Anatomi Para Pembaca:
Antara Obsesi, Aroma, dan Karakter Fiksi
Gerimis yang membilas Kota Bandung petang itu menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam sebuah kedai kopi yang remang, riuh rendah suara cangkir beradu dan tawa pengunjung seolah lenyap begitu saja bagi seorang wanita di sudut ruangan. Matanya terpaku pada lembaran kertas kekuningan yang berpasrah di genggamannya. Secangkir kopi di mejanya sudah lama mendingin, membiarkan buihnya mengendap perlahan tanpa tersentuh.
Tiba-tiba, sebuah gerak ganjil memecah keheningan personalnya. Tanpa memedulikan tatapan heran dari sepasang kekasih di meja sebelah, ia mengangkat buku tebal itu, menekankan hidungnya dalam-dalam pada sela-sela halaman yang terbuka, lalu memejamkan mata dengan takzim. Wajahnya menampakkan ketenangan yang ganjil, seolah ia baru saja menghirup substansi paling adiktif yang pernah diciptakan manusia. Bagi orang awam yang melintas, gestur itu aneh, mungkin sedikit menggelikan. Namun di semesta para pembaca militan—mereka yang karib disapa bookish—ritual obsesif tersebut adalah sebuah kepuasan sakral, sebuah salam pembuka sebelum menyelami dunia yang melompat keluar dari balik susunan kata.
Dunia membaca sering kali dicitrakan sebagai aktivitas yang tenang, anggun, dan penuh intelektualitas. Namun, jika kita bersedia mengintip lebih dekat ke balik tirai komunitas ini, kita akan menemukan serangkaian perilaku yang unik, eksentrik, dan terkadang di luar nalar sehat non-pembaca. Menjadi seorang bookish bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah identitas yang membawa serta "gejala-gejala" psikologis dan kebiasaan kompulsif yang menarik untuk dibedah.
Berikut adalah beberapa hal aneh sekaligus menggemaskan yang hampir pasti dilakukan oleh para pencinta buku sejati.
1. Menciumi Buku: Candu Aroma Kertas Tua dan Baru
Mari kita mulai dengan keanehan paling universal: bibliosmia. Ini adalah istilah ilmiah untuk menggambarkan kecintaan yang mendalam, bahkan cenderung obsesif, terhadap aroma buku. Para bookish tidak sekadar membaca teks; mereka mengonsumsi buku dengan seluruh indra mereka, termasuk indra penciuman.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Heritage Science mengungkapkan bahwa aroma khas pada buku-buku tua berasal dari degradasi senyawa kimia organik di dalam kertas seiring berjalannya waktu. Proses ini menghasilkan aroma manis dengan sentuhan vanila, asam sitrus, dan keharuman khas tanah. Bagi seorang kutu buku, aroma ini bertindak layaknya mesin waktu psikologis yang memicu rasa nyaman dan nostalgia. Tak heran jika aktivitas mengendus sela-sela halaman buku baru atau berburu buku bekas di pasar loak terasa seperti sesi terapi aromaterapi gratis bagi mereka.
2. Tsundoku: Menimbun Buku yang Belum Tentu Dibaca
Pernahkah Anda membeli lima buku baru padahal di rumah masih ada sepuluh buku yang segel plastiknya bahkan belum dibuka? Jika iya, Anda sedang mengidap gejala tsundoku. Istilah yang berasal dari Jepang ini secara harfiah berarti membiarkan bahan bacaan menumpuk begitu saja di dalam rumah tanpa sempat dibaca.
Tsundoku (积ん読): Gabungan dari kata tsunde-oku (menumpuk sesuatu untuk nanti) dan doku (membaca). Bagi orang awam, perilaku ini dianggap sebagai pemborosan. Namun bagi bookish, membeli buku dan membaca buku adalah dua hobi yang sangat berbeda namun sama-sama menyenangkan. Ada kepuasan batin tersendiri saat melihat tumpukan buku berjajar rapi di rak, menciptakan ilusi bahwa ilmu pengetahuan dan petualangan baru selalu berada dalam jangkauan tangan mereka, kapan pun mereka siap.
3. Hubungan Emosional yang Ekstrem dengan Karakter Fiksi
Bagi seorang pembaca tegar, batasan antara realitas dan fiksi sering kali mengabur secara emosional. Mereka bisa mengalami masa berkabung yang nyata selama berhari-hari ketika karakter favorit mereka dalam novel diceritakan meninggal dunia. Fenomena ini bukan tanda gangguan jiwa, melainkan bentuk empati tingkat tinggi.
Menurut artikel psikologi yang dilansir oleh Psychology Today, otak manusia sering kali memproses interaksi dengan karakter fiksi menggunakan sirkuit saraf yang sama dengan interaksi sosial di dunia nyata. Hal inilah yang memicu apa yang disebut dengan parasocial relationship (hubungan parasosial). Ketika membaca, para bookish menginvestasikan waktu dan perasaan mereka, sehingga kehilangan karakter fiksi terasa sama menyakitkannya dengan kehilangan seorang sahabat karib. Jangan heran jika Anda melihat seorang teman menangis tersedu-sedu di pojok kamar hanya karena sebuah bab di halaman 300.
4. Membaca Buku Berdasarkan Mood dan Cuaca
Keanehan lain yang sering membingungkan adalah fenomena mood reading. Seorang pencinta buku jarang sekali membaca secara linear berdasarkan jadwal yang kaku. Pilihan bacaan mereka sangat didikte oleh suasana hati, musim, atau bahkan cuaca hari itu.
Saat hujan turun, tiba-tiba ada dorongan magis untuk membaca novel klasik Gotik yang kelam atau cerita detektif yang penuh teka-teki. Sebaliknya, saat cuaca cerah, mereka mungkin akan memilih buku pengembangan diri yang penuh semangat atau romansa yang ringan. Jika dipaksa membaca buku yang tidak sesuai dengan mood saat itu, mereka akan mengalami apa yang disebut reading slump—sebuah kondisi frustrasi di mana mata menatap kata demi kata, namun otak menolak memproses maknanya.
5. Ritual Perlindungan Buku yang Ekstrem
Bagi seorang kolektor buku, meminjamkan buku kepada orang lain adalah ujian kepercayaan tertinggi, bahkan sering kali menjadi pemicu keretakan hubungan pertemanan. Mengapa? Karena mereka memiliki standar proteksi buku yang sangat ketat dan terkadang terdengar tidak masuk akal bagi orang biasa.
Beberapa aturan tak tertulis yang haram dilanggar saat meminjam buku seorang bookish antara lain:
Dilarang melipat ujung halaman (dog-eared): Gunakan pembatas buku, tiket kereta bekas, atau bahkan selembar daun, asal jangan melipat kertasnya!
Jangan membuka buku terlalu lebar: Membuka buku hingga 180 derajat berisiko merusak lem punggung buku (spine), yang memicu munculnya garis putih retakan yang dianggap merusak estetika.
Haram membaca sambil makan: Setitik noda minyak atau bekas kuah soto pada halaman buku dinilai sebagai penodaan terhadap karya seni.
6. Sifat Kontradiktif: Antisosial di Dunia Nyata, Hiperaktif di Dunia Maya
Ada stereotipe lama yang menyebutkan bahwa pembaca buku adalah makhluk penyendiri yang menutup diri dari pergaulan. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Para bookish memang cenderung protektif terhadap waktu menyendiri (me-time) mereka bersama buku. Berada di keramaian pesta sering kali terasa melelahkan bagi mereka.
Namun, lanskap ini berubah total jika kita menengok jagat maya. Di platform seperti Instagram (Bookstagram), TikTok (BookTok), atau Twitter, mereka menjelma menjadi makhluk yang sangat vokal dan hiperaktif. Mereka bisa berdebat semalam suntuk mengenai teori konspirasi akhir sebuah trilogi, membagikan foto-foto estetis dari estetika rak buku mereka, atau mengorganisasi klub buku global. Mereka hanya antisosial terhadap lingkungan yang tidak memahami frekuensi mereka.
Menatap Dunia dari Balik Lembaran Kertas
Pada akhirnya, segala keanehan, ritual aneh, dan obsesi yang melekat pada diri para pembaca buku ini adalah manifestasi dari rasa cinta yang mendalam terhadap literatur. Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh dengan stimulasi instan dari layar gawai, para pembaca buku memilih untuk memperlambat tempo hidup mereka. Mereka bersedia duduk diam selama berjam-jam, mengarungi samudra imajinasi yang dibangun dari susunan huruf-huruf hitam di atas kertas putih.
Mencium aroma kertas tua, menimbun buku yang belum tentu dibaca, atau menangisi tokoh fiksi yang tak pernah nyata mungkin terlihat ganjil bagi dunia luar. Namun bagi para bookish, keanehan-keanehan kecil inilah yang justru membuat hidup mereka menjadi jauh lebih kaya, lebih berwarna, dan terasa lebih hidup.
***
Featured Image: www.wordonfire.org