Thea News
Fashion // 2026 Arbia Zahira

Fenomena Quiet Luxury yang Mengubah Cara Orang Berpakaian:
Gaya Mewah yang Tak Lagi Harus Mencolok

Mengenal fenomena quiet luxury yang mengubah cara orang berpakaian. Pahami ciri, perbedaannya dengan loud luxury, serta cara menyikapinya dengan bijak.

Beberapa tahun terakhir, dunia mode diramaikan oleh istilah quiet luxury. Meskipun terdengar baru, sebenarnya konsep ini sudah lama ada dan kini semakin populer di berbagai kalangan. Berbeda dengan gaya yang dipenuhi logo besar atau aksesori mencolok, quiet luxury justru menonjolkan kesan sederhana, rapi, dan elegan tanpa harus menarik perhatian secara berlebihan. Tren ini semakin banyak dibicarakan setelah muncul di berbagai media sosial, film, serial, hingga dikenakan oleh sejumlah tokoh publik. Tidak sedikit orang yang mulai mengubah cara berpakaian karena terinspirasi oleh gaya tersebut. Namun, apa sebenarnya quiet luxury? Apakah berarti harus memakai pakaian mahal? Lalu mengapa gaya ini dianggap berbeda dengan kemewahan yang selama ini dikenal masyarakat? Mari mengenalnya lebih jauh agar kita dapat memandang tren ini secara lebih bijak.

 

Apa Itu Quiet Luxury?

 

https://www.instagram.com/skuukzky/

 

Quiet luxury dapat diartikan sebagai gaya berpakaian yang menampilkan kesan mewah secara halus tanpa perlu menunjukkan kemewahan secara terang-terangan. Fokus utamanya bukan pada logo merek yang besar atau desain yang mencolok, melainkan pada kualitas bahan, potongan pakaian yang rapi, warna yang netral, serta detail yang dikerjakan dengan baik. Orang yang menerapkan gaya ini biasanya memilih pakaian dengan warna-warna seperti putih, hitam, abu-abu, krem, cokelat, atau biru tua. Desainnya cenderung sederhana, tidak dipenuhi motif ramai, dan mudah dipadukan dengan berbagai jenis pakaian lainnya. Sekilas mungkin terlihat biasa saja, tetapi jika diperhatikan lebih dekat, kualitas jahitan, bahan, dan kenyamanan pakaian tersebut sering kali berada di atas rata-rata. Konsep ini sebenarnya bukan sekadar soal pakaian. Quiet luxury juga menggambarkan cara seseorang memandang kemewahan. Bagi sebagian orang, kemewahan tidak harus selalu dipamerkan. Mereka lebih menghargai kualitas, daya tahan, serta fungsi suatu barang dibandingkan tampil mencolok di depan orang lain.

 

Mengapa Quiet Luxury Menjadi Tren?

 

Ada beberapa alasan mengapa quiet luxury semakin diminati. Salah satunya adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap gaya hidup. Dahulu, banyak orang menganggap kemewahan identik dengan barang bermerek yang mudah dikenali. Kini, sebagian orang justru mulai mencari sesuatu yang lebih sederhana namun tetap berkualitas. Media sosial juga memiliki peran yang cukup besar. Menariknya, di tengah maraknya unggahan yang penuh kemewahan, muncul kelompok orang yang justru menyukai tampilan yang lebih tenang dan tidak berlebihan. Mereka merasa gaya berpakaian sederhana justru memberikan kesan lebih dewasa, profesional, dan elegan. Selain itu, semakin banyak orang yang menyadari bahwa pakaian berkualitas dapat digunakan dalam waktu yang jauh lebih lama. Dibandingkan membeli pakaian yang mengikuti tren sesaat, mereka memilih membeli beberapa pakaian yang awet sehingga dapat dipakai selama bertahun-tahun. Cara berpikir seperti ini juga sejalan dengan gaya hidup yang lebih hemat dan tidak konsumtif. Fenomena ini semakin populer setelah berbagai serial televisi dan tokoh publik memperlihatkan karakter dengan penampilan sederhana, tetapi tetap berkelas. Sejak saat itu, istilah quiet luxury semakin sering digunakan dalam dunia mode.

 

Quiet Luxury Bukan Berarti Harus Selalu Mahal

 

Inilah kesalahpahaman yang paling sering muncul. Banyak orang mengira bahwa quiet luxury berarti harus membeli pakaian dari merek-merek kelas dunia dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, inti dari konsep ini bukanlah harga, melainkan kualitas dan cara berpakaian. Memang benar, banyak merek mewah yang menerapkan konsep quiet luxury. Namun, bukan berarti seseorang harus membeli produk tersebut agar terlihat elegan. Seseorang tetap dapat menerapkan gaya ini menggunakan pakaian lokal yang berkualitas, memiliki potongan yang rapi, serta mudah dipadukan. Misalnya, sebuah kemeja polos berwarna putih dengan bahan yang nyaman dan jahitan yang baik sering kali terlihat lebih elegan dibandingkan kaus penuh logo berukuran besar. Begitu pula celana kain yang pas di badan dapat memberikan kesan lebih rapi daripada celana yang dipenuhi berbagai ornamen. Dengan kata lain, harga mahal bukanlah syarat utama. Cara memilih pakaian justru jauh lebih menentukan.

 

Apa Itu Loud Luxury? Kebalikan dari Quiet Luxury

 

Jika quiet luxury identik dengan kesan tenang, maka kebalikannya sering disebut loud luxury. Istilah ini mengacu pada gaya yang sengaja memperlihatkan kemewahan secara jelas. Ciri paling mudah dikenali adalah penggunaan logo merek berukuran besar, motif khas yang langsung dikenali, warna mencolok, hingga aksesori yang sengaja dibuat agar menarik perhatian. Tujuannya memang agar orang lain mengetahui bahwa pemakainya menggunakan barang dari merek tertentu. Sebagai contoh, tas dengan pola khas yang langsung dikenali, ikat pinggang dengan logo besar, atau pakaian yang penuh tulisan nama merek merupakan contoh loud luxury. Sementara itu, pada quiet luxury, logo sering kali sangat kecil, bahkan ada yang sama sekali tidak terlihat. Tidak ada yang salah dengan kedua gaya tersebut. Keduanya merupakan pilihan pribadi. Hanya saja, filosofi di balik keduanya memang berbeda. Loud luxury lebih menonjolkan identitas merek sebagai bagian dari penampilan, sedangkan quiet luxury lebih mengutamakan kualitas tanpa perlu banyak menunjukkan asal produknya.

 

Mengapa Sebagian Orang Menyukai Quiet Luxury?

 

https://www.instagram.com/sooyaaa__/

 

Banyak orang merasa gaya ini memberikan kesan lebih tenang dan tidak mudah ketinggalan zaman. Karena didominasi warna netral dan desain sederhana, pakaian bergaya quiet luxury relatif mudah dipadukan sehingga tidak cepat terasa usang meskipun dipakai dalam beberapa tahun. Selain itu, beberapa orang merasa tidak nyaman jika harus selalu menunjukkan kemewahan kepada orang lain. Mereka lebih memilih menikmati kualitas barang tersebut tanpa harus menjadikannya sebagai alat untuk mencari pengakuan sosial. Di lingkungan kerja, gaya seperti ini juga sering dianggap lebih profesional karena tampil rapi, bersih, dan tidak berlebihan. Penampilan yang sederhana terkadang justru membuat seseorang terlihat lebih percaya diri karena perhatian orang tertuju pada kemampuan dan kepribadiannya, bukan semata-mata pada pakaian yang dikenakan.

 

Apakah Quiet Luxury Selalu Identik dengan Orang Kaya?

 

Jawabannya tidak. Memang banyak orang berkecukupan yang memilih gaya ini karena mereka tidak merasa perlu menunjukkan status melalui pakaian. Namun, bukan berarti hanya orang kaya yang bisa menerapkannya. Seseorang dengan anggaran terbatas tetap dapat mengadopsi prinsip-prinsip quiet luxury. Misalnya dengan membeli pakaian yang benar-benar dibutuhkan, memilih bahan yang lebih awet, menghindari membeli pakaian hanya karena sedang viral, serta merawat pakaian agar tetap terlihat bagus dalam waktu lama. Bahkan, konsep ini dapat membantu seseorang mengurangi kebiasaan belanja berlebihan. Daripada membeli sepuluh pakaian yang cepat rusak, sebagian orang memilih membeli beberapa pakaian yang kualitasnya lebih baik sehingga bisa dipakai lebih lama.

 

Apakah Ada Batasan dalam Konsep Luxury?

 

Istilah luxury memang berarti kemewahan. Namun, bukan berarti seseorang harus memaksakan diri membeli barang yang berada di luar kemampuan finansialnya. Kemewahan seharusnya tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Bagi seseorang, membeli sepatu berkualitas yang tahan lima tahun mungkin sudah merupakan bentuk kemewahan. Bagi orang lain, membeli tas dari rumah mode ternama bisa menjadi hal yang wajar karena memang sesuai kemampuan ekonominya. Yang perlu dihindari adalah memaksakan gaya hidup demi mengikuti citra tertentu. Membeli barang mewah dengan cara berutang, mengorbankan kebutuhan pokok, atau demi mendapatkan pengakuan dari orang lain justru bertentangan dengan semangat berpakaian yang sehat. Mode seharusnya menjadi sarana mengekspresikan diri, bukan sumber tekanan finansial maupun sosial.

 

Bijak Menyikapi Merek Mewah dan Tren Mode

 

Kemunculan quiet luxury juga mengingatkan kita bahwa kualitas tidak selalu dapat dinilai dari logo. Sebuah pakaian tanpa merek terkenal belum tentu kualitasnya buruk. Sebaliknya, pakaian bermerek mahal pun tidak selalu menjadi pilihan terbaik bagi semua orang. Karena itu, penting untuk melihat suatu produk secara lebih objektif. Pertimbangkan kualitas bahan, kenyamanan saat dipakai, ketahanan, serta apakah pakaian tersebut memang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Jika jawabannya ya, maka pakaian tersebut sudah memiliki nilai yang baik, terlepas dari merek yang tertera pada labelnya. Kita juga tidak perlu merasa rendah diri jika tidak memakai merek mewah. Penampilan yang bersih, rapi, sopan, dan sesuai situasi sering kali memberikan kesan yang jauh lebih positif daripada sekadar mengenakan barang mahal. Di sisi lain, kita juga tidak perlu langsung menghakimi orang yang menyukai barang mewah. Selama dibeli dengan kemampuan sendiri dan digunakan secara bertanggung jawab, pilihan tersebut merupakan hak masing-masing. Yang terpenting adalah tidak menjadikan merek sebagai ukuran utama untuk menilai karakter, kesuksesan, atau nilai seseorang. Pada akhirnya, pakaian hanyalah salah satu bagian kecil dari identitas. Sikap, etika, kemampuan, serta cara memperlakukan orang lain tetap jauh lebih menentukan dibandingkan logo yang menempel pada baju atau tas.

 

Quiet Luxury Boleh Dijadikan Inspirasi, Bukan Standar Hidup

 

Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari tren ini adalah pentingnya membeli dengan lebih sadar. Sebelum membeli pakaian, kita dapat bertanya kepada diri sendiri apakah pakaian tersebut benar-benar dibutuhkan, mudah dipadukan dengan koleksi yang sudah ada, nyaman dipakai, dan memiliki kualitas yang baik. Cara berpikir seperti ini membuat lemari pakaian menjadi lebih efisien sekaligus membantu mengurangi pembelian impulsif. Kita tidak lagi terpaku pada tren yang cepat berganti, tetapi mulai membangun koleksi pakaian yang benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perlu diingat bahwa quiet luxury hanyalah salah satu gaya berpakaian, bukan aturan yang wajib diikuti semua orang. Ada orang yang lebih menyukai warna cerah, motif ramai, atau pakaian dengan logo besar karena sesuai dengan kepribadiannya. Selama tetap sopan, nyaman, dan tidak membahayakan kondisi keuangan, semua gaya tersebut sah-sah saja.

 

Penutup

 

https://www.instagram.com/kyo1122/

 

Fenomena quiet luxury menunjukkan bahwa cara masyarakat memandang kemewahan mulai berubah. Kemewahan tidak lagi selalu identik dengan logo besar, pakaian mencolok, atau barang yang harus dipamerkan. Kini, semakin banyak orang yang menghargai kualitas, kesederhanaan, serta pakaian yang nyaman digunakan dalam jangka panjang. Meski demikian, esensi dari quiet luxury bukanlah memaksa diri membeli barang mahal, melainkan belajar memilih pakaian secara lebih bijak. Penampilan yang rapi, bersih, dan sesuai kebutuhan sering kali sudah cukup untuk memberikan kesan elegan tanpa harus mengikuti semua tren mode yang datang silih berganti. Pada akhirnya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh merek pakaian yang dikenakan. Gaya berpakaian memang dapat menjadi bentuk ekspresi diri, tetapi karakter, kemampuan, dan cara memperlakukan orang lain tetap menjadi hal yang jauh lebih berharga daripada label apa pun yang melekat pada busana.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Mix and Match Baju Olahraga Muslim-Friendly untuk Para Hijabers

Next Entry

Intip Rekomendasi Outfit Olahraga untuk Pria Head to Toe

Next Entry

Rambut Kusut dan Susah Disisir? Kenali Penyebab Utama dan Cara Mengatasinya