istiadat ini menjadi daya tarik pariwisata tersendiri untuk Pulau Bali.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

5 Alasan Desa Penglipuran jadi Desa Terbersih di Bali

Next Entry

Lembah Lohe: Pesona Surga Tersembunyi di Ketinggian Sulawesi Selatan

Next Entry

5 Transportasi Unik di Yogyakarta untuk Keliling Kota