Thea News
Fashion // 2026 Rima R Noviana

Melintasi Waktu dan Tren:
Bagaimana Headscarf Menjelma dari Simbol Tradisi Fashion Global

Bukan sekadar aksesori biasa! Menengok sejarah panjang dan transformasi headscarf dari masa ke masa hingga menjadi tren wajib para pencinta mode dunia saat ini.

Di panggung mode internasional belakangan ini, ada satu aksesori yang terus mencuri perhatian, melintasi batas budaya, dan mendominasi lini masa media sosial. Aksesori tersebut bukanlah tas mewah edisi terbatas atau sepatu bot bersol tebal, melainkan selembar kain yang kaya akan nilai sejarah: headscarf atau selendang kepala.

 

​Dari gelaran runway di Paris dan Milan hingga gaya jalanan (street style) di Jakarta dan Tokyo, headscarf telah bertransformasi dari sekadar penutup kepala fungsional atau religius menjadi sebuah pernyataan mode (fashion statement) yang sangat kuat. Kain yang fleksibel ini membuktikan bahwa mode sejati mampu melampaui sekat waktu, mengadopsi makna baru tanpa benar-benar menanggalkan akar sejarahnya.

 

Source: Pinterest.com/honoson

 

 

​Sentuhan Modern di Panggung Mode Dunia

​Jika Anda mengamati tren busana dalam beberapa musim terakhir, sulit untuk mengabaikan kehadiran headscarf. Rumah mode papan atas seperti Gucci, Dior, dan Chanel secara konsisten menampilkan model-model yang berjalan di atas panggung dengan kepala yang dibalut sutra bermotif indah. Gaya yang paling mendominasi saat ini adalah Babushka style—gaya mengikat selendang di bawah dagu yang terinspirasi dari para nenek di Rusia—serta gaya bajak laut (pirate-chic) yang diikat ke belakang, memberikan kesan retro sekaligus tangguh.

 

​Namun, apa yang membuat headscarf begitu digemari oleh generasi muda saat ini? Jawabannya terletak pada adaptabilitas. Di era di mana ekspresi personal sangat diagungkan, headscarf menawarkan kanvas tanpa batas. Selembar kain sutra atau katun dapat diubah menjadi puluhan gaya berbeda dalam sekejap. Ia bisa menjadi penyelamat saat seseorang mengalami bad hair day, menjadi pelindung dari sengatan matahari, atau sekadar menjadi elemen penambah warna pada pakaian yang cenderung polos.

 

​Tidak hanya itu, kebangkitan tren busana santun (modest fashion) di tingkat global juga turut mendongkrak popularitas headscarf. Kehadiran model-model berhijab di panggung internasional telah membuka mata industri mode barat bahwa penutup kepala memiliki estetika yang sangat tinggi dan universal, tidak lagi dipandang sebelah mata atau dianggap kuno.

 

​Menengok Masa Lalu: Sejarah dan Makna Headscarf

​Untuk memahami mengapa headscarf memiliki daya tarik yang begitu magis, kita harus memutar kembali jarum jam dan melihat bagaimana aksesori ini digunakan oleh peradaban manusia di masa lalu. Penggunaan kain untuk menutup kepala bukanlah tren baru yang diciptakan oleh desainer modern; ia adalah salah satu bentuk pakaian tertua yang dikenal manusia.

 

​1. Simbol Status dan Keyakinan di Zaman Kuno

​Catatan sejarah paling awal mengenai penutup kepala dapat dilacak hingga masa Mesopotamia kuno, sekitar abad ke-13 Sebelum Masehi. Pada teks hukum Asyur kuno, penggunaan kain kepala diwajibkan bagi perempuan kelas atas, bangsawan, dan perempuan yang sudah menikah sebagai simbol kehormatan dan status sosial yang tinggi. Sebaliknya, perempuan dari kelas pekerja atau budak dilarang keras mengenakannya. Pada masa itu, kain kepala adalah penanda prestise.

​Seiring berjalannya waktu, tradisi ini diadopsi dan diintegrasikan ke dalam berbagai ajaran agama dan keyakinan di wilayah Timur Tengah dan Mediterania. Dalam tradisi Yudaisme, Kristen, dan Islam, menutup kepala memiliki makna spiritual yang mendalam, sering kali dikaitkan dengan konsep kesopanan, kesucian, dan bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta. Hingga hari ini, kita masih melihat biarawati Katolik, perempuan Yahudi Ortodoks, dan muslimah mengenakan berbagai bentuk penutup kepala sebagai bagian dari identitas iman mereka.

 

​2. Sisi Praktis dan Perlindungan Pekerja

​Di belahan bumi lain, headscarf berkembang karena alasan yang sangat praktis: fungsi perlindungan. Sepanjang abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan Amerika Utara, para perempuan yang bekerja di sektor pertanian atau pabrik tekstil menggunakan kain katun yang diikatkan ke kepala mereka.

​Tujuannya sangat sederhana, yaitu untuk melindungi rambut dari debu, kotoran, panas matahari yang menyengat, atau agar rambut mereka tidak tersangkut di mesin-mesin pabrik yang berbahaya. Di sini, headscarf mewakili simbol kerja keras dan fungsionalitas kelas pekerja.

 

​3. Era Emas Hollywood: Simbol Glamor dan Misteri

​Lompat ke pertengahan abad ke-20, makna headscarf mengalami pergeseran drastis yang menjadi cikal bakal tren fashion modern. Pada era 1950-an dan 1960-an, ikon-ikon Hollywood seperti Audrey Hepburn, Grace Kelly, dan Brigitte Bardot mengubah persepsi masyarakat terhadap kain kepala ini.

​Mereka sering terlihat mengenakan selendang sutra bermotif mewah yang dipadukan dengan kacamata hitam besar saat mengendarai mobil beratap terbuka sepanjang pesisir pantai Riviera. Gaya ini—di mana selendang disilangkan di bawah dagu dan diikat di belakang leher—dikenal sebagai gaya Riviera atau Hollywood. Seketika, headscarf menjelma menjadi simbol kemewahan, misteri, keanggunan, dan kelas sosial tinggi yang sangat diidam-idamkan oleh publik.

 

​Evolusi Gaya: Bagaimana Headscarf Digunakan Hari Ini?

​Jika di masa lalu penggunaan headscarf cenderung kaku dan terikat pada aturan sosial atau budaya tertentu, dinamika mode modern telah mendobrak semua batasan tersebut. Saat ini, cara memakai headscarf sepenuhnya bergantung pada kreativitas individu yang mengenakannya.

​Berikut adalah beberapa gaya paling populer yang sering kita temui di jalanan kota-kota besar saat ini:

 

Source: pexel.com/cottonbrostudio

 

  • The Babushka Revival: Gaya klasik Eropa Timur ini kembali tren di kalangan pencinta mode gen-Z. Kain berbentuk segitiga diikat longgar di bawah dagu. Gaya ini memberikan kesan estetika pedesaan (cottagecore) yang manis namun tetap terlihat modis jika dipadukan dengan jaket kulit atau mantel panjang.

     

    Source: pexel.com/Nes

     

  • The Bandana/Pirate Vibe: Kain dilipat menjadi segitiga dan diikat di bagian belakang kepala, menutupi sebagian besar dahi. Gaya ini sangat populer di festival musik karena memberikan kesan pemberontak, kasual, dan kental dengan nuansa streetwear era 90-an.

 

Source: Pinterest.com/scarffashion

 

  • The Neckerchief & Bag Accent: Bagi mereka yang tidak ingin mengenakannya di kepala, headscarf sutra berukuran kecil sering kali dialihfungsikan menjadi syal leher yang elegan, diikatkan pada pergelangan tangan, atau dililitkan pada tali tas jinjing untuk memberikan sentuhan warna ekstra.

 

Source: Pinterest.com/md tauseef

 

  • The Royal Turban: Menggulung kain kepala menjadi turban yang bervolume tinggi di atas kepala. Gaya ini sering diadopsi untuk tampilan formal atau pesta, memberikan kesan agung dan modern yang menonjolkan fitur wajah penggunanya.

     

​Mengapa Headscarf Tetap Relevan?

​Keberhasilan headscarf untuk tetap bertahan di pusaran industri mode yang bergerak sangat cepat tidak terlepas dari sifatnya yang berkelanjutan (sustainable). Di tengah kritik keras terhadap industri fast fashion yang memproduksi pakaian sekali pakai, headscarf hadir sebagai investasi mode yang cerdas. Selembar kain berkualitas tinggi dapat bertahan selama puluhan tahun, diwariskan dari generasi ke generasi, dan tidak akan pernah benar-benar ketinggalan zaman.

 

​Lebih dari sekadar estetika visual, headscarf di abad ke-21 juga merayakan inklusivitas. Aksesori ini menjadi jembatan budaya yang unik. Ketika seorang perancang busana non-Muslim terinspirasi oleh keanggunan hijab, atau ketika seorang perempuan muda di Jakarta mengadopsi gaya Babushka Rusia, terjadi sebuah dialog budaya yang harmonis melalui medium pakaian. ​Headscarf membuktikan bahwa selembar kain sederhana mampu menyimpan narasi yang sangat kaya—ia bisa bercerita tentang kepatuhan spiritual, perjuangan kelas pekerja, glamoritas Hollywood, hingga kebebasan berekspresi anak muda zaman sekarang.

 

​Pada akhirnya, headscarf bukan lagi sekadar pelengkap busana yang opsional. Ia telah mengukuhkan posisinya sebagai elemen inti yang dinamis dalam lanskap mode global. Baik digunakan untuk menghormati tradisi leluhur, memenuhi panggilan keyakinan, ataupun murni demi mengejar estetika visual, kain kepala ini memiliki kekuatan magis untuk mengubah penampilan seseorang secara instan.

​Melihat sejarah panjang dan fleksibilitasnya yang luar biasa, satu hal yang pasti: tren headscarf tidak akan pergi kemana-mana. Ia akan terus berevolusi, berganti motif, dan melahirkan gaya-gaya baru yang siap memikat generasi-generasi mendatang.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Serupa Tapi tak sama, Yuk Kenalan Dengan Skin Tint dan Tinted Sunscreen!

Next Entry

4 Jenis Sepatu Perempuan, Siap Dibawa Kerja Setiap Hari

Next Entry

Yuk Bikin Lip Scrub Alami Dirumah Untuk Perawatan Bibir Anda!