Thea News
Fashion // 2026 Lea

Color Wheel:
Teori Warna Sebagai Identitas Fashion

Sebagai bagian penting dari fashion, warna dibagi jadi beberapa kelompok. Merujuk pada color wheel atau diagram warna, jenis-jenis warna bisa disimak dalam tulisan ini.

Fashion bukan sekadar desain atau model yang melekat pada sebuah pakaian, tetapi juga warna yang menjadi identitas menonjol. Warna menjadi salah satu unsur yang akan dikenali dan menarik perhatian calon pemakai. Bisa dikatakan bahwa warna merupakan kesan pertama yang sampai pada orang ketika pertama kali lihat. Dalam dunia psikologi fashion, warna adalah simbol dari perasaan, sehingga orang akan mempertimbangkan warna di setiap pilihannya. Warna punyak watak, sifat, dan sumber yang dipelajari oleh para pelaku dunia fashion. Termasuk di dalamnya yaitu mix and match warna untuk sebuah look. Dimulai dari mengenali diagram warna atau color wheel, dimana semua warna berkumpul dan terbagi menjadi lima kelompok yang bisa dipelajari lebih jauh. 

 

Warna Primer

 

Kita mengenal warna primer sebagai kelompok utama yang dihasilkan tanpa adanya campuran warna lain. Terdapat tiga warna primer yang dikenal dalam dunia fashion, yaitu merah, kuning, dan biru. Ketiga warna ini mengandung makna yang berbeda, mewakili karakter yang akan dibawa oleh di pemakai busana. Warna merah, mewakili watak yang penuh energi dan berani. Merah kerap dikaitkan dengan kekutan, gairah, juga sebuah larangan. Merah punya emosi mendalam, lambang dari cinta dan kasih. Kemudian, warna biru menjadi perwakilan dari keseimbangan, profesionalitas, juga ketenangan. Biru memberikan eksan yang damai, rileks, serta selaras. Warna biru sering dikaitkan dengan langit atau air, yang menggambarkan rasa luas, aman, sejuk tapi misterius. Sedangkan warna kuning yang cerah sering dikaitkan dengan rasa senang, bahagia, ceria, kreatif, dan penuh energi. Di ranah fashion, kuning sangat mudah mencuri perhatian. Warna yang kelihatan ngejreng itu dapat menunjukkan suasana hati yang gembira, sehingga kerap diasosiakan dengan aktivitas fisik di luar ruangan. 

 

Warna Sekunder

 

Teori warna yang kedua adalah warna sekunder. Secara mudah, wana sekunder merupakan campuran dari dua warna primer menjadi warna yang baru dengan jumlah seimbang. Dalam color wheel, biasanya warna sekunder terletak di antara warna-warna primer, unsur utama pembentuknya. Tentu setiap warna nantinya juga akan mewakili sifat dan watak tertentu, untuk jadi dasar dalam pembuatan busana yang apik. Pembuatan warna sekunder dapat dilakukan dengan mencampurkan dua warna primer dengan jumlah tertentu. Tidak harus sepadan, tapi tergantung warna apa yang ingin dibuat. Kalau meruntut cara tradisional, pencampuran dilakukan secara manual dengan mencampurkan dua pigmen. Ketika warna tercampur, mereka akan menyerap gelombang cahaya dan memantulkan warna lain. Seimbang bukan berarti sama, walaupun memang ada yang menggunakan takaran 1:1, seperti warna hijau dihasilkan dari biru dna kuning. Namun, ada juga warna ungu yang dihasilkan dari percampuran merah serta biru, yang akan memberikan warna lebih terang atau gelap tergantung dari seberapa banyak ukurannya. Hal ini pun terjadi pada oranye. 

 

Warna Tersier

 

Kelompok warna ini memberikan keunikan sendiri pada tampilannya. Secara literal, warna tersier adalah percampuran antara dua atau lebih jenis warna, misalnya satu primer dan satu sekunder, tiga primer, atau antar sekunder. Percampuran warna ini memberikan wujud yang lebih beragam, dalam, serta estetik. Warna tersier dianggap lebih menarik, eye-catching, dan semakin menunjukan karakter seseorang melalui dimensi yang kompleks. Memadukan warna tersier juga tidak boleh sembarangan. Biasanya, designer atau pecinta fashion akan memperhatikan color wheel terhadap setiap warna yang sekiranya berhubungan dan menghasilkan rona yang lebih cantik. Sejumlah warna tersier yang sering digabungkan ialah kuning dan jingga, menghasilkan warna amber, merah dan jingga yang menghasilkan warna vermillion, ungu dan merah menghasilkan magenta, biru dan ungu menghasilkan violet, hijau serta biru menciptakan teal, dan kuning juga hijau yang memberikan tampilan chartreuse atau spring green. Setiap orang memiliki alasan khusus mengapa memilih warna tersier sebagai identitas dari busana yang dikenakan. 

 

Warna Kuarter

 

Sudah bisa ditebak, warna kuarter adalah warna keempat hasil perpaduan dari jenis warna sebelumnya. Warna kuarter kerap menjadi turunan warna yang lebih menjurus ke cokelat. Mengutip dari artikel Kompas yang berjudul 'Warna Kuarter: Pengertian dan Contohnya' karya Vanya Karunia Mulia Putri, dalam Buku Pengetahuan Dasar Seni Rupa oleh Sofyan Salam dkk, menjelaskan bahwa warna kuarter dihasilkan dari penggabungan dua warna tersiser. Perpaduan tersebut memberikan karakteristik warna baru, bisa jadi lebih tua daripada turunan sebelumnya, tapi terkadang jauh lebih soft daripada warna primer atau sekunder. Menggunakan warna kuarter dalam ranah fashion cukup berani, karena tampilannya cenderung lebih gelap. Namun, di sisi lain, warna kuarter memberikan kesan yang lebih kalem, hangat, dan sederhana. Padahal, proses pembuatannya membutuhkan banyak komponen warna. Contoh warna kuarter yang sering dipakai adalah cokelat-jingga, cokelat-hijau, dan cokelat-ungu.

 

Warna Intermediate

 

Kelompok warna ternyata tidak habis pada primer, sekunder, dan tersier. Dalam roda warna, terdapat beberapa macam warna yang berada di antara kelompok lain, yang disebut sebagai warna intermediate. Warna intermediate bisa dijumpai di antara warna primer  dan sekunder sebagai penjembatan di antara warna-warna yang lain. Intermediate color dapat dijadikan sebagai patokan untuk mengerti hubungan antara warna primer dan sekunder dalam color wheel. Ada beberapa cara untuk mendapatkan warna intermediate. Memandang color wheel, warna ini bisa ditemukan dengan mixing 1 primer dengan 1 warna sekunder atau cara lainnya yaitu mencampurkan sesama warna primer dengan takaran yang berbeda. Di dunia fashion, kombinasi warna intermediate menjadi solusi cerdas untuk menemukan keunikan, ekspresif, serta anti-monoton. Apalagi, pilihan kelompok warna ini lebih bisa masuk ke warna kulit tertentu. Beberapa warna yang bisa dikategorikan sebagai intermediate color yaitu merah-jingga, kuning-jingga, kuning-hijau, biru-hijau, biru-ungu, dan merah-ungu. Masing-masing warna dapat dikombinasikan bersama warna lain dan dikenakan pada acara yang berbeda-beda. 

 

Mengetahui dan mempelajari teori warna sangat memberikan manfaat bagi banyak orang. Terutama di dunia fashion, warna adalah sesuatu yang krusial. Selain desian pakaian yang unik, warna yang eye-catching merupakan kunci dari menariknya sebuah fashion item. Warna pakaian jadi identitas busana yang mewakili watak dari pemakainya. Melalui warna, seseorang dapat mengkomunikasikan emosi dari audiens atau pemakainya. Misalnya warna merah melambangkan kepercayaan diri, warna kuning keceriaan, dan warna biru ketenangan.  Warna jadi personal branding yang kuat, membuat penampilan jadi lebih hidup, mudah dikenali, dan memperkuat citra merk di pasaran. Mempelajari color wheel memang tidak ada ruginya. Sebab, dari mengatahui setiap teori warna dari primer sampai intermediate, orang akan mudah dalam memadu padankan item. Hubungan antara warna yang menempel pada tubuh lebih harmoni, selaras, dan manis. Kesalahan tabrak warna yang menjadi momok itu tidak bakal kejadian kalau sudah mengantongi bekal  color wheel. Penggabungan jenis-jenis warna tersebut berkaitan dengan skema warna, yaitu monokrom, analog, dan komplementer. 

 

Featured image: pexels.com/Huy Nguyễn

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Rekomendasi Side Part Hairstyles Yang Bisa Anda Tiru!

Next Entry

Mengapa Warna Hitam Selalu Menjadi Pilihan Favorit dalam Fashion? Ternyata Bukan Sekadar Karena Mudah Dipadukan

Next Entry

Styling Bandana Caps, Untuk Anda Yang Ingin Tampil Edgy