4 Zat Berbahaya dalam Skincare dan Nama Lain yang Harus Diketahui
Semakin banyak produk perawatan kulit yang memberikan beragam claim. Namun, jangan sampai salah pilih, karena bisa jadi produk itu mengandung zat berbahaya yang justru merusak kulit.
Menjadi seseorang yang bersinar adalah impian semua orang. Tidak heran bila banyak orang berlomba-lomba mencari perawatan terbaik untuk membuat wajah jadi cantik, tampan, dan bersih berseri. Treatment yang dipilih tentu beragam, biasanya orang akan memilih ke dokter untuk mengetahui bagaimana cara merawat kulit sesuai tipe masing-masing. Namun, ada juga yang memilih langsung mencoba menggunakan produk skincare yang dijual di pasaran. Setiap produk telah memberikan informasi terkait dan claim sendiri terhadap apa yang mereka jual. Hal itu kerap dijadikan patokan oleh orang dalam pemilihan produk setelah mendapatkan edukasi terkait perawatan kulit.
Sayangnya, sering kali orang terjebak dengan claim produk yang berlebihan. Contohnya saja, cukup pemakaian tiga hari, maka efeknya akan terlihat jelas berbeda dari sebelumnya, hasil putih maksimal yang pada akhirnya justru terasa tidak wajar, atau tekstur mulus yang terlihat janggal. Itu semua disebabkan adanya penggunaan bahan berbahaya dalam jumlah besar. Beberapa tahun terakhir ini, dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan serangkaian pengecekan pada produk-produk di lapangan. Hasilnya sangat mengejutkan karena beberapa di antaranya beraal dari brand besar. Walaupun sudah ada filterisasi, tapi terbukti masih ada saja yang lolos. Salah satu alasannya yaitu penyebutan nama bahan yang berbeda-beda di label komposisi produk.
Beberapa bahan berbahaya yang sering dijadikan sebagai bahan kosmetik bisa kamu cari tahu di bawah.

Merkuri
Bahan pertama yang akan dirembug adalah merkuri. Bahan ini sudah sering dibahas dimana-mana, edukasi atau sosialisasi terkait bahaya penggunaan merkuri juga telah dilakukan oleh berbagai pihak, tapi masih ada yang menggunakannya dengan iming-iming kulit putih. Merkuri merupakan air raksa yang memiliki simbil Hg dalam tabel periodik. Bahan kimia ini bisa berwujud logam berat atau cairan pada suhu ruang. Efek bahayanya untuk tubuh begitu besar, tidak hanya bagian permukaan, tapi merkuri bisa menyerang sampai organ dalam. Penggunaan merkuri biasanya ditemukan pada produk skincare dan kosmetik, seperti face wash, krim pelembap, eyeshadow, blush on, dan bedak. Khusus penggunaan pada riasan mta, merkuri masih bisa digunakan, meskipun batas toleransinya angat kecil. Penggunaan merkuri dalam jumlah besar termasuk aktivitas ilegal yang sudah dilarang di banyak negara, mengingat dampaknya yang begitu berbahaya, terutama jangka panjang. Memang, merkuri dapat membuat kulit tampak lebih putih dalam waktu cepat. Cara kerjanya mengelupas bagian permukaan kulit, makanya orang yang pakai merkuri wajahnya terlihat kemerahan dan rasanya tipis. Orang yang sudah keracunan merkuri dapat mengalami kerusakan sistem saraf, saluran pencernaan, otak, jantung, ginjal, sampai kekebalan tubuh. Bagi ibu hamil, merkuri dapat berpengaruh pada janin. Merkuri kerap dicantumkan dengann nama Hg, hydrargyrum, mercuric chloride, dan ammoniated mercury.
Hidroquinon
Bahan yang satu ini juga populer di kalangan pecinta skincare. Pasalnya, hidroquinon adalah senyawa organik yang mampu menghambat pertumbuhan melanin, sehingga mencegah kulit menghitam. Selain itu, senyawa tersebut punya kemampuan dalam menyamarkan flek hitam, bekas jerawat, sampai tanda-tanda penuaan. Claim ini begitu menggiurkan tentu saja, tak jarang orang mencari produk perawat kulit dengan kandungan hidroquinon. Namun, ternyata senyawa ini sudah dilarang penggunaannya di Indonesia, mengacu pada aturan BPOM Nomor 18 Tahun 2016. Efek sampai yang ditimbulkan ternyata lebih berat daripada manfaat yang diberikan. Hidroquinon termasuk ke dalam senyawa yang harus diawasi penggunaannya oleh dokter. Konsentrasi maksimalnya ada pada 2% saja, jika lebih maka haru menggunakan resep khusus. Bagi pemilik kulit sensitif dan cenderung gelap, tidak disarankan menggunakan skincare yang mengandung hidroquinon karena mampu membuat kulit kemerahan, gatal, bengkak, perih, kering, dan perubahan warna hitam kebiruan. Hidroquinon punya variasi nama yang beragam jika sudah masuk ke label produk, di antaranya benzene-1,4 diol, 1,4-benzenediol, quinol, 1,4-Dihydroxybenzene, p-Benenediol, p-Hydriquinone, p-Hydroxyphenol atau 4-Hydroxyphenol, p-Diozybenzene, Benzoquinol, Dihydroquinone, Artra, Beta-quinol, Eldopaque, Eldoquin, dan Tequinol.
.jpg)
Asam Retinoat
Di dunia kecantikan, banyak orang mengenal asam retinoat sebagai salah satu bahan campuran dalam membuat sebuah produk. Asam retinoat merupakan turunan dari vitamin A yang sering disebut tretinoin, bersifat aktif dan asam. Fungsi utama dari retinoat yaitu sebagai agen regenerasi sel. Namun, karena sifatnya yang keras, penggunaan asam retinoat harus dalam pengawasan dokter. Jumlahnya tidak boleh sembarangan dan risiko terpapar bahan lain mampu membuat komplikasi. Di Indonesia, penggunaan asam retinoat sebagai bahan skincare atau kosmetik sudah dilarang sebab masuk dalam jajaran obat terlarang, meskipun di dunia medis masih bisa dimanfaatkan. Biasanya, asam retinoat ditemukan pada produk krim berjerawat, krim anti-aging, peeling serum, toner, dan sebagainya. Dampak yang sering dirasakan pada pengguna asam retinoat di kulit seperti kulit kering, hiperpigmentasi, edema, bahkan nyeri yang menyengat. Belum lagi, asam retinoat cukup sensitif bila digabungkan bersama bahan-bahan lain serta terkena sinat matahari. Nama asam retinoat kerap ditulis sebagai tretinoin dan all-trans-retinoat (ATRA). Masih ada turunan vitamin A lain yang lebih lembut, contohnya retionol dan retinil asetat.
Rhodamin B
Bahan yang satu ini kiprahnya sebagai bahan berbahaya juga sudah tidak diragukan lagi. Rhodamin B merupakan zat pewarna sintetis yang umumnya dipakai dalam industri tekstil, kertas, serta cat. Bayangkan saja, kalau zat ini masuk ke dalam tubuh lewat kulit. Sayangnya, banyak oknum nakal yang memilih menggunakan bahan ini untuk campuran produknya. Padahal, di Indonesia sendiri penggunaan Rhodamin B sudah dilarang keras sebab dapat memicu kanker. Rhodamin B berwarna merah, sering dipakai dalam campuran produk skincare, kosmetik, dan makanan. Ciri-cirinya mudah dikenali, warnanya pasti tampak lebih ngejreng, mencolok, dan sulit pudar bahkan setelah kena sinar matahari. Dampak jangka panjang dari penggunaan Rhodamin B sangat beragam. Selain risiko kanker, rhodamin B dapat menganggu fungsi hari, kerusakan ginjal, masalah pencernaan, memicu reaksi alergi pada kulit, dan lain-lain. Kamu harus hati-hati dengan sejumlah nama yang sering dipakai dari pewarna sintetis ini, di antaranya Brilliant Pink, Aizen Rhodamine, ADC Rhodmaine B, dan Rhodamine 610. Sedangkankan untuk penggolongan warna bisa dibedakan menjadi D dan C Red No 19, Food Red 15, Basic Violet 10, Cl Pigment Violet 1, dan C.I. No 45170.
Menjadi cantik dengan menggunakan produk perawatan tubuh tidaklah masalah. Setiap orang berhak menempuh jalannya masing-masing demi mendapatkan tujuan akhirnya. Namun, tetap waspada dan tidak perlu tergiur efek instan yang dihasilkan dari sebuah produk. Tidak ada proses instan di dunia ini, termasuk menjadi cantik. Produk yang aman terbuat dari bahan-bahan legal, lolos uji BPOM, dan tidak menimbulkan reaksi apa-apa ke tubuh. Paling aman, memang konsultasi khusus pada dokter kulit. Kemudian, perbanyakan literasi terkait informasi terkini dari beragam media agar tetap update tentang zat-zat berbahaya tersebut.
Featured image: unsplash.com/Laura Jeager