Thea News
Recomendation // 2026 Arbias

Dari Bolu Bakar sampai Risol Matcha:
5 Kuliner Viral Bandung yang Bikin Penasaran

Kuliner zaman sekarang bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi soal berburu pengalaman yang memicu FOMO (Fear Of Missing Out) instan bagi siapa pun yang scroll media sosial mereka.

Bandung tidak pernah kehabisan cara untuk bikin orang terpukau, terutama soal urusan kuliner. Kota Kembang ini sejak lama sudah menjadi kiblat kreativitas anak muda Indonesia mulai dari fesyen, tempat nongkrong estetik, sampai jajanan kaki lima yang bikin nagih. Tapi kalau kamu perhatikan, tren kuliner Bandung di 2026 ini, lanskapnya sudah bergeser cukup jauh.

 

Dulu, orang cukup puas dengan makanan yang enak saja. Sekarang tidak. Generasi urban Bandung menginginkan paket lengkap: rasa yang lezat, tekstur yang menarik, dan yang paling krusial yaitu visual yang lolos kurasi estetika sebelum naik ke Instagram Reels atau FYP TikTok. Yang menarik dari tren tahun ini adalah perpaduan antara nostalgia otentik dan eksperimen berani. Ada makanan jadul yang dikemas ulang dengan bahan premium, ada inovasi rasa yang membenturkan budaya kuliner Jepang dengan citarasa lokal, dan ada juga kaki lima yang omzetnya meledak gara-gara satu video viral. Inilah yang membuat setiap sudut kota Bandung, mulai dari kawasan Braga yang bersejarah, Dago yang sejuk, sampai area Gedebage yang lebih urban selalu ramai antrean.

 

Supaya kamu tidak ketinggalan dan bisa memilih tempat yang tepat saat ke Bandung, berikut ulasan komprehensif 5 kuliner paling viral di Bandung tahun 2026 yang bisa kamu coba jika berjalan-jalan ke Bandung.

 

1. Bolu Bakar Tunggal: Bukan Roti Bakar, Tapi Lebih dari Sekadar Bolu

Lokasi Utama: Jl. Jenderal Sudirman No. 570–574, Bandung (plus 25+ cabang tersebar di Bandung dan Kota Baru Parahyangan)

 

https://www.instagram.com/bolubakartunggal_/

 

Sebelum bicara soal rasanya, kita perlu luruskan satu hal dulu: Bolu Bakar Tunggal bukan roti bakar. Sekilas tampilannya memang mirip, ada kulit luar dan ada isian, tetapi bahan dasarnya adalah kue bolu asli yang dibuat dari tepung terigu premium, telur segar, dan mentega asli. Penampilannya pun khas: bolu berbentuk balok persegi panjang dengan corak kehitaman di bagian luarnya karena proses pembakaran, maka itulah kenapa namanya "bolu bakar."

 

Cara penyajiannya yang unik inilah yang jadi daya tarik utama. Bolu balok tersebut dibelah dua di bagian tengahnya, diolesi mentega room butter yang wangi, lalu diberi isian pilihan sesuai selera, kemudian dipanggang. Saat dipanggang, aroma mentega panas yang berpadu dengan isian dari dalam langsung semerbak ke udara dan bagi siapa pun yang berdiri di dekat gerainya, aroma itu nyaris mustahil untuk diabaikan.

 

Tekstur akhirnya adalah kombinasi yang tidak biasa: bagian luar sedikit garing dengan warna keemasan kecokelatan, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan empuk, dengan isian yang meleleh karena panas. Rasa manisnya tidak berlebihan, dengan gurih mentega yang pas dan tidak bikin enek.

 

Bolu Bakar Tunggal sendiri bukan pemain baru. Usaha ini sudah berdiri sejak 2004, lahir dari perusahaan PT Tunggal Inti Kahuripan yang sudah eksis sejak 1962 dan dikenal dengan produk biskuit marie-nya. Jadi ketika mereka meluncurkan bolu bakar, itu bukan eksperimen iseng, melainkan inovasi dari produsen kue berpengalaman.

 

Soal pilihan rasa, ada lebih dari 15 varian yang tersedia. Yang paling laris dan paling sering muncul di konten media sosial adalah Roombutter (klasik, wangi, gurih manis), Smoked Beef Keju Premium (favorit pencinta rasa asin), Coklat Kacang, dan Keju Spesial dengan selai keju ekstra. Untuk varian premium, ada juga Durian Musang King. Harga berkisar antara Rp 46.000 hingga Rp 150.000 tergantung ukuran dan varian isian. Satu loyang bisa dipotong menjadi 6–8 potong, cukup untuk dinikmati bersama atau dijadikan oleh-oleh yang tahan 3 hari di suhu ruangan.

 

Satu hal yang perlu kamu catat: bolu ini paling sempurna dimakan dalam keadaan hangat. Karakter mentega room butter-nya cepat meresap ke dalam bolu saat mulai dingin, jadi pastikan kamu langsung buka kotaknya setelah beli.

 

2. Bakeslane: First Burnt Cheesecake Ice Cream di Bandung

Lokasi: Jl. Tubagus Ismail No. 40, Sekeloa, Coblong, Bandung (outlet tambahan di Jl. Imam Bonjol No. 16)

 

https://www.instagram.com/bakeslane/

 

Kalau kamu adalah tipe orang yang hidupnya dihabiskan di antara tab eksplorasi Instagram dan FYP TikTok, nama Bakeslane pasti sudah tidak asing. Kedai dessert minimalis ini menjadi salah satu destinasi kuliner paling dicari di Bandung berkat konsep yang bisa dibilang pertama di kotanya: burnt cheesecake yang disajikan bersama es krim premium.

 

Yang membuat Bakeslane berbeda bukan sekadar tren burnt cheesecake-nya yang sedang meledak di mana-mana. Gerai ini memahami bahwa di era media sosial, sebuah makanan harus punya "momen." Dan momen Bakeslane adalah ketika potongan burnt cheesecake yang hangat dengan bagian luar gosong kecokelatan dari karamelisasi suhu tinggi dan bagian dalam yang masih lumer lembut disandingkan dengan dua scoop es krim premium di atasnya. Kontras suhu dan tekstur itu adalah jebakan yang sulit dihindari oleh kamera HP siapa pun.

 

Dari sisi rasa, burnt cheesecake Bakeslane memiliki profil yang seimbang. Bagian luar yang gosong bukan sekadar estetik, tetapi proses pembakaran suhu tinggi dalam waktu singkat itu menciptakan lapisan karamelisasi tipis dengan rasa pahit-manis yang justru menjadi penyeimbang dari kelembutan krim keju di tengahnya. Varian yang tersedia mulai dari classic cheese, matcha, hingga kombinasi rasa lokal seperti peuyeum (fermented cassava) yang mendapat respons positif dari pelanggan.

 

Satu porsi cheesecake di Bakeslane mulai dari sekitar Rp 20.000-an, terhitung sangat terjangkau untuk kualitas yang mereka tawarkan. Tidak heran jika antrean terbentuk sejak pagi hari, terutama oleh para kreator konten yang mengincar pencahayaan alami terbaik untuk video cake cutting mereka.

 

3. Donat Subur Jaya: Antri 2,5 Jam Demi Donat Antik Tanpa Pengawet

Lokasi: Jl. Alkateri No. 31, Braga, Sumur Bandung, Bandung (buka Jam 08.00–15.30 atau habis, tutup Selasa–Rabu)

 

https://www.instagram.com/donatsuburjaya/

 

Di tengah gempuran donat modern ala waralaba Amerika yang bisa kamu temukan di mal mana pun, Donat Subur Jaya justru tampil dengan arah yang berlawanan dan hasilnya adalah antrean yang kadang bisa mencapai dua setengah jam. Ini bukan soal marketing yang agresif. Ini soal resep yang jujur dan reputasi yang dibangun pelan-pelan di komunitas lokal sebelum akhirnya meledak di TikTok dan Instagram.

 

Donat ini dikenal sebagai donat antik dan otentik yang dibuat tanpa pengawet, tanpa pewarna, tanpa pengempuk buatan, dan tanpa improver apapun. Di era di mana hampir semua produk makanan massal menggunakan bahan aditif demi konsistensi dan umur simpan yang panjang, kejujuran bahan baku ini menjadi proposisi nilai yang sangat kuat, terutama di kalangan konsumen muda yang makin sadar kesehatan.

Tekstur donatnya memang beda dari yang biasa kamu makan di gerai modern. Lebih padat, empuk, dan chewy,  tidak kopong, tidak ringan seperti busa. Satu review yang cukup viral menyebutnya sebagai tipe donat yang "chewy" dan bagi mereka yang memang menyukai tekstur itu, Subur Jaya adalah jawaban yang tepat. 

 

Pilihan toppingnya sederhana namun dieksekusi serius: gula halus klasik, cokelat mesis melimpah, keju, green tea, hingga red velvet untuk varian kekinian. Harga per donat berkisar di kisaran Rp 10.000–18.000 saja, termasuk lumayan terjangkau. Karena tanpa pengawet, donat ini memang tidak bisa disimpan berhari-hari, jadi pengalaman terbaiknya adalah makan di tempat atau langsung dibawa pulang.

 

Yang perlu kamu antisipasi: toko ini buka dari jam 8 pagi dan kerap habis sebelum jam tutup resminya. Cek Instagram mereka di @donatsuburjaya sebelum berangkat untuk memastikan stok masih tersedia. Dan ya, antrean panjang itu nyata, tetapi kata banyak orang yang sudah mencobanya.

 

4. Cilok Kuah Tulang Mang Encuy GBLA: Dari Kaki Lima ke Omzet 5 Juta Per Hari

Lokasi: Kawasan sekitar Stadion GBLA (Gelora Bandung Lautan Api), Gedebage, Bandung

 

https://www.instagram.com/eatoutbdg/

 

Ini adalah kisah kaki lima yang paling "medsos banget" di antara lima kuliner dalam daftar ini. Cilok Kuah Tulang Mang Encuy GBLA tidak viral karena disupport influencer berbayar atau karena strategi marketing yang canggih. Ia viral karena video reels-nya muncul di FYP jutaan orang, memperlihatkan kuah merah pekat yang disiram ke mangkuk berisi cilok jumbo isian tetelan daging dan orang-orang tidak bisa berhenti menonton. Daya tarik videonya terletak pada visual yang agresif dan jujur. Sendok membelah cilok jumbo, memperlihatkan isian daging sapi yang gurih dan berair menyembul keluar. Lalu kuah kaldu tulang sapi yang kental berwarna merah menyala dari ulekan cabai rawit, minyak cabai, dan taburan irisan daun jeruk purut disiram di atasnya. Kontras merah hijau itu secara psikologis langsung memicu air liur  dan itu yang membuat video demi video darinya terus beredar.

 

Fakta di lapangan mengkonfirmasi bahwa viralnya bukan hiperbola. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan omzet Mang Encuy bisa mencapai 5 juta rupiah per hari dari gerai kaki lima ini saja. Adonan ciloknya punya kekenyalan yang pas, yaitu tidak terlalu keras, tidak lembek, karena keseimbangan tepung tapioka dan terigu yang dijaga. Kuah kaldunya gurih alami dari tulang sapi yang direbus lama, lalu dipadukan dengan sengatan pedas dari cabai rawit dan bumbu kencur. Dimensi tekstur semakin kaya dengan tambahan pilus cikur yang renyah dan perasan jeruk limau di atasnya.

 

Yang perlu kamu ketahui sebelum datang yaitu konsep tempat ini merupakan kaki lima, bukan restoran. Jam buka setiap hari Minggu pagi. Walaupun hanya buka saat Minggu pagi dan berkonsep kaki lima,  justru itu yang membuat pengalaman makannya terasa otentik, yaitu duduk di pinggir jalan, udara Minggu pagi Bandung, mangkuk panas di tangan, dan keringat di dahi karena pedasnya.

 

5. Debunzi Risol: Risol Prasmanan Premium yang Kini Punya Senjata Baru — Matcha

Lokasi: Dago, Burangrang, Bojongsoang, TSM Bandung, Cimahi, Gegerkalong (cek @debunzi_risol untuk detail)

 

https://www.instagram.com/debunzi_risol/

 

Debunzi Risol sudah lama dikenal sebagai salah satu “risol premium favorit warga Bandung”, mereka bahkan menyebut diri sebagai #1 Risoles Prasmanan di Indonesia. Dengan 35.500 followers Instagram dan outlet yang terus bertambah, reputasi itu bukan sekadar klaim. 

 

Tapi di 2025–2026 ini, ada satu varian baru dari Debunzi yang sedang benar-benar ramai: Risol Matcha Cheese. Dan ini yang membuat Debunzi kembali masuk perbincangan kuliner Bandung secara masif. Konsep dasarnya terdengar sederhana, tapi eksekusinya yang membuat orang antri: kulit risol yang dibalur tepung panir kasar, digoreng deep fry hingga tingkat kegaringan maksimal dan berwarna cokelat keemasan, berisi krim matcha cheese yang meleleh di dalam. Saat dibelah, baik dengan sendok atau langsung digigit, akan terdengar suara crunch yang jelas, lalu cairan krim matcha berwarna hijau tua pekat langsung mengalir keluar dengan konsistensi yang lembut dan kental. The crunch-and-ooze effect itu adalah visual yang sangat powerful untuk konten makanan.

 

Dari sisi rasa, ini bukan sekedar tren matcha yang asal tempel. Rasanya serius: ada kepahitan khas teh hijau yang tetap hadir dan tidak tertutup oleh rasa manis, keju yang creamy memberikan dimensi gurih, dan kulit risol yang renyah menjadi kontras tekstur yang sempurna. Versi matcha cheese ini berhasil menjadi varian yang paling banyak dibicarakan di antara 12 varian rasa yang mereka miliki.

 

Satu catatan menarik soal Debunzi: mereka sempat viral bukan hanya karena makanannya, tapi juga karena respons ownernya di media sosial yang blak-blakan, yaitu sesuatu yang justru membuat banyak orang semakin penasaran dan datang mencoba. Ini adalah bukti bahwa di era sekarang, karakter dan kepribadian brand juga bisa menjadi konten tersendiri.

 

Apa yang Membuat Kuliner Bandung Selalu Punya Tempat di Hati?

 

Kalau kita perhatikan kelima kuliner di atas, ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya: mereka semua punya momen visual yang kuat.

Bolu Bakar Tunggal punya momen saat bolu hangat dibuka dari kotaknya dan aroma mentega menyeruak. Bakeslane punya momen saat pisau memotong burnt cheesecake dan es krim mulai meleleh. Donat Subur Jaya punya momen saat donat empuk tanpa pengawet itu digigit secara sederhana, tapi jujur. Cilok Mang Encuy punya momen dramatis saat kuah merah disiram ke atas mangkuk. Dan Debunzi Risol punya momen crunch-and-ooze yang seolah dirancang untuk kamera slow-motion.

 

Di era media sosial, momen itulah yang menjadi currency atau hal yang berharga. Makanan yang bisa "hidup" di layar HP akan selalu punya keunggulan dibanding yang tidak bisa. Tapi perlu dicatat, semua yang masuk daftar ini bukan cuma viral karena estetika. Mereka viral dan tetap ramai karena rasanya memang solid. 

 

Bandung tetap kokoh sebagai ibu kota kuliner kreatif Indonesia bukan hanya karena iklimnya yang mendukung dan konsumennya yang lapar inovasi, tapi juga karena para pelaku kulinernya tidak takut untuk bereksperimen. Memadukan krim matcha Jepang ke dalam kulit risol lokal, menyajikan burnt cheesecake gaya Korea dengan es krim, atau mempertahankan resep donat tanpa pengawet di tengah tekanan industri makanan massal, itu semua adalah bentuk keberanian yang berbeda-beda.

 

Dan bagi kamu yang sedang merencanakan perjalanan ke Bandung, menyusuri kota sambil ikut antre di salah satu tempat ini bukan sekadar urusan perut. Ini adalah cara paling direct untuk ikut merasakan denyut kreatif kota yang tidak pernah benar-benar diam.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Siapkan Tiketmu! Berikut Film 'Must-Watch' yang Bakal Mengguncang Layar Lebar Bulan Ini

Next Entry

10 Karya Sastra Klasik yang Akan Mengubah Cara Pandangmu Pada Dunia