Tips and Trikcs // 2026
Amy Latifaah
Kenali Sinyal Lapar dan Kenyang pada Anak dan Tips Seputar MPASI
Cara mengenali lapar dan kenyang pada anak agar mudah saat pemberian MPASI, serta tips mudah dan singkat untuk memulai MPASI. Yuk kepoin langsung!
Moms disini siapa yang sedang mengalami GTM atau Gerakan Tutup Mulut dari sikecil? Kondisi dimana anak tidak mau membuka mulut untuk makan, atau hanya makan dengan porsi sedikit. Ternyata GTM pada anak juga bisa dianalisis secara satu persatu, agar tahu penyebab anak tutup mulut dan tidak mau makan. Pasalnya komunikasi antara Moms dan buah hati sangat esensial dalam pemberian MPASI yang sukses. Seringkali parents lupa dengan sinyal lapar pada bayi, sehingga banyak yang memicu gerakan tutup mulut ini. Bayi belum bisa berbicara untuk mengungkapkan kapan ia lapar atau kenyang, namun mereka menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah untuk menyampaikannya. Mengenali sinyal-sinyal ini membantu Moms menerapkan pola makan yang responsif (responsive feeding). Yuk langsung saja intip beberapa sinyal lapar dan kenyang pada buah hati agar lebih bijak dalam memberikan MPASI. Lets check this out!
Sinyal Lapar (Hunger Cues)
Sinyal lapar adalah salah satu tanda yang sering kali terlewat oleh parents, sinyal lapar ini sangatlah penting untuk menentukan kemauan buah hati untuk makan. Sebelum bayi menangis karena kelaparan yang mana tangisan adalah tanda terlambat lapar dan membuat anak sulit diajak makan mereka biasanya memberikan tanda-tanda awal yang mudah untuk diperhatikan, sinyal tersebut berupa:
Mulai gelisah, aktif bergerak, atau menghentakkan tangan dan kakinya.
Memasukkan tangan, jari, atau mainan ke dalam mulut.
Mencari-cari puting atau mengecap-ngecapkan bibir (rooting reflex).
Membuka mulut saat melihat sendok atau makanan mendekat.
Fokus dan antusias memperhatikan makanan yang sedang Moms pegang.
Sinyal Kenyang (Satiety Cues)
Selain melihat sinyal lapar pada bayi, sinyal kenyang juga tidak kalah berarti. Penting bagi Moms untuk menghormati sinyal kenyang yang diberikan oleh anak agar mereka tidak mengalami trauma makan atau obesitas di kemudian hari. Jika anak menunjukkan tanda-tanda kenyang tersebut, Moms harus berhenti menawarkan makanan dan tidak perlu memaksa agar mangkuknya bersih. Percayalah bahwa anak tahu kapan perutnya sudah terisi dengan pas. Tanda-tanda bahwa anak sudah kenyang meliputi:
Menutup rapat mulutnya saat makanan disodorkan.
Membuang muka, menolak, atau memalingkan kepala dari sendok atau makanan.
Mendorong piring, mangkuk, atau sendok menjauh.
Meludah atau mengeluarkan makanan dari mulutnya secara sengaja.
Menjadi rewel, bermain-main dengan makanan tanpa berniat memasukkannya ke mulut, atau tampak mengantuk dan kehilangan minat pada makanan.
Mengenal Metode Pemberian MPASI: Konvensional vs. BLW
Dalam dunia pengasuhan modern, terdapat beberapa metode populer yang sering digunakan oleh para Moms dalam mengenalkan MPASI kepada buah hati. Dua metode yang paling banyak dibicarakan adalah metode konvensional (spoon-feeding) dan metode Baby-Led Weaning (BLW). Setiap metode tentu memiliki kelebihan dan karakteristiknya masing-masing.
1. Metode Konvensional (Spoon-Feeding / Bubur Lumat)
Metode ini adalah cara tradisional yang paling sering digunakan oleh generasi terdahulu hingga sekarang. Dalam metode ini, Moms atau pengasuh menyiapkan makanan dengan tekstur lumat, halus, atau cincang, kemudian menyuapinya menggunakan sendok secara bertahap dari tekstur encer, kental, hingga kasar.
Kelebihan: Orang tua memiliki kontrol penuh terhadap jumlah makanan yang masuk ke dalam perut anak, sehingga kekhawatiran mengenai anak kurang makan cenderung lebih rendah. Risiko makanan tersedak di awal juga lebih terkontrol karena tekstur dikuasai sepenuhnya oleh pemberi makan.
Kekurangan: Jika tidak diterapkan dengan penuh kesabaran, metode ini rentan memicu paksaan (force-feeding) demi menghabiskan porsi tertentu, serta anak mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk belajar makan sendiri secara mandiri.
2. Metode Baby-Led Weaning (BLW)
Metode BLW adalah pendekatan di mana bayi langsung diperkenalkan pada makanan padat dalam bentuk potongan-potongan besar (finger food) yang aman dan mudah digenggam sejak pertama kali ia mengenal MPASI (biasanya usia 6 bulan). Bayi dibiarkan untuk memilih, mengambil, dan menyuapkan makanan sendiri ke mulutnya tanpa ada intervensi berupa suapan dari orang tua.
Kelebihan: Mendukung perkembangan motorik halus dan koordinasi tangan-mata anak secara luar biasa. Anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyangnya sendiri secara mandiri, serta cenderung menjadi pemilih makanan (picky eater) yang lebih sedikit di kemudian hari karena mereka menikmati eksplorasi tekstur.
Kekurangan: Membuat area sekitar kursi makan menjadi jauh lebih berantakan (messy). Selain itu, pada awal penerapan, orang tua sering kali dilanda kecemasan berlebih terkait risiko bayi tersedak (choking), padahal bayi memiliki refleks muntah alami (gag reflex) yang berfungsi melindungi saluran pernapasannya.
Kombinasi Metode (Combination Feeding)
Banyak Moms masa kini yang tidak kaku memilih salah satu metode saja, melainkan menggabungkan keduanya. Misalnya, pada pagi hari Moms memberikan bubur lumat dengan sendok untuk memastikan asupan zat besi tercukupi, sementara pada siang atau sore hari Moms memberikan potongan buah atau sayurankukus agar bayi bisa berlatih makan sendiri (self-feeding). Pendekatan fleksibel ini sering kali menjadi jalan tengah terbaik yang menyenangkan bagi ibu maupun bayi.
Tips Tambahan untuk Menyukseskan Perjalanan MPASI
Memulai MPASI adalah sebuah proses pembelajaran bersama antara Moms dan si kecil. Tidak ada bayi yang langsung mahir makan pada hari pertama. Oleh karena itu, kesabaran adalah kunci utamanya.
Berikut adalah beberapa tips tambahan yang bisa Moms terapkan di rumah:
Terapkan Aturan 3 Hari (3-Day Wait Rule): Saat mengenalkan bahan makanan baru, terutama makanan tunggal seperti buah atau sayur, berikan makanan tersebut selama 3 hari berturut-turut sebelum memperkenalkan jenis makanan baru lainnya. Hal ini bertujuan untuk memantau apakah anak menunjukkan reaksi alergi, seperti ruam merah pada kulit, muntah, atau diare.
Variasi Menu yang Kaya: Jangan ragu untuk bereksperimen dengan berbagai bahan makanan segar yang kaya nutrisi. Kombinasikan sumber karbohidrat, protein hewani (yang sangat penting untuk pencegahan stunting), protein nabati, serta sayur dan buah.
Utamakan Protein Hewani: Berdasarkan panduan IDAI terbaru, protein hewani seperti daging ayam, sapi, hati, ikan, dan telur harus diberikan sejak hari pertama MPASI dengan porsi yang memadai karena kandungan zat besi dan asam amino esensialnya jauh lebih unggul dibandingkan protein nabati.
Kebersihan yang Terjaga: Selalu cuci tangan dengan bersih sebelum menyiapkan makanan dan sebelum menyuapi bayi. Pastikan peralatan makan, panci, dan alat pengolah makanan steril serta terjaga kebersihannya guna menghindari risiko infeksi pencernaan seperti diare.