Thea News
Fashion // 2026 Lea

Motif Batik Larangan, Simbol Status Kedudukan di Kraton Yogyakarta

Batik memiliki beragam motif yang cantik dan penuh makna, siapapun boleh memakainya. Namun, di Yogyakarta ada sejumlah motif terbatas yang tidak boleh dipakai sembarangan.

Batik sering diartikan sebagai teknik atau cara melukis pada kain, ada juga yang memaknainya kain bergambar khas Indonesia. Kata batik diduga berasal dari Bahasa Jawa, ambatik, terdiri dari dua kata, yaitu amba yang artinya lembaran atau kain, dan tik yang berarti titik. Memulai proses membatik memang dimulai dari menggoreskan titik-titik malam pada kain putih. Dari titik-titik itu, timbulah beragam motif yang penuh makna dan esetika. Batik berkembang di Jawa, khususnya wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Keduanya memang berada di lini sejarah yang sama sebagai trah Mataram Islam pada masanya. Setelah pecah, keduanya berbagai aset budayanya, termasuk motif batik, sehingga terdapat perbedaan yang cukup kentara antara batik Surakarta dan Yogyakarta, seperti warna dasarnya yaitu putih, hitam, atau kecokelatan. 

 

Batik memang telah menjadi bagian dari masyarakat yang melekat. Hampir setiap orang memiliki batik dan mengenakannya setiap hari. Bahkan di area instansi resmi, batik menjadi seragam yang harus digunakan pada waktu tertentu. Namun, begitu luasnya batik telah berkembang, Yogyakarta punya motif batik sendiri yang khusus, tidak bisa digunakan oleh orang umum. Motif-motif batik ini berada pada kelompok awisan dalem atau batik larangan. Aturan pemakaian batik ini diatur oleh Kraton Yogyakarta sebagai salah satu kebudayaan terbatas dan hanya diperuntukkan orang-orang tertentu. Walaupun demikian, ada motif-motif batik awisan dalem sering ditiru dan diperjual belikan secara bebas. 

 

Beberapa motif batik itu bisa kamu cek dibawah. 

 

Motif Parang

 

Source: Pinterest.com/Topek

 

Motif batik klasik khas yang termasuk ke dalam kelompok awisan dalem yaitu parang. Motif ini berbentuk seperti huruf 's' atau parang yang memanjang secara miring vertikal dari atas ke bawah. Mnegutip laman resmi Museum Sonoboduyo, batik parang telah ada sejak abad ke-16, ketika Mataram Islam masih berdiri. Parang atau pedang melambangkan kekuata, daya juang, dan keberanian, sehingga menjadi simbol dari status dan kekuasaan. Polanya berulang, membentuk keseimbangan kehidupan. Parang tidak hanya berperan sebagai morif atau pakaian, tetapi menunjukkan kedudukan seseorang di masyarakat. Motif batik parang di wilayah Kraton Ngayogyakarta hanya boleh dikenakan oleh bangsawan kerajaan saja. Motif parang dibagi menjadi beberapa macam, yaitu parang barong yang punya motif lebih besar, kurang lebih 10 cm, hanya boleh dikenakan oleh Raja/Sultan yang bertahta, lalu parang rusak dengan ukuran sedikit kecil dari parang barong dikenakan oleh Sultan dan Permaisuri, ada parang gendreh yang dikenakan oleh garwa ampeyan dalem atau selir, putra mahkota, istri putra mahkota, putra-putri Raja/Sultan, dan terakhir parang paling kecil dinamakan parang klithik yang diperuntukkan putra ampeyan dalemgarwa ampeyan, cucu, cicit/buyut, canggah, serta wareng. Memang, motif ini mudah sekali ditemukan di pasaran, tapi kriterianya jauh berbeda dari yang ada di area kraton, jadi bila masyarakat ingin memakainya tidak masalah. Hanya saja, harus behati-hati, sebab pemakaian motif parang ini berbeda antara laki-laki dan perempuan. 

 

Motif Kawung

 

Source: Pinterest.com/Naazaa Designs | Adire & Fashion

 

Selanjutnya, batik paling familiar yang sudah dikenal masyarakat luas adalah motif kawung. Batik ini jadi salah satu yang tertua di Jawa, motifnya berbentuk buah kawung dengan empat kelopak yang seragam atau sering disebut juga aren atau kolang-kaling, jadi termasuk ke dalam kelompok motif geometris. Motif kawung kerap dipilih karena tampak sederhana, seolah tidak ada aturan yang terlalu mengikat. Padahal, motif kawung adalah batik awisan dalem, dimana ada aturan yang jelas dalam pemakaiannya, khususnya di area Kraton Yogyakarta. Motif kawung memang kelihatan simple, tapi makna yang terkandung di dalamnya begitu besar. Mengutip laman Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Daerah Istimewa Yogyakarta, batik kawung punya arti kesempurnaan, kemurnian, serta kesucian. Di samping itu, kata kawung pun merujuk pada Bahasa Jawa, suwung yang artinya kosong. Kawung menunjukan kekosongan nafsu terhadap duniawi yang membuat seseorang mampu mengendalikan diri, netral, tidak berpihak, biasa saja. Motif tersebut diyakini diciptakan oleh salah satu Raja Mataram pada abad ke-13. Sebelum menjadi batik, motif kawung telah ditemukan lebih dulu pada relief candi. Dalam aturan Kraton Yogyakarta, batik kawung hanya boleh dipakai oleh para Sentana Dalem atau kerabat dekat dari Raja/Sultan, pejabat kraton, dan abdi dalem. Walaupun begitu, motif kawung tetap banyak digunakan oleh orang-orang secara utuh atau bergabung dengan motif kombinasi lainnya. 

 

Batik Huk

 

Source: hamzahbatik.co.id

 

Motif batik yang satu ini cukup istimewa. Mungkin memang tidak banyak dipakai masyarakat umum, tapi bagian-bagian dari motifnya sering jadi inspirasi untuk desain batik lain. Namanya adalah batik huk, salah satu pakaian awisan dalem yang hanya boleh digunakan oleh Raja dan Putra Mahkota. Batik huk punya beberapa elemen inti, yaitu kerang, binatang, tumbuhan, cakra, burung, sayap, dan garuda. Motif ini menjadi salah satu kelompok floral dan fauna dari Yogyakarta. Motif huk merupakan motif yang ditetapkan sebagai larangan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII. Motif huk melambangkan wibawa, kecerdasan, dan budi luhur. Melalui motif huk, pemimpin diharapkan dapat menjadi sosok yang kuat dalam menjalankan pemerintahannya, tapi tetap bijak dan berpihak pada rakyatnya.

 

Motif Udan Liris

 

Source: Pinterest.com/dave

 

Motif berikutnya disebut dengan udan liris. Dalam Bahasa Jawa, udan liris artinya hujan gerimis. Dari bentuk motifnya yang cenderung rapat dan kecil-kecil, dari lidah api, setengah kawung, banji sawur, mlinjon, tritis, ada-ada, dan untu walang, membentuk garis sejajar. Motif udan liris pertama kali diciptakan oleh Pakubuwana III pada pertengahan abad ke-17. Motif batik ini diciptakan ketika Sang Raja tengah melakukan laku teteki atau ibadah mati raga, dimana prosesinya ada yang harus berendam di sungai. Ketika berendam itulah, ada gerimis dan angin yang bertiup, menjadi ilham untuk Sang Raja dalam membuat motif batik udan liris. Dalam peraruran Kraton Yogyakarta, motif udan liris dikenakan oleh putra dari garwa ampeyan, cucu, buyut, canggah, Pangeran Sentana, serta Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom. Makna yang terkandung dari udan liris yaitu ketabahan dalam menjalani hidup. Beberapa komponen dari udan liris sering diambil untuk digabungkan ke dalam desain batik kontemporer atau modern. Namun, aturan pemakaiannya tetap masih dijaga sampai saat ini. 

 

Motif batik bukan saja bagian dari kebudayaan lokal yang telah diakui oleh dunia. Batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lidan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2009 silam. Di sisi lain, perjalanan batik memang telah dimulai sejak berabad-abad lalu. Batik merupakan penanda status, kedudukan, dan pembawaan yang harus dijaga oleh pemakainya. Batik mewakili bagaimana sosok yang berada di belakangnya.  Di Kraton Yogyakarta, pemakaian batik masih diatur oleh peraturan kerajaan yang ketat dan harus ditaati oleh seluruh penghuninya, sehingga terbentuklah motif batik awisan dalem. Motif batik ini bisa berubah-ubah, sesuai Raja yang bertahta pada saat itu. Seperti di era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwana X ini, beberapa motif yang ditunjuk adalah parang barong, huk, semen gedhe sawat gurdha, udan liris, serta rujak senthe. Walaupun kini masyarakat umum ada yang sudah mengenakannya. 

 

Featured image: pexels.com/Daniel Lee

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Inspirasi Summer Hairstyle Untuk Anda Yang Sedang Berlibur!

Next Entry

4 Luxury Brand Favorit Kalangan Old Money

Next Entry

Melintasi Waktu dan Tren: Bagaimana Headscarf Menjelma dari Simbol Tradisi Fashion Global