Cara Jitu untuk Hentikan Aktvitas Doomscrolling
Kecanduan doomscrolling bukanlah hal yang baik. Aktivitas ini bila dilakukan terus menerus akan memberikan kerugian. Oleh karena itu, gaya hidup untuk melawan doomscrolling perlu diterapkan.
Kegiatan doomscrolling menjadi salah satu hal yang sering dilakukan oleh banyak orang. Hal ini merujuk pada kegiatan ketika seseorang melakukan scrolling di sosial media tanpa tahu apa yang dituju selama kurun waktu tertentu. Orang-orang biasanya hanya menarik layar ponsel terus menerus, menggali rasa penasaran yang tumbuh dari seiring berjalannya tayangan yang muncul di layar ponsel. Awalnya doomscrolling kelihatan sangat bermanfaat, karena kita dapat menemukan iberbagai informasi yang mungkin belum pernah diketahui. Namun, jika dilakukan dengan durasi yang lama, maka hasilnya berdampak negative. Tindakan bisa lebih dari sekadar mencari tahu, tapi lebih parah dapat mempengaruhi mental, membuat tubuh cepat lelah, bahkan memancing perasaan emosional berlebih. Bisa disimpulkan, doomscrolling adalah gaya hidup yang tidak seharusnya diterapkan setiap hari karena bikin kecanduan. Saat itu terjadi, orang akan menjadi lebih malas, pekerjaan bisa terbengkalai, atau melupakan tanggung jawabnya yang lain.
Di bawah ini ada beberapa gaya hidup yang bisa diterapkan untuk mengatasi doomscrolling.
Beri Jeda pada Ponsel
Pertama hal yang harus dilakukan jika ingin jauh dari doomscrolling tentu saja membatasi aktivitas terhadap ponsel. Kamu bisa meletakan ponselmu di tempat jauh saat tidak digunakan. Pastikan ada jarak yang membuat hasrat ingin membuka ponsel terhambat. Paling tidak, kamu memerlukan sedikit effort untuk mengambilnya lagi. Misalnya ketika kamu berolahraga di luar, letakan ponsel di dalam, rumah. Namun, jika kamu terpaksa harus menggunakan ponsel, tetapkan batasan yang jelas. Seseorang dapat memberikan catatan kapan mereka mulai membuka ponsel dan berapa am durasi yang diperlukan. Hal sederhana ini dapat membantu agar doomscrolling tidak terjadi. Kamu bisa memasang alarm atau pengingat. Lebih baik, gunakan waktu luang untuk menyelesaikan pekerjaan utama. Di samping itu, langsung pada tujuan utama, jangan terkecoh pada post yang tidak berhubungan dengan keperluan membuka ponsel. Sebab, bermula dari pensaran, tidak perasan itu kan semakin dalam, akhirnya tanpa sadar, tangan menggulirkan layar terus menerus. Dari yang awalnya hanya sepuluh menit, menjadi dua puluh menit, sampai satu jam.
Perbaiki Feed Media Sosial
Sekarang, algoritma media sosial tidak bisa ditebak. Ketik dulu halaman media sosial hanya berisi tentang apa yang disuka atau apa saja yang diikuti, kini semuanya telah bercampur aduk. Bahkan, apa yang disukai pengikut saja menjadi rekomendasi yang muncul di laman utama beranda. Sesuatu yang awalnya terasa baru itu akhirnya memicu rasa penasaran untuk menontonnya. Kemudian, lama-kelamaan beranda dipenuhi hal-ha serupa tanpa perlu diminta. Beruntungnya, sekarang sudah ada fitur mute yng memberikan kemudahan penggunaa media sosial dalam menyaring konten. Tinggal tulis saja kata yang ingin diisukan, maka semua hal terkait kata itu nantinya tidak akan muncul. Hanya saja, terkadang masih ada yang bisa lolos sebab orang kerap menulisnya menggunakan penyusunan kata yang berbeda. Atau cara paling jitu adalah block dan unfollow. Kamu cukup berhenti mengikuti, maka semua hal tentang itu pasti akan ikut berhenti muncul. Jika kamu punya nyali, blokir jauh lebih baik, tapi risikonya semua informasi tentang itu benar-benar terblokade.
Perhatikan Bagaimana Cara Scroll
Setiap orang punya karakteristik yang berbeda-beda dalam menggali informasi. Mulai dari yang lebih suka mendengar, membaca, melihat, atau kombinasi antara ketiganya. Hal ini bisa jadi kekuatan sekaligus kelemahan yang memicu kecanduan doomscrolling. Media sosial diciptakan untuk mempermudah orang berkomunikasi tanpa bertemu angsung. Di sisi lain, media sosial dilengkapi dengan fitur tambahan, seperti live streming, unggah gambar, dan video. Tanpa sadar, yang awalnya sekadar membaca cuitan orang-orang dalam bentuk tulisan, lama-lama bergeser ke foto atau gambar gerak yang dianggap lebih interaktif. Dalam satu konten, orang bisa menyaksikan visual, audio, dan penjelasan sekaligus. Makin ke sini, konten-konten video memang lebih diminati. Maraknya aplikasi penyedia video semakin merajalela. Apalagi durasinya relatif pendek. Menggunakan waktu singkat saja, seseorang bisa menonton puluhan video. Informasi yang diterima semakin banyak memang, tapi durasi yang pendek justru membuat seseorang jadi mudah lupa. Seolah apa yang ditonton langsung hilang begitu saja setelah berlalu. Berbeda saat video yang ditonton benar-benar fokus pada satu topik dan durasinya lama. Otak jauh lebih fokus, tidak hanya diatur bersenang-senang. Sedangkan konten video pendek yang digulirkan cepat punya beragam tema, campur aduk, dan tidak konsisten. Oleh karena itu, menghindari video pendek merupakan solusi mudah. Walaupun, sesekali mungkin masih membutuhkannya, tetapi beri batasan waktu. Selain itu, perlambatlah proses scroll, jangan terlalu cepat agar informasi yang didapat benar terserap sempurna. Aktivitas ini dapat mengurangi niat scrolling lebih jauh tentang konten-konten yang tidak terlalu relevan.
Awasi Bagaimana Perasaan Anda
Dampak negatif dari doomscrolling memang banyak, salah satu diantaranya adalah perasaan yang bisa berubah seiring konten yang dilihat. Sebelum menyentuh ponsel dan membuka sosial media, pastikan bagaimana mood yang sedang kamu rasakan saat itu. Kemudian, ketika menyaksikan beragam konten, dari tulisan, video, foto, dan sebagainya, perhatikan dinamika perasaan yang terasa. Tidak jarang, orang akan menjadi emosional karena konten yang lewat begitu saja. Mungkin orang bisa marah dengan berita pencurian, sedih karena konten mengharukan, bahkan tertawa terbahak-bahak karena konten komedi. Emosi yang bergejolak itu bisa saja datang saat doomscrolling. Sayangnya, kegiatan ini saat diteruskan justru menimbulkan rasa lelah tak berkesudahan. Jantung berdegup cepat, leher kencang, bahkan keringat dingin tiba-tiba hinggap begitu saja. Dampaknya, tubuh terasa lunglai, padahal tidak melakukan apa-apa, selain duduk atau tiduran sambil bermain ponsel. Kalau diteruskan lagi, perasaan yang terbawa dari konten berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.
Lakukan Pekerjaan Sampai Tuntas
Cara mudah supaya orang bisa terhindar dar doomscrolling tentu saja mengerjakan sesuatu. Namun, sebelum itu terjadi, pastikan lebih dulu skala prioritas dari pekerjaan yang harus diselesaikan lebih dulu. Pilih pekerjaan dari yang paling mudah, susah, sedikit, atau banyak. Atur sesuai kemampuan dan batas yang dimiliki tubuh. Pastinya, tetap buat tubuh sibuk produktif, menyelesaikan job list yang menanti satu per satu. Saat mengambil waktu istirahat, pakai untuk bersantai sejenak, misalnya makan atau sekadar peregangan ringan. Jangan ambil ponsel sebelum pekerjaan selesai. Jangan manfaatkan devices lain untuk membuka sosial media sebelum list tanggung jawab tercentang semua. Daripada menatap layar ponsel dan scrol media sosial, orang bisa kembali ke mode konvensional, seperti membaca atau menulis tangan. Kegiatan ini justru bisa jadi solusi refleksi yang mudah dan murah.
Tentu, setiap orang memang berhak mendapatkan hiburan. Scrolling media sosial jadi salah satunya yang tidak terhindarkan. Menatap konten-konten menarik pun salah satu bentuk dukungan bagi para kreator. Walaupun begitu, tidak baik jika sudah berubah kecanduan. Beri jarak sebentar dan pisahkan momen antara kapan harus bekerja, istirahat, serta berselancar di media sosial. Jangan sampai, semua kacau balau gara-gara doomscrolling yang tidak penting.
featured image: pexels.com/Ahmed Aqtai