Brunch:
Sesi Makan yang Jadi Gaya Hidup Kekinian
Brunch kini bukan hal baru lagi d Indonesia. Aktivitas ini ternyata bukan hanya sekadar makan, lho, tapi juga jadi label untuk suatu gaya hidup di masa kini.
Brunch bukan sesuatu yang asing untuk sebagian orang. Brunch muncul ketika seseorang dengan sengaja makan pada waktu di antara sarapan dan makan siang. Di era ini, brunch sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak sempat sarapan sebelumnya dan baru bisa menyentuh makan pada jam 10 atau 11 siang. Kata brunch pun diambil dari dua kata Bahasa Inggris, yaitu breakfast yang artinya sarapan dan lunch yang artinya makan siang. Jadi, seseorang yang makan di antara kedua waktu itu bisa disebut sedang melakukan brunch.
Asal-Usul Kata Brunch
Mengutip halaman web Aviko, dijelaskan bahwa brunch pertama kali muncul di Inggris pada tahun 1895. Kata ini digunakan oleh seorang penulis yang bernama Guy Bringer, seorang penulis yang membuat karya pada media Hunter's Weekly. Saat itu, Bringer menuliskan sebuah artikel berjudul 'Brunch: A Plea' yang isinya berupa opini tentang porsi makan yang lebih ringan daripda biasanya yang lebih tradisional dan berat untuk hari Minggu. Tulisan Bringer akhirnya dikenal luas karena diambil oleh majalah Punch pada tahun 1896. Setelah itu, brunch mulai populer di Amerika. Meskipun begitu, tidak ada yang pasti siapa yang sebenarnya memulai Brunch untuk pertama kali. Diyakini, Brunch merupakan aktivitas makan yang dilakukan selepas berburu di Inggris. Menu yang dimakan pada momen tersebut seperti daiging buruan, telur, semur, buah-buahan, hingga permen. Ada juga yang beranggapan bahwa brunch pertama kali dilaksanakan oleh umat Katolik, dimana para jemaat mengonsumsi makanan di pagi hari sebelum gereja. Berbeda dari Eropa, di Amerika Serikat, brunch mulai berkembang di Chicago, sebuah tempat yang dilintasi kereta dengan penumpang superstar. Para penumpang pun kerap singgah di sana untuk sekadar istirahat atau mencari makan. Di situlah tumbuh aneka tempat umum yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Awal Mula Hidangan Brunch
Ketika brunch mulai terkenal di Amerika Serikat, istilah ini begitu melekat dengan hidangan mewah kalangan elit. Kurang lebih ditahun 1930-an, saat dimana orang-orang Hollywood melakukan perjalanan kereta yang berhenti di kawasan Chicago. Mereka memiliki tujuan untuk menikmati sarapan yang terlewatkan di hotel karena di waktu itu banyak restoran yang belum beroperasi di hari Minggu. Hotel tempat makan itu juga dirasa sangat strategis untuk rehat sejenak dari perjalanan panjang yang membelah benua Amerika. Makan bersama di hari Minggu dirasa begitu penting saat itu. Mengutip dari Smithsinian Magazine dalam artikel 'The Birth of Brunch: Where Did This Meal Come From Anyway' dikatakan bahwa makan di hari Minggu adalah aktivitas yang krusial. Di masa urbanisasi dan industrialisasi, hari Minggu jadi satu-satunya waktu dimana sebuah keluarga bisa berkumpul bersama. Fenomena itu mendorong banyak restoran menawarkan lebih banyak menu, termasuk alkohol, seperti Bloody Marys, Bellinis, dan Mimosas. Sebab itulah, brunch di masa lalu sering dikaitkan dengan acara minum-minum. Walaupun, makan itu telah bergeser menuju ke arah yang lebih positif.

Ciri-ciri Hidangan Brunch
Brunch memang perpaduan dari kata breakfast dan lunch, tapi menunya tentu tidak sama dengan keduanya. Biasanya, orang memilih menu sarapan yang mengandung protein, karbohidrat kompleks, serta serat agar tubuh bisa kenyang lebih lama ketika melakukan aktivitas sampai saatnya makan siang. Sedangkan menu makan siang mengutamakan keseimbangan porsi yang diperlukan tubuh, kerap kali bentuknya makanan berat agar lebih bernutrisi sampai waktu malam malam tiba. Lalu, brunch mengambil posisi dengan porsi sedang, tidak bisa dibilang ringan, tapi juga bukan sesuatu yang berat. Brunch jauh lebih mengenyangkan daripada sarapan, tetapi tidak seberat makan siang. Perpaduan rasanya lebih light, tidak perlu terlalu medok. Olahannya pun sederhana, tidak memerlukan teknik rumit untuk membuatnya karena memikirkan efisiensi waktu ketika melakukan pekerjaan. Menu brunch pun berbeda-beda setiap orang. Seseorang dapat memadukan beberapa komponen, seperti karbohidrat, protein, serat, vitamin, dan nutrisi lainnya. Contoh menu brunch yang populer adalah avocado toast, yang menggunakan roti gandum sebagai karbo dan isian telur, buah, serta sayur-mayur. Brunch juga bisa disajikan bersama buah-buahan segar, teh, dan kopi.
Cara Memilih Menu Brunch
Normalnya, seseorang bisa melewati 2-3 momen makan dari pagi sampai petang. Menggeser waktu makan sebenarnya dapat membuat sistem metabolisme tubuh sedikit jomplang. Ketika seseorang melewatkan sarapan dan memilih brunch, hal ini mampu menimbulkan dampak lapar berlebihan di sesi makan berikutnya. Kondisi tersebut terjadi dari akumulasi rasa lapar setelah puasa semalaman. Saat porsi makan tidak terkendali, maka tidak menutup kemungkinan terjadi lonjakan gula darah secara tiba-tiba. Oleh karena itu, penting untuk memilih menu brunch yang sehat dan seimbang. Fokus utama dari memilih menu brunch sebaiknya terletak pada protein. Bahan makanan yang mengandung protein tinggi bisa mengenyangkan lebih lama. Kemudian tambahkan sayur dan buah-buahan sebagai serat agar proses pencernaan lebih lancar serta menghambat penyerapan gula darah. Lalu, gunakan secukupnya karbohidrat sebagai ladang energi. Tidak lupa dengan hidrasi atau air. Sebelum menyantap makanan, disarankan untuk memulainya dengan minum air, tujuannya yaitu menyiapkan lambung agar lebih siap menghadapi makanan yang lebih berat.

Alasan Brunch Populer di Kalangan Anak Muda
Kata brunch sangat identik dengan anak muda, khususnya di Indonesia. Bahkan di beberapa kesempatan, brunch terlihat begitu edgy di dengar. Brunch bukan hanya dianggap sebagai istilah semata, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat era kini. Brunch tidak hanya dilakukan pad akhir pekan, tapi bisa setiap hari. Mengingat, jam kerja di Indonesia dimulai berbeda-beda. Orang yang tidak sempat sarapan, biasanya memilih membawa bekal untuk dimakan pada waktu brunch. Cara tersebut dianggap solutif dan produktif, sebab mereka bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan dua hal sekaligus. Ada juga yang menganggap bahwa brunch bagian dari cara bersosialisasi. Saat ini, sudah banyak restoran yang buka pada pagi hari dan menyediakan menu brunch. Saat libur atau senggang, anak-anak muda akan berkumpul, mengobrol, sembari mengonsumsi makanan saat pagi menjelang siang. Ajang perkumpulan itu tak luput dari jepret potret yang nantinya bisa dipamerkan melalui sosial media. Brunch jadi simbol gaya hidup tersendiri yang dianut berbagai kalangan.
Tidak ada yang tahu secara pasti, bagaimana brunch ini bermula, entah dari Inggris atau justru mulai populer di Amerika Serikat. Namun, brunch memang menjadi gaya hidup masyarakat sejak dulu dalam menghadapi sesi makan setiap hari. Brunch bukan sarapan, bukan juga makan siang. Brunch adalah sesi makan di antara keduanya dengan menu-menu porsi sedang yang kaya akan nutrisi seimbang. Brunch memang dianggap edgy, mewah, elit, tapi aktivitas ini pun memiliki dampak lain untuk kesehatan. Sebagian besar orang memilih brunch dengan alasan fleksibel serta memberikan statement status di kehidupan sosial.
Featured image: pexels.com/Malcolm Garret