Thea News
Ada di Sekitarmu // 2026 Yola yolsy

11 Oktober:
Bukan Sekadar Perayaan, Ini Tentang Masa Depan Anak Perempuan Kita

Setiap tanggal 11 Oktober, dunia memperingati Hari Anak Perempuan Internasional. Bukan hanya untuk merayakan, tapi untuk menanyakan kembali: sudahkah kita benar-benar memberi ruang yang aman dan setara bagi anak perempuan untuk tumbuh, bermimpi, dan bersuara?

Hari Anak Perempuan Internasional bukan sekadar perayaan seremonial yang cuma numpang lewat di kalender atau sekadar rame-rame pasang twibbon lucu di Instagram story. Kalau kita mau jujur dan coba nengok ke belakang, tanggal 11 Oktober ini sebenarnya lahir dari keresahan yang sudah lama banget ditahan dan diabaikan. Baru pada tahun 2011, Perserikatan Bangsa-Bangsa meresmikannya lewat resolusi Majelis Umum, setelah diusulkan oleh Kanada dan didorong penuh oleh lembaga seperti Plan International. Alasan di balik keputusan itu sebenarnya sederhana tapi dampaknya nyata banget: anak perempuan di berbagai belahan dunia harus menghadapi urusan yang jauh lebih ribet ketimbang anak laki-laki. Ini bukan cuma soal kemiskinan atau susahnya akses sekolah di pelosok, tapi soal omongan dan perlakuan halus yang sudah menempel ke mereka bahkan sebelum mereka bisa membaca. Di banyak keluarga, belum juga paham huruf, anak perempuan sudah pelan-pelan diajari buat lebih banyak diam, gampang mengalah, rajin beres-beres, dan gak usah banyak protes kalau ada hal yang gak adil. Padahal kalau kita perhatikan anak kecil, di umur yang sama, rasa penasaran anak perempuan itu sama besarnya, beraninya sama nekatnya, dan mimpinya sama tingginya dengan anak laki-laki. Peringatan ini datang buat menampar kita semua bahwa urusan kesetaraan itu gak bisa ditunggu sampai orang dewasa, tapi harus dimulai dari masa kanak-kanak. Kalau dari kecil saja tahap ini sudah gagal kita jaga, kita cuma bakal ngulang pola yang sama terus-menerus: mencetak perempuan dewasa yang gampang merasa salah kalau mau bersuara, dan harus kerja dua kali lebih keras cuma buat dapet posisi atau gaji yang setara. 
 

https://activeforlife.com/how-to-get-kids-ready-for-school-before-september/

 


​Di Indonesia sendiri, urusan kayak gini terasa dekat banget sama keseharian kita. Di satu sisi, kita sering bangga pas liat berita ada anak perempuan menang olimpiade sains, jadi ketua OSIS yang tegas, atau pinter banget waktu ikut lomba debat. Tapi kalau mau jujur melihat ke bawah, data di lapangan masih menunjukkan angka pernikahan anak yang bikin ngelus dada, terutama di daerah yang ekonominya pas-pasan dan sekolahnya terbatas. Masih banyak anak perempuan yang terpaksa putus sekolah di umur SMP cuma gara-gara dianggap sudah waktunya bantu-bantu di dapur, ngurus adik, atau karena uang keluarga yang ngepas bikin orang tua harus memilih anak laki-laki yang diutamakan lanjut sekolah. Masalahnya makin bertambah pas kita lihat dunia digital sekarang. Anak perempuan zaman sekarang tumbuh di tengah ramainya TikTok dan Instagram, tempat standar kecantikan yang gak masuk akal, komentar pedas, ejekan fisik, dan tuntutan buat kelihatan sempurna datang setiap hari lewat layar HP. Mereka dituntut buat pinter dan percaya diri, tapi di saat bersamaan, HP di genggaman mereka terus-terusan ngasih pesan seolah-olah mereka kurang cantik, kurang langsing, atau kurang putih. Kondisi berlapis inilah yang bikin Hari Anak Perempuan jadi penting banget sekarang. Ini bukan cuma soal ngasih panggung sehari terus selesai, tapi gimana caranya kita bikin lingkungan yang beneran aman buat mereka, dari rumah, sekolah, tongkrongan, sampai ke media sosial yang sering lepas dari pantauan orang tua. 
 

https://www.vecteezy.com/photo/1996596-two-little-girls-having-fun-in-the-park

 


​Banyak orang yang gak sadar seberapa besar potensi yang hilang begitu saja tiap kali ada satu anak perempuan yang kesempatannya dipotong. Coba bayangkan anak perempuan di Garut, Bandung, Sumba, atau pelosok NTT yang sebenarnya pinter banget matematika dan logika, tapi gak pernah didorong ikut lomba cuma karena ada anggapan kuno kalau dunia angka itu jatahnya anak laki-laki. Atau anak yang matanya berbinar-binar tiap liat pesawat dan mimpi ingin jadi pilot, arsitek, atau programmer, tapi dari kecil sudah dikasih tahu kalau cita-cita paling aman buat perempuan itu ya cuma jadi guru atau perawat. Bukan berarti guru atau perawat itu gak bagus, dua-duanya profesi yang luar biasa mulia, tapi masalahnya adalah ketika pilihan hidup seseorang dibatasi oleh pandangan orang lain, bukan oleh minat dan bakat aslinya. Riset dari UNICEF dan Bank Dunia bahkan sudah membuktikan kalau anak perempuan bisa menyelesaikan sekolah menengah sampai tuntas, dampaknya panjang banget buat kehidupan: ekonomi keluarga di masa depan jadi lebih baik, kesehatan anak-anak mereka nanti lebih terjamin, angka nikah muda turun drastis, dan daerah tempat tinggal mereka jadi lebih produktif. Jadi ngedukung dan ngasih akses pendidikan ke anak perempuan itu bukan cuma soal kasihan atau aksi bakti sosial. Ini murni perhitungan strategis buat masa depan suatu daerah atau bangsa. Satu anak perempuan yang didukung dengan bener, dikasih buku yang bagus, didampingi orang yang tepat, dan dipercaya kemampuannya, punya potensi buat merubah nasib keluarganya sendiri, bahkan bisa ngangkat ekonomi satu kampung. 
 

https://theparentswebsite.com.au/making-girls-strong-and-free/

 


​Terus apa yang bisa kita bikin sebagai orang biasa yang ada di sekitar mereka, tanpa harus nunggu gerakan besar dari pemerintah atau organisasi luar? Jawabannya justru ada di kebiasaan kecil sehari-hari yang sering kita sepelein. Di rumah, kita bisa mulai dari membagi urusan domestik tanpa membedakan cowok atau cewek. Biarkan anak laki-laki belajar cuci piring, menyapu, sama masak, dan biarkan anak perempuan belajar benerin rantai sepeda, ganti bohlam lampu, atau belajar ngoding di komputer. Di sekolah, guru-guru bisa berhenti pakai kalimat yang membatasi seperti nyuruh anak perempuan harus lebih lembut dan gak boleh ngomong keras-keras, atau ngelarang anak laki-laki nangis pas lagi sedih. Kalimat kayak gitu kelihatan sepele, tapi nempel terus di kepala mereka dan bikin mereka membatasi diri sendiri sampai dewasa. Kalau lagi kumpul keluarga atau nongkrong, coba ubah cara kita nyapa anak perempuan. Daripada ngomentarin fisik kayak "sekarang cantikan ya" atau "kok agak gemukan", bakal jauh lebih berbekas kalau kita mengapresiasi karya atau pikirannya, misalnya "tulisan kamu di mading kemarin keren banget" atau "argumen kamu pas diskusi tadi mantap banget". Apresiasi kayak gitu bikin rasa percaya diri mereka tumbuh dari isi kepala dan kemampuan, bukan dari penampilan luar yang gampang berubah. Di media sosial juga sama, kita mesti berani ambil sikap. Kalau liat ada konten yang ngecehin atau menjatuhkan anak perempuan, jangan cuma disimak atau dijadiin bahan ketawaan, tapi report dan kasih tahu kalau itu salah. Tempat yang aman itu gak bakal jadi dengan sendirinya kalau gak kita jaga bareng-bareng tiap hari. 

​Poin utamanya, memperingati 11 Oktober itu bukan urusan meramaikan media sosial sehari terus besoknya lupa lagi. Ini soal niat jangka panjang yang harus dijaga pelan-pelan walau gak kelihatan orang. Anak perempuan umur sepuluh tahun yang hari ini lagi belajar di meja makan rumahnya bakal jadi anak muda lima tahun lagi, dan bakal jadi pemimpin, penemu, ibu, atau pengambil keputusan sepuluh sampai lima belas tahun ke depan. Apa yang kita kasih ke mereka hari ini—entah itu rasa percaya diri, kesempatan belajar, rasa aman, atau sebaliknya berupa batasan-batasan aneh—itulah yang bakal kita lihat hasilnya nanti di masyarakat. Kalau kita beneran mau liat lebih banyak perempuan Indonesia jadi ilmuwan hebat, bos perusahaan, kepala daerah yang bener, atlet berprestasi, atau seniman yang karyanya diakui di mana-mana, ya akarnya harus kita siram dan kuatkan dari sekarang. Dampingi mereka dengan bacaan yang beragam, kasih ruang luas buat mereka bertanya apa saja, dan biarkan mereka pernah gagal terus mencoba lagi tanpa perlu ditertawakan atau dihakimi. Gak usah buru-buru ngasih cap negatif seperti "terlalu ambisius", "terlalu vokal", atau "gak ada feminin-femininnya" cuma karena mereka berani ngejar apa yang mereka mau. Justru dunia yang lagi berubah acak-adut ini butuh keberanian dan suara lantang mereka. Hari Anak Perempuan Internasional cuma mau ngingetin kita semua kalau kesetaraan itu bukan hadiah tahunan, tapi hak yang harus dijaga dan diperjuangkan setiap hari, mulai dari cara kita memperlakukan anak perempuan yang ada di dekat kita saat ini.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Deretan Kopi Lokal di Ajang Kompetisi Brewers Dunia

Next Entry

Menjaga Pikiran di Tengah Dunia yang Riuh: Mengapa Kesehatan Mental Bukan Lagi Soal "Kurang Bersyukur"

Next Entry

Jejak Panjang Kota Budaya: Menatap Sejarah dan Arah Yogyakarta di Usia Baru