4 Hidangan Lokal, Comfort Food Masyarakat Yogyakarta
Yogyakarta dikenal akan hidangannya yang penuh rempah dengan citarasa manis. Namun, jika berbicara tentang comfort food, kamu bisa menemukan sensasi yang berbeda, misalnya empat menu ini.
Setiap individu punya comfort food-nya sendiri. Comfort food adalah jenis makanan yang mampu memberikan efek psikologis untuk orang yang mengonsumsinya berupa kenyamanan, ketenangan, atau dampak emosional lain yang cenderung positif. Istilah ini sudah bertahun-tahun lalu digunakan. Pada tahun 1966, comfort food muncul dalam artikel Palm Beach Post sebagai gambaran sebuah makanan mampu menumbuhkan rasa senang setelah mengalami suatu kejadian tertentu. Bagi sebagian orang, comfort food punya nilai nostalgia. Menggigit makanan yang biasa dimakan saat kecil, menimbulkan sekelibat memori di masa itu, misalnya kue buatan nenek, sup buatan ibu, dan sebagainya. Comfort food tidak bisa dinilai dari seberapa mahal makanan itu atau seberapa mewahnya hidangan itu tersaji. Jenis makanan ini termasuk personal, tidak bisa dipaksakan. Jadi, tidak ada yang bisa membatasi menu comfort food. Menu makanan ini tergantung selera, budaya, dan racikan bumbu tertentu yang membedakannya dengan menu-menu lainnya.
Menu comfort food biasanya tidak terlalu berlebihan. Kebanyakan orang memilih menu yang sederhana, tidak sulit dibuat, dan punya tekstur yang tidak asing. Lebih jauh, comfort food dapat menjadi menu hidangan komersil yang bisa dinikmati semua orang. Seperti di Yogyakarta, makanan-makanan dengan title comfort food banyak sekali dijajakan untuk umum. Kamu bisa jadi salah satunya yang mencoba makanan-makanan ini ketika berkunjung kemari.
Soto

Yogyakarta memang dikenal akan makanan manisnya, seperti gudeg, bakpia, yangko, oseng mercon, dan sebagainya. Namun, satu fenomena yang akan kamu temui di sini adalah banyaknya keberadaan warung soto di sepanjang jalan. Masyarakat Yogyakarta seolah tidak bisa lepas dari makanan berkuah ini. Hampir setiap hari, jika sedang bingung mencari makanan apa yang akan dikonsumsi, soto menjadi pilihan paling bijak dalam mengatasi permasalahan perut. Di Indonesia sendiri, setiap daerah punya tipe soto, mungkin ada yang lekoh dengan kuah keruh, bersantan, bening, dan lain-lain. Nah, di Yogyakarta ini, kebanyakan soto berkuah kuning bening. Dibuat dari berbagai rempah, diantaranya kapulaga, kayu manis, merica, kunyit, jahe, cabe jawa, pala, jinten, bawang putih, serai, daun jeruk, dan daun salam, rasanya lebih light, dengan sedikit manis yang tidak terlalu nyelekit. Soto di Yogyakarta mayoritas diisi berbagai sayuran, contohnya kubis, kecambah, tomat, serta taburan seledri juga daun bawang. Ditambah protein daging ayam atau sapi. Kadang diberi bihun putih atau nasi agar lebih mengenyangkan. Paling enak, menyantap soto di Yogyakarta bersama gorengan serta kerupuk. Satu porsi soto bisa dibanderol harga Rp 6.000 saja. Layak, kalau soto jadi pilihan ketika lapar.
Ayam Geprek

Ayam geprek adalah makanan yang disukai mayoritas masyarakat Indonesia. Bagaimana tekstur krispi, rasa gurih, dan pedas berkombinasi menjadi satu kesatuan yang menggoyang lidah. Ayam geprek memang bisa ditemui dimana saja, hampir seluruh daerah pasti punya signature ayam geprek masing-masing. Menilik kiprah kuliner ini, ayam geprek muncul pertama kali di Yogyakarta, tepatya di kedai milik Bu Rini. Saat itu, Bu Rini membuka warung sederhananya di area salah satu kampus di Kota Pelajar ini. Lalu, salah satu pelanggannya mengatakan ingin makan menu ayam goreng yang diulek bersama sambal. Jadilah menu ayam yang hancur karena diulek, bergabung bersama sambal bawang. Ayam geprek klasik diisi dengan ayam tepung krispi, sambal bawang, dan lalapan berupa kubis serta timun. Menu sederhana ini nyatanya dapat membuat orang-orang jatuh cinta di sekali suap. Ditambah nasi hangat, membuat menu ayam geprek jadi pilihan, khususnya mahasiswa yang budget-nya masih terbatas. Lebih berkembang, sering jadi perdebatan, bagaimana bentuk ayam geprek sebenarnya, sebab ada oknum-oknum yang membuat ayam geprek tanpa dihancurkan, hanya sekadar digepuk saja sampai penyet. Kemudian, ayam geprek kekinian pun telah ditambah bahan lain, misalnya keju, saus, hingga dibakar.
Mi Ayam

Mi ayam adalah makanan yang eksistensinya begitu umum di Indonesia. Penjual mi ayam menjamur di seluruh penjuru negeri, baik di ruko, pinggir jalan, hingga pedagang keliling. Mi ayam seolah jadi teman bagi masyarakat berbagai kalangan. Hampir tidak ada yang bisa menolak kelezatan mi ayam untuk mengatasi perut lapar. Meninjau dari asalnya, mi ayam awalnya berasal dari kelompok makanan oriental yang diadopsi menurut lidah lokal. Versi aslinya, mi ayam dan kuahnya dibuat secara terpisah, tapi mi ayam lokal kebanyakan telah menggabungkan keduanya. Lalu, setiap daerah akhirnya punya style mi ayam masing-masing. Seperti di Yogyakarta, kebanyakan mi ayam yang dijual menggunakan tipe Wonogiri, yaitu penggunaan ayam kecap manis, ketumbar, dan minyak bawang yang memberikan aromatic khas. Walaupun di Yogyakarta, terkadang kuahnya bisa jauh lebih manis daripada di tempat lain. Satu porsi mi ayam biasanya berisi mi, potongan ayam, dan sawi. Terkadang ada yang menyediakan pangsit kering atau basah serta bakso. Beberapa brand mi ayam terkenal di Yogyakarta yang bisa kamu coba seperti Mi Ayam Tumini di Giwangan, Mi Ayam Pak Slamet di Samirono Lama, Mi Ayam Pakdhe Wonogiri di Pengasih, dan Mi Ayam Mekaton di Seyegan.
Nasi Pecel

Di samping ada makanan kuah dan pedas, masyarakat Yogyakarta menyukai kombinasi antara nasi dengan sayur yang diwujudkan dalam seporsi nasi pecel. Nasi pecel secara spesifik memang kebanyakan ditemukan di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Pecel berisi sayur-mayur yang sebagian sudah direbus, misalnya kubis, bayam, kecambah, timun, kecipir, dan lain-lain. Kemudian, sayur ini akan diguyur bumbu kacang. Hal yang membedakan pecel satu dengan yang lain bisa dirasakan dari bumbunya. Kalau di Yogyakarta memang cenderung manis gurih, sedangkan di Jawa Timur lebih ke asin pedas. Nasi pecel bisa kamu temukan sepanjang hari di Yogyakarta. Kamu bisa menikmatinya saat pagi hari, siang, bahkan malam. Hanya saja, kamu perlu hati-hati karena sayuran pada pecel bisa busuk di durasi waktu yang cepat. Biasanya, penjual nasi pecel menawarkan lauk tambahan, contohnya rempeyek udang, telur ceplok, telur dadar, dan gorengan. Kadang, penjual pecel pun membuatkn gado-gado dan lotek. Menu lotek ini sangat umum di Yogyakarta dan banyak digandrungi. Kondimen lotek mirip pecel, hanya saja semuanya dicampur jadi satu dalam satu cobek, sehingga bumbunya merata. Jika pecel disajikan dengan nasi, lotek lebih kerap disajikan bersama ketupat atau lontong.
Menemukan menu comfort food memang semua tergantung dari selera. Pasti, ada alasan mengapa orang memilih satu menu itu jadi makanan nyamannya, entah karena rasanya, cara membuatnya, atau kenangan yang pernah terjadi berhubungan dengan makanan tersebut. Sejumlah makanan di atas merupakan comfort food sejumlah besar masyarakat Yogyakarta yang telah diperjualbelikan. Siapapun bisa mencobanya dengan rasa yang tetap menonjolkan kebudayaan lokal. Kamu bisa menemukan hidangan-hidangan itu dimana saja saat ingin, rindu, atau sekadar penasaran.
Featured image: pexels.com/Zig Fotografia