Thea News
Ada di Sekitarmu // 2026 Lea

Deretan Kopi Lokal di Ajang Kompetisi Brewers Dunia

Kopi lokal Indonesia, ternyata pernah naik ke panggung kompetisi seduh dunia. Beberapa kali finalis asal Tanah Air pun naik ke panggung dengan blend kopi yang dibawanya.

Bagi para pecinta dan pegiat kopi, menyeduh bukanlah hal yang sepele. Kelihatannya saja hanya menuang air panas ke atas bubuk kopi, tetapi faktanya tidak sesepele itu. Banyak faktor yang memengaruhi rasa dari secangkir kopi. Kegiatan ini bahkan telah memiliki wadah cukup besar di dunia, terbukti dengan diselenggarakannya World Brewers Cup (WBrC) setiap tahunnya. Kompetisi pembuatan kopi ini sudah bertaraf internasional, diadakan World Coffee Events yang bernaung di bawah Specialty Coffee Association. Tujuan dari WBrC sendiri yaitu mengetes kemampuan dari para brewers di seluruh dunia dalam penyajian kopi secara manual, tanpa menggunakan mesin espresso. Selain itu, ada pula kompetisi World Barista Championship (WBC) yang memiliki fokus pada pembuatan kopi menggunakan mesin espresso. Setiap tahun, wakil dari negara-negara dapat dipilih melalui kompetisi serupa di tingkat regional.

 

Baik WBrC maupun WBC memang kompetisi seduh kopi, tetapi penilaiannya tidak hanya terbatas pada konsistensi teknik penyeduhan. Penilaian juga ditentukan dari beans yang dipakai, karena aspek penunjang nilai meliputi aroma dan rasa, keasaman, tekstur, serta keseimbangan. Oleh sebab itu, diperlukan pemilihan biji kopi yang berkualitas untuk dibawa ke ajang bergengsi tersebut. Meninjau dari aturan pemilihan beans, tidak terdapat batasan mengenai asal, jenis, proses, atau roast level. Peserta bebas membawa biji kopi terbaiknya. Biji kopi dari Indonesia beberapa kali tampil di hadapan publik WBrC dan WBC, beberapa kali pula berhasil menghantarkan ke podium atau posisi terbaik. Tentu, prestasi ini memberikan rasa bangga tersendiri, khususnya bagi para petani lokal yang menumbuhkan kopi bersama segala asa. 

 

Mau tahu list kopi Indonesia terbaik di WBrC dan WBC? Yuk, simak di bawah!

 

Sukawangi Excelsa - WBrC 2024 (Ryan Wibawa) dan 2025 (Bayu Prawiro)

 

Source: wcc.coffee

 

Varietas excelsa bisa dibilang menempati hierarki tertinggi di tahta biji kopi. Excelsa merupakan bagian dari liberika, tetapi versi premium, dari segi rasa, aroma, dan body. Di tahun 2024, varietas  excelsa asal Sukawangi dibawa oleh Ryan Wibawa ke panggung World Brewers Cup 2024 di Chicago, Amerika Serikat. Kopi yang dibawa oleh Ryan Wibawa tersebut dibudidayakan petani lokal di kawasan Jawa Barat. Sukawangi excelsa membawa notes buah-buahan tropis yang begitu khas, seperti salak, berkmbinasi cokelat dan spices. Ketika kompetisi tiba, Ryan Wibawa mengusung konsep Bhineka Tunggal Ika, memadukan tiga kopi dari berbagai daerah, yaitu Indonesia Mossto Anaerobic Excelsa, Panama Windy Ridge Geisha, dan Colombia Ombligon. Hasil karyanya membawa Ryan Wibawa menduduki peringkat ketiga pada kompetisi itu. Kemenangan Ryan memberikan dampak luar biasa bagi komoditas kopi lokal Indonesia. Prestasi serupa kembali didapatkan oleh Indonesia pada WBrC 2025. Sosok Bayu Prawiro membawa excelsa Sukawangi dan berhasil meraih juarah kedua. Saat itu, Bayu Prawiro menggunakan komposisi blend antara Panama Finca Sophia (Wasehd Geisha), Panama Jensen Estate (Anaerobic Geisha), dan Excelsa Sukawangi (Mossto Anaerobic Natural). Excelsa Sukawangi pun mulai dikenal ke kancah internasional, menimbulkan lonjakan peminat dari mancanegara. 

 

Liberika Gunung Merbabu - UK Brewers Cup 2026 (Andrew Wong)

 

Source: instagram.com/johnny_calico_jh

 

Berlanjut biji kopi selanjutnya masih di dalam keluarga liberika. Kopi liberika merupakan spesies unik dengan aroma nangka yang menjadi ciri khasnya. Liberika mengeluarkan rasa menarik, seperti fruity, smooky, woody, dengan keasamanan rendah dan body cukup tebal. Di Indonesia, liberika mulai dibudidayakan oleh petani lokal dan didistribusikan ke seluruh dunia. Salah satu peserta brewers cup asal Inggris bernama Andrew Wong beberapa bulan lalu viral karena menggunakan liberika asal Gunun Merbabu. Melalui video yang tersebar melalui media sosial, Andrew Wong di panggung UK Brewers Cup 2026. Di video itu, Andrew menjelaskan komposisi kopi apa saja yang digunakannya. Liberika asal Gunung Merbabu pun disebut secara jelas. Mengutip dari Solopos, Andrew mengungkapkan bahwa liberika memberikan kontribusi baru pada kopi di kompetisi regional Inggris. Kopi yang digunakan berasal dari perkebunan Omah Kopi Ngemplak di lereng Gunung Merbabu. Keunikan liberika kala itu dipadukan bersama Panama Geisha oleh Andrew Wong, menghasilkan kompleksitas rasa yang menyegarkan, manis, harum, balance, hingga mendapatkan nilai tinggi. Sebelum menjadi juara di UK Brewers 2026, diketahui Andrew Wong pernah menduduki juara kedua di kategori roasting. Pengalaman itulah yang membawa Andrew kembali mencoba, memakai biji kopi asli Indonesia. Dampaknya begitu terasa, Kopi Omah Ngemplak mengalami kenaikan pesanan. Tidak hanya liberika saja, tetapi jenis kopi lainpun mengalami kenaikan signifikan. 
 

Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur - WBC 2021 (Mikael Jasin)

 

Source: ottencoffee.co.id

 

Siapa yang tidak tahu Mikael Jasin? Barista profesional yang akrab disapa Mickey ini namanya telah melanglang buana kemana-mana. Prestasinya tidak pernah terlupa ketika dirinya menjadi pemenang di World Barista Championship 2024 di Busan, Korea Selatan. Mikael Jasin menjadi orang pertama yang berhasil menjuarai ajang tersebut, mengalahkan 53 peserta. Namanya memang terus naik sejak mengukir peringkat empat terbaik di tahun 2019 dan ke-7 di 2021. Sebelum meraih juara dengan varietas Aji (dari Fince El Diviso, Kolombia) dan Geisha (dari Deborah, Panama), Mikael Jasin pernah menggunakan biji kopi arabika dari berbagai daerah. Mikael Jasin dengan penuh percaya diri membawa varietas Kartika (hibrida Timor) dari kawasan Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur di WBC 2021, diselanggarkan di Milan, Italia. Perjalanan ini faktanya telah dirintisnya sejak tahun 2015 dan kebersihan menduduki posisi empat di empat tahun berselang. Kopi dari Manggarai ini dipilih menggunakan pertimbangan yang penuh. Membawa konsep perubahan, dimana keyakinannya pada sesuatu bisa terus bergerak, berkelanjutan, tidak berhenti, Mikael Jasin turut menggandeng 741 kepala keluarga dalam mengolah biji kopi terbaik. Hasilnya adalah kopi Flore premium yang khusus dipersiapkan untuk berkompetisi. Langkah kecil tersebut termasuk menggerakan aktivitas ekonomi masyarakat lokal. Persiapannya dilakukan lumayan lama, dari tahun ke tahun. Kopi Flores tadi akhirnya diseduh menjadi tiga signature, aitu senja Manggarai (Uwu), kemala Manggarai, dan kamala Manggarai (Gulang). Pada tahun itu, Mikael Jasin memang tidak berhasil menjadi finalis memperebutkan podium teratas, langkahnya berhenti di 7 besar terbaik. Namun, usahanya bersama para petani mendapatkan feedback penting. Mikael Jasin membuktikan bahwa kopi lokal Indonesia memang mampu bersaing di kancah internasional. Penilaian dari juri dijadikan sebagai evaluasi untuk kompetisi berikutnya. Apalagi, kala itu Mikael Jasin baru saja kembali setelah vakum berkompetisi. Terbukti di tahun 2024, Mikael Jasin menjadi champion di WBC. 
 

Indonesia, jadi negara dengan ribuan varietas kopi unik yang telah mendunia. Beberapa diantaranya telah maju ke ajang kompetisi bergengsi global, mengindikasikan bahwa kualitasnya mendapatkan nilai di atas rata-rata. Dampak yang begitu besar tidak hanya dirasakan oleh para brewers, tapi petani lokal yang ikut andil proses output biji kopi. Dikenalnya biji-biji kopi itu, memberikan keberkahan yang melimpah, terutama dari segi ekonomi. Di sisi lain, keunikan rasa yang dihasilkan oleh kopi Indonesia semakin luas jangkauannya, menyentuh pasar internasional. 

 

Featured image: pexels.com/Masud Allahverdlzade

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Menjaga Pikiran di Tengah Dunia yang Riuh: Mengapa Kesehatan Mental Bukan Lagi Soal "Kurang Bersyukur"

Next Entry

Jejak Panjang Kota Budaya: Menatap Sejarah dan Arah Yogyakarta di Usia Baru

Next Entry

Mengapa Tanggal 5 Oktober Begitu Berarti? Menyapa Kembali Sosok yang Membentuk Masa Depan Kita