Thea News
Ada di Sekitarmu // 2026 Lea

Integrasi yang Matang untuk Cegah Perundungan di Sekolah

Kasus perundungan siswa sering terjadi di Indonesia. Di samping mengatasi, sebaiknya dilakukan langkah pencegahan yang berfokus pada tiga elemen pokok, yaitu siswa, guru, dan orang tua.

 

Sekolah adalah salah satu lembaga yang didirikan oleh pemerintah atau swasta untuk menuntut ilmu. Sekolah memiliki jenjang yang berbeda-beda, dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menangah Atas/Kejuruan (SMA/K). Di sekolah, anak-anak tidak hanya dilatih untuk membuka wawasan tentang teori pengetahuan, tetapi mengambangkan soft skill dalam rangka menyiapkan diri menghadapi kehidupan pasca sekolah. Anak-anak akan mengenal bagaimana menjalin hubungan sosial, mencari relasi, serta menentukan sikap dalam berbicara maupun bertindak. Sayang, praktik-praktik pergaulan ini sering melenceng dari jalurnya. Tidak sedikit anak-anak sekolah menjadi korban bullying atau perundungan. 

 

Perundungan bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat. Siapapun bisa menjadi korban atau pelaku perundungan, khususnya di sekolah, dimana banyak anak yang masih gencar-gencarnya mencari jati diri di usia remaja. Bullying merupakan tindakan mengganggu, mengusik, atau menyakiti seseorang secara fisik atau psikis. Aksi perundungan ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Kekerasan fisik menjadi yang paling umum dilakukan. Ada juga yang melakukannya secara verbal, sehingga menyerang psikis seorang anak. Jika dibiarkan terus menerus, perundungan di lingkungan sekolah dapat membuat mentalitas penerus bangsa menurun. Perlu diketahui bahwa dampak dari perundungan ini memang besar, sebab luka yang ditinggalkan tidak bisa hilang begitu saja. Oleh karena itu, sebelum semakin meluas, perundungan harus dicegah oleh pihak-pihak yang bersangkutan, utamanya siswa, guru, dan orang tua siswa. Sinergi dari tiga elemen tersebut harus seimbang. 

 

Source: pexels.com/RDNE Stock Project

 

Pencegahan oleh Anak/Siswa

 

Perundungan di sekolah biasanya banyak ditemukan di antara siswa. Banyak faktor yang membuat seseorang melakukan perundungan. Sebuah perundungan dilakukan secara sengaja, berulang-ulang, dan mencapai kekuasaan yang diinginkan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana seorang perundung yang selalu mengandalkan pangkat atau status yang tinggi ketika menindas orang lain. Dari situ, anak tidak hanya dibekali ilmu teori mata pelajaran saja, tapi pendidikan karakter pun begitu penting dalam menunjang kehidupan bersekolah. Pendidikan karakter ini meliputi saling menghormati, menumbuhkan rasa percaya diri, serta berani bicara untuk melawan perundungan. Budaya saling menghormati antar siswa mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif. Siswa dilatih menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki orang lain, saling menopang bila ada yang ketimpangan, serta tidak membeda-bedakan. Selanjutnya, siswa perlu didukung dalam mengembangkan rasa percaya dirinya agar berani tampil di depan umum. Melalui kepercayaan diri yang tinggi, nantinya siswa diproyeksi berani mencegah terjadinya bullying di sekolah. Jika posisi perundung lebih besar, maka siswa dapat melapor pada orang dewasa yang lebih berwenang. 

 

Pencegahan oleh Guru

 

Di kehidupan sekolah, guru merupakan elemen yang penting dalam menjalankan pembelajaran. Guru bertugas menyampaikan materi menggunakan berbagai metode yang mampu diterima siswa di kelas. Namun, peran guru ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mengajar. Guru punya peran untuk mendukung pembentukan karakter pada setiap siswa yang diampunya. Pendidikan karakter ini bisa diintegrasikan dalam kurikulum yang digunakan sekolah supaya relevan dengan materi yang diberikan. Guru bisa menjadi saksi dan penghubung pada kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah. Dalam melakukan pengkajian kasus bullying, guru tidak boleh timpang tindih, penilaiannya objektif, dan menyampaikan sebenar-benarnya pada pihak-pihak lain. Di samping itu, guru harus menjadi contoh dalam tindakan dan perbuatan bagi anak. Tidak sampai situ, guru adalah orang-orang yang terhubung langsung pada sistem pendidikan, yang membuat kebijakan, peraturan, dan sebagainya, sehingga peran mereka begitu krusial dalam menyusun ketentuan pencegahan bullying. Guru harus memiliki integritas ketika menghadapi setiap perundungan yang ada di depan mata. Walaupun, memang tidak menutup kemungkinan jika guru menjadi pelaku dan korban perundungan itu sendiri. Praktik perundungan ini betul luas jangkauannya. Jika itu terjadi, maka harus ada wewenang yang lebih tinggi untuk mengatasinya. 

 

Source: pexels.com/RDNE Stock Project

 

Pencegahan oleh Orang Tua

 

Orang tua adalah mitra pertama dari anak dalam menjajaki kehidupan. Orang tua menjadi orang pertama yang dikenal anak, baik secara fisik maupun emosional. Oleh sebab itu, orang tua punya peranan penting untuk memberikan pengajaran paling awal terhadap anak mereka, seperti belajar berjalan, makan, minum, berbicara, dan lain-lain. Lewat aktivitas itu, anak-anak sudha memiliki bekal sendiri yang bisa digunakan dari jenjang ke jenjang. Memang, setiap orang tua memiliki keinginan agar anak mendapatkan pendidikan formal yang mumpuni. Namun, bukan berarti orang tua lepas tangan begitu saja. Sekolah bukan sebuah penitipan anak, sekolah adalah tempat mengembangkan wawasan yang lebih luas. Sering terdengar kabar bahwa orang tua kerap melimpahkan kesalahan pada pihak sekolah ketika anak mereka tersandung masalah. Di sini, orang tua seharusnya ikut mengevaluasi diri tentang bagaimana sikap dan tindakan mereka saat menghadapi anak-anak di rumah. Sama seperti guru, otang tua tetap harus bersikap objektif jika itu menyangkut perundungan. Ketika anak memang salah, maka anak berhak menerima konsekuensinya sesuai kesalahan yang diperbuat. Pembelaan terhadap kesalahan anak justru menumbuhkan sifat manja dan merasa menang sendiri. Apalagi orang tua punya jabatan yang berpotensi menindas orang lain. Jadi, orang tua perlu membangun arus komunikasi yang lancar dengan anak. Luangkan waktu sejenak, ajak anak mengobrol tentang keseharian di sekolah atau topik lain. Awasi perubahan yang terjadi pada fisik dan kepribadian setiap hari. Jangan takut bertanya dan selalu terbuka pada opini. Segera lapor pada sekolah bila terindikasi terjadi perundungan. 

 

Tindakan perundungan tidak pernah dibenarkan dimana saja, terlebih wilayah pendidikan yang seharusnya jadi tempat aman untuk belajar, bersosialisasi, dan mengembangkan bakatnya. Sekolah bukan tempat menakutkan dalam berkreasi, fungsi utamanya mengolah kemampuan yang nantinya jadi bekal di masa depan. Namun, oknum-oknum perundung selalu menjadikan sekolah sebagai lahan empuk dalam menyalurkan obsesi mereka pada penindasan. Mau sebentar atau lama, anak yang pernah mengalami perundungan tidak akan bisa lepas dari masa itu. Setiap kejadian tetap membekas, jadi luka abadi. Trauma tidak hilang, mungkin bagi mereka yang beruntung hanya akan membaik. Jadi, sebelum terlembat, pencegahan perundungan memang harus dilakukan.

Demi terciptanya lingkungan belajar mengajar yang kondusif di sekolah, maka harus diterapkan kerja sama yang seimbang antara siswa, guru, dan orang tua. Ketiga elemen ini harus saling terintegrasi, terhubung dalam komunikasi terbuka dan transparan. Masing-masing komponen perlu memiliki pendirian penuh dalam melawan perundungan. Kasus perundungan di sekolah sudah tidak sedikit jumlahnya. Korban-korban terus berjatuhan. Kerusakan yang dialami pun beranekaragam, dari materi, fisik, mental, dan lain-lain. Proses mengatasi perundungan memang perlu, tapi jauh lebih bijak kalau pencegahan itu diterapkan. Jangan pernah tinggalkan korban dan berikan hukuman sesuai aturan pada pelaku. Setiap perbuatan pasti ada hal yang akan kembali pada para pelaku. 

 

Featured image: pexels.com/cottonbro studio

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Book Smart vs Street Smart: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Penting dalam Kehidupan?

Next Entry

Setelah Alpha, Bersiaplah Menyambut Generasi Beta

Next Entry

Anatomi Para Pembaca: Antara Obsesi, Aroma, dan Karakter Fiksi