Thea News
LifeStyle // 2026 Arbia Zahira

Hobi Memotret dengan Kamera Digital Lawas (Digicam) yang Bangkit Lagi

Mengapa digicam kembali populer? Temukan alasan di balik tren kamera digital lawas, keunikan hasil fotonya, dan perbandingan foto digicam dengan kamera ponsel.

Beberapa tahun terakhir, tren fotografi terasa seperti berjalan mundur. Di tengah perkembangan kamera ponsel yang semakin canggih, kamera digital lawas atau digicam justru kembali dilirik. Kamera yang dulu mungkin dianggap sudah ketinggalan zaman kini mulai dicari untuk sekadar memotret kegiatan sehari-hari, membuat dokumentasi, hingga menghasilkan foto dengan nuansa khas tahun 2000-an. Fenomena ini cukup menarik. Saat kamera ponsel sudah mampu menghasilkan foto yang tajam, terang, dan memiliki banyak fitur otomatis, sebagian orang justru tertarik menggunakan kamera digital lama yang kemampuannya jauh lebih sederhana. Ada digicam yang ukurannya kecil, layarnya mungil, lampu kilatnya cukup terang, dan hasil fotonya terkadang tidak terlalu tajam. Namun, justru hal-hal tersebut yang membuatnya terasa menarik. Hobi menggunakan digicam juga tidak selalu berarti seseorang ingin menghasilkan foto dengan kualitas terbaik. Bagi sebagian orang, daya tariknya justru terletak pada pengalaman memotret dan karakter gambar yang dihasilkan. Lantas, mengapa kamera digital lawas kembali populer? Apa yang membuatnya berbeda dari kamera ponsel, kamera DSLR, atau kamera tanpa cermin modern?

 

Apa Itu Digicam dan Mengapa Kembali Populer?

 

Ben Keough from https://www.nytimes.com/

 

Digicam merupakan istilah yang umum digunakan untuk menyebut kamera digital, terutama kamera digital berukuran kecil yang populer sebelum kamera ponsel menjadi secanggih sekarang. Banyak model digicam populer pada era 2000-an hingga awal 2010-an. Kamera ini biasanya memiliki bentuk sederhana, layar untuk melihat hasil foto, tombol fisik, lampu kilat, dan media penyimpanan seperti kartu memori. Pada masanya, digicam merupakan perangkat yang praktis. Orang tidak perlu menggunakan kamera film dan membeli rol film untuk memotret. Foto dapat langsung dilihat melalui layar kamera dan dipindahkan ke komputer untuk disimpan atau dibagikan. Namun, setelah kamera ponsel berkembang pesat, keberadaan digicam mulai tersisihkan. Ponsel sudah dapat melakukan hampir semua hal yang sebelumnya membutuhkan kamera terpisah. Membawa satu perangkat untuk menelepon, mengakses internet, sekaligus memotret tentu terasa jauh lebih praktis. Menariknya, kondisi tersebut justru membuat digicam memiliki daya tarik baru. Barang yang dahulu dianggap biasa kini terasa berbeda karena sudah tidak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kebanyakan orang. Kamera digital lawas akhirnya berubah dari sekadar perangkat elektronik lama menjadi bagian dari tren fotografi dan gaya hidup. Salah satu alasannya adalah munculnya kembali ketertarikan terhadap tampilan foto lama. Foto dari digicam tertentu dapat terlihat lebih sederhana, sedikit kasar, memiliki kilatan lampu yang kuat, warna yang khas, atau rentang cahaya yang tidak sebaik kamera modern. Bagi sebagian orang, hasil seperti ini terasa lebih hidup dibandingkan foto yang terlalu sempurna. Selain itu, penggunaan digicam juga memberikan pengalaman yang berbeda. Pengguna harus membawa perangkat tambahan khusus untuk memotret. Tidak ada puluhan aplikasi media sosial yang langsung terbuka setelah foto diambil. Tidak sedikit orang yang justru menikmati proses sederhana tersebut karena terasa seperti kembali ke masa ketika kamera memang digunakan terutama untuk mengambil gambar.

 

Mengapa Orang Suka Hasil Foto Kamera Digital Lawas?

 

Daya tarik utama digicam bukan pada spesifikasinya, melainkan pada hasil foto yang memiliki karakter berbeda dari kamera modern. Kamera ponsel dan kamera digital masa kini umumnya dirancang untuk menghasilkan gambar yang tajam, terang, dan seimbang. Sementara itu, digicam lawas memiliki teknologi yang lebih sederhana sehingga hasil fotonya bisa terlihat lebih kasar, warna kurang konsisten, atau pencahayaannya terasa lebih kuat. Keterbatasan inilah yang justru membuatnya menarik bagi sebagian orang. Foto dari digicam juga memiliki kesan yang lebih spontan. Gambar tidak selalu terlihat sangat tajam atau rapi, tetapi justru terasa seperti dokumentasi sehari-hari yang dibuat tanpa terlalu banyak pertimbangan. Karakter seperti ini cocok dengan minat terhadap gaya fotografi yang lebih santai dan tidak terlalu dibuat-buat. Foto yang sedikit kasar atau memiliki butiran juga dapat memberikan kesan lebih hidup dibandingkan gambar yang sudah diproses secara berlebihan. Dari sisi estetika, foto digicam sering dikaitkan dengan nuansa retro dan nostalgia, terutama gaya visual yang mengingatkan pada era 2000-an atau Y2K. Namun, nuansa ini berbeda dari gaya vintage yang biasanya meniru foto dari masa yang jauh lebih lama. Digicam lebih memberikan kesan seperti foto pribadi dari awal era kamera digital: memotret teman, jalan-jalan, pesta, acara keluarga, atau kegiatan sehari-hari dengan kamera kecil yang selalu dibawa. Ada pula unsur nostalgia yang membuat digicam semakin menarik. Bagi orang yang pernah menggunakan kamera digital pada masa tersebut, melihat kembali karakter fotonya dapat mengingatkan pada pengalaman dan suasana masa lalu. Sementara bagi generasi yang tidak mengalaminya, digicam justru terasa seperti sesuatu yang baru karena tampilannya berbeda dari foto yang biasa mereka lihat dari kamera ponsel. Karena itu, daya tarik digicam bukan sekadar menghasilkan foto yang terlihat “jadul”. Pengguna biasanya mencari suasana tertentu, seperti kesan retro, nostalgia, spontan, kasual, dan sedikit tidak sempurna. Karakter tersebut membuat digicam memiliki identitas tersendiri di tengah perkembangan kamera modern yang semakin mengutamakan hasil foto yang bersih dan sempurna.

 

Digicam Berbeda dari Kamera Ponsel dan Kamera Modern

 

Lalu, kalau ponsel sudah bisa menghasilkan foto yang bagus, mengapa masih repot menggunakan digicam? Jawabannya sederhana: tujuannya memang berbeda. Kamera ponsel modern lebih unggul jika yang dicari adalah kepraktisan dan kualitas gambar. Ponsel selalu dibawa, mudah digunakan, dan dapat langsung mengedit maupun membagikan foto. Kamera modern seperti DSLR dan kamera tanpa cermin juga menawarkan kualitas gambar yang jauh lebih tinggi, terutama jika pengguna ingin mengatur berbagai aspek pemotretan secara lebih serius. Digicam memiliki keunggulan lain, yaitu karakter dan pengalaman. Ketika seseorang mengambil foto menggunakan kamera digital lawas, hasilnya tidak selalu terlihat seperti foto dari ponsel. Bentuk perangkat, layar kecil, tombol fisik, lampu kilat, hingga suara saat mengambil gambar dapat membuat aktivitas memotret terasa lebih menyenangkan. Digicam juga dapat membuat seseorang lebih fokus pada momen. Ponsel memiliki banyak fungsi sehingga ketika menggunakannya untuk memotret, seseorang bisa saja tergoda membuka pesan, media sosial, atau aplikasi lainnya. Kamera khusus hanya memiliki satu tujuan utama: mengambil gambar. Dari sisi hasil foto, digicam juga bisa memberikan tampilan yang sulit didapat secara alami dari kamera modern. Bukan berarti kamera lama lebih bagus. Justru secara teknis, kamera modern biasanya jauh lebih unggul. Namun, “lebih bagus” secara teknis tidak selalu berarti “lebih menarik” secara estetika. Contohnya, foto seseorang yang diambil menggunakan lampu kilat digicam di ruangan yang agak gelap mungkin terlihat keras dengan bayangan yang kuat. Pada kamera modern, kondisi tersebut bisa dikoreksi agar terlihat lebih seimbang. Namun, orang yang menyukai gaya foto lama mungkin justru memilih hasil pertama karena terasa lebih spontan. Itulah mengapa digicam sebaiknya tidak dibandingkan hanya berdasarkan ketajaman atau kualitas gambar. Kamera ponsel, DSLR, kamera tanpa cermin, dan digicam memiliki fungsi serta karakter yang berbeda.

 

Bukan Cuma Foto Buram, Ada Karakter yang Dicari

 

https://razlyn.substack.com/

 

Salah satu kesalahpahaman tentang tren digicam adalah anggapan bahwa orang menyukainya hanya karena hasilnya “jelek”. Padahal, tidak sesederhana itu. Penggemar digicam biasanya mencari karakter tertentu. Karakter tersebut kemudian membentuk apa yang sering disebut sebagai estetika digicam. Foto digicam tidak harus benar-benar buram atau memiliki kualitas rendah. Yang dicari adalah kesan visual yang berbeda dari hasil kamera modern. Foto yang sedikit kasar, warna yang tidak terlalu sempurna, atau pencahayaan yang apa adanya justru dapat memberikan nuansa retro dan nostalgia. Salah satu gaya yang cukup identik adalah penggunaan lampu kilat secara langsung, terutama ketika memotret di tempat yang gelap atau pada malam hari. Cahaya dari lampu kilat dapat membuat wajah terlihat lebih terang sementara latar belakang tetap gelap. Hasilnya memberikan kesan foto spontan yang cukup kuat dan sering diasosiasikan dengan dokumentasi pesta, jalan-jalan, atau kehidupan sehari-hari pada era 2000-an. Misalnya, warna yang khas, kontras yang berbeda, tampilan lampu kilat yang kuat, rasio gambar tertentu, atau kesan seperti foto dokumentasi pribadi dari masa lalu. Setiap kamera juga bisa menghasilkan karakter yang berbeda. Digicam dari merek dan generasi tertentu belum tentu menghasilkan foto yang sama dengan kamera digital lawas lainnya. Sensor, lensa, pemrosesan gambar, lampu kilat, dan kondisi kamera dapat memengaruhi hasil akhir. Karena itu, membeli digicam bukan sekadar mencari kamera dengan spesifikasi paling rendah. Ada orang yang sengaja mencari model tertentu karena menyukai hasil fotonya. Bahkan, kamera yang dulu dijual sebagai kamera sederhana untuk penggunaan sehari-hari kini bisa memiliki peminat karena tampilan fotonya dianggap menarik. Ada pula unsur kejutan. Kamera modern biasanya sangat mudah diprediksi. Pengguna dapat melihat hasil foto dengan cepat dan memperkirakan seperti apa tampilannya. Digicam lama kadang menghasilkan sesuatu yang sedikit berbeda dari perkiraan, terutama ketika digunakan dalam kondisi pencahayaan tertentu. Bagi sebagian orang, hal tersebut membuat proses memotret menjadi lebih seru.

 

Apakah Harus Punya Digicam untuk Mendapatkan Efek Foto Lawas?

 

Jawabannya tidak harus. Kalau tujuan utamanya hanya mendapatkan tampilan foto seperti digicam, pengguna kamera ponsel sebenarnya dapat mencoba berbagai aplikasi dan penyuntingan foto. Saat ini tersedia banyak filter yang dirancang untuk memberikan nuansa kamera digital lawas, termasuk tampilan warna, butiran gambar, kebocoran cahaya, tanggal pada foto, atau karakter lampu kilat tertentu. Filter seperti ini biasanya tidak hanya mengubah ketajaman foto. Beberapa juga mencoba meniru warna, kontras, butiran gambar, pencahayaan, atau tampilan tanggal yang identik dengan kamera digital lawas. Dengan begitu, foto dari kamera ponsel dapat dibuat memiliki nuansa retro atau Y2K tanpa harus menggunakan digicam sungguhan. Namun, hasilnya tetap merupakan simulasi. Filter dapat meniru tampilan visual, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan karakter asli kamera. Sensor, lensa, lampu kilat, dan cara kamera lawas memproses gambar ikut memengaruhi hasil akhir. Jadi, dua foto yang sama-sama diberi filter digicam belum tentu terasa sama dengan foto yang benar-benar diambil menggunakan kamera digital lawas. Ada juga aplikasi kamera yang memberikan tampilan seperti kamera digital lama ketika foto diambil. Jadi, pengguna tidak selalu perlu mengambil foto menggunakan digicam sungguhan untuk mendapatkan hasil yang serupa. Namun, ada perbedaan penting. Filter hanya meniru tampilan, sedangkan kamera asli menghasilkan karakter tersebut dari perangkat keras dan proses pengambilan gambar itu sendiri. Misalnya, sebuah filter dapat menambahkan butiran gambar dan mengubah warna foto. Akan tetapi, filter belum tentu dapat meniru seluruh karakter lensa, sensor, pemrosesan gambar, lampu kilat, dan keterbatasan kamera lawas secara sempurna. Karena itu, hasil dari filter bisa terlihat seperti foto digicam, tetapi belum tentu benar-benar terasa sama. Meski begitu, bagi orang yang hanya ingin bereksperimen atau mengikuti tren, filter sudah cukup. Tidak semua orang membutuhkan kamera lama hanya untuk menghasilkan satu gaya visual. Justru di sinilah perbedaan antara hobi menggunakan digicam dan menggunakan filter digicam. Jika yang dicari adalah pengalaman menggunakan kamera lama, filter tentu tidak dapat menggantikannya. Namun, jika yang dicari hanya estetika foto, ponsel sudah bisa menjadi pilihan yang praktis.

 

Mengapa Tren Kamera Lawas Menarik untuk Hobi?

 

Pada akhirnya, kebangkitan digicam bukan semata-mata karena kamera tersebut mampu mengalahkan teknologi baru. Faktanya, untuk kualitas teknis, kamera ponsel modern dan kamera digital masa kini jelas memiliki banyak keunggulan. Digicam menarik karena menawarkan sesuatu yang berbeda. Kamera tersebut terasa sederhana, memiliki keterbatasan, dan menghasilkan gambar dengan karakter yang tidak selalu mudah ditemukan pada kamera modern. Pengguna juga dapat menikmati pengalaman memotret tanpa harus menjadikan ponsel sebagai pusat segala aktivitas. Ada unsur nostalgia, tetapi tidak semuanya tentang nostalgia. Bagi sebagian orang, digicam merupakan cara untuk mencoba gaya fotografi baru. Bagi yang lain, kamera tersebut menjadi aksesori unik untuk bepergian atau berkegiatan bersama teman. Tren ini juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membuat produk lama kehilangan seluruh nilainya. Ketika semua perangkat berlomba-lomba menghasilkan gambar yang semakin tajam dan sempurna, sebagian orang justru mencari sesuatu yang terasa lebih sederhana.

 

Digicam Lawas Bukan Berarti Harus Menggantikan Kamera Ponsel

 

Kemunculan kembali digicam juga tidak berarti kamera ponsel sudah tidak menarik. Keduanya dapat digunakan untuk kebutuhan yang berbeda. Ponsel tetap menjadi pilihan paling praktis untuk dokumentasi sehari-hari, terutama ketika seseorang ingin langsung mengirim atau mengunggah foto. Kamera modern lebih cocok bagi orang yang membutuhkan kualitas gambar tinggi dan ingin mempelajari fotografi dengan lebih serius. Sementara itu, digicam dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin menikmati proses memotret dengan suasana berbeda atau menyukai karakter foto lawas. Bahkan, seseorang tidak perlu memilih salah satunya. Menggunakan kamera ponsel dengan filter digicam juga sah-sah saja. Tidak ada aturan bahwa foto bergaya lama harus dibuat menggunakan kamera lama. Yang membedakan hanyalah pengalaman dan hasil akhirnya.

 

Kesimpulan: Kamera Digital Lawas Kembali karena Punya Karakter

 

https://razlyn.substack.com/

 

Kamera digital lawas atau digicam kembali diminati bukan karena teknologinya lebih hebat daripada kamera ponsel dan kamera modern. Justru sebaliknya, keterbatasan teknologi tersebut menjadi bagian dari daya tariknya. Foto yang tidak terlalu sempurna, lampu kilat yang kuat, warna yang khas, bentuk kamera yang sederhana, serta pengalaman memotret menggunakan perangkat khusus membuat digicam terasa berbeda. Ditambah lagi, tren estetika retro dan ketertarikan terhadap gaya foto tahun 2000-an membuat kamera digital lama kembali mendapatkan tempat. Namun, memiliki digicam bukan sebuah keharusan. Jika hanya ingin mendapatkan tampilan foto lawas, pengguna dapat memanfaatkan filter atau aplikasi kamera pada ponsel. Begitu pula dengan efek Polaroid yang dapat dibuat secara digital atau melalui pencetakan foto. Bedanya, menggunakan kamera asli memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh filter. Digicam memberikan sensasi menggunakan teknologi lama, sedangkan kamera instan seperti Polaroid memberikan pengalaman mendapatkan hasil foto fisik. Pada akhirnya, alasan orang kembali menyukai kamera lawas cukup sederhana: ketika teknologi modern membuat foto semakin sempurna, sebagian orang justru mulai mencari foto yang terasa lebih sederhana, spontan, dan punya karakter. Dalam dunia fotografi, hasil yang tidak sempurna pun ternyata bisa memiliki daya tarik tersendiri.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Mengapa Tren Makanan Sekarang Cepat Banget Berganti? Ini Alasan di Baliknya

Next Entry

Mindful Living: Cara Sederhana Menemukan Ketenangan di Tengah Kesibukan

Next Entry

Mengapa Makanan Pedas Tidak Pernah Kehilangan Penggemar?