Thea News
LifeStyle // 2026 Arbia Zahira

Mengapa Banyak Orang Menyukai Dessert yang Tidak Terlalu Manis? Ternyata Bukan Sekadar Tren

Mengapa dessert yang tidak terlalu manis makin populer? Simak alasan di balik tren pencuci mulut ini, mulai dari perubahan selera hingga fakta kesehatannya!

Dessert sering kali identik dengan rasa manis. Kue, es krim, puding, cokelat, hingga aneka minuman penutup biasanya dibuat dengan gula yang cukup banyak agar terasa lezat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren mulai berubah. Kini semakin banyak orang justru mencari dessert yang tidak terlalu manis. Bahkan, ketika membeli kue atau minuman, tidak sedikit pelanggan yang sengaja meminta kadar gula dikurangi atau memilih menu dengan rasa yang lebih ringan. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya toko roti, kedai kopi, hingga gerai pencuci mulut yang menawarkan pilihan "less sugar" atau "tidak terlalu manis". Dessert seperti cheesecake, tiramisu, panna cotta, hingga berbagai jenis pastry modern kini lebih sering menonjolkan keseimbangan rasa dibandingkan rasa manis yang kuat. Lalu, mengapa tren ini bisa terjadi? Apakah dessert yang tidak terlalu manis memang lebih sehat? Dan sebenarnya, apakah dessert selalu berarti kue? Berikut penjelasannya.

 

Apa Itu Dessert? Apakah Selalu Berupa Kue?

 

Sebelum membahas lebih jauh, banyak orang masih mengira bahwa dessert hanya berarti kue. Padahal, anggapan tersebut kurang tepat. Dessert adalah hidangan penutup yang biasanya disantap setelah makanan utama. Fungsinya bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga memberikan penutup yang menyenangkan setelah makan. Karena itu, dessert memiliki bentuk yang sangat beragam. Selain aneka kue seperti sponge cake, brownies, atau tart, dessert juga bisa berupa puding, mousse, es krim, sorbet, yogurt, buah segar, pastry, hingga minuman tertentu yang memang disajikan sebagai hidangan penutup. Artinya, semua kue memang bisa menjadi dessert jika disajikan sebagai hidangan penutup, tetapi tidak semua dessert adalah kue. Di berbagai negara, konsep dessert juga terus berkembang. Ada yang lebih menonjolkan buah-buahan, ada yang mengutamakan produk susu, sementara di negara Asia mulai banyak dessert yang menggunakan teh, wijen hitam, ubi, talas, atau kacang merah sebagai bahan utama.

 

Dari Dessert Sangat Manis Menuju Rasa yang Lebih Seimbang

 

https://www.delicious.com.au/

 

Jika melihat sejarah, dessert pada masa lalu cenderung memiliki rasa yang jauh lebih manis dibandingkan sekarang. Hal ini bukan tanpa alasan. Pada masa ketika gula masih tergolong bahan mewah, makanan manis menjadi simbol kemewahan dan status sosial. Semakin manis sebuah hidangan, semakin menunjukkan bahwa pembuatnya mampu menggunakan gula dalam jumlah banyak. Seiring berkembangnya industri makanan, gula menjadi jauh lebih mudah diperoleh. Akibatnya, banyak produk makanan dan minuman menggunakan gula dalam jumlah tinggi karena dianggap mampu menarik perhatian konsumen. Namun, sekitar satu hingga dua dekade terakhir mulai terjadi perubahan. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya pola makan yang lebih seimbang. Informasi mengenai konsumsi gula yang berlebihan juga semakin mudah diakses melalui internet, media sosial, hingga edukasi dari tenaga kesehatan. Perubahan ini membuat banyak produsen makanan mulai mengurangi kadar gula tanpa menghilangkan cita rasa produknya. Kini, yang dicari bukan lagi rasa yang sangat manis, melainkan rasa yang seimbang sehingga karakter bahan utama tetap terasa.

 

Lidah Banyak Orang Mulai Berubah

 

https://www.delicious.com.au/

 

Salah satu alasan terbesar mengapa dessert yang tidak terlalu manis semakin populer adalah perubahan selera masyarakat. Lidah manusia sebenarnya dapat beradaptasi terhadap kebiasaan makan. Seseorang yang terbiasa mengonsumsi makanan atau minuman dengan kadar gula tinggi cenderung merasa makanan biasa menjadi hambar. Sebaliknya, jika konsumsi gula mulai dikurangi secara bertahap, lidah akan menyesuaikan diri sehingga rasa manis yang sebelumnya dianggap biasa justru terasa berlebihan. Inilah sebabnya banyak orang yang dulu menyukai minuman dengan gula penuh kini mulai memilih gula 50 persen, bahkan tanpa gula tambahan sama sekali. Perubahan ini juga membuat dessert dengan rasa yang lebih ringan terasa lebih nyaman dinikmati. Manisnya tetap ada, tetapi tidak mendominasi seluruh rasa.

 

Dessert Tidak Terlalu Manis Membuat Rasa Aslinya Lebih Terasa

 

https://www.delicious.com.au/

 

Banyak pembuat dessert profesional justru berusaha mengurangi kadar gula agar bahan-bahan lain dapat lebih menonjol. Sebagai contoh, pada cheesecake, rasa lembut dari keju akan lebih mudah dikenali jika gulanya tidak berlebihan. Begitu pula pada dessert berbahan cokelat, rasa khas kakao akan lebih terasa ketika kadar gula dikurangi. Hal yang sama juga terjadi pada dessert berbahan matcha, kopi, vanila, pistachio, atau teh. Jika terlalu banyak gula ditambahkan, karakter unik dari masing-masing bahan justru bisa tertutup. Karena itulah, banyak toko dessert modern kini lebih menekankan keseimbangan rasa daripada sekadar rasa manis.

 

Pengaruh Budaya Kuliner Jepang dan Asia Timur

 

Popularitas dessert yang tidak terlalu manis juga dipengaruhi oleh semakin dikenalnya budaya kuliner Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan beberapa negara Asia Timur lainnya. Banyak dessert dari kawasan tersebut memang sejak awal tidak mengandalkan rasa manis yang kuat. Contohnya adalah mochi, dorayaki dengan isian tertentu, souffle pancake, warabi mochi, hingga berbagai dessert berbahan teh hijau atau kacang merah. Selain itu, minuman seperti matcha latte, hojicha latte, dan berbagai milk tea premium juga biasanya memiliki rasa yang lebih lembut dibandingkan minuman pencuci mulut yang sangat manis. Melalui media sosial, drama, film, hingga wisata, masyarakat Indonesia pun semakin mengenal gaya dessert seperti ini sehingga selera perlahan ikut berubah.

 

Apakah Dessert yang Tidak Terlalu Manis Lebih Sehat?

 

Pertanyaan ini cukup sering muncul. Jawabannya adalah belum tentu. Dessert yang tidak terlalu manis memang biasanya mengandung gula lebih sedikit dibandingkan dessert yang sangat manis. Dari sisi konsumsi gula, hal ini tentu bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Namun, sehat atau tidaknya sebuah dessert tidak hanya ditentukan oleh jumlah gula. Banyak dessert tetap mengandung mentega, krim, keju, susu, atau cokelat dalam jumlah yang cukup tinggi. Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan kandungan kalori maupun lemak meskipun rasanya tidak terlalu manis. Sebaliknya, ada juga dessert berbahan yogurt, buah segar, atau biji-bijian yang memiliki komposisi gizi lebih baik. Jadi, rasa yang tidak terlalu manis bukan berarti otomatis lebih sehat. Kandungan gizi secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.

 

Mengapa Dessert Terlalu Manis Kini Mulai Cepat Membuat Enek?

 

Banyak orang mengaku bahwa dessert yang terlalu manis membuat mereka cepat merasa enek atau bosan. Hal ini berkaitan dengan cara tubuh dan indra pengecap merespons rasa. Ketika rasa manis sangat kuat, lidah akan terus menerima rangsangan yang sama dalam intensitas tinggi. Setelah beberapa suapan, sensasi tersebut bisa mulai terasa berlebihan sehingga muncul keinginan untuk berhenti makan. Sebaliknya, dessert dengan tingkat kemanisan yang lebih ringan biasanya terasa lebih seimbang karena masih menyisakan ruang bagi rasa lain, seperti gurih, asam, pahit ringan, atau aroma khas dari bahan utama. Itulah mengapa banyak orang merasa mampu menikmati dessert yang tidak terlalu manis tanpa cepat merasa jenuh.

 

Gaya Hidup Modern Juga Berperan

 

Kesadaran terhadap pola hidup sehat ikut memengaruhi pilihan makanan masyarakat. Kini semakin banyak orang yang rutin berolahraga, menghitung asupan kalori, memperhatikan kandungan gula, atau sekadar ingin mengurangi konsumsi makanan yang terlalu manis. Walaupun mereka tidak sedang menjalani diet tertentu, banyak yang mulai lebih selektif saat memilih makanan penutup. Media sosial juga berperan besar dalam menyebarkan informasi mengenai pola makan yang lebih seimbang. Meskipun tidak semua informasi di internet selalu benar, tren untuk mengurangi gula secara umum memang semakin dikenal luas. Hal ini mendorong banyak pelaku usaha kuliner menghadirkan dessert dengan kadar gula yang lebih rendah agar sesuai dengan preferensi konsumen masa kini.

 

Industri Dessert Ikut Beradaptasi dengan Selera Konsumen

 

Perubahan selera masyarakat membuat industri makanan tidak tinggal diam. Kini semakin banyak toko roti, kedai kopi, dan gerai dessert yang menawarkan pilihan tingkat kemanisan. Ada yang menyediakan opsi gula 100 persen, 70 persen, 50 persen, hingga tanpa tambahan gula pada beberapa menu tertentu. Selain itu, berbagai bahan alami mulai lebih sering digunakan untuk menghadirkan rasa manis yang lebih lembut. Buah-buahan, madu, kurma, maupun susu dimanfaatkan untuk memberikan cita rasa tanpa harus selalu mengandalkan gula dalam jumlah besar. Produsen juga semakin berani menghadirkan kombinasi rasa yang lebih kompleks, seperti perpaduan manis, gurih, sedikit asin, atau sedikit pahit. Hasilnya, dessert terasa lebih kaya rasa dan tidak membosankan.

 

Bukan Berarti Dessert Manis Akan Ditinggalkan

 

Meski tren dessert yang tidak terlalu manis terus berkembang, bukan berarti dessert dengan rasa manis akan hilang. Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda. Sebagian masih menikmati brownies yang kaya cokelat, donat dengan banyak topping, atau kue ulang tahun yang menggunakan krim manis. Dessert yang lebih manis juga tetap memiliki tempat pada momen tertentu, misalnya saat perayaan ulang tahun, hari raya, atau acara spesial lainnya. Yang berubah bukanlah keberadaan dessert manis, melainkan semakin banyaknya pilihan sehingga konsumen dapat menyesuaikan dengan selera masing-masing.

 

Penutup

 

https://www.delicious.com.au/

 

Popularitas dessert yang tidak terlalu manis menunjukkan bahwa selera masyarakat terus berkembang. Jika dahulu rasa manis sering dianggap sebagai ukuran kelezatan, kini banyak orang justru lebih menghargai keseimbangan rasa dan karakter asli dari setiap bahan. Perubahan gaya hidup, meningkatnya kesadaran akan konsumsi gula, pengaruh budaya kuliner Asia Timur, hingga inovasi dari industri makanan menjadi beberapa faktor yang mendorong tren ini. Namun, penting untuk dipahami bahwa dessert dengan rasa yang tidak terlalu manis belum tentu otomatis lebih sehat. Kandungan kalori, lemak, dan komposisi gizinya tetap perlu diperhatikan secara menyeluruh. Pada akhirnya, dessert tetaplah hidangan penutup yang bertujuan memberikan kenikmatan. Entah memilih yang manis ataupun tidak terlalu manis, yang terpenting adalah menikmatinya secara bijak dan dalam porsi yang sesuai. Dengan begitu, pengalaman menikmati dessert tetap menyenangkan tanpa harus mengabaikan pola makan yang seimbang.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Mengapa Milk Tea Premium Semakin Digemari? Mengenal Tren Premium Tea yang Sedang Naik Daun

Next Entry

Gaya Hidup Slow Living Untuk Menikmati Setiap Proses Hidup

Next Entry

Tips Menjalankan Sunday Reset Agar Lebih Produktif