Thea News
Ada di Sekitarmu // 2026 Lea

Fakta Menarik Angkringan, Kearifan Lokal yang Telah Berkembang

Angkringan sering ditemui saat datang ke Yogyakarta atau Jawa Tengah. Bukan sekedar tempat makan, angkringan ternyata punya perjalanan cerita sendiri yang menarik untuk diulik.

Kalau sedang wisata ke Yogyakarta dan Jawa Tengah, kamu mungkin tidak akan asing dengan sebuah tempat makan di pinggir jalan bernama angkringan. Warung kecil dengan tenda dan kursi panjang, menjadi jujukan masyarakat berbagai kalangan saat kelaparan, terutama saat malam hari. Beragam menu, makan berat, minuman, sate-satean, bisa dijumpai di angkringan. Bahkan angkringan kini telah berkembang menjadi branding yang terkenal dimana-mana. Keberadaannya begitu menjamur, hampir ada di setiap jalan-jalan. Sebelum menjadi seperti sekarang, angkringan mengalami perjalanan yang cukup panjang. Ada sejumlah cerita fakta menarik yang tersimpan dibalik keunikan angkringan sebagai salah satu khasanah budaya di Jawa. 

 

Mau tahu lebih lanjut? Ikuti perjalanannya di bawah. 

 

Bukan dari Yogyakarta

 

Di Yogyakarta, angkringan telah menjelma jadi bagian dari masyarakat. Setiap daerah pasti memiliki paling tidak satu angkringan bertengger di pinggir jalan. Di kawasan Jalan Margatama, dekat Tugu Paal Putih atau Tugu Jogja saja satu deretnya bisa diisi los angkringan. Area ini menjadi daya tarik utama turis yang bertandang ke mari. Menilik cerita di masa lalu, angkringan sebenarnya bukan dari Yogyakarta, meskipun berkembang sangat pesat di sini. Angkringan berakar dari Desa Ngerangan, Klaten, Jawa Tengah, diperkenalkan oleh Karsodikromo yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Prio. Pada masa merintis, angkringan tidak seperti saat ini, melainkan berbentuk pikulan yang dijajakan di jalanan. Pertama kali Mbah Prio membawa pikulan ini pada tahun 1930-an ke Kota Solo. Di sanalah, Mbah Prio bertemu Mbah Wiryo, membuahkan sebuah kosep berjualan makanan terikan menggunakan pikulan. Bagian depan dipakai menaruh makanan, bagian belakang dijadikan tempat ceret minuman. Kemudian, nanti ketika ada yang beli, pikulan akan dihentikan. Semakin lama, pembeli biasanya semakin ramai, sehingga spot makanan ini jadi tempat ngobrol bagi warga sekitar. Popularitas cara berjualan Mbah Prio dan Mbah Wiryo pun membuahkan hasil dan berhasil semakin besar di tahun 1940-an. Tidak lama, pad atahun 1950, angkringan datang sampai ke Yogyakarta dan langsung berubah formatnya menjadi seperti sekarang. 

 

Makna Angkringan 

 

Ada beberapa pendapat terkait nama angkringan yang kini lebih dikenal di kalangan masyarakat. Angkringan sendiri baru digunakan ketika sampai di Yogyakarta. Bukan hanya nama yang berubah, tapi konsep dagangnya pun ikut berbeda. Jika dulu konsep yang digagas oleh Mbah Prio dan Mbah Wiryo menggunakan pikulan tumbu, maka di Yogyakarta menjadi satu tempat tetap, seperti warung. Penjual menggunakan tenda, gerobak, dan lincak atau kursi panjang sebagai properti utama dari angkringan. Namun, menu yang dijual kurang lebih tetap sama. Ada yang bilang kalau angkringan berasal dari kata methangkring, yaitu posisi duduk seseorang dengan kaki diangkat ke kursi. Ada pulang yang mengatakan angkringan berasal dari kata angkrin, merujuk pada cikal bakal cara penjualan makanan waktu lalu. Di sisi lain, orang-orang berpendapat kalau angkringan berasal dari kegiatan orang-orang yang berkumpul di suatu tempat sambil mengobrol, makan, dan minum. Dari sekian banyaknya makna angkringan, tempat ini tetaplah destinasi unik yang bisa dikunjungi setiap hari.

 

Source: pexels.com/AGUNG ANOM

 

Menu Khas di Angkringan

 

Kalau kamu mengetahui bahwa makanan khas dari angkringan adalah sega atau nasi kucing, sate-satean, baceman, maupun gorengan, berarti mainmu kurang jauh. Sebab, nasi kucing bukanlah generasi awal kuliner khas yang membuat angkringan jadi lebih dikenal. Di masa perintisannya, Mbah Prio dan Mbah Wiryo menjajakan terikan pada orang-orang menggunakan pikulan tumbu. Nah, terikan merupakan kuliner khas Jawa Tengah yang punya kuah kental dan dipadukan bersama lauk tempe atau daging. Dari tampilannya memang mirip semur, tapi terikan punya rasa yang cenderung asam pedas. Terikan yang dijual Mbah Prio dan Mbah Wiryo ini kemudian semakin diketahui oleh khalayak umum. Setelah mendapatkan pelanggan yang cukup banyak, barulah nasi kucing itu muncul. Dinamakan nasi kucing karena porsinya yang sedikit dengan lauk sederhana, seperti sambal teri atau oseng tempe yang dibungkus menggunakan daun pisang. Nasi kucing ini dulunya dibuat untuk memudahkan para kuli atau buruh yang ingin makan tapi dengan harga terjangkau. Memasuki Kota Yogyakarta, nasi kucing semakin berkembang. Lauknya jadi lebih beragam dan porsinya pun berubah-ubah. Namun, lama-lama terikan jadi tersingkirkan oleh nasi kucing, sehingga sekarang kuliner ini yang menjadi ciri khas angkringan. Lalu, munculah side dish lainnya yang makin menambah angkringan ramai. 

 

Ceret dan Wedang Jahe

 

Satu lagi hal yang begitu khas dari angkringan adalah keberadaan ceret di atas tungku. Ceret adalah alat untuk merebus air dengan berbagai ukuran. Zaman dulu, merebus air masih menggunakan tungku dan arang atau kayu bakar, memberikan aroma wangi yang menambah flavour dari hidangan minuman. Pada masa Mbah Prio dan Mbah Wiryo pun bagian depan tumbu dipakai untuk meletakkan ceret, budaya itu ternyata masih dipertahankan oleh banyak pemilik angkringan. Biasanya ceret itu diisi dengan wedang jahe, salah satu menu favorit di angkringan. Wedang jahe geprek dengan rasa pedas dan manis dari gula batu sangat menyegarkan tenggorokan serta menghangatkan tubuh di kala malam. Memasuki era modern, jahe bisa dikombinasikan bersama teh, kopi, dan susu. Jadi, rasanya memang lebih beragam daripada sebelumnya. Namun, pesona orisinalitas wedang jahe zaman dulu tetap yang terbaik. 

 

Source: pexels.com/Firman Marek_Brew

 

Konsep Angkringan Kekinian

 

Pamor angkringan tidak lekang oleh waktu, terbukti setelah 80 tahun lebih pun masih eksis di dunia masa kini. Hanya saja, konsepnya memang sudah berubah. Jika pertama kali angkringan dirintis menggunakan pikulan, lalu dijajakan lewat gerobak, kini angkringan bahkan sudah menempati sebuah kios. Beberapa pemilik angkringan juga memilih menggunakan kompor gas karena dianggap lebih cepat dan efisien daripada tungku. Terkadang, nasi kucing disajikan di dalam piring, tidak dibungkus dulu menggunakan daun pisang, sehingga pembeli bisa menentukan seberapa banyak porsi yang diinginkan, tapi lauknya memang masih khas angkringan. Menu lauknya semakin banyak dan kekinian. Bukan hanya tempe dan tahu bacem, jeroan, atau gorengen, tapi sekarnag sudah ada sate-satean, seperti sosis, bakso, kerang, dan sebagainya. Hal ini membuat angkringan nampak semakin semarak. Walaupun demikian, ada harga yang harus dibayar bila ingin meminangnya. Ketika tujuan angkringan dulunya memudahkan masyarakat mendapatkan makanan dengan harga murah, kini itu tidka berlaku. Kalau dihitung-hitung, makan di angkringan bisa jauh lebih mahal daripada makan seporsi nasi ayam geprek di warung. Hal ini dikarenakan pembeli kerap kali kalap membeli lauk atau snack yang dijajakan. Belum lagi kalau angkringan di kawasan wisata, tentu harganya jauh lebih mahal. 

 

Itu dia sederet fakta menarik tentang angkringan. Bagaimana pun, angkringan adalah sebuah budaya yang telah melekat pada kearifan lokal. Angkringan bukan hanya tempat makan, tapi titik berkumpul masyarakat berbagai kalangan untuk berdiskusi, mencari relasi, dan bertukar informasi seputar dunia masa kini. Melalui angkringan, kehidupan jadi lebih berpijar, khususnya saat malam tiba. 

 

Featured image: pexels.com/Noval Ghani

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Apa Itu QR Code? Mengenal Cara Kerja, Fungsi, Manfaat, hingga Tips Menggunakannya dengan Aman

Next Entry

Beda Zaman, Beda Skena: Seni Berdamai dengan Generation Gap

Next Entry

Mengenal Comfort Food, Makanan yang Memberikan Rasa Nyaman di Saat Tertentu