Healing Sejenak, Beranjak ke 4 Museum Estetik di Kawasan Kota Tua
Kota Tua jadi salah satu wilayah paling tenang di Jakarta dengan puluhan bangunan lama khas kolonial. Di era ini, bangunan-bangunan itu berubah jadi wisata sejarah yang penuh estetika.
Daerah Khusus Ibukota Jakarta memang dikenal sebagai wilayah yang padat akan penduduk, pusat bisnis, serta segala modernitas yang kini tengah berkembang pesat. Hiruk pikuk, arus hidup yang pesat itu kebanyakan terjadi di sini. Tidak sedikit orang yang berminat datang kemari untuk memperbaiki nasib hidup. Namun, di tengah hingar-bingar kota metropolitan, Jakarta punya secuil kisah masa lalu yang menarik. Cerita itu salah satunya masih tersimpan dalam objek nyata yang dikenal dengan kawasan Kota Tua. Area tersebut berada di belahan Jakarta bagian barat yang menyajikan suasana tempo dulu. Di sini, kamu masih bisa merasakan ketenangan, perasaan yang syahdu, semilir angin, serta burung-burung liar berterbangan di sekitar. Di sisi lain, Kota Tua diisi keanekaragaman bentuk manusia, dari seniman, fotografer, komunitas, atau segelintir orang-orang random yang ingin sejenak menyingkir dari ramainya Jakarta.
Ketika datang ke Kota Tua, kamu akan disuguhi bangunan-bangunan klasik dengan arsitektur khas Eropa. Banyaknya bangunan itu merupakan peninggalan dari masa kolonial yang kini telah beralih fungsi menjaid berbagai hal, contohnya museum. Wisata sejarah melalui museum jadi sesuatu yang menyenangkan di sini. Kamu bisa refreshing sembari belajar ilmu baru di Kota Tua.
Yuk, telusuri wisata sejarah di Kota Tua bersama rekomendasi di bawah ini!
Museum Fatahillah

Objek pertama yang selalu bikin banyak orang penasaran di area Kota Tua, apa lagi kalau bukan Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. Museum ini berdiri kokoh di Jalan Taman Fatahillah Nomor 1, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Sebelum digunakan sebagai museum, dulunya Museum Fatahillah adalah Balai Kota Batavia. Layak jika areanya besar nan megah karena dijadikan pusat pemerintahan kolonial Belanda di masanya. Pernah juga bangunan ini difungsikan sebagai kantor pengadilan, catatan sipil, sampai markas militer. Museum ini diresmikan pada tahun 1974 silam. Koleksinya meliputi barang-barang bersejarah dari Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, perabotan antik, dokumen masa kolonial, sampai ruangan tematik yang dikelompokkan sesuai isinya. Harga masuk museum ini sangat murah, masih di bawah Rp 10.000, sehingga pantas ramai dikunjungi. Di samping itu, Museum Fatahillah sudah dilengkapi dengan fasilitas pendukung, seperti perpustakaan, bioskop mini, toko souvenir, kantin, dan paling favorit sepeda ontel. Pengunjung bisa merasakan pengalaman menyenangkan, berkeliling Kota Tua menggunakan sepeda. Museum Fatahillah bisa dikunjungi dari mulai pukul 09.00 sampai 15.00. Untuk Senin dan Libur Nasional tutup.
Museum Seni Rupa dan Keramik

Masih di Kecamatan Taman Sari, tak jauh dari Museum Fatahillah terdapat museum seni yang begitu mencolok dan terkenal. Namanya adalah Museum Seni Rupa dan Keramik yang berlokasi di Jalan Pos Kota Nomor 2. Arsitektur neo klasiknya begitu megah dengan dominasi warna putih yang khas. Terdapat pilar-pilar khas Eropa yang menyambut pengunjung dari depan. Maklum, bangunan yang digunakan ini sebelumnya merupakan Kantor Dewan Keadilan Batavia atau Raad van Justite Binned HEt Casteel Batavia pada tahun 1870. Kemudian, gedung ini beralih fungsi lagi menjadi markas tentara pada mada pendudukan Jepang. Gedung yang diakui sebagai cagar budaya tersebut juga pernah menjadi gedung walikota selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Baru tahun 1974 beralih guna sebagai museum sampai sekarang. Seperti namanya, museum ini memiliki koleksi yang beragam seputar seni rupa, seperti lukisan dan kaligrafi, serta berbagai macam keramik-keramik yang cantik. Desainnya bermacam-macam, digarap menggunakan aneka teknik. Ada juga benda-benda keramik yang berasal dari masa lalu, sehingga punya nilai sejarah, seni, dan estetika tinggi. Untuk masuk kemari, pengunjung akan dikenakan biaya mulai dari Rp 2.000-Rp 5.000 saja. Jam operasionalnya ada di hari Selas sampai Minggu, pukul 9 pagi sampai 3 sore.
Museum Wayang

Kesenian wayang merupakan salah satu kebudayaan yang telah diakui secara internasional sebagai warisan dunia melalui UNESCO. Di Indonesia sendiri, kamu sebenarnya bisa menemukan sejumlah museum dengan tema wayang, salaj satunya yang ada di Kota Tua ini. Lokasinya berada di Jalan Pintu Besar Utara, Jalan Kali Besar Timut 4 Nomotr 27, Kecamatan Taman Sari. Bangunannya tampak megah dengan jendela-jendela besar dan warna putih hampir di seluruh bagian. Bangunan Museum Wayang ini telah ada sejak tahun 1600-an dan awalnya difungsikan sebagai gereja. Namun, karena gempa dan terjadi kerusakan, gedung itu diperbaiki dan diubah fungsinya jadi gudang perusahaan Geo Wehry & Co. Lalu, pada tahun 1900-an awal beralih fungsi lagi jadi monumen untuk penelitian di bawah naungan kolonial Belanda sampai sekarang jadi museum untuk umum. Di sini, pengunjung bisa menikmati kurang lebih 5000 koleksi yang tersebar di seluruh gedung. Koleksi tentu saja masih berkaitan wayang, seperti tokoh-tokoh wayang, tokoh-tokoh terkenal yang dijadikan wayang, serta baeragam wayang dari berbagai bahan. Masing-masing wayang ditampilkan dalam etalase kaca, tampak cantik dan estetik. Harga tiketnya mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 5.000, sedangkan jam bukanya pada hari Selasa hingga Minggu, pukul 9 pagi sampai 3 sore.
Museum Bahari

Museum berikutnya yang menempati gedung lama di kawasan Kota Tua adalah Museum Bahari. Namun, museum ini sudah masuk ke wilayah administratif Jakarta Utara, tepatnya di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Kecamatan Penjaringan. Seperti ketiga museum sebelumnya, bangunan ini luas dengan dominasi putih mencolok. Warna ini memang jadi ciri khas bangunan klasik ala Eropa. Ditambah jendela besar serta atap tinggi. Walaupun demikian, Museum Bahari punya bentuk bak kompleks yang lebar. Sebelum jadi museum, gedung ini merupakan gudang penyimpanan komoditas milik VOC, di antaranya kopi, rempah-rempah, tekstil, dan hasil tambang. Kemudian, setelah beralih pendudukan, gedung ini menjadi gudang logistik milik Jepang. Mendapatkan revitalisasi pada tahun 70-an, akhirnya gedung ini ditetapkan sebagai museum. Berbicara soal koleksi, pastinya museum ini menyimpan banyak benda-benda serta informasi seputar laut di Indonesia. Di museum bahari, pengunjung akan menyaksikan perjalanan bagaimana teknologi kelautan yang kian berkembang. Oleh karena itu, di sini ada puluhan miniatur bentuk kapal, folklore, dan piranti-piranti lain yang dipakai melaut. Ada juga barang milik TNI AL yang dipamerkan secara umum. Seperti ketiga museum di atasnya, Museum Bahair buka setiap hari Selasa sampai Minggu, hari Libur Nasional tutup. Buka dari jam 8 pagi sampai 4 sore, kamu cukup merogoh kocek kurang lebih Rp 5.000 saja untuk masuk kemari.
Empat museum tersebut hanya segilintir wisata sejarah yang bisa kamu temui di Kota Tua. Menempati bangunan lama, seolah memberikan kesan tersendiri saat pengunjung masuk ke sana. Bagaimana nostalgia di era penjajahan sembari menyaksikan beragam informasi bermanfaat. Baik Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, dan Museum Bahari sangat direkomendasikan bagi kamu yang pengin mengisi waktu senggang dengan wawasan baru.
Featured image: pexels.com/Peter J Kambey