Thea News
Travel // 2026 Yola yolsy

Lorong Waktu Fangorn Forest di Dunia Nyata:
Keajaiban Mistis De Djawatan Benculuk Banyuwangi

Jauh di ujung timur Pulau Jawa, tersembunyi sebuah wahana megah di mana realitas dan dongeng saling bertautan dengan begitu sempurna. De Djawatan Forest Benculuk bukan sekadar kawasan ruang terbuka hijau biasa, melainkan portal raksasa yang membawa Anda melangkahkan kaki menuju suasana mistis ala negeri fantasi The Lord of the Rings. Dikelilingi ratusan pepohonan trembesi purba berukuran raksasa dengan dahan menjuntai yang tertutup parasit dan lumut hijau, destinasi wisata ini menjanjikan pengalaman visual luar biasa serta ketenangan jiwa yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Jauh di ujung timur Pulau Jawa, tersembunyi sebuah wahana megah di mana realitas dan dongeng saling bertautan dengan begitu sempurna. De Djawatan Forest Benculuk bukan sekadar kawasan ruang terbuka hijau biasa, melainkan portal raksasa yang membawa Anda melangkahkan kaki menuju suasana mistis ala negeri fantasi. Dikelilingi ratusan pepohonan trembesi purba berukuran raksasa dengan dahan menjuntai yang tertutup parasit dan lumut hijau, destinasi wisata ini menjanjikan pengalaman visual luar biasa serta ketenangan jiwa yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Sejak melangkah masuk melewati gerbang utama, suasana magis langsung menyergap indra pencerapan Anda dengan begitu kuat. Udara dingin yang kaya akan oksigen murni langsung menyapa paru-paru, sementara mata disajikan pemandangan lanskap tak biasa berupa barisan pohon trembesi raksasa (Samanea saman) yang telah berdiri kokoh menantang zaman selama puluhan hingga ratusan tahun. Kanopi dedaunan yang sangat rimbun saling menutupi satu sama lain di ketinggian, membentuk atap alami berskala masif yang menyaring sinar matahari pagi menjadi berkas-berkas cahaya keemasan nan memikat. Fenomena pencahayaan alami yang dikenal dalam dunia fotografi sebagai tyndall effect ini menciptakan suasana misterius sekaligus romantis, seolah-olah setiap pengunjung baru saja melangkahkan kaki ke dalam hutan purba tempat para peri, ent, dan makhluk mitologi terlelap dalam kedamaian abadi. 
 

https://www.traveloka.com/id-id/explore/activities/de-djawatan-banyuwangi-ta/515616

 


​Karakteristik paling unik dan menjadi daya tarik utama dari De Djawatan Forest terletak pada bentuk serta morfologi pohon-pohon trembesi tua yang tumbuh memikat di seluruh area kawasan ini. Dahan dan ranting pohon tidak tumbuh lurus memanjang ke atas sebagaimana vegetasi pada umumnya, melainkan membentang lebar ke samping secara acak, melengkung meliuk-liuk bagaikan tangan-tangan raksasa yang sedang membentangkan pelukan hangat. Seluruh permukaan batang kayu hingga dahan teratas dilapisi secara alami oleh tanaman pakis, lumut hijau tebal, serta berbagai jenis tumbuhan epifit lainnya yang tumbuh sangat subur karena kelembapan udara kawasan yang selalu terjaga stabil. Kehadiran tumbuhan penumpang ini sama sekali tidak merusak sang pohon inang, melainkan justru memberikan tekstur eksotik serta lapisan nuansa hijau alami yang tebal dan memanjakan mata. Kombinasi visual antar dahan meliuk dan selimut hijau tebal inilah yang membuat para wisatawan domestik maupun mancanegara spontan menjulukinya sebagai "Fangorn Forest" versi dunia nyata—hutan fiktif tempat tinggal para penjaga pohon dalam kisah legendaris karya J.R.R. Tolkien. Setiap lekukan batang pohon memiliki keunikan tersendiri, membuat setiap langkah kaki yang diayunkan pengunjung senantiasa diwarnai keheranan atas kemegahan karya seni buatan alam ini. 

​Secara historis dan sosiologis, kawasan hijau nan memukau seluas hampir empat hektar ini bukanlah kawasan hutan lindung liar yang terbentuk murni tanpa campur tangan dan sejarah manusia. Pada mulanya, area strategis ini didirikan serta dikelola langsung oleh Perum Perhutani sebagai tempat penampungan kayu (TPK) hasil tebangan resmi dari berbagai kawasan hutan produksi di sekitar wilayah Banyuwangi selatan sejak era pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pengalihan fungsi lahan menjadi tempat penyimpanan kayu log berukuran besar membutuhkan area yang sangat teduh agar kualitas kayu tebangan tidak cepat rusak atau retak akibat paparan panas matahari secara langsung. Oleh karena itu, ditanamlah ratusan bibit pohon trembesi secara teratur di sekeliling area penampungan untuk menghadirkan naungan alami yang rapat. Seiring berjalannya waktu, perubahan jaman, serta pergeseran pola tata kelola kehutanan nasional, fungsi utama sebagai tempat penampungan kayu tersebut secara bertahap mulai dikurangi hingga akhirnya dihentikan sepenuhnya. Alam kemudian mengambil alih peran tersebut, membiarkan pohon-pohon trembesi terus tumbuh membesar secara bebas tanpa gangguan berarti hingga mencapai ukuran yang luar biasa fantastis seperti yang bisa kita saksikan bersama pada hari ini. 
 

https://destinasindo.com/en/blog/nature/national-park/exploring-de-djawatan-banyuwangi-forest-where-mystery-and-beauty-meet/

 


​Melihat potensi keindahan lanskapnya yang luar biasa eksotis serta meningkatnya minat masyarakat luas terhadap destinasi rekreasi berbasis kelestarian alam, pihak Perum Perhutani bekerjasama dengan pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi secara resmi bersinergi untuk menata ulang area ini menjadi kawasan destinasi wisata alam terpadu. Penataan kawasan dilakukan secara terukur, cermat, dan sangat hati-hati tanpa mengubah atau merusak struktur dasar ekosistem alami yang telah terbentuk selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Jalur khusus pejalan kaki dari susunan paving block dan batu alam dibangun melingkari area-area utama demi memudahkan para pengunjung menjelajahi setiap sudut hutan tanpa risiko merusak perakaran pohon yang sensitif. Selain itu, ditempatkan pula berbagai fasilitas pendukung dasar seperti bangku taman berbahan kayu daur ulang, gazebo pelindung untuk beristirahat, fasilitas toilet umum yang selalu terjaga kebersihannya, mushola yang nyaman, serta area kuliner lokal yang ditata rapi di luar zona inti konservasi demi menjaga kebersihan lingkungan dan memberikan kenyamanan maksimal bagi para pelancong yang datang dari jauh. 

​Aktivitas berwisata di dalam kawasan De Djawatan Forest sama sekali tidak terbatas pada kegiatan berfoto atau menikmati estetika visualnya yang menawan semata. Bagi para pecinta dunia fotografi, baik pemula yang mengandalkan kamera ponsel cerdas maupun fotografer profesional dengan perlengkapan kamera canggih, tempat ini merupakan surga tanpa batas yang menyediakan sudut pengambilan gambar tak terbatas untuk dieksplorasi. Setiap pergeseran sudut pandang dan perubahan jam di kawasan ini selalu menghasilkan nuansa visual yang berbeda; bayangan pohon yang bergeser perlahan seiring perjalanan matahari menciptakan permainan siluet yang amat dramatis dan artistik. Bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman menikmati keindahan hutan dengan cara yang lebih unik dan santai, pihak pengelola juga menyediakan jasa persewaan kuda yang dapat ditunggangi untuk mengelilingi jalur hutan, fasilitas sepeda listrik yang ramah lingkungan, serta wahana dokar atau kereta kuda tradisional yang sangat cocok untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga maupun pasangan tercinta sembari menghirup udara segar sepanjang hari. 
 

https://www.tripadvisor.co.id/

 


​Bagi masyarakat perkotaan yang terbiasa menghadapi rutinitas harian yang padat, kemacetan lalu lintas, serta paparan polusi udara, berkunjung ke De Djawatan Forest menawarkan efek terapi psikologis dan kesehatan holistik yang amat menyegarkan jiwa serta raga. Suasana dalam hutan yang tenang hanya dihiasi oleh gesekan dedaunan yang tertiup angin lembut serta cicitan merdu burung-burung liar yang bersarang di dahan-dahan tinggi, menciptakan atmosfer kedamaian alami yang sangat ampuh untuk meredakan tingkat stres atau kecemasan harian. Praktik relaksasi ini mirip dengan konsep forest bathing atau menyerap energi hutan yang populer di berbagai negara maju sebagai metode pemulihan kesehatan mental yang alami. Udara segar yang melimpah dan kaya akan kandungan fitonsida—senyawa organik yang dilepaskan secara alami oleh pepohonan rindang—terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia, menurunkan kadar hormon kortisol penyebab stres, serta mengembalikan fokus dan kesegaran pikiran yang lelah setelah berminggu-minggu bergelut dengan pekerjaan. 

​Sebagai salah satu ikon wisata alam unggulan di Jawa Timur, keberadaan De Djawatan Forest juga memberikan dampak roda perekonomian yang sangat positif dan signifikan bagi kesejahteraan masyarakat lokal di sekitar Desa Benculuk. Pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata di kawasan ini telah berhasil membuka berbagai peluang lapangan kerja baru, mulai dari petugas pemeliharaan kawasan, pemandu wisata lokal, pengelola area parkir kendaraan, hingga para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjual aneka hidangan kuliner khas Banyuwangi serta suvenir kerajinan tangan unik. Komitmen bersama antara pengelola kawasan dan seluruh pengunjung dalam menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, serta mematuhi aturan untuk tidak merusak atau mencoret-coret batang pohon trembesi menjadi kunci utama agar keajaiban alam ini tetap terjaga kelestariannya. Melalui pendekatan tata kelola pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, De Djawatan Benculuk akan terus berdiri anggun sebagai warisan hijau nan magis yang siap memukau serta memberikan ketenangan bagi generasi-generasi penyuka keindahan alam di masa depan.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Menemukan Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan Flores: Pesona Keindahan Nuca Molas yang Memukau

Next Entry

Menyibak Pesona Bukit Merese: Mahakarya Alam Pesisir Lombok yang Menghipnotis Dunia

Next Entry

Wae Rebo: Surga di Atas Awan dan Konservasi Budaya Manggarai