Thea News
Recomendation // 2026 Yusham

Matinya Kepakaran di Era Digital:
Ketika Semua Orang Merasa Paling Tahu

Di era digital saat ini, arus informasi mengalir tanpa henti dan meluap hingga ke setiap sudut kehidupan masyarakat, namun melimpahnya data tersebut sering kali disalahartikan sebagai tumbuhnya pengetahuan yang sahih.

Buku Matinya Kepakaran (The Death of Expertise) karya Tom Nichols mengupas fenomena mengkhawatirkan ini secara tajam: sebuah kondisi kultural ketika pendapat seorang awam yang hanya berbekal pencarian kilat selama beberapa menit di internet dianggap memiliki bobot yang setara dengan analisis mendalam dari seorang pakar yang telah meneliti bidangnya selama puluhan tahun. Kesenjangan antara klaim tanpa dasar dan keahlian yang teruji kini semakin kabur dalam wacana publik.

 

Pergeseran Sikap Masyarakat Terhadap Otoritas Kepakaran

 

Skeptisisme atau keraguan terhadap otoritas keilmuan sebenarnya bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru dalam sejarah peradaban manusia, melainkan tingkat penolakan yang terjadi saat ini telah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Dahulu, perbedaan pendapat antara masyarakat awam dan para pakar umumnya didasari oleh rasa ingin tahu yang jujur, keterbatasan akses informasi, atau ketidakpahaman yang sifatnya wajar. Namun, dalam era modern saat ini, penolakan terhadap pemikiran pakar justru sering kali didorong oleh rasa percaya diri yang berlebihan dan sama sekali tidak memiliki pijakan fakta yang kuat.

 

Secara psikologis, penolakan yang agresif ini dipicu oleh fenomena yang dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, di mana seseorang yang tidak memiliki kompetensi memadai dalam suatu bidang justru merasa sangat paham karena mereka tidak menyadari batas kemampuan dirinya sendiri. Fenomena ini membuat individu kerap menolak argumen berbasis data mutakhir hanya karena merasa memiliki fakta alternatif atau keyakinan pribadi yang dianggap jauh lebih benar. Akibatnya, diskusi rasional menjadi makin sulit dibangun karena salah satu pihak menolak untuk mengakui keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya.

 

Dampak dari pergeseran sikap ini terasa langsung dalam ranah sosial, mulai dari munculnya gerakan penolakan terhadap intervensi medis dasar hingga maraknya skeptisisme berskala besar terhadap isu perubahan iklim global. Sebagaimana dijelaskan secara komprehensif oleh Tom Nichols (2017), runtuhnya batasan antara pandangan awam dan kepakaran teknis ini secara perlahan namun pasti memicu disfungsi sosial yang merugikan kesejahteraan masyarakat umum. Ketika keahlian dianggap sebagai bentuk kesombongan elitis, maka keputusan kolektif yang diambil oleh publik cenderung kehilangan dasar rasionalitasnya.

 

Mesin Pencari, Media Sosial, dan Ilusi Pengetahuan

 

Kemudahan akses data di era internet telah menciptakan ilusi kepintaran yang sangat menyesatkan bagi sebagian besar pengguna teknologi. Mesin pencari modern dan platform media sosial dirancang khusus untuk menyajikan informasi yang disukai atau dicari oleh penggunanya, bukan fakta objektif yang sebenarnya mereka butuhkan untuk memahami persoalan secara utuh. Kondisi semacam ini menyuburkan fenomena confirmation bias, yaitu kecenderungan psikologis individu untuk hanya mencari dan mengagungkan data yang mendukung keyakinan pribadi sembari mengabaikan bukti penyeimbang.

 

Arsitektur media sosial makin memperparah kondisi ini dengan menyamaratakan status setiap suara yang muncul di ruang digital tanpa memedulikan bobot kebenarannya. Di dalam ruang publik digital, seorang peneliti berpengalaman yang menyandarkan setiap pernyataannya pada metodologi ilmiah yang ketat mendapatkan panggung yang persis sama dengan pengguna biasa yang hanya membagikan opini atau spekulasi tanpa bukti valid. Penyetaraan palsu ini membuat informasi yang bersifat dangkal dapat menyebar jauh lebih cepat daripada analisis ilmiah yang kompleks.

 

Situasi tersebut menciptakan ruang gema (echo chamber) yang terisolasi, di mana individu terus-menerus mendapatkan pembenaran atas kekeliruannya dan makin tertutup dari pemikiran kritis. Dalam kajian yang sejalan dengan analisis Nichols, Eli Pariser (2011) melalui konsep Filter Bubble menjelaskan bagaimana algoritma internet secara tidak sadar menyaring arus informasi sehingga pengguna hanya terpapar pada sudut pandang yang sepaham. Hal ini memperkuat resistensi publik terhadap saran dari ahli yang sering kali bertolak belakang dengan preferensi pribadi mereka.

 

Komodifikasi Pendidikan Tinggi dan Penurunan Standar Kritis

 

Dunia pendidikan tinggi yang secara historis berfungsi sebagai benteng pertahanan pemikiran kritis dan pengembangan ilmu pengetahuan kini mengalami pergeseran orientasi yang mengkhawatirkan. Akibat tekanan pasar, banyak institusi perguruan tinggi mulai memosisikan mahasiswa semata-mata sebagai konsumen yang harus dipuaskan pelayanannya, ketimbang sebagai peserta didik yang perlu digembleng dan ditantang kapasitas berpikirnya secara ilmiah dan berjenjang. Perubahan paradigma ini mengubah dinamika hubungan antara pengajar dan mahasiswa di dalam ruang kelas.

 

Kondisi tersebut secara bertahap berdampak pada penurunan standar akademik demi menjaga tingkat kepuasan serta kelangsungan bisnis lembaga pendidikan. Ketika nilai yang tinggi dan kelulusan dipandang sebagai hak yang harus didapatkan karena mahasiswa telah membayar biaya pendidikan yang mahal, maka fungsi evaluasi kritis dan pembentukan nalar skeptis yang sehat menjadi terabaikan. Mahasiswa jarang dilatih untuk menghadapi kegagalan intelektual atau menyadari betapa rumitnya proses untuk meraih kepakaran sejati dalam suatu disiplin ilmu.

 

Pergeseran peran perguruan tinggi ini berdampak langsung pada menurunnya kualitas lulusan dalam menyikapi kompleksitas fakta di dunia nyata. Nichols (2017) mengingatkan bahwa komodifikasi pendidikan tinggi pada akhirnya melahirkan rasa percaya diri semu di kalangan akademisi muda, di mana kepemilikan gelar formal sering kali dianggap sebagai jaminan kepakaran mutlak tanpa disertai kesadaran akan integritas keilmuan serta kerendahan hati intelektual yang memadai untuk terus belajar.

 

Industri Jurnalisme dalam Cengkeraman Sensasionalisme

 

Laju perkembangan industri media massa modern turut memberikan kontribusi besar terhadap makin pudarnya otoritas kepakaran di mata publik. Demi mengejar jumlah klik, kepemirsaan, dan pendapatan iklan, banyak media massa mengorbankan kualitas kedalaman liputan dengan menerapkan praktik perimbangan palsu (false balance). Praktik ini dilakukan dengan menyandingkan pandangan pakar berpengalaman dengan figur kontroversial yang tidak relevan hanya demi menciptakan kesan perdebatan yang sengit dan dramatis.

 

Pola pemberitaan yang terlalu mengejar sensasi ini memberikan impresi yang keliru kepada masyarakat bahwa sebuah konsensus ilmiah sebenarnya masih berada dalam status perdebatan yang seimbang. Padahal, dalam komunitas ilmiah, topik yang diperdebatkan tersebut mungkin telah selesai diteliti dan memiliki bukti empiris yang sangat solid. Kebiasaan media dalam mengedepankan kontroversi ketimbang kedalaman materi ini membingungkan masyarakat luas serta makin memperkeruh pemahaman mereka terhadap hakikat fakta yang sesungguhnya.

 

Dampak buruk dari pergeseran fungsi pers dari penyedia informasi tepercaya menjadi sarana hiburan ini telah dipaparkan secara mendalam oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) dalam karya mereka, Sembilan Elemen Jurnalisme. Mereka menegaskan bahwa tugas utama jurnalisme yang paling mendasar adalah menyampaikan kebenaran terverifikasi kepada publik, bukan sekadar memfasilitasi perselisihan yang direkayasa demi mendulang perhatian atau menaikkan popularitas media semata.

 

Implikasi Terhadap Demokrasi dan Intelegensi Kolektif

 

Proses peminggiran peran pakar dalam ranah publik bukan sekadar masalah perdebatan akademis, melainkan ancaman langsung yang sangat nyata bagi keberlangsungan sistem demokrasi yang sehat. Tata kelola demokrasi membutuhkan partisipasi warga negara yang teredukasi baik serta bersedia mendengarkan pertimbangan berbasis data empiris dalam proses perumusan kebijakan publik yang strategis. Jika kepakaran diabaikan, maka landasan pembuatan keputusan nasional akan goyah.

 

Apabila pertimbangan teruji dari para ahli terus-menerus disingkirkan dan digantikan oleh emosi massa serta sentimen mayoritas yang dangkal, kebijakan publik yang dihasilkan cenderung salah arah dan berisiko tinggi. Keputusan-keputusan vital terkait kesehatan publik, ketahanan ekonomi, hingga perlindungan lingkungan yang diambil berdasarkan asumsi populer tanpa dasar ilmiah dapat membawa dampak fatal serta kerugian jangka panjang bagi kemaslahatan seluruh komponen bangsa.

 

Sebagai penutup analisisnya, Nichols (2017) menegaskan bahwa masyarakat tidak dituntut untuk menerima setiap pandangan pakar secara mentah-mentah tanpa adanya evaluasi kritis. Namun, menolak seluruh saran dan temuan ahli hanya demi memuaskan ego pribadi serta mempertahankan prasangka adalah bentuk pengabaian terhadap sains yang sangat berbahaya. Tanpa adanya rasa hormat terhadap kepakaran dan kebenaran objektif, sebuah masyarakat demokratis akan kehilangan arah dan rentan mengalami kemunduran peradaban.

 

Referensi

  • Kovach, B., & Rosenstiel, T. (2001). The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect. Crown Publishers.
  • Nichols, T. (2017). The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters. Oxford University Press.
  • Pariser, E. (2011). The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. Penguin Press.

 

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Labirin Imajinasi: 5 Rekomendasi Buku Terbaik Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Next Entry

6 Rekomendasi Buku Terbaik Eka Kurniawan

Next Entry

Rekomendasi 5 Comfort Food untuk Sarapan di Yogyakarta