5 Minuman Tradisional Populer untuk Hangatkan Tubuh
Cuaca dingin memang paling pas minum yang hangat-hangat. Nah, 5 minuman tradisional ini bisa memberikan kehangat sekaligus menyehatkan tubuh.
Akhir-akhir ini Indonesia tengah dilanda suhu dingin. Memasuki musim kemarau, suhu dingin memang jadi ciri khasnya. Sebagian orang mungkin menyukai suhu dingin ini, karena dianggap nyaman untuk beristirha. Namun, ada juga yang kurang menyukainya karena dapat mengganggu aktivitas. Tidak sedikit orang yang memiliki keluhan alergi dingin, sehingga saat musim-musim seperti ini mereka kerap mencari solusi untuk mengatasinya. Salah satu di antaranya adalah mengonsumsi minuman hangat, terutama saat malam hari. Minuman hangat dipercaya dapat membuat tubuh jadi lebih baik dalam melawan dinginnya suhu di musim kemarau. Di Indonesia sendiri, terdapat minuman-minuman tradisional yang sejak dulu dikenal menghangatkan tubuh. Beberapa di antanya mungkin pernah kamu temui secara langsung. Kalau ingin membuat sendiri, langkahnya pun mudah.
Kami bisa cek daftatnya di bawah, ya!
Bir Jawa
Kedengarannya unik dan menantang karena ada nama bir di depannya. Di Eropa, bir termasuk ke dalam minuman beralkohol yang dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh. Bir secara umum terbagi menjadi beberapa macam dengan prosentasi alkohol berbeda-beda, dari rendah sampai ke tinggi. Minuman ini pun menjadi salah satu yang dibawa ke Indonesia pada masa kolonialisme. Dari sana, masyarakat pun terinspirasi untuk membuat minuman serupa tapi lebih aman tanpa alkohol, karena saat itu, alkohol juga dilarang di wilayah Kraton Yogyakarta. Di Yogyakarta, akhirnya lahir bir jawa yang diprakarasai oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VIII pada awal tahun 1900-an. Dulu, bir jawa disajikan ketika Sang Raja sedang beristirahat di Vila Ngeksikondo, Kaliurang, atau ketika sakit. Walaupun namanya bir, minuman tradisional ini benar-benar tidak mengggunacakan campuran alkohol maupun proses fermentasi, melainkan rempah-rempah lokal yang punya beragam khasiat. Rempah-rempah yang digunakan antara lain kayu secang, jahe, kapulaga, kayu manis, cengkih, dan sebagainya. Semua rempah ini diseduh dengan air hingga mendidih lalu disaring. Perasan jeruk nipis jadi pelengkap minuman menyegarkan sekaligus menghangatkan. Warnanya bening kecokelatan, sehingga cocok dinamai bir.
Wedang Uwuh
Kalau merujuk dari makna kata, uwuh diambil dari Bahasa Jawa yang berarti sampah. Namun, bukan berarti wedang uwuh merupakan minuman yang dibuat dari sampah, ya. Minuman ini dibuat menggunakan berbagai bahan rempah-rempah dan disajikan tanpa disaring, sehingga tampilannya memang penuh dan berantakan. Meskipun begitu, wdnag uwuh menjadi salah satu hidangan tertua di Jawa. Asalnya dari Yogyakarta dan pertama kali ditemukan ketika Mataram Islam masih berdiri. Konon, minuman ini diperkenalkan sebagai menu untuk Sultan Agung ketika bertapa di Imogiri. Pada masa lalu, wedang uwuh hanya diperuntukkan orang-orang tertentu saja, mengingat ekslusivitas bahannya yang dicari banyak pihak. Bahan-bahan untuk membuat wedang uwuh yaitu jahe, kayu secang, kayu manis, cengkih, sereh, kapulaga, pala, serta gula batu atau gula aren. Visual dari wedang uwuh merah merona dengan kepulan asap jika disajikan saat hangat-hangatnya. Rasnaya cenderung pedas, manis, serta menyegarkan. Saat ini, wedang uwuh bertransformasi dalam kemasan-kemasan paket yang memudahkan untuk diseduh. Biasanya ada yang menjual seporsi rmepah-rempah khusus wedang uwuh, jadi nanti orang tinggal merebusnya saja. Terlebih harganya murah, lho, kamu cukup merogoh kocek Rp 10.000 untuk mendapatkan wedang uwuh.

Bir Pletok
Minuman berikutnya adalah bir pletok. Sama-sama ada bir-nya, tapi minuman ini juga tidak terbuat dari alkohol. Bir pletok merupakan salah satu kebudayaan dari Betawi yang sudah terdaftar menjadi Warisan Busaya Tak Benda. Bir ini lahir dari zaman kolonialisme Belanda di masa lalu. Masyarakat pribumi pada saat itu penasaran dengan adanya wine yang sering ada di pesta-pesta. Namun, mereka meragu karena alkohol bukanlah sesuatu yang bisa dikonsumsi sembarangan. Akhirnya, masyarakat Betawi menciptakan resep bir sendiri dengan berbagai bahan yang lebih halal. Hasilnya minuman yang dibuat menggunakan gula merah, kayu manis, secang, jahe, kapulaga, serai, serta daun pandan. Nama pletok sendiri tersemat karena dua alasan, pertama dari suara tempatnya yang terbuat dari bambu ketika dituang dan suara kapulaga meledak ketika direbus sampai mendidih. Sebab dibuat dari rempah-rempah, bir pletok dipecaya punya serangkaian khasiat yang begitu bermanfaat untuk tubuh, seperti menambah daya tahan dan menghangatkan tubuh. Di samping itu, bahan-bahan yang digunakan banyak mengandung antioksidan, antibakteri, antidiare, serta antiinflamasi. Walaupun memberikan beragam dampak baik, nyatanya bir pletok kurang diminati oleh masyarakan modern, sehingga keberadaannya sulit ditemui. Namun, jika tertarik, kamu bisa membuatnya sendiri di rumah.
Bandrek
Pernah minum bandrek? Minuman ini termasuk salah satu menu tradisional andalan ketika cuaca dingin mendera. Bandrek sering dicari karena rasanya menyegarkan dan mampu menghangatkan tubuh. Bandrek lahir dan berkembang di kawasan Jawa Barat, tapi tidak terlalu diketahui kapan tepatnya mulai dibuat. Berbahan dasar rempah-rempah, di masa lalu, bandrek termasuk ke dalam minuman mahal, lho. Hal ini disebabkan rempah-rempah saat itu termasuk barang mahal. Tahu sendiri, sejarah mencatat banyak bangsa yang datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Bahan dasar membuat bandrek yaitu jahe dengan campuran bahan lain, seperti gula merah atau gula aren, kayu manis, cengkih, dan lada hitam. Terkadang ditambah daun pandan dan serai untuk menambah aromatik agar lebih wangi. Sebelum direbus, jahe biasanya dibakar dulu sampai aromanya keluar, tandanya kulitnya menghitam. Kemudian masak dengan api kecil sampai mendidih. Baru masukan gula serta garam untuk memberikan rasa yang lebih kompleks. Bandrek yang akan diminum bisa disaring terlebih dahulu. Di era kini, kamu bisa memadukan bandrek dengan bahan lain, seperti susu. Kamu bisa membuatnya di rumah ketika suhu sedang dingin dinginnya.

Bajigur
Masih berasal dari Jawa Barat, selain bandrek, bajigur jadi salah satu primadona masyarakat. Belum ada catatan khusus yang memberikan informasi kapan bajigur mulai dibuat, tetapi masyarakat percaya bahwa dari Bandung, bajigur mulai berkembang. Mengutip laman Indonesia Kaya, bajigur diduga merupakan hasil dari racikan para petani di kawasan Jawa Barat. Saat itu, para petani dikatakan suka minum air rebusan gula aren hangat pada pagi hari sebelum menjalankan tugas ke ladang di suhu yang relatif dingin. Lambat laun, petani menambahkan bahan lain, seperti jahe dan santan. Minuman ini dapat memberikan rasa hangat serta meningkatkan semangat. Oleh karena itu, bajigur cepat sekali disukai secara umum. Kata bajigur berasal dari Bahasa Sunda, badjegur yang artinya hangat. Tidak salah, kalau dulu orang-orang minum ini sebelum memulai aktivitas. Semakin berkembangnya zaman, bajigur mulai mengalami perubahan dengan menambahkan bahan-bahan lain, di antaranya santan, kacang hijau, hingga ketan hatim. Sensasinya pedas dan manis menyatu dalam sekali sesap. Hebatnya, minuman ini tetap bertahan di tengah gempuran minuman kekinian. Buktinya bajigur masih banyak peminat, bahkan dijual di hotel-hotel.
Lima minuman di atas adalah segelintir hidangan tradisional populer yang dapat menghangatkan tubuh. Menggunakan rempah-rempah serta pemanis asli dari gula merah, gula batu, atau gula aren, membuat rasanya jauh lebih legit. Aromanya pun begitu menggugah selera, mampu membangkitkan semangat, menghangatkan, serta menyegarkan badan yang kedinginan.
Featured image: pexels.com/Anna Pou