6 Menu Angkringan, Mainstream Tapi Candu
Angkringan jadi salah satu tempat makan yang punya menu mainstream, tapi anehnya banyak orang tetap cari karena candu. Menu-menu itu bisa kamu baca di sini.
Angkringan adalah tempat makan sederhana yang mudah ditemui di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Hampir di setiap jalanan, kerap kali ditemui warung tenda dengan gerobak yang jadi pusat perhatian para pembelinya. Angkringan sendiri kini telah menjadi daya tarik wisata yang digandrungi berbagai pihak. Bahkan di Jalan Margatama, Yogyakarta, satu deret bisa diisi dengan lapak-lapak angkringan yang menjajakan berbagai menu. Masing-masing juga punya customer, sehingga saat ramai, rasanya begitu penuh, khususnya pada malam hari karena angkringan memang kebanyakan beroperasi dari sore sampai subuh. Padahal, kalau dilihat-lihat, sebenarnya hidangan yang disajikan tidak jauh berbeda, bahkan cenderung sama. Namun, hal tersebut tidak memengaruhi orang-orang untuk datang ke lapak angkringan tersebut.
Sebenarnya, apa saja, sih, makanan yang sering dijual di angkringan?
Nasi Kucing
Menu paling klasik dari angkringan adalah nasi kucing. Menu ini merupakan ciri khas dari sebuah angkringan. Nasi porsi kecil yang dilauki dengan sambal teri atau oseng-oseng, dibungkus menggunakan daun pisang atau kertas minyak. Nasi kucing sendiri sebenarnya bukan pondasi awal dari angkringan. Dulu menu utama dari cikal bakal angkringan bernama terikan. Hidangan tersebut terdiri dari beberapa jenis bahan yang disiram kuah dan cukup terkenal di kawasan Jawa Tengah. Nasi kucing hadir sebagai revolusi dari terikan sampai sekarang. Awalnya, porsi nasi kucing memang dibuat sedikit, sebab memudahkan para pembeli tetap merasa kenyang dengan harga murah. Lauknya sederhana, tapi tetap dicintai. Kini, nasi kucing telah mengalami perubahan. Tidak hanya sekadar nasi, sambal, dan teri, tapi ada yang menambahkan lauk kekinian, misalnya ayam geprek, sambal ijo, usus, dan sebagainya. Besar porsinya turut berubah, ada yang kecil sekali sampai besar dengan variasi harga berbeda-beda.
Sate-satean
Angkringan tidak akan lengkap tanpa adanya side dish berupa sate-satean. Di beberapa angkringan terkenal di kawasan Yogyakarta maupun Jawa Tengah, sate-satean selalu jadi primadona setiap harinya. Beragam jenis sate tersaji pada nampan-nampan yang menggiurkan. Bukan hanya sate biasa, tapi bahan makanan lain pun turut dijadikan sate. Sejak dulu, angkringan memang menyediakan sate, misalnya sate ayam, usus, ati, telur puyuh, kulit, dan jeroan. Di Yogyakarta atau Jawa Tengah, ada satu sate yang punya ketenaran sendiri, namanya sate koyor. Sate ini dibuat dari koyor, yaitu bagian dari urat, otot, atau jaringan ikat yang melekat pada tulang kaki, lutut, dan punggung sapi. Sate koyor ini dari luar kelihatan kenyal, tapi teksturnya akan meleleh ketika masuk mulut. Rasanya gurih, bercambur aroma smoky dari hasil bakaran. Selain di angkringan, sate koyor bisa ditemukan di pasar tradisional, seperti Bringharjo atau Pasar Gede Solo. Nah, memasuki era modern, sate-satean di angkringan semakin penuh pilihan. Ada dumpling, sosis, nugget, bakso bisa dijadikan sate. Bumbunya beragam, tidak hanya sekadar kecap dan margarin, melainkan bisa request pedas. Menu ini mengikuti zaman dimana kebanyakan pelanggan angkringan memang generasi z.
Gorengan
Bintang utama lain dari angkringan adalah gorengan. Siapa yang tidak suka gorengan, snack berminyak yang terbuat dari berbagai bahan. Katanya jahat untuk kesehatan, tapi faktanya masih banyak orang yang mengonsumsi gorengan setiap hari. Gorengan memang tidak baik bila dikonsumsi terlalu banyak atau berlebihan setiap harinya, jadi orang harus bijak dalam menilai. Di angkringan, gorengan adalah teman makan yang asyik. Rasanya akan ada yang kurang kalau menyantap nasi kucing tanpa adany sepotong tempe mendoan atau tahu isi. Rasanya lidah pun kebas kalau belum menyentuh bakwan. Maka dari itu, gorengan selalu ada, tersaji di tengah-tengah, memenuhi gerobak. List favorit gorengan yang selalu hadir menemani di angkringan umumnya meliputi mendoan, tahu isi, bakwan, lumpia, tape goreng, singkong goreng, usus goreng, dan lain-lain. Terkadang, ada juga yang menyediakan sosis goreng sebagai pelengkap menu makan malam para pengunjung.
Baceman
Kamu pernah dengar istilah bacem? Istilah ini populer di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya, yaitu teknik slow cook yang dapat menghasilkan nuansa rasa gurih dan manis. Bahan-bahan utamanya berupa bawang merah, bawang putih, ketumbar, kecap, dan gula merah. Bisa dibayangkan, warnanya akan coklat kehitaman. Tujuan dari bacem ini adalah mengawetkan makanan agar tahan lama. Hal itu juga cara para pengusaha angkringan dalam menyajikan lauk. Bahan-bahan yang sering kali dibacem di angkringan antara lain kepala ayam, ceker, ampela ati, sayap, tahu, dan tempe. Setelah dimasak sampai matang, baceman biasanya akan didiamkan dulu beberapa saat agar bumbunya meresap sempurna. Prinsip dari baceman sendiri, semakin lama maka rasanya akan semakin legit. Bahan makanan yang sudah dibacem bisa langsung dikonsumsi, tapi kalau di angkringan, baceman akan diproses dalam penggorengan. Jadi, rasa gurih manis itu berkombinasi dengan tekstur yang lebih padat. Rasanya nasi kucing tambah baceman ialah sebuah kenikmatan.
Wedang Jahe
Ciri khas dari angkringan lain yang sangat jelas terlihat ialah keberadaan ceret di atas tungku. Di masa lalu, ketika angkringan belum menggunakan gerobak seperti sekarang, ceret telah dibawa untuk menyajikan minuman pada pembeli. Sebab berjualan pada maam hari, minuman yang dibuat adalah wedang jahe. Kultur ini terbawa sampai sekarang, menjadikan wedang jahe melekat pada budaya angkringan. Wedang jahe bisa disebut salah satu menu jajaran atas di angkringan. Wanginya semerbak, menggunakan jahe yang dibakar dan digeprek. Rasa manisnya dihasilkan dari penggunaan gula batu. Semakin berkembangnya zaman, wedang jahe tidak hanya disajikan begitu saja, sebab variasinya bertambah, misalnya saja susu jahe yang menambahkan kental manis dan kopi jahe yang menambahkan kopi. Wedang jahe sangat fleksibel, sehingga masuk-masuk saja bila harus dikombinasikan bersama menu-menu lain.
Kopi Joss
Menu yang satu ini sebenarnya berasal dari Yogyakarta. Awal kemunculannya bermula dari angkringan legendaris di sana, milik Lik Man, yang berada di kawasan Stasiun Tugu. Menu kopi joss berwujud kopi hitam biasa, tapi dimasuki arang ke dalam gelas. Namun, tenang saja, karena arang yang digunakan khusus, bukan sisa pembakaran, melainkan sudah dirancang aman dikonsumsi. Bara api pada arang ini ketika dimasukkan masih cukup panas, lho, sehingga asap akan mengepul setelahnya. Penamaan kopi joss diambil dari suara arang yang jatuh ke dalam kopi. Arang memberikan manfaat yang beragam pada kopi joss, contohnya menurunkan kadar kafein serta menetralkan rasa asam. Menu kopi joss banyak membuat orang penasaran, membawa mereka datang ke Angkringan Lik Man untuk mencobanya. Sekarang, kopi joss jadi menu yang umum di angkringan Yogyakarta.
Nah, itu dia sederet menu yang pasti akan kamu temui di angkringan. Walaupun kelihatan mainstream, tetapi pembeli tidak akan pernah bosan. Justru, makanan-makanan yang tampak sederhana itu merupakan comfort food bagi sebagian orang. Menikmati nasi kucing bersama gorengan, sate-satean, baceman sembari bercerita sama teman atau kerabat, sudah cukup menenangkan perasaan di kala malam datang.
Featured image: pexels.com/Nunik Fitria