Thea News
Entertainment // 2026 Arbias

Mengapa Kamu Perlu Menonton "Tomorrow":
Karya Masterpiece Netflix yang Underrated tentang Dewa Kematian Penyelamat Nyawa

Bagi para pencinta drama Korea, Netflix memang menjadi salah satu penyedia tontonan dengan berbagai genre yang memikat batin. Namun, di antara sekian banyak drakor yang viral dan meledak di pasaran, ada satu judul mahakarya yang sayangnya kurang dikenal luas dan masuk dalam kategori underrated. Judulnya adalah Tomorrow. KDrama ini ditayangkan di stasiun televisi Korea Selatan, MBC, serta platform streaming global Netflix pada tahun 2022. Serial ini memulai penayangan perdana pada 1 April 2022 dan menayangkan episode terakhirnya (episode 16) pada 21 Mei 2022. Serial yang dibintangi oleh Kim Hee-sun, Rowoon, Lee Soo-hyuk, dan Yoon Ji-on ini mengangkat premis yang sangat unik, berani, dan mendalam. Jika biasanya sosok dewa kematian atau grim reaper dalam mitologi fiksi digambarkan bertugas untuk mencabut nyawa manusia yang sudah waktunya meninggal, Tomorrow justru menjungkirbalikkan stigma tersebut. Di sini, beberapa dewa kematian bergabung dalam sebuah tim khusus yang tugas utamanya adalah menggagalkan rencana bunuh diri manusia dan menyelamatkan nyawa mereka agar bisa melihat hari esok. Sayang sekali drakor ini kurang mendapatkan sorotan publik yang masif, padahal kualitas cerita, akting pemain, dan pesan moral yang dibawanya sangat luar biasa. Yuk, kita kupas tuntas sinopsis, konflik inti, nilai kehidupan, hingga kelebihan dan kekurangannya yang membuat serial ini layak disebut sebagai salah satu drakor yang wajib kamu tonton!

Sinopsis dan Konflik Inti: Ketika Dewa Kematian Menjadi Garda Terdepan Pencegah Bunuh Diri

 

imbc.com

 

Cerita Tomorrow berpusat pada seorang pemuda pengangguran bernama Choi Jun-woong (diperankan oleh Rowoon) yang sudah bertahun-tahun kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap meskipun memiliki resume yang bagus. Suatu malam, secara tidak sengaja, Jun-woong terlibat dalam sebuah insiden di jembatan ketika ia mencoba menyelamatkan seorang tunawisma yang hendak melompat ke sungai. Di saat yang sama, dua dewa kematian dari agensi akhirat bernama Jumadeung, yaitu Goo Ryeon (Kim Hee-sun) dan Lim Ryeung-gu (Yoon Ji-on), juga berada di sana untuk menjalankan misi mereka. Akibat kekacauan dalam proses penyelamatan tersebut, Jun-woong mengalami kecelakaan tragis hingga jatuh koma di rumah sakit manusia. Karena kesalahan teknis yang disebabkan oleh para dewa kematian ini, jiwa Jun-woong melayang dan ia terbangun di kantor pusat Jumadeung sebagai sosok setengah manusia dan setengah roh. Di Jumadeung, sang Direktur Agung (Kim Hae-sook) memberikan penawaran langka kepada Jun-woong. Ia diizinkan bekerja sebagai karyawan kontrak di Tim Manajemen Krisis selama enam bulan. Jika ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, Jun-woong dijanjikan akan bangun dari komanya lebih cepat dan mendapatkan kemudahan dalam mencari pekerjaan di dunia nyata. Tim Manajemen Krisis ini dipimpin oleh Goo Ryeon, seorang dewa kematian berpenampilan nyentrik dengan rambut merah muda yang memiliki masa lalu kelam dan penuh misteri. Konflik inti dari drakor ini berputar pada perjuangan tim kecil tersebut yang harus berpacu dengan waktu demi mendeteksi manusia yang memiliki tingkat energi negatif sangat tinggi (indikator bahwa orang tersebut berada di ambang keputusan untuk mengakhiri hidup). Mereka harus turun ke dunia manusia, menyamar, memahami akar masalah korban, dan membujuk mereka agar kembali memilih untuk hidup. Tugas ini sangat berat karena mereka ditentang oleh Tim Manajemen Pengawalan yang dipimpin oleh Park Joong-gil (Lee Soo-hyuk), dewa kematian berdarah dingin yang percaya bahwa bunuh diri adalah dosa besar yang merusak tatanan akhirat, sehingga manusia yang melakukannya tidak layak diselamatkan.

 

Menangis Hampir di Setiap Episode: Nilai-Nilai Kehidupan yang Menyayat Hati dan Menguras Air Mata

 

imbc.com

 

Salah satu kekuatan utama yang membuat Tomorrow begitu istimewa adalah struktur penceritaannya yang menggunakan format episodik. Setiap satu atau dua episode, penonton akan diajak untuk menyelami kisah hidup satu orang manusia yang berada di titik nadir batinnya. Isu-isu sosial yang diangkat sangat dekat dengan realitas kehidupan modern, mulai dari perundungan ekstrem di sekolah, depresi akibat gagal ujian berkali-kali, standar kecantikan beracun yang memicu gangguan makan, pelecehan seksual, trauma masa lalu para veteran perang, hingga kisah pilu seekor hewan peliharaan tua yang tidak ingin membebani pemiliknya. Cara sutradara dan penulis skenario mengeksplorasi rasa sakit para karakter ini benar-benar matang, tidak terasa mengeksploitasi penderitaan, melainkan fokus pada validasi emosional korban. Setiap cerita sampingan dikupas dengan begitu indah hingga dijamin membuat penonton terharu dan menangis tersedu-sedu. Nilai kehidupan terbesar yang diajarkan drakor ini adalah pentingnya sebuah kepedulian kecil dan kata-kata hangat bagi orang yang sedang terluka. Tomorrow menunjukkan bahwa orang yang ingin bunuh diri sebenarnya tidak benar-benar ingin mati, tetapi mereka hanya ingin menghentikan rasa sakit luar biasa yang sedang mereka rasakan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ketika Goo Ryeon dan timnya datang memberikan ruang aman bagi para korban untuk menumpahkan seluruh isi hati tanpa dihakimi, di situlah keajaiban emosional terjadi. Serial ini menjadi pengingat keras bagi kita semua untuk lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita, karena bisa jadi satu sapaan hangat atau pelukan tulus dari kita adalah hal yang menyelamatkan hidup seseorang besok hari.

 

Meskipun demikian, tidak semua episode dalam Tomorrow melulu menyajikan kisah pilu yang menguras air mata penonton. Ada satu momen krusial yang menyuguhkan dinamika ketegangan berbeda, yaitu ketika Tim Manajemen Krisis dihadapkan pada misi tidak biasa untuk menyelamatkan seorang kriminal atau pembunuh berantai. Karakter jahat ini tidak hanya berniat mengakhiri hidupnya sendiri, melainkan juga merupakan dalang psikopat yang menghasut orang lain untuk bunuh diri melalui forum internet. Ia bahkan merasa sangat puas dan menikmati pemandangan saat para korbannya menderita kehilangan nyawa. Di sinilah dilema moral para dewa kematian diuji secara mendalam. Meskipun tokoh tersebut adalah penjahat yang sangat keji, Choi Jun-woong tetap bersikeras untuk menyelamatkannya demi mematuhi aturan baku dari Tim Manajemen Krisis. Hasil akhir atau ending dari penyelamatan kriminal ini justru menjadi salah satu momen paling memuaskan (satisfying) bagi para penonton di tengah beratnya alur drama. Walaupun sang penjahat berhasil diselamatkan dari kematian oleh tim dewa kematian, ia dijatuhi hukuman kosmik yang setimpal atas perbuatannya. Kriminal tersebut dibuat menderita seumur hidup karena mengalami kelumpuhan total secara fisik selama 18 tahun, sehingga ia terjebak dalam tubuhnya sendiri dan tidak akan pernah bisa melakukan bunuh diri lagi. Lewat bumbu cerita yang cerdas ini, Tomorrow berhasil membuktikan bahwa keadilan akhirat tetap berlaku nyata bagi mereka yang gemar merusak hidup orang lain.

 

Kekurangan: Sentuhan Romansa Masa Lalu yang Terasa Agak Klise

 

imbc.com

 

Meskipun drama Korea Tomorrow memiliki penyampaian pesan yang sangat mendalam, serial ini tetap tidak luput dari celah kekurangan, terutama pada paruh kedua cerita. Kekurangan ini bukan terletak pada karakter utama, Choi Jun-woong. Kehadiran Jun-woong yang tidak memiliki latar belakang tragis justru menjadi kekuatan tersendiri. Karakter Jun-woong yang naif, ceroboh, namun berhati emas berhasil menjadi penyeimbang yang membuat dinamika tim Manajemen Krisis terasa lebih hidup, emosional, bahkan mampu memengaruhi cara pandang dewa kematian senior seperti Goo Ryeon. Celah yang terasa kurang maksimal justru muncul ketika plot mulai mengeksplorasi kisah masa lalu sang pemimpin tim, Goo Ryeon, dan jenderal tim pengawal, Park Joong-gil. Di paruh akhir drama, penonton disuguhi benang merah hubungan masa lalu mereka saat masih menjadi manusia. Sayangnya, eksekusi konflik di antara keduanya terasa seperti terjebak dalam formula klise melodrama romantis tragis pada umumnya. Hubungan cinta yang berakhir tragis karena tuntutan sosial dan kesalahpahaman masa lalu ini terasa kurang segar jika dibandingkan dengan premis pencegahan bunuh diri yang sejak awal sudah sangat inovatif. Memang ada dewa kematian lain yang memiliki latar belakang menyedihkan, seperti Lim Ryeung-gu yang harus kehilangan ibunya di masa lalu tanpa bisa bereinkarnasi bersama. Namun, fokus romansa masa lalu antara Goo Ryeon dan Park Joong-gil dirasa terasa agak klise karena dikemas dengan gaya penceritaan melodrama konvensional. Bagian ini bukannya buruk, melainkan terasa kurang sejalan dengan keunikan cerita episodik penyelamatan manusia yang menjadi daya tarik utama Tomorrow. Bagi penonton yang mengharapkan resolusi fantasi yang segar hingga akhir, porsi kilas balik romansa yang melankolis ini mungkin akan terasa sedikit menjemukan dan menurunkan tempo ketegangan misi penyelamatan tim Manajemen Krisis.

 

Apresiasi Total: Akting Luar Biasa dari Jajaran Pemain Utama hingga Tokoh Figuran

 

imbc.com

 

Kualitas sebuah drama tidak hanya ditentukan oleh naskahnya, melainkan bagaimana para aktor menghidupkan karakter tersebut di depan kamera. Dalam hal ini, Tomorrow patut mendapatkan tepuk tangan yang meriah. Kim Hee-sun tampil memukau sebagai Goo Ryeon, menampilkan dualitas yang luar biasa antara pemimpin yang tegas, dingin, namun menyimpan kehangatan dan kesedihan mendalam di matanya. Rowoon berhasil membawakan karakter Jun-woong yang ekspresif dengan sangat natural, memberikan sentuhan komedi segar yang meringankan suasana drama yang berat. Lee Soo-hyuk dengan suaranya yang berat dan kharismanya yang kuat sangat sukses menghidupkan sosok Park Joong-gil yang misterius dan mengintimidasi, sementara Yoon Ji-on memberikan performa yang solid sebagai Lim Ryeung-gu yang efisien dan protektif. Namun, pujian tertinggi justru harus diberikan kepada para aktor figuran dan tokoh sampingan yang muncul bergantian di setiap episode. Akting mereka benar-benar luar biasa dan berada di level yang berbeda. Aktor-aktor yang memerankan korban perundungan, veteran perang yang kesepian, atau ibu yang kehilangan bayinya dalam kandungan, mampu menyalurkan rasa keputusasaan, tangisan histeris, dan kepasrahan hidup dengan sangat meyakinkan hingga menembus layar kaca penonton. Penampilan emosional yang totalitas dari para aktor figuran inilah yang menjadi motor penggerak utama mengapa setiap episode Tomorrow selalu sukses menguras air mata dan terasa begitu nyata di hati pemirsa. Kehebatan para pemeran pendukung ini berhasil menutupi kekurangan naskah pada cerita karakter utamanya.

 

Tertarik untuk Menonton? Ini Tempat Streaming Legal Drakor "Tomorrow"

 

imbc.com

 

Setelah membaca seluruh ulasan di atas, apakah kamu tertarik untuk menyaksikan sendiri keindahan cerita dan pesan moral dari drama Korea yang sangat menyentuh ini? Jangan sampai kamu melewatkan mahakarya ini hanya karena kurangnya promosi atau karena statusnya yang underrated di media sosial. Untuk mendukung industri kreatif dan menikmati kualitas tontonan terbaik dengan takarir (subtitle) bahasa Indonesia yang akurat dan legal, pastikan kamu tidak menontonnya di situs-situs ilegal yang merugikan. Serial drakor Tomorrow yang memiliki total 16 episode ini diproduksi secara orisinal dan dapat kamu saksikan secara legal dan lengkap melalui layanan streaming global Netflix. Yuk, siapkan tisu yang banyak sebelum mulai menonton, dan mari kita sama-sama belajar menghargai kehidupan melalui kisah para dewa kematian penyelamat nyawa ini!

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Marjane Satrapi Berpulang: Mengenang Suara Lantang Penulis 'Persepolis' untuk Perempuan Iran

Next Entry

testing

Next Entry

Mahalini Boyong Artis-Artis Besar di Konser Perdananya KOMA Live in Malaysia! Ada Diva Besar di Dalamnya!