Berkunjung ke Gua Jomblang, Gua Vertikal Konservasi Hutan Purba
Gua Jomblang jadi salah satu tempat favorit yang menyajikan panorama unik dari dasar bumi dengan cahaya surganya serta hutan belantara purba di Gunungkidul, Yogyakarta.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal sebagai provinsi yang memiliki bentang alam yang mencakup dataran tinggi, dataran rendah, bahkan lautan. DIY sendiri memang dikelilingi Pegunungan Seribu atau Gunungsewu yang membentang di sisi Selatan. Pegunungan Sewu merupakan perbukitan karst yang unik membelah 3 provinsi sekaligus, dari DIY, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Daerah yang dilalui garis pegunungan itupun menjadi kawasan geopark untuk kepentingan konservasi serta edukasi yang telah diakui oleh UNESCO.
Ciri khas dari daerah yang dilalui Gunungsewu yaitu bentuk topografi bebatuan kapur yang kering, gersang, bahkan terjal. Tidak banyak tumbuhan yang bisa hidup di sana. Namun, dibalik itu semua, di sepanjang Gunungsewu, bisa ditemukan gua-gua alami yang indah, penuh pesona, serta keunikan yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Salah satu contohnya yang telah disorot dunia adalah Gua Jomblang, yang berada di Gunungkidul. Gua ini berada di Desa Pacarejo, Kapanewon Semanu. Jika ditempuh dari pusat Kota Yogyakarta memerlukan waktu kurnag lebih 1,5-2 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, seperti sepeda motor atau mobil. Gua Jomblang sudah sering hilir mudik di depan layar karena banyak yang sengaja datang kemari sebab keelokan panoramanya.
Gua Purba Vertikal
Gua Jomblang termasuk ke dalam kelompok gua purba yang terbentuk akibat aktivitas geogoli selama ribuan tahun lamanya. Menariknya, gua ini tidak runtuh atau terbentuk secara horizontal, melainkan vertikal. Tanah pada bagian atasnya memang ambles ke bawah. Padahal, area di atas mulut gua termasuk kering, tetapi berbeda saat masuk ke gua. Mulut gunya berbentuk lubang besar, menyerupai sinkhole atau sumutan yang berdiameter kira-kira 50 meter. Reruntuhan yang ikut turun ke bawah membawa puluhan jenis tumbuhan purba. Faktanya, tumbuhan-tumbuhan itu tidak mati, justru tumbuh subur di dasar Gua Jomblang sampai sekarang. Oleh karena itu, kawasan ini dijadikan konservasi yang dilindungi oleh pengelola, masyarakat, hingga pemerintah.

Aktivitas Vertical Caving
Wisata gua, tidak akan jauh dari aktivitas caving yang memacu adrenalin. Di Gunungkidul sendiri terdapat beberapa gua yang telah dibuka untuk umum dan komersial, seperti Gua Pindul dan Gua Kalisuci. Kedua gua tersebut menawarkan cave tubing atau penelurusan gua menggunakan pelampung, melewati sungai bawah tanah yang deras, jernih, dna gelap. Berbeda dengan Gua Jomblang, dimana pengunjung bisa melakukan vertical caving. Hal ini menyesuaikan bentuk mulut gua yang berada di atas, sehingga untuk masuk ke dasarnya, orang harus turun atau terjun ke bawah. Perlu keahlian khusus untuk melakukan kegiatan ini karena termasuk ekstrem. Beruntungnya, pihak pengelola dan masyarakat setempat memberikan fasilitas untuk wisatawan yang ingin mengeksplor bagian dalam gua. Satu orang akan turun bersama pemandu professional, dilengkapi perlengkapan keamanan. Proses penurunan dan penarikan nantinya juga dibantu oleh puluhan orang, sebab turun ke Gua Jomblang hampir sama saat seseorang menimba air. Orang bisa memilih 4 jalur yang tersedia agar sampai ke dalam gua. Pertama, ada jalur 15 meter, yang paling pendek. Pada jalur pertama, sebenarnya orang bisa berjalan sendiri diiringi pemandu, tidak perlu turun menggunakan tali khusus. Kemudian, ada pilihan jarak 40 meter, 60 meter, sampai 80 meter. Nah, setelah jarak 15 meter itulah pengunjung turun memakai peralatan khusus.

Hutan Purba di Gua Jomblang
Menginjakan kaki di Gua Jomblang bisa dibilang susah-susah gampang. Susah karena medannya cukup terjal, gampang karena saat turun sudah menggunakan peralatan dan pemandu profesiona. Walaupun demikian, semua akan terbayar dengan pemandangan bagian dasar gua yang begitu menakjubkan. Mengingat, gua ini terbentuk dari amblesnya tanah, membawa berbagai tumbuhan, membuat bagian dasar gua seperti hutan hijau yang rimbun. Tetumbuhan purba tersebut nyatanya dapat bertahan dengan kondisi yang minim cahaya, tapi begitu lembap, dari dulu sampai sekarang. Keunikan itu sudah bisa disaksikan sejak sampai di mulut gua. Tidak hanya semak dan lumut, tapi pohon-pohon tinggi juga turut bersemayam bersama bebatuan stalaktit dan stalagmite yang terbentuk alami. Vegetasi yang tumbuh tentu sangat berbeda di area atas. Hawa-hawa yang lebih dingin datang menghampiri, menyisir kulit di setiap langkah. Pemandangan di antara remang-remang cahaya yang menciptakan decak kagum akan bagaimana alam terus tumbuh dan berubah. Pengalaman seperti ini akan sulit ditemukan di tempat lain.

Cahaya Surga di Luweng Grubug (Gua Grubug)
Perjalanan orang-orang tidak hanya berhenti pada rasa kagum terhadap hutan belantara purba di Gua Jomblang. Semakin dalam, wisatawan dipertemukan dengan sebuah pintuk masuk gua lagi yang bernama Luweng Grubug atau Gua Grubug, jaraknya hanya sekitar 300 meter. Luweng Grubug menjadi satu di antara banyaknya pemandangan indah di Gua Jomblang. Di bagian lorong Luweng Grubug, pada dinding-dindingnya dihiasi bebatuan yang mirip Kristal, stalaktit, juga stalagmite. Memberikan visual menarik yang megah. Di area ini pun terdapat sungai bawah tanah yang begitu deras. Airnya jernih, dingin, dan lebar. Sungai bawah tanah ini masih berada satu sistem dengan sungai di Gua Kalisuci. Gua Jomblang dan Gua Kalisuci memang berada di satu desa yang sama. Ketika orag yang menyusuri lorong dihadapkan kegelapan, tidak lama mereka akan sampai di sebuah spot dengan lubang lebar di bagian atas. Titik inilah yang sering jadi tujuan para wisatawan, alasan mengapa mereka mau berjalan jauh sampai ke mari. Lewat lubang sedalam 90 meter itu, sinar matahari akan menelisik masuk ke dalam, menciptakan ilusi bak cahaya dari surga ketika di sekitarnya hampir tidak ada penerangan. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Heaven’s Light. Mungkin kamu yang sering mencari informasi tentang Gua Jomblang, kerap mendapati foto seseorang yang berdiri di atas batu dan tersinari matahari. Pemandangan ini sangat luar biasa indah, cantik, tidak bisa dideskripsikan secara lebih gambling. Walaupun, untuk mencapai keindahan mutlak tersebut, orang harus berada di rentang waktu pukul 10-12 pagi.
Berbagai Hal Penting Saat Berkunjung
Sebelum siap turun ke Gua Jomblang, orang harus memastikan terlebih dahulu hal apa yang penting dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari. Pertama, dari peralatan keselamatan. Jika belum mengetahui atau memahami apa dan bagaimana peralatan keamanan, jangan takut untuk bertanya. Pemandu akan memberikan arahan cara penggunaannya serta cara kerjanya. Kemudian, perhatikan pakaian apa yang dikenakan. Jika ingin berpetualang di Gua Jomblang, sebaiknya pastikan memakai pakaian yang ringan, cepat kering, celana panjang, jaket tipis, topi atau penutup kepala, dan alas kaki yang nyama. Pakai warna yang tidak terlalu mencolok atau menerawang, mengantisipasi bila hujan atau basah. Selalu bawa pakaian ganti, untuk berjaga-jaga, entah digunakan atau tidak. Selanjutnya, perhitungkan budget yang sekiranya dikeluarkan. Masuk ke are Gua Jomblang tidak memerlukan biaya, pada dasarnya. Cukup izin pada pengelola dan Kepala Dusun setempat. Namun, kalau pengunjung belum membawa peralatan, bisa meminjam pada penglola dengan biaya Rp 500.000 sampai satu juta. Satu paket sudah termasuk makan siang sederhana, alat, dan pemandu professional. Selain itu, ada biaya parkir yang perlu dikeluarkan berkisar tiga sampai lima ribu rupiah saja.
Featured image: pexels.com/Miguel González