Cerita dan Mitos dalam Balutan Keindahan Pantai Ngobaran, Gunungkidul
Pantai Ngobaran, merupakan destinasi wisata di Yogyakarta yang punya panorama unik. Pantai dengan tebing bebatuan, laut biru, dan cerita sejarah yang melekat. Wisata ini sangat cocok untuk healing.
Gunungkidul merupakan wilayah yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul menjadi kabupaten yang berlokasi di sisi barat dan timur daerah ini. Gunungkidul dilewati gugusan PegunungN Sewu (Pegunungan Seribu), menjadikan lingkungannya dipenuhi area berbatu, gersang, dengan fenomena alam gua-gua purba alami. Kemudian, daerah tersebut langsung berbatasan dengan Samudra Hindia, membuat pantai-panti cantik bersemayam di Gunungkidul dengan nyaman. Kamu bisa membayangkan betapa uniknya kombinasi antara bukit berbatu dengan keindahan laut biru dan pasir putih pantai. Oleh sebab itu, Gunungkidul digandrungi oleh wisatawan karena keunikan alam yang dimilikinya. Selain itu, masyarakat di Gunungkidul turut hidup, berdampingan dengan kearifan lokal. Kebudayaan berbaur, menjadi satu dalam keindahalam alam yang cantik. Salah satu bukti nyata dari kolaborasi yang harmonis itu tercermin dari Pantai Ngobaran yang bisa dibilang berbeda dari pantai lain di Gunungkidul.
Lokasi Pantai Ngobaran
Pantai Ngobaran merupakan destinasi wisata alam yang berada di Desa Kanigoro, Kapanewon Saptosari. Untuk mencapai ke sana memang tidak memerlukan effort perjalanan yang sulit, tapi total jarak yang bisa ditempuh memang mencapai 60-65 kilometer. Kalau ditempuh dari pusat Kota Yogyakarta, bisa memakan waktu 1,5-2 jam perjalanan menggunakan kendraan pribadi. Jalanannya sudah berbentuk aspal, tapi masih ada beberapa titik yang bergelombang, menanjak, dan sempit. Kamu bisa berangkat melewati jalur utama menuju Wonosari, lalu menuju ke Paliyan atau Saptosari. Pantai Ngobaran jadi salah satu tempat dengan perpaduan antara laut dan bebatuan yang luar biasa cantik di Gunungkidul.

Panorama Pantai Ngobaran
Pantai Ngobaran memiliki pemandangan alam yang begitu cantik. Wisata alam ini tidak memiliki garis pantai yang panjang dan dikelilingi tebing bebatuan yang indah. Kawasan lautnya pun punya segelintir batu karang yang mampu memecah ombak ketika menerjangnya. Suasana matahari sore menjadi sesuatu yang eksotis dan mencuri perhatian di sini. Saat air laut surut, wisatawan dapat menyaksikan pemandangan berbeda. Hamparan rumput laut yang berkilauan muncul di sela-sela karang, menjadikan seolah laut seperti kebun yang hijau. Kamu bisa mencoba mendekat dan merasakan sensasi dingin di antara rumput laut. Lebih menarik, waktu surut pun menjdi momen yang pas untuk menyaksikan spesies fauna laut. Hewan-hewan ini sering tersangkut, bersembunyi, atau memang bertempat tinggal di sana, misalnya landak laut, bintang laut, lobster, kerang, udang, dan sebagainya. Warga lokal sering memanfaatkan hewan-hewan itu untuk diolah jadi hidangan yang lezat. Di Ngobaran, banyak penjual seafood segar yang ditangkap langsung dari laut. Bahkan, kamu bisa mencicip kelezatan landak laut dengan harga terjangkau. Kita tahu, landak laut jadi salah satu makanan mahal dengan rasa yang gurih, manis, creamy, sangat kompleks ketika masuk ke mulut. Selain itu, kamu bisa membeli kripik rumput laut sebagai camilan atau oleh-oleh.
Julukan Bali of Java
Lingkungan Pantai Ngobaran cukup berbeda dari kebanyakan pantai di Gunungkidul. Benar adanya, jika pantai ini dikelilingi tebing bebatuan yang tinggi, membuat pemandangannya jadi begitu cantik, seperti berada di balik sebuah tembok. Namun, di atas tebing itu bukan hanya ada pepohonan saja, melainkan terdapat pura-pura cantik yang digunakan masyarakat untuk beribadah. Tidak bisa memungkiri bahwa keragamanan budaya di Pantai Ngobaran memang sangat indah, termasuk perbedaan yang ada di tengah penduduknya. Pura ini masih aktif, ada kegiatan yang selalu dilaksanakan rutin di sini. Setiap hari Selasa dan Jumat, pura di kawasan Ngobaran akan dipakai sembahyang serta aktivitas kejawen. Beruntungnya, ritual ini dilakukan secara terbuka, sehingga wisatawan yang hadir pada hari tersebut bisa menyaksikannya, meskipun tidak dari dekat. Pura di Ngobaran memang tidak sebesar yang ada di Bali, tapi tetap lingkungan di sini tetap dijaga keasrian serta keasliannya. Maka dari itu, Pantai Ngobaran mendapatkan julukan Bali of Java dari para wisatawan yang datang. Di sisi lain, kawasan Pantai Ngobaran pun memiliki area yang dipenuhi patung-patung unik. Patung ini dibuat oleh seniman lokal, berjajar rapi memberikan nuansa magis yang begitu kental. Pura di Pantai Ngobaran bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan ikon wisata, identitas yang tidak bisa ditiru oleh pantai manapun. Jika kamu berkunjung kemari, suasana religious yang khas akan sangat terasa.

Cerita dan Mitos di Pantai Ngobaran
Ada banyak daya tarik yang dimiliki Pantai Ngobaran. Selain pemandangan laut biru, kolam rumput laut, tebing tinggi, dan lingkungan bak berada di Bali, Ngobaran punya cerita dan mitos yang menyebar. Sejarah inipun berbaur jadi kearifan lokal penduduk setempat, jadi satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan perkembangan di Pantai Ngobaran. Diawali dengan nama ngobaran yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya berkobar. Kata itu diambil dari sebuah kisah perjalanan seorang Rajh yang mahsyur di tanah Jawa, Raja Brawijaya V. Raja Brawijaya V berasal dari Majapahit yang harus terpojok oleh anaknya sendiri, Raden Patah yang kala itu juga pemimpin Kerajaan Demak. Raja Brawijaya memilih untuk melarikan diri karena tidak mau berperang melawan anaknya sendiri. Berteman dua istrinya, Bondan Surati dan Dewi Lowati, Raja Brawijaya pergi ke pesisir selatan, tepatnya di kawasan Ngobaran saat ini. Raden Patah mampu mengejar ayahnya sendiri, sehingga Raja Brawijaya V memutuskan untuk membakar dirinya atau disebut pati obong. Mengutip halaman Detik, Raja Brawijaya melakukan pati obong bersama salah satu istrinya, tapi hal itu belum bisa dibuktikan. Tragedi tersebut terjadi di sebuah pura yang disebut Segawa Wukir. Sampai sekarang, situs itu masih ada dan puranya pun masih digunakan sebagai tempat melakukan peribadatan. Namun, ada versi lain yang mengatakan bahwa sebenarnya pati obong hanyalah siasat yang dilakukan oleh Sang Raja untuk mengelabuhi anaknya. Setelah seolah-olah membakar diri di depan pura, Raja Brawijaya kembali berlari menuju ke Goa Langse. Di dalam goa inilah, Raja Brawijaya V melakukan moksa. Dari cerita sejarah ini, penduduk Ngobaran percaya jika leluhur mereka memang berasal dari Kerjaan Majapahit, sebab itulah beberapa tradisi sering dilaksanakan berkaitan dengan hal tersebut. Hikayat Raja Brawijaya V di Ngobaran ini hanya salah satu diantara beberapa cerita yang dikenal.
Toleransi Masyarakat Ngobaran
Pemandangan alam Ngobaran bukan suatu hal yang bisa dibantah. Ngobaran jadi lokasi yang asri untuk bersantai, meredakan pikiran, dan mencari momen-momen indah. Suasana yang begitu tenang sangat mendukung. Baik lingkungan maupun masyarakatnya hidup harmoni dalam keberagaman. Warga Ngobaran menganut kepercayaan yang berbeda-beda. Adanya pura, menunjukan bahwa di sana terdapat masyarakat pemeluk agama Hindu. Di samping itu, ada tempat ibadah lain yang turut dibangun, seperti masjid. Namun, tidak jarang juga, kamu bisa menyaksikan orang-orang penghayat kejawen melakukan ritual di Ngobaran. Perbedaan itu tidak menjadikan kehidupan jadi runyam, justru kebalikannya. Masyarakat Pantai Ngobaran saling rukun, menghormati satu sama lain, dan saling menrghargai.
Pantai Ngobaran bisa jadi destinasi yang tepat di Gunungkidul, Yogyakarta kalau kamu ingin healing sambil menikmati ragam kebudayaan. Pemandangan tebing, laut, dan indahnya perbedaan membaur menjadi satu, penuh daya tarik. Di antara keindahan yang tergambar, Pantai Ngobaran menyimpan cerita dan mitos yang begitu menggelitik untuk diulik.
Featured image: jogja.disway.id