Thea News
LifeStyle // 2026 Lea

4 Faktor yang Bikin Drama Vertikal Disukai Masyarakat

Drama vertikal atau drama mikro sering dicap aneh oleh sebagian orang. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa popularitasnya kian melejit. Ternyata ada faktor yang memengaruhinya.

Beberapa tahun terakhir, tontonan drama vertikal menjadi sebuah hal yang digandrungi oleh segala kalangan. Jika dulu drama lebih banyak disukai oleh perempuan, kini kaum adam pun mulai merambah ke jenis tayangan tersebut, khususnya drama vertikal. Baik remaja, dewasa, bahkan orang-orang yang berumur, seolah menonton drama jadi trend yang diikuti oleh seluruh lapisan. Fenomena inipun akhirnya sering disoroti, menjadi perhatian umum yang diperbincangkan.

 

Semakin berkembangnya teknologi, industri hiburan mulai mengembangkan format visual serta pencitraan yang berbeda untuk menarik penonton, salah satu diantaranya yaitu kemunculan tampilan portrait atau rasio 9:16 pada sebuah drama fiksi. Bentuk tayangan ini kemudian disebut sebagai drama mikro atau micro drama. Alasan utama dari adanya format baru ini yaitu sebagai respons terhadap bagaimana orang-orang menggunakan gadget di era kini. Menelaah kondisi yang dialami, platform seluler lebih banyak digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Tayangan dengan format vertikal ini memaksimalkan penggunaan ponsel dengan arah tegak lurus. Habit tersebut pun telah diadopsi oleh banyak perusahaan raksasa media, seperti Instagram, TikTok, Snapchat, X, dan sebagainya. Dari video-video pendek yang merajalela, lalu berkembang jadi tayangan bercerita fiksi. Penyebutan micro drama sendiri merujuk pada waktu penayangan yang singkat. Lumrahnya drama vertikal hanya memiliki durasi antara 2-10 menit, semakin pendek semakin baik. Sekilas, memang perbedaannya hanya terletak pada format dan waktu, tapi animo yang dirasakan begitu kentara. Penggemar drama mikro yang bisa merata menunjukan bahwa ada factor tertentu yang memengaruhinya.

 

Jadi, apa sih, sebenarnya hal yang bikin drama mikro disukai?

 

Konsumsi yang Cepat dan Singkat

 

Tidak memungkiri keadaan yang terjadi saat ini, ketika seseorang lebih banyak menggunakan telepon seluler di kehidupan sehari-hari. Fungsi utama telepon yang semula dipakai untuk berkomunikasi, kini mulai bergeser jadi sumber mencari hiburan. Maraknya fitur yang semakin lengkap dalam telepon genggam, memudahkan berbagai sektor untuk masuk ke dalamnya. Dari sekian bentuk hiburan yang dikonsumsi masyarakat, video merupakan format terbanyak. Ditambah lagi, orang-orang tidak akan kuat berlama-lama bertahan di satu tayangan yang sama dalam waktu lama. Oleh karena itu, akhirnya mulai berkembanglah video vertikal dengan durasi singkat, bahkan semakin singkat maka akan semakin banyak memperoleh atensi. Trend itu akhirnya dimanfaatkan oleh para pelaku industry hiburan untuk menciptakan drama yang memiliki bentuk demikian. Setiap video pada drama mikro terbatas di rentang antara dua menit sampai lima menit. Jumlah episode rata-ratanya memang banyak, tapi kalau ditotal, lama waktu penyangannya hanya satu sampai dua jam saja. Tentu, cara ini sangat menerapkan prinsip ekonomi, dimana budget produksi yang minim, tapi output yang dihasilkan maksimal, belum lagi bila dihitung dari pendapatan biaya dari iklan dan sponsor. Layak kalau drama ini merajalela, digemari, serta profit.

 

Format yang Effortless

 

Sebelum drama vertikal muncul, orang-orang tetap menyaksikan drama dalam format landscape di device yang digunakan. Tampilan yang lebih lebar dan penuh memberikan kepuasan tersendiri ketika menonton. Namun, seiring berjalannya waktu, orang mulai beralih pada tontonan yang sederhana, tidak banyak membutuhkan usaha untuk tetap menikmatinya. Smartphone menjadi device utama yang sekarang pasti digunakan sebagai penunjang aktivitas sehari-hari. Benda ini bukan sekadar alat komunikasi, tapi media mendapatkan hiburan dari beragam platform. Telepon genggam mudah sekali dibawa, dengan aneka desain cantik, ringan, tidak makan tempat. Dari telepon genggam, semua bisa diakses, dari menghubungi orang, mencari informasi lewat internet, hingga mengatur keungan. Orang bisa scrolling selama berjam-jam menggunakan ponsel, menonton segala bentuk hal, khususnya video. Dari sana, para creator visual mulai mencoba peruntungan dengan mengunggah karyanya lewat platform tertentu. Mengingat orang lebih sering melihat layar dengan kondisi vertikal, maka file yang diunggah pun ikut vertikal. Mereka memilih menggunakan durasi pendek agar menyesuaikan lama penikmat konten dapat menyerap apa yang dilihatnya. Jadi, ketika video itu muncul di beranda, orang bisa langsung menonton dengan tampilan portrait, tanpa harus mengubahnya jadi landscape atau mengatur arah ponsel terlebih dahulu. Format ini sangat membantu orang-orang meminimalisir gerakan, langsung dinikmati setelahnya.

 

Cerita yang Penuh Kejutan, Meskipun Monoton

 

Drama vertikal memang sering kena hujat juga karena punya alur cerita yang monoton, bahkan sering dikatakan pula tidak masuk akal. Namun, justru itulah salah satu daya tarik dari micro drama yang saat ini digandrungi. Alur cerita yang dimiliki drama vertikal memang tidak jauh-jauh dari balas dendam, perselingkuhan, persahabatan, perebutan warisan, mengejar cinta bertepuk sebelah tangan, kisah si miskin dan si kaya, serta sejenisnya. Latarnya tidak jauh-jauh dari orang desa yang berangkat ke kota, perusahaan, rumah-rumah megah, dilengkapi pakaian mewah serta make up yang tetap cantik (walaupun adegannya sedang terbaring di rumah sakit). Penonton bisa jadi benar ketika menebaknya, bagaimana cerita bermula sampai akhir yang selalu dimenangkan karakter protagonis. Hanya saja, cara para tokoh melakukan tindakan untuk mencapai tujuan itulah yang dicari orang. Misalnya saja, cerita berkisah tentang pasangan yang akhirnya harus berpisah karena tidak adanya restu orang tua. Pada akhirnya, kedua tokoh itu pasti bersatu, tapi cara menuju ke sana yang selalu ditunggu-tunggu. Terkadang ada adegan-adegan tidak terduga yang membuat penonton takjub setiap menontonnya. Apalagi durasinya yang singkat, selalu menggantung di akhir menit, bikin penasaran. Akhirnya mau tidak mau, orang akan membuka episode selanjutnya, terus begitu sampai babak terakhir. Tidak terasa, judul lain pun tak luput dari pandangan. Kelebihan lainnya sebab drama vertikal bisa diakses secara gratis. Penonton cukup menyediakan akses internet, lalu menikmatinya sampai tamat. Kecuali, jika drama ini ditonton lewat platform tertentu yang berbayar, mungkin akan biaya yang perlu dikeluarkan. Kejadian seperti itu pernah dialami oleh seorang pedangdut legendaris Indonesia, Inul Daratista, yang mendapati riwayat transfer ke akun asing berjuta-juta rupiah di rekening suaminya. Hasil temuannya justru mengejutkan, sebab uang itu digunakan membuka episode baru drama vertikal.

 

Memenuhi Fantasi Penonton

 

Ketidakmasukalan drama vertikal sebenarnya jadi sesuatu yang banyak dicari para penonton. Entah bagaimana cara balas dendam, seorang yang miskin jadi kaya raya, atau menikah dengan CEO. Di dunia nyata, bisa saja hal itu terjadi, tapi prosentase keberhasilannya terlalu sulit. Secara tidak sadar, tubuh melepaskan dopamine ketika menonton drama vertikal. Hasrat bawah sadar yang sebelumnya susah direalisasikan dapat disalurkan lewat adegan-adegan dramatis yang tersaji. Bagaimana seorang penjahat mendapatkan ganjaran yang tiada habis dan tokoh protagonist yang punya nyali sekuat baja mampu menumpaskan segala ketidakadilan. Adanya topik unik, seperti reinkarnasi punya penggemar cukup besar. Cerita ini terdengar tidak masuk akal, tapi ketika tokoh utama yang harus tewas mengenaskan di dalam penderitaan, akhirnya bisa hidup lagi dan mengulang semua kejadian, serta membalikan keadaan, seolah begitu memuaskan batin. Faktanya, ada orang yang berkeinginan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu.

 

Drama vertikal awalnya dianggap aneh, tapi lama-lama jadi trend yang begitu masif. Paling banyak, drama ini diproduksi di negara China dan lambat laun menyebar ke negara lain, seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan sebagainya. Dulu, aktor drama vertikal rata-rata memang berasal dari nama-nama yang tidak terlalu besar atau dijadikan batu loncatan ke proyek yang lebih besar. Namun, di 2026 ini, nyatanya ada aktor besar yang mulai terjun bermain di drama vertikal.

 

Jadi, menurut kamu, apakah trend nonton drama vertikal ini baik diikuti?

 

Featured image: pexels.com/Amar Preciado

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Mengapa Empati Adalah Jantung Kehidupan Sehari-Hari

Next Entry

Menghidupkan Kembali Etika yang Mulai Redup: Tantangan Adab Generasi Alpha di Era Digital

Next Entry

Butter Tteok: Kenali Kue Kenyal dengan Aroma Mentega, Rasa Manis dan Gurih