Thea News
Travel // 2026 Lea

Mengenal 4 Landmark Yogyakarta, Wisata yang Penuh Cerita

Landmark di Yogyakarta bukan hanya tempat dengan daya tarik wisata yang tinggi, tapi juga penuh akan cerita unik. Seperti empat diantaranya yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Sebelum orang memutuskan tujuan berwisata, biasanya mereka akan mencari tahu terlebih dahulu, entah dari berselancar di dunia maya atau bertanya secara langsung. Salah satu yang pasti akan muncul ketika mencari tahu tentang sebuah lokasi yaitu hal yang paling menonjol dan ikonik atau landmark dalam bentuk tempat, bangunan, monumen atau sejenisnya. Landmark ini sebenarnya bukan hanya sekadar daya tarik wisata, tetapi menjelma jadi identitas dari daerah tersebut. Seolah ketika kita mendengar nama landmark, kita langsung teringat dengan kawasan itu. Seperti saat kata Yogyakarta dimasukan ke dalam kolom pencarian. Nama-nama famous turut muncul di bagian teratas sebagai landmark yang melekat di sana. Beberapa di antaranya merupakan tempat wisata favorit para turis yang berkunjung ke sana. 
 

Yuk, kenali landmark di Yogyakarta yang bisa dikunjungi saat luang!
 

Tugu Paal Putih
 

Source: pexels.com/Gustomy

 

Landmark Yogyakarta yang paling terkenal dan sudah mendunia ialah Tugu Paal Putih. Tugu ini berada di persimpangan antara empat jalan utama yang selalu padat dan ramai. Letaknya ada di utara kawasan Malioboro, benar-benar berada di tengah persimpangan jalan, sehingga wujudnya begitu mencolok. Tugu Paal Putih punya nilai historis yang tinggi, membuat sebagian besar wisatawan memilih ke sini karena penasaran. Hal itu juga dimanfaatkan oleh para pelaku usaha yang membuka tempat-tempat nongkrong di sekitar sana. Tugu Paal Putih dulunya bernama Tugu Golong Gilig, salah satu elemen dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1756 oleh Sri Sultan Hamengku Buuwana I. Bentuknya juga bukan seperti sekarang, tetapi lebih tinggi dan silinder. Tugu tersebut menjadi lambang semangat persatuan antara raja serta rakyatnya. Dalam sumbu flosofis, Tugu Golong Gilig dimaknai 'Manunggaling Kawula Gusti' yang artinya menyatunya manusia dengan Tuhan. Namun, pada tahun 1867, tugu ini sempat rusak karena gempa besar. Bertahun-tahun terbengkalai, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII akhirnya dilakukan revitalisasi dengan desain yang sampai sekarang masih dipertahankan. Tugu Paal Putih kini menjadi landmark sekaligus wisata yang menarik berbagai pihak. 

 

Malioboro
 

Source; pexels.com/Angga Permana

 

Landmark selanjutya adalah Malioboro, yang berada di tengah Kota Yogyakarta. Malioboro jadi surganya belanja untuk para wisatawan karena di sana berderet toko-toko yang menjajakan berbagai hal, mulai dari makanan, pernak-pernik khas, pakaian, sampai wahana. Malioboro pun didesain ramah akan pejalan kaki, dengan trotoar yang luas dan bersih, memungkinkan orang berjalan santai menyusuri jalanan. Pada momen-momen tertentu pun, pemerintah setempat menutup jalan Malioboro dari kendaraan bermotor agar kawasan itu bernapas sejenak. Di samping tempat belanja, Malioboro dipenuhi penginapan berbagai kelas, ada yang murah meriah sampai hotel berbintang lima. Dekat dengan fasilitas transportasi umum, semakin membuat Malioboro digemari. Di tengah keramaian Malioboro sekarang, tempat ini juga bagian dari sejarah kota. Malioboro berada di Jalan Margamulya, salah satu bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang bermakna perjalanan manusia di bumi dalam mencari kemuliaan. Dulunya, jalanan ini difungsikan sebagai rajamarga atau jalan kerajaan ketika ada prosesi adat. Nama Malioboro memiliki makna yang cukup banyak. Pertama, Malioboro diambil dari Bahasa Sansekerta malyabhara, yaitu jalan berhiaskan karangan bunga. Nama ini disebut sebab dulu saat ada prosesi seremonial, terdapat banyak rangkaian bunga yang menghiasi pinggir jalan. Kedua, Malioboro diambil dari kata wali dan bara atau mengembara. Makna kedua artinya yaitu mengingatkan manusia agar selalu mengembara, mencari, serta berbagi dalam kebajikan. Siapa sangka, tempat populer ini ternyata punya nilai penting yang begitu mendalam. 
 

Kraton Yogyakarta

 

Source: Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta

 

Kalau tempat yang satu ini berada di selatan Jalan Malioboro, pusat dari kosmologi Jawa  yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Kraton Yogyakarta juga jadi landmark terkenal di sini. Keberadaanya yang begitu mencolok membuat para wisatawan begitu penasaran. Setiap harinya, Kraton Yogyakarta menerima banyak tamu, baik di wilayah Sitihinggil Lor maupun Kedhaton. Di sekitar sini pun terdapat objek wisata lain, seperti Museum Sonobudoyo, Alun-alun Kidul, Taman Sari, dan Titik Nol Kilometer. Dulunya, tentu saja Kraton Yogyakarta difungsikan sebagai tempat tinggal Raja dan keluarganya. Istana ini didirikan setelah Mataram Islam pecah dibawah kepemimpinan Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Kraton Yogyakarta resmi dibangun mulai bulan Oktober pada tahun 1755 dan baru diresmikan pada tahun 1756. Kraton Yogyakarta termasuk ke dalam inti dari Sumbu Filosofis Yogyakarta. Saat ini, Kraton Yogyakarta tidak hanya jadi tempat tinggal Raja, melainkan difungsikan sebagai pusat pelestarian budaya. Di Kraton Yogyakarta, tersimpan ratusan pusaka yang beberapa diantaranya bisa disaksikan secara umum. Upacara-upacara adat selalu dilaksanakan di sini, baik yang terbuka maupun tertutup. Wisatawan bisa menikmati langsung beragam koleksi yang menjadi daya tarik tersendiri dari istana terbesar di Yogyakarta. Di beberapa kesempatan juga pihak Kraton sering mengadakan pameran atau simposium dengan berbagai tema, khususnya kebudayaan tentang Yogyakarta dan Mataram. 

 

Candi Prambanan

 

Source: pexels.com/Irsyad Rifqi

 

Dari tengah kota, menuju ke sisi timur provinsi ini. Di sana terdapat sebuah candi megah yang berada tepat di pinggir Jalan Raya Solo - Yogyakarta. Siapa lagi kalau bukan Candi Prambanan. Dari jauh saja, keelokan Prambanan bisa dinikmati. Selayaknya tempat wisata, Candi Prambanan didesain begitu menarik. Areanya penuh lahan hijau dari rumput, taman, pepohonan, hingga kandang menjangan. Kemudian di sekitar candi terdapat pedagang-pedagang kaki lima yang rapi menjajakan beraneka ragam souvenir. Candi ini merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia yang sampai sekarang masih aktif digunakan untuk beribadah, khususnya saat perayaan hari besar. Saat ada kegiatan peribadatan, Candi Prambanan akan tutup untuk wisata sementara sampai acara selesai. Candi Prambanan punya macam-macam daya tarik. Termasuk ke bangunan kuno, Candi Prambanan masih berdiri begitu kokoh, walaupun beberapa tidak bisa diperbaiki karena bebatuan aslinya telah hilang. Relief-reliefnya begitu cantik, terpahat sempurna membentuk sebuah cerita. Sudah puluhan kali, candi ini diberitakan secara global. Selanjutnya, legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso begitu melekat di sini. Kisah cinta tragis tersebut kerap kali diadopsi jadi cerita yang lebih berkembang. Bahkan, terdapat mitos bagi pasangan yang belum sah datang kemari, maka hubungannya bisa jadi kandas. Lebih unik lagi, Candi Prambanan sebenarnya terletak di dua provinsi, yaitu Daerah Isimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah (di Kabupaten Klaten). Jadi, ada yang bilang, kalau wisatawan masuk lewat Jawa Tengah, tapi pulangnya dari Yogyakarta. 
 

Empat landmark di Yogyakarta ini begitu terkenal dan telah mendapatkan validasi dari berbagai pihak. Nyatanya, landmark di Yogyakarta tersebut bukan hanya sekadar tempat atau bangunan mencolok, tetapi juga penuh akan nilai historis. Terdapat cerita unik dibaliknya yang memberikan wawasan lebih luas pada wisatawan. Walaupun kini empat tempat ini lebih dikenal sebagai lokasi wisata, tapi kisah yang mendasarinya tidak akan hilang begitu saja. Justru jadi kelebihan yang semakin menjual. 

 

Featured Image: pexels.com/AL FARIZ

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Mengejar Cakrawala: Destinasi Ladang Bunga Paling Spektakuler di Dunia

Next Entry

5 Tempat Wisata Ikonik di Istanbul, Turki yang Sayang untuk Dilewatkan

Next Entry

Blossom Bloom: Sudut Estetik Khao Yai, Thailand