5 Jenis Mochi, Wagashi yang Telah Mendunia
Mochi termasuk ke dalam kuliner tradisional Jepang yang telah dikenal dunia. Ternyata, mochi punya aneka jenis dengan karakter yang istimewa. Lima diantaranya bisa kamu cek dalam tulisan ini.
Pasti sudah banyak dari kamu yang mengetahui apa itu mochi. Dessert manis dengan tekstur kenyal serta disertai isian ini merupakan kuliner khas Jepang yang telah mendunia. Mochi seolah begitu mudah diterima di lidah masyarakat, bahkan telah mengalami modifikasi di setiap negara berbeda. Lumrahnya, mochi akan berbentuk bulat. Hidangan ini terbuat dari beras ketan atau mochigome. Kemudian bagian luarnya akan dilapisi kembali menggunakan tepung berwarna putih. Pembuatan mochi secara tradisional dilakukan secara manual, yaitu menumbuk beras ketan sampai halus setelah mengalami proses kukus. Di tempat asalnya, mochi bukan hanya sekadar kudapan, tetapi termasuk ke dalam bagian dari tradisi budaya. Mochi kerap kali dibawakan ketika perayaan mochitsuki saat tahun baru tiba. Mochi memberikan simbol keberuntungan. Mochi pun mengalami perubahan yang cukup beragam, dibuktikan kian melimpahnya variasi makanan tersebut. Walaupun demikian, di Jepang, mochi tradisional berkategori wagashi (istilah penyajian kue tradisional Jepang yang punya tampilan indah, rasa halus, serta bermakna) tetap dipertahankan dan justru jadi daya tarik wisata tersendiri. Ketika menyambangi Jepang, beberapa jenis mochi ini bisa kamu santap.
Yuk, cek!
Daifuku Mochi

Jenis pertama yang sering muncul di berbagai tempat ialah daifuku mochi. Kue ini termasuk hidangan tradisional yang punya isian di bagian dalamnya. Kata daifuku memiliki makna keberuntangan yang besar. Melansir dari website artikel Kompasm dikatakan bahwa daifuku mochi telah ditemukan pada abas ke-18. Dulu, jenis mochi ini juga disebut puyuh mochi karena bentuknyayan bulat, seperti telur puyuh. Ukurannya cukup besar dan isianya berupa pasa kacang azuki yang asin. Kemudian, hidangan ini berkembang dengan menambahkan pasta kacang manis ke dalamnya. Hingga akhirnya terbentuklah daifuku mochi. Sekarang, daifuku mochi lebih dikenal memiliki isian pasta kacang manis. Walaupun, orang-orang mulai memodifikasinya dengan isian lain, seperti buah-buahan, krim kocok, custard, cokelat, dna sebagainya. Warnanya pun berbeda-beda karena penambahan pewarna makanan tertentu. Di beberapa tempat, orang-orang membungkus isian mochi secara langsung agar pembeli bisa menentukan isian yang pas untuk hidangannya.
Kinako Mochi

Hidangan mochi klasik asal Jepang berikutnya yang bisa kamu coba yaitu kinako mochi. Bentuk mochi ini bisa dibilang sangat sederhana. Berbeda dari daifuku yang punya ciri khas isian pasta kacang manis, kinako mochi justru sebaliknya. Kinako mochi tetap dibuar dari beras ketan yang ditumbuk halus, lalu dicetak jadi bentuk kotak atau bulat. Bagian dalamnya memang tidak berisi, jadi teksturnya lebih kenyal dan padat. Lalu, bagian luarnya ditaburi tepung kinako. Tepung kinako dibuat dari kacang kedelai yang dipanggang atau sangrai, baru dihaluskan. Adanya tepung ini dapat memberikan aroma wangi, sensasi gurih, hangat, berpadu manis bersama mochi yang kenyal. Tepung kinako dianggap mengandung protein nabati dan serat yang baik untuk tubuh. Cara pembuatan kinako mochi sangat mudah, sehingga kamu pun bisa mencoba memasaknya sendiri di rumah jika mau. Kinako mochi kerap disajikan sehari-hari atau acara besar terentu, misalnya tahun baru.
Warabi Mochi

Selanjutnya, kamu akan bertemu dengan warabi mochi. Bagi sebagian orang, nama ini mungkin asing, tapi di Jepang, warabi mochi termasuk ke dalam kategori kue tradisional populer yang kerap dikonsumsi. Berbeda dari daifuku atau kinako mochi, warabi mochi tidak dibuat menggunakan tepung beras, melainkan dari sari pati akar pakis atau warabi-ko. Perlu kamu ketahui, bahwa tepung warabi yang asli dibanderol dengan harga mahal, sebab cara pengolahannya cenderung sulit. Untuk mengatasi hal tersebut, orang biasanya akan mencampur warabi-ko menggunakan tepung tapioka. Keduanya punya tekstur yang mirip setelah dimasak. Warabi mochi punya tekstur yang kenyal, mirip agar-agar, tapi tetap lembut. Keunikan dari warabi mochi lainnya yaitu warnanya putih keruh, sedikit transparan. Bagian luarnya kerap dilapisi tepung kinako dan disiram sirup gula sederhana. Rasanya antara manis, gurih, juga wangi. Sekilas, bentuknya akan seperti kinako mochi, tapi warabi nantinya bisa jauh lebih penuh. Jenis mochi tersebut sangat disukai masyarakat Jepang ketika musim panas tiba karena mampu memberikan sensasi menyegarkan di setiap santapan.
Kusa Mochi

Bagian mochi berikutnya jatuh pada kusa mochi. Kue ini juga termasuk kuliner tradisional yang cukup unik. Kusa mochi tetap dibuat menggunakan tepung beras ketan, sehingga menghasilkan tekstur kenyal nan lembut. Hanya saja, mochi yang biasanya berwarna putih atau sedikit kekuningan, kali ini berwarna hijau. Warna yang cantik itu didapatkan dari campuran dedaunan tumbuhan liar, misalnya yomogi atau mugwort. Caranya, sebelum dicampurkan ke adonan beras ketan, yogomi harus direbus dan dihaluskan, baru nanti dimasukan ke dalam adonanan. Adanya yomogi tidak serta merta berperan memberikan warna, tetapi turut menyuguhkan aroma khas yang membuatnya kelihatan berbeda. Kua mochi bisa dihidangkan bersama kinako atau sirup gula aren yang legit. Kusa mochi memiliki sejarah yang cukup panjang di Jepang. Berawal dari hidangan istimewa yang hanya boleh disajikan pada acara keagamaan serta festival tertentu, kusa mochi yang begitu nikmati akhirnya bisa disantap masyarakat umum. Sampai sekarang, orang-orang sering menjadikan kusa mochi sebagai hidangan pada upacara minum teh serta musim semi.
Sakura Mochi

Dari namanya, mungkin kamu sudah bisa membayangkan, bagaimana bentuk atau wujud dari sakura mochi. Jika kusa mochi berwarna hijau karena menggunakan yogomi, sakura mochi punya warna merah muda yang begitu cerah nan cantik. Warna ini merepresentasikan bunga sakura yang bermekaran ketika musim semi tiba. Versi alaminya, warna merah muda didapatkan dari ekstrak buah beri, sedangkan di versi modern, orang bisa menggunakan pewarna makanan yang lebih mudah dijangkau. Bahan utamanya masih berupa beras ketan yang ditumbuk, kemudian diberikan pewarna serta bahan-bahan lain. Hidangan klasik ini memiliki isiaan berupa pasta kacang manis. Keunikan yang dimiliki sakura mochi lainnya terletak pada penggunaan daun sakura yang sudah diasinkan. Nantnya, setelah mochi dibentuk jadi bulatan, bagian luarnya akan dibungkus menggunakan daun sakura, jadi seolah-olah membuat onigiri. Sakura mochi merupakan bagian tradisi yang masih lestari di Jepang hingga saat ini. Masyarakat kerap mengonsumsi sakura mochi ketika Hanami atau hari melihat bunga sakura dan hinamatsuri atau hari para gadis. Di samping itu, kue mochi tersebut sangat sesuai tema musim semi yang hangat. Walaupun begitu, tidak ada salahnya jika kamu ingin mengonsumsinya di hari-hari biasa.
Beberapa jenis mochi di atas menjadi bagian dari jenis kue klasik yang hidup di dalam budaya masyarakat Jepang. Mochi memang bukan sekadar kudapan manis yang bisa ditemui di berbagai tempat, tetapi melambangkan suatu nilai tertentu di kehidupan. Terhitung sebagai warisan dunia, mochi rasanya tidak bisa terbelenggu oleh aturan, terbukti dari versi modernitas yang masih marak. Namun, pada dasarnya bentuk orisinalnya tetap dipertahankan dan dijadikan elemen saat melakukan kegiatan di masa tertentu.
Featured image: unsplash.com/Minh Anh Nguyen