Perjalanan Penuh Cerita Di Tengah Indahnya Alam Banda Neira
Banda Neira, jadi satu tempat bersejarah di Indonesia. Wilayah kecil di Maluku Tengah dengan segudang daya tarik pariwisata, berdampingan dengan sisa cerita dari zaman monopoli rempah-rempah.
Banda Neira, sering disebut-sebut sebagai lokasi paling indah di Indonesia. Bahkan, ada ungkapan fenomenal yang diucapkan oleh Pahlawan Nasional, Sutan Sjahrir, “Jangan mati dulu sebelum ke Banda Neira,” memberikan fantasi liar pada orang-orang yang mendengarnya. Di era kini dengan kecepatan penyebaran informasi yang cepat, Banda Neira pun mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat. Keindahan alam Banda Neira yang tersembunyi berhasil disebarluaskan ke seluruh penjuru bumi. Tidak sedikit orang yang menjadikan Banda Neira sebagai wishlist perjalanan. Warga domestic maupun mancanegara, berbondong-bondong antre untuk menikmati alam di salah satu kawasan yang ada di Maluku Tengah. Di samping panorama luar biasa, kepulauan kecil inipun menyimpan catatan sejarah dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Jejak-jejak peninggalan, sisa kolonialisme masih begitu kental, terwakilkan beragam bangunan-bangunan serta cerita yang telah melebur bersama kearifan lokal. Namun, bab itu pula yang menjadikan pariwisata Banda Neira begitu diminati.
Yuk, cari tahu tentang jejak Banda Neira yang penuh dengan cerita!

Tempat Asal Pala
Pulau Maluku merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kaya akan rempah-rempah. Hasil alam yang melimpah, membuat pihak-pihak lain tertarik untuk datang ke pulau ini, khususnya bangsa Eropa. Kelangkaan rempah-rempah di kawasan Timur Tengah mendorong bangsa asing untuk mencari jalur sendiri menuju sumbernya. Tumbuhan pala, sebagai komiditi yang waktu itu dianggap istimewa, tumbuh subur di Kepulauan Banda. Belanda memulai monopoli pala dengan membentuk sistem perkebunan yang lebih teratur. Diawasi dengan benteng-benteng yang difungsikan untuk mengawasi proses berjalannya kebun pala. Benteng berbentuk pentagonal itu bernama Benteng Belgica, kini masih bisa disaksikan utuh oleh orang-orang. Kedatangan Belanda tidak hanya bertujuan memonopoli rempah-rempah saja, tetapi turut mengubah struktur kependudukan, kepemilikan lahan, juga produksi pala. Selain Benteng Belgica, terdapat Benteng Nassau, berguna untuk pertahanan dan pengawasan pelabuhan serta pedagangan pala. Keduanya sekarang menjelma jadi lokasi wisata sejarah dilindungi dalam kategori Tentative List Warisan Dunia di tahun 2015 di bawah naungan UNESCO.
Objek Peninggalan Penuh Cerita
Banda Neira punya alam yang begitu luar biasa. Dari dataran rendah, dataran tinggi, dipenuhi rerimbunan hijau yang sangat serasi, memberikan aroma wangi keselarasan kehidupan. Di balik cantiknya Banda Neira, tersimpan masa lalu yang berat dan kelam, dialami oleh penduduk Maluku saat itu. Rempah-rempah menjadi target utama dari bangsa lain yang mulai datang memonopoli. Untuk mematenkan posisinya di sana, dibangunlah benteng-benteng pertahanan dan perdagangan. Salah satunya Benteng Belgica, peninggalan Belanda yang dibangun pada abad ke-17. Benteng Belgica berperan sebagai tempat pengawasan dan pertahanan perdagangan pala di Banda Neira. Benteng ini memiliki arsitektur yang unik, yaitu bersudut lima. Bekas Benteng Belgica dapat disaksikan dan dipijak oleh masyarakat umum. Dari benteng penuh sejarah itu, jika naik ke atas, orang bisa melihat keanekaragaman hayati mulai dari hutan, Gunung Api Banda, hingga birunya laut jernih di bawah. Ada yang lain, Benteng Nassau di Pulau Neira. Sejarah mencatat, Benteng Nassau merupakan lokasi eksekusi 44 pemuka Kepulauan Banda oleh colonial. Tidak melupakan, rumah-rumah pengasingan para tokoh Nasional yang punya konsep unik, Istana Mini tempat tinggl mantan gubernur VOC, Rumah Budaya Banda yang menyimpan artefak VOC, juga Gereja Tua Neira yang di bagian lantainya terdapat nisan prajurit Belanda.

Museum Peninggalan VOC di Rumah Budaya Banda Neira
Ada satu objek wisata menarik di Banda Neira, namanya Rumah Budaya Banda Neira. Rumah ini adalah milik pribadi seorang tokoh bernama Des Alwi. Sosok Des Alwi dikenal sebagai seorang Sejarawah Banda sekaligus anak angkat Bung Hatta. Lokasi dari Rumah Budaya Banda Neira berada di Desa Nusantara, Kecamatan Banda. Rumah milik Des Alwi ini kemudian disulap menjadi museum bersejarah. Koleksi yang tersimpan di sana diantaranya sisa peninggalan dari pendudukan VOC di Banda di masa lalu. Melalui Rumah Budaya Banda Neira, wisatawan dapat menyaksikan perjalanan masyarakat Banda dalam menghadapi kolonialisme dan mempertahankan tanah rempah-rempah yang kaya. Wisatawan bisa datang kemari dengan biaya retribusi Rp 20.000 dan di sekitar objek tersebut ada objek lain yang patut dikunjungi.
Lokasi Pengasingan Tokoh Nasional
Di bagian sebelumnya, sudah disinggung bahwa Banda Neira menjadi lokasi pengasingan untuk sejumlah tokoh Nasional di masa menuju kemerdekaan. Tokoh yang tercatat diantaranya Drs. Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri. Tempat tinggal para tokoh tersebut pun berbeda-beda, saat ini masih terawatt dengan rapi, termasuk koleksi yang tersimpan di dalamnya. Bung Hatta (panggilan akrab dari Drs. Moh. Hatta), diasingkan ke Banda Neira pada bulan Februari 1936, bersamaan dengan Bung Sjahrir (panggilan akrab Sutan Sjahrir). Keduanya pernah tinggal di tempat pengasingan dr. Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri, lalu akhirnya mereka berpisah dengan menyewa rumah sendiri. Bung Hatta menempati rumah yang disewa dari perkinier (tuan rumah) di Jalan Dr. Rehatta, Nusantara. Sedangkan Bung Sjahrir menmpati rumah pengasingan bergaya topis-indis di Jalan Said Tjong Baadillah, berdekatan dengan rumah Bung Hatta dan Rumah Budaya Banda Neira. Lalu, dr. Cipto Mangunkusumo yang lebih dulu diasingkan ke Banda Neira menempati rumah di Jalan Pendidikan, dekat dengan Istana Mini dan kantor-kantor pejabat Belanda, selama 13 tahun lamanya. Kemudian Iwa Kusumasumantri yang pernah menempati posisi Menteri Sosial tinggal di rumah pengasingan, di Jalan Sutan Syahrir. Keempat tokoh ini memang tinggal di rumah-rumah sederhana bergaya indis, bahkan mungkin menyewanya. Namun, di sana, para tokoh tersebut tidak berhenti untuk berpikir. Mereka tetap menuangkan buah pikir, melakukan diskusi, hingga mengajar penduduk sekitar. Benda-benda yang pernah mereka gunakan masih tertinggal dan sekarang jadi objek wisata sejarah yang menarik disambangi.

Panorama Alam yang Cantik
Di era kini, tujuan orang ke Banda Neira tentu saja menikmati keindahan yang sudah sering diperbincangkan. Kepulauan Banda sendiri memang dikelilingi lautan dan pegunungan di area Maluku Tengah. Testimoni mengatakan kalau alam Banda Neira masih resik dan terjaga. Hal ini bisa diwajarkan karena akses menuju ke mari memang cukup sulit. Kamu harus melewati jalur udara yang hanya tersedia dua kali seminggu atau menghabiskan banyak waktu lewat jalur air. Bisa dipastikan biayanya cukup tinggi. Namun, apa yang akan didapatkan setelah menempuh perjalanan jauh sangatlah worth it. Banda Neira memiliki total 13 pulau-pulau kecil yang mengelilinginya. Latar belakangnya kombinasi antara hijaunya pepohonan dan Gunung Api Banda. Banda Neira pun merupakan surge bagi kamu yang menyukai petualangan bawah laut. Perairan Banda Neira terkenal jernih, menyimpan 350 lebih spesies biota laut. Wisatawan pun dapat menyeberang ke Pulau Nailaka dan Pulau Hatta, bagian pantai berpasir putih, sunyi, menenangkan. Atau kalau ingin eksplorasi perkebunan Pala, Banda Neira siap menyambut.
Banda Neira, jadi satu diantara sekian banyak tempat cantik di Indonesia. Banda Neira menyimpan rempah-rempah yang membuat iri, sehingga di masa lalu diperebutkan. Di samping view pemandangan yang luar biasa, kombinasi antara pegunungan, laut, fauna, dan lebatnya flora, Banda Neira punya cerita. Ada perjalanan yang ditempuh selama beratus-ratus tahun lalu. Banda Neira tumbuh bersama kisah yang abadi di setiap titiknya.
Featured image: unsplash.com/Sanjia (Jay)