Seni Merelakan:
Belajar Melepaskan Hal yang Tak Lagi Bisa Dikendalikan
Seni merelakan mengajarkan kita menerima hal yang tidak bisa dikendalikan, membedakan usaha dan memaksakan keadaan, serta melanjutkan hidup dengan tenang.
Tidak semua hal dalam hidup bisa berjalan sesuai dengan keinginan. Ada rencana yang gagal meskipun sudah dipersiapkan dengan baik, hubungan yang berubah meskipun sudah berusaha dipertahankan, atau kesempatan yang terlewat dan tidak mungkin diulang. Dalam situasi seperti itu, kita mungkin akan terus bertanya-tanya apakah masih perlu berusaha atau sudah waktunya melepaskan. Di sinilah seni merelakan atau art of letting go menjadi bagian dari kehidupan. Merelakan bukan sekadar melupakan sesuatu atau berpura-pura tidak peduli. Ada kalanya seseorang justru perlu menerima kenyataan bahwa dirinya sudah melakukan berbagai hal yang bisa dilakukan, tetapi hasil akhirnya tetap tidak berada dalam kendalinya. Belajar merelakan dapat membantu kita memahami batas antara memperjuangkan sesuatu dan memaksakan keadaan.
Apa Itu Merelakan?
Merelakan adalah proses menerima bahwa suatu hal tidak bisa lagi dipertahankan, diubah, atau diwujudkan sesuai dengan keinginan. Setelah menyadari hal tersebut, seseorang mencoba melepaskan keterikatan terhadap hasil yang diharapkan dan melanjutkan kehidupannya. Dalam kehidupan sehari-hari, merelakan bisa memiliki bentuk yang berbeda-beda. Seseorang dapat merelakan kesempatan yang sudah terlewat, rencana yang tidak berhasil, hubungan yang berubah, pendapat orang lain, atau kejadian masa lalu yang tidak bisa diperbaiki. Tidak selalu ada sesuatu yang benar-benar hilang secara fisik. Terkadang yang perlu dilepaskan adalah harapan agar keadaan berjalan seperti yang kita inginkan. Merelakan juga tidak sama dengan melupakan. Kita masih dapat mengingat sebuah kejadian meskipun sudah menerimanya. Begitu pula dengan rasa kecewa. Seseorang bisa memahami bahwa sesuatu memang sudah tidak dapat diubah, tetapi tetap merasa sedih ketika mengingatnya. Perasaan tersebut tidak otomatis berarti ia gagal merelakan. Merelakan juga tidak berarti menyetujui semua hal yang terjadi. Menerima kenyataan bahwa suatu hubungan telah berakhir, misalnya, bukan berarti menganggap semua kejadian dalam hubungan tersebut benar atau menyenangkan. Artinya, seseorang mulai mengakui bahwa keadaan yang sudah terjadi tidak dapat diputar kembali dan dirinya perlu menentukan langkah selanjutnya.
Mengapa Kita Perlu Belajar Merelakan?

Manusia secara alami dapat memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap penting. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai, kita mungkin terus memikirkan apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana jika mengambil keputusan berbeda, atau apakah masih ada cara untuk mengubah keadaan. Memikirkan kembali suatu kejadian sesekali tentu bukan hal yang aneh. Kita bahkan dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Namun, terus-menerus berusaha mengubah sesuatu yang sudah berada di luar kendali justru dapat membuat perhatian kita berhenti pada masa lalu. Merelakan memberi ruang untuk menerima kenyataan dan mengarahkan kembali perhatian pada hal yang masih dapat dilakukan. Misalnya, seseorang sudah mengikuti proses seleksi pekerjaan, mempersiapkan diri dengan baik, dan mengikuti wawancara, tetapi akhirnya tidak diterima. Ia tentu boleh merasa kecewa. Namun, setelah menyadari bahwa keputusan tersebut bukan lagi berada di tangannya, ia dapat mulai memikirkan kesempatan lain. Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Kita dapat berusaha menjadi teman yang baik, menjaga komunikasi, dan menyelesaikan masalah. Namun, kita tidak dapat sepenuhnya menentukan keputusan, perasaan, atau pilihan orang lain. Ada titik ketika usaha untuk mempertahankan hubungan perlu dibedakan dari upaya memaksakan seseorang agar tetap berada dalam kehidupan kita. Dengan demikian, merelakan bukan sekadar melepaskan sesuatu. Ada proses untuk memahami bahwa tidak semua hasil dapat kita kendalikan. Kesadaran tersebut dapat membantu seseorang menggunakan tenaga dan perhatian untuk hal-hal yang masih memiliki kemungkinan untuk diubah.
Merelakan Bukan Berarti Menyerah
Salah satu kesalahpahaman tentang merelakan adalah anggapan bahwa melepaskan berarti menyerah. Padahal, keduanya tidak selalu memiliki arti yang sama. Menyerah dapat berarti berhenti melakukan usaha ketika masih ada sesuatu yang sebenarnya dapat dilakukan. Sementara itu, merelakan lebih berkaitan dengan kesadaran bahwa suatu keadaan sudah berada di luar kemampuan kita untuk mengubahnya. Misalnya, seseorang ingin memperbaiki kesalahan kepada temannya. Ia dapat meminta maaf, menjelaskan keadaan dengan jujur, dan berusaha memperbaiki tindakannya. Namun, setelah melakukan hal tersebut, ia tidak dapat memaksa temannya untuk langsung memaafkan atau kembali seperti sebelumnya. Bagian yang dapat dikendalikan adalah tindakan dirinya, sedangkan respons orang lain berada di luar kendalinya. Contoh lain adalah ketika seseorang gagal mendapatkan suatu kesempatan. Ia dapat mengevaluasi kekurangannya, memperbaiki persiapan, dan mencoba kembali jika kesempatan serupa tersedia. Namun, ia tidak dapat mengubah hasil yang sudah diputuskan. Jadi, merelakan bukan berarti berhenti berusaha sejak awal. Justru, seseorang dapat berusaha terlebih dahulu, kemudian menentukan apakah masih ada tindakan yang masuk akal untuk dilakukan. Jika tidak ada, menerima hasil yang ada dapat menjadi bagian dari proses melepaskan.
Apakah Merelakan Berarti Lemah?
Merelakan tidak dapat dijadikan ukuran sederhana untuk menentukan seseorang kuat atau lemah. Setiap orang memiliki keadaan dan batas yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan. Ada anggapan bahwa orang yang terus bertahan adalah orang yang kuat, sedangkan orang yang memilih melepaskan dianggap kalah. Padahal, mempertahankan sesuatu tidak selalu berarti lebih berani, begitu pula melepaskannya tidak otomatis berarti takut. Dalam beberapa keadaan, seseorang justru membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa sesuatu tidak dapat berjalan sesuai keinginannya. Mengakui keterbatasan kendali juga tidak selalu mudah karena manusia cenderung ingin mendapatkan hasil dari usaha yang telah dilakukan. Merelakan dapat menjadi bentuk pengakuan bahwa kita sudah memiliki batas. Kita mungkin dapat mengatur tindakan sendiri, tetapi tidak dapat mengatur semua keadaan di sekitar kita. Kita dapat menyampaikan pendapat, tetapi tidak dapat menentukan apakah orang lain akan menerimanya. Kita dapat merencanakan masa depan, tetapi tidak dapat memastikan seluruh rencana tersebut akan terwujud. Karena itu, merelakan lebih tepat dipandang sebagai salah satu cara menghadapi kenyataan, bukan sebagai tanda kelemahan ataupun kekuatan seseorang.
Tidak Semua Hal Harus Direlakan
Membahas seni merelakan bukan berarti mengajarkan seseorang untuk menerima semua keadaan tanpa melakukan apa pun. Ada situasi yang masih dapat diperbaiki dan membutuhkan tindakan. Sebelum memilih untuk melepaskan, seseorang dapat mempertimbangkan apakah masih ada langkah yang masuk akal untuk dilakukan. Jika sebuah kesalahpahaman masih dapat dibicarakan, misalnya, komunikasi mungkin masih diperlukan. Jika sebuah kesalahan masih bisa diperbaiki, tindakan untuk memperbaikinya tentu lebih berguna daripada langsung menganggap semuanya tidak dapat diubah. Begitu pula dalam menghadapi masalah sehari-hari. Merelakan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab. Ada hal-hal yang memang berada dalam kendali kita dan tetap perlu diselesaikan. Pertanyaan sederhana yang dapat digunakan adalah, "Apakah masih ada sesuatu yang bisa saya lakukan?" Jika jawabannya masih ada, mungkin belum waktunya melepaskan usaha. Namun, jika berbagai pilihan yang masuk akal sudah dilakukan dan hasil akhirnya tetap berada di luar kendali, menerima keadaan dapat menjadi pilihan yang lebih realistis. Batas inilah yang membuat merelakan berbeda dari sekadar bersikap pasrah. Pasrah dapat terjadi tanpa mempertimbangkan pilihan yang tersedia, sedangkan merelakan dapat dilakukan setelah seseorang memahami apa yang masih dapat diperjuangkan dan apa yang tidak lagi dapat dikendalikan.
Kenali Hal yang Bisa Dikendalikan
Salah satu bagian penting dalam belajar merelakan adalah memahami batas kendali diri sendiri. Kita memiliki kendali lebih besar terhadap tindakan, keputusan, usaha, dan cara merespons suatu keadaan. Sebaliknya, banyak hal di luar diri kita tidak dapat diatur sepenuhnya. Kita tidak dapat menentukan keputusan orang lain, mengubah masa lalu, memaksa seseorang memiliki perasaan tertentu, atau memastikan sebuah usaha selalu menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Bahkan rencana yang sudah disusun dengan matang tetap dapat berubah karena keadaan yang tidak terduga. Membedakan kedua hal tersebut dapat membuat seseorang lebih realistis dalam menghadapi masalah. Ketika masih ada tindakan yang bisa dilakukan, fokus dapat diarahkan pada tindakan tersebut. Ketika tidak ada lagi yang bisa dilakukan, perhatian dapat perlahan dialihkan dari hasil menuju langkah berikutnya. Misalnya, kita tidak dapat mengendalikan apakah orang lain menyukai pilihan hidup kita. Namun, kita dapat menentukan apakah keputusan tersebut sudah dipertimbangkan dengan baik. Kita juga tidak dapat mengubah pendapat orang lain tentang diri kita, tetapi dapat memilih bagaimana menanggapi pendapat tersebut. Kesadaran mengenai batas kendali bukan berarti tidak peduli terhadap hasil. Justru, hal tersebut membantu kita mengetahui bagian mana yang memang menjadi tanggung jawab kita dan bagian mana yang perlu kita lepaskan.
Bagaimana Cara Belajar Merelakan Sesuatu?
Merelakan tidak selalu terjadi dalam satu waktu. Terkadang seseorang sudah memahami secara logis bahwa suatu hal harus dilepaskan, tetapi perasaannya masih membutuhkan waktu untuk menerima keadaan tersebut. Karena itu, tidak perlu memaksakan diri untuk langsung merasa baik-baik saja. Langkah pertama adalah mengakui kenyataan. Mengakui kenyataan tidak berarti menyukainya. Seseorang hanya perlu menerima bahwa kejadian tersebut memang sudah terjadi atau hasil yang diinginkan memang tidak terwujud. Selanjutnya, lihat kembali usaha yang sudah dilakukan. Kita sering sulit melepaskan sesuatu karena merasa masih kurang berusaha. Evaluasi secara jujur dapat membantu membedakan antara kesempatan yang memang masih bisa diperjuangkan dan keadaan yang sebenarnya sudah tidak dapat dikendalikan. Setelah itu, bedakan antara berusaha dan memaksakan keadaan. Berusaha berarti masih ada tindakan nyata yang dapat dilakukan. Sebaliknya, memaksakan keadaan dapat terjadi ketika kita terus mengulangi tindakan yang sama meskipun tidak ada lagi kendali terhadap hasilnya. Memberi ruang untuk merasa kecewa juga merupakan bagian yang wajar. Merelakan tidak mengharuskan seseorang langsung merasa tenang. Rasa sedih, kecewa, atau kehilangan dapat tetap muncul. Yang penting, perasaan tersebut tidak harus menentukan seluruh langkah kehidupan berikutnya. Perlahan, perhatian dapat dialihkan kepada hal-hal yang masih bisa dilakukan. Ketika satu rencana tidak berhasil, misalnya, kita dapat melihat pilihan lain. Ketika sebuah hubungan berubah, kita dapat mulai menyesuaikan batas dan kehidupan kita dengan keadaan yang baru. Yang tidak kalah penting, berikan waktu. Merelakan bukan tombol yang dapat ditekan sekali lalu semua perasaan hilang. Keputusan untuk melepaskan dapat dibuat hari ini, tetapi proses menerima keputusan tersebut mungkin membutuhkan waktu yang lebih panjang.
Merelakan Tidak Selalu Berarti Melupakan
Melepaskan sesuatu tidak selalu berarti menghapusnya dari ingatan. Ada pengalaman yang tetap menjadi bagian dari kehidupan seseorang meskipun sudah tidak lagi dijalani. Seseorang dapat mengenang masa lalu tanpa terus berharap untuk kembali ke masa tersebut. Ia dapat mengingat seseorang tanpa harus terus menunggu orang tersebut kembali. Ia juga dapat mengakui bahwa sebuah pengalaman pernah penting tanpa harus membiarkan pengalaman itu menentukan seluruh kehidupannya saat ini. Hal yang sama berlaku untuk kegagalan. Merelakan kegagalan bukan berarti menganggapnya tidak penting. Pengalaman tersebut tetap dapat menjadi pelajaran. Bedanya, seseorang tidak lagi menjadikan kegagalan tersebut sebagai alasan untuk terus menyalahkan diri sendiri atau berhenti mencoba hal lain. Dalam konteks ini, seni merelakan bukan tentang menghapus masa lalu. Lebih tepat jika dipahami sebagai kemampuan untuk menempatkan masa lalu pada tempatnya. Ada hal yang boleh dikenang, tetapi tidak perlu terus dikejar. Ada pengalaman yang dapat dipelajari, tetapi tidak perlu terus disesali. Ada sesuatu yang pernah kita inginkan, tetapi tidak harus menjadi bagian dari kehidupan kita selamanya.
Ketika Saatnya Melanjutkan Hidup

Salah satu perubahan yang dapat dirasakan setelah mulai merelakan adalah munculnya ruang untuk memikirkan apa yang akan dilakukan setelahnya. Perhatian tidak lagi sepenuhnya tertuju pada bagaimana mengubah sesuatu yang sudah tidak dapat diubah. Seseorang mungkin masih mengingat kejadian tersebut, tetapi tidak lagi merasa harus terus mencari jalan untuk mengulang atau memperbaikinya. Ia mulai dapat menerima bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan harapan dan mempertimbangkan pilihan yang tersedia saat ini. Hal ini juga bukan berarti seseorang tidak akan pernah merasa sedih lagi. Perasaan dapat muncul kembali pada waktu tertentu, terutama ketika ada sesuatu yang mengingatkan pada pengalaman tersebut. Namun, munculnya perasaan tidak selalu berarti proses merelakan gagal. Pada akhirnya, merelakan bukan tentang mencapai keadaan ketika kita tidak merasakan apa-apa lagi. Merelakan lebih berkaitan dengan kemampuan untuk tetap menjalani kehidupan meskipun ada hal yang tidak berjalan sesuai harapan.
Seni Merelakan Adalah Mengetahui Kapan Harus Melepaskan

Dalam hidup, ada hal-hal yang memang perlu diperjuangkan. Namun, ada pula hal-hal yang pada akhirnya harus diterima karena sudah berada di luar kendali kita. Tantangannya adalah mengetahui perbedaan antara keduanya. Merelakan bukan berarti berhenti berusaha, tidak peduli, atau menganggap sesuatu tidak penting. Merelakan berarti menyadari bahwa usaha memiliki batas dan hasil tidak selalu dapat ditentukan oleh keinginan kita. Kita boleh kecewa terhadap sesuatu yang tidak berhasil. Kita boleh merasa sedih karena kehilangan sesuatu yang berarti. Kita juga boleh membutuhkan waktu sebelum benar-benar menerima keadaan. Semua itu tidak membuat proses melepaskan menjadi sia-sia. Pada akhirnya, seni merelakan adalah tentang belajar mengatakan bahwa kita sudah melakukan bagian yang bisa dilakukan, sementara sisanya memang bukan lagi berada dalam kendali kita. Dengan menerima batas tersebut, kita dapat berhenti memaksakan sesuatu yang tidak dapat diubah dan mulai memberikan perhatian kepada kehidupan yang masih bisa dijalani.