Ivan Gunawan Sukses Gelar Pameran "Nusanova 2.0" Berbasis:
Batik Sekar Jagat Madura dan Raih Penghargaan MURI
Ivan Gunawan sukses menggelar pameran Nusanova 2.0 yang mengangkat keindahan batik Sekar Jagat Madura dan meraih rekor MURI. Simak kisah lengkapnya di sini!
Dunia mode tanah air kembali mencatatkan sebuah pencapaian yang membanggakan melalui tangan dingin salah seorang desainer terkemuka Indonesia, Ivan Gunawan. Sang kreator ulung ini sukses menyelenggarakan sebuah perhelatan akbar berupa pameran instalasi mode imersif bertajuk "Nusanova 2.0: Sekar Jagat". Acara prestisius yang mengusung keindahan wastra tradisional Indonesia ini tidak hanya berhasil memukau para penikmat mode, tetapi juga sukses mencetak sejarah baru dengan memboyong penghargaan bergengsi dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Keberhasilan ini tentu menjadi momentum penting dalam upaya melestarikan sekaligus mengangkat derajat kain tradisional Nusantara ke kancah global melalui pendekatan yang segar, modern, dan bernilai seni tinggi.
Menelusuri Akar Sejarah Filosofi, Asal-Usul, dan Perjalanan Mengangkat Keagungan Batik Sekar Jagat Khas Pamekasan, Madura
Keindahan visual yang terpancar dari motif batik Sekar Jagat tidak hanya terletak pada keahlian merajut warna dan pola di atas selembar kain, melainkan juga menyimpan lapisan sejarah serta filosofi mendalam yang telah mengakar selama ratusan tahun di dalam tradisi masyarakat Pulau Jawa dan Madura. Istilah "Sekar Jagat" sendiri memiliki arti etimologis yang sangat puitis. Berasal dari perpaduan kata "sekar" yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti bunga, dan "jagat" yang bermakna dunia atau alam semesta. Secara harfiah, motif ini merepresentasikan keindahan bunga yang mekar di seluruh penjuru dunia, atau dapat pula dimaknai sebagai hamparan keindahan alam semesta yang tersusun dari berbagai macam keanekaragaman bentuk dan warna.
Secara historis, motif klasik Sekar Jagat berakar dari keraton-keraton di Jawa, khususnya wilayah Mataraman seperti Yogyakarta dan Surakarta, sebelum akhirnya menyebar luas ke berbagai sentra batik pesisir dan wilayah kepulauan lainnya, termasuk Madura. Pada masa lampau, kain dengan corak ini lazim dikenakan oleh para kaum bangsawan kerajaan dalam acara-acara adat sakral tertentu. Pola geometris melengkung yang menyerupai bentuk pulau, peta, atau hamparan bunga saling merangkai melambangkan keragaman suku, ras, budaya, serta keindahan ciptaan Tuhan yang hidup berdampingan secara damai dalam suatu tatanan kosmos yang selaras. Setiap petak motif di dalamnya sering kali merepresentasikan corak khas dari berbagai daerah yang berbeda, sehingga menjadikan keseluruhan kain tampak seperti sebuah peta kebudayaan yang terangkum dalam satu kesenian visual yang utuh.
Seiring dengan dinamika perdagangan antarpulau dan migrasi masyarakat di masa lampau, motif sarat makna ini turut merambah wilayah Madura, seperti Pamekasan dan Bangkalan. Karakter masyarakat Madura yang dikenal ekspresif, tegas, dan memiliki kecintaan tinggi terhadap warna-warna cerah berani memberikan napas baru pada perkembangan visual batik Sekar Jagat. Perajin lokal di Madura mengadaptasi pola klasik tersebut dengan menyuntikkan palet warna yang lebih menyala, seperti merah tua, kuning terang, hijau zamrud, dan biru elektrik, yang dipadukan dengan teknik batik tulis berketelitian tinggi. Proses pewarnaan alami maupun sintetis yang diaplikasikan secara berulang-ulang menciptakan gradasi warna tajam yang menjadi ciri khas dan pembeda utama antara batik Madura dengan batik pedalaman Jawa.
Perjalanan panjang batik Sekar Jagat dari masa keraton kuno hingga bertransformasi menjadi komoditas seni bernilai tinggi di tangan para perajin Madura kini mendapatkan babak baru yang amat membanggakan. Ketika desainer sekelas Ivan Gunawan mengangkat motif klasik ini ke dalam pameran instalasi kontemporer berskala nasional, sejarah kembali mencatat bahwa warisan leluhur tidak pernah kehilangan relevansinya. Melalui interpretasi modern yang cermat—seperti yang dihadirkan dalam perhelatan Nusanova 2.0—sejarah batik Sekar Jagat tidak lagi sekadar menjadi arsip masa lalu yang tersimpan di museum, melainkan hidup, bernapas, dan terus berkembang menjadi kebanggaan identitas budaya bangsa Indonesia di era modern.
Penyelenggaraan pameran edisi kedua dari platform Nusanova ini memusatkan perhatian penuh pada eksplorasi kekayaan budaya Pulau Garam, lebih tepatnya kain batik tulis khas Pamekasan, Madura, yang terkenal dengan motif Sekar Jagat. Pemilihan corak ini bukanlah tanpa alasan yang kuat. Menurut sang perancang, filosofi yang terkandung di dalam motif Sekar Jagat merepresentasikan keragaman corak yang menyatu secara harmonis dalam satu hamparan kain, yang secara personal dirasa sangat mencerminkan kompleksitas karakter serta perjalanan karirnya di dunia hiburan maupun mode.
Batik Madura selama ini dikenal luas memiliki karakter visual yang sangat kuat, permainan warna yang berani, dinamis, serta memancarkan energi penuh semangat. Di tangan kreatif Ivan Gunawan, kain tradisional yang umumnya diasosiasikan sebagai busana formal atau pakaian kerja harian tersebut disulap menjadi mahakarya busana adibusana (haute couture) dan siap panggung (red carpet) yang sangat memukau. Ia berhasil memadukan hingga tiga komposisi motif berbeda dalam selembar kain batik tulis, menciptakan harmonisasi visual yang rumit, eksklusif, dan memiliki nilai estetika tingkat tinggi.
Konsep Pameran Imersif yang Edukatif dan Estetik
Berbeda dari kebanyakan peluncuran koleksi busana pada umumnya yang kerap dikemas dalam bentuk peragaan busana (fashion show) konvensional, Ivan Gunawan memilih format pameran instalasi seni imersif untuk memamerkan karya terbarunya ini. Bertempat di D Gallerie, Jakarta, pameran yang dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, ini sukses menarik perhatian publik luas sejak awal Agustus. Ruang galeri disulap sedemikian rupa menjadi sebuah labirin visual yang mengajak para pengunjung untuk menyelami secara mendalam proses kreatif di balik layar pembuatan busana. Mulai dari area dokumentasi foto proses produksi, sudut dedikasi bagi tim pembuat pola, hingga deretan busana bers siluet tegas dan feminin yang dipajang dengan pencahayaan artistik. Sebanyak lebih dari 20 tampilan busana utama dari total 35 rancangan dipamerkan kepada khalayak. Koleksi ini menampilkan tingkat kerumitan yang luar biasa, termasuk pengaplikasian detail payet rumit berbentuk bunga tiga dimensi yang membutuhkan waktu pengerjaan hingga lima bulan lamanya.
Tidak hanya berdiri sendiri sebagai pameran mode, acara ini juga merangkul kerja sama lintas seni yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari institusi pendidikan mode hingga seniman lingkungan. Pelibatan para siswa sekolah mode sebagai usher di dalam pameran memberikan kesempatan emas bagi generasi muda untuk belajar secara langsung mengenai tata cara pengolahan wastra tradisional menjadi produk mode kontemporer. Selain itu, kolaborasi bersama seniman sekaligus aktivis lingkungan, Intan Anggita Pratiwie, menghadirkan instalasi seni berbasis sisa potongan tekstil yang merepresentasikan keberlanjutan siklus hidup sebuah karya kain.
Torehan Rekor MURI dan Antusiasme Tinggi Masyarakat
Puncak dari kesuksesan perhelatan "Nusanova 2.0: Sekar Jagat" ditandai dengan pencapaian gemilang berupa anugerah penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pameran busana imersif berbasis corak batik Sekar Jagat Madura ini dinobatkan sebagai yang pertama di Indonesia dengan skala pencapaian yang luar biasa. Berdasarkan catatan panitia penyelenggara selama kurun waktu tujuh hari penyelenggaraannya, pameran ini berhasil menyedot antusiasme publik yang sangat tinggi dengan total kunjungan mencapai 2.253 orang. Angka kunjungan yang fantastis tersebut membuktikan bahwa minat serta apresiasi masyarakat Indonesia terhadap warisan budaya lokal kini mengalami peningkatan yang signifikan. Terlebih lagi, akses pameran yang dibuka secara gratis bagi masyarakat umum memberikan kesempatan bagi berbagai kalangan, termasuk para pencinta mode, akademisi, hingga generasi Z, untuk menikmati keindahan batik dari jarak dekat. Saat menerima penghargaan prestisius tersebut, Ivan Gunawan mengungkapkan rasa syukur serta pandangannya mengenai makna pencapaian yang ia raih. Bagi sang desainer, piagam penghargaan MURI tersebut bukanlah sekadar simbol atau pengakuan formal semata, melainkan sebuah pengingat abadi bahwa dedikasi tinggi yang diiringi dengan kecintaan mendalam pada budaya bangsa mampu melahirkan karya yang mengukir sejarah.
"Ini bukan sekadar piagam atau rekor. Ini adalah pengingat bahwa ketika kreativitas dipertemukan dengan kecintaan terhadap budaya, sebuah karya dapat melampaui batas menjadi bagian dari sejarah," ungkap Ivan Gunawan dalam pernyataan resminya.
Meneguhkan Relevansi Wastra Nusantara di Era Modern
Langkah progresif yang diambil oleh Ivan Gunawan melalui perhelatan "Nusanova 2.0" memberikan angin segar sekaligus harapan baru bagi masa depan industri kreatif tanah air. Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya saat membuka pameran tersebut turut memberikan apresiasi yang tinggi. Menurutnya, langkah hilirisasi budaya yang dilakukan oleh para perancang busana seperti Ivan Gunawan merupakan kunci utama dalam mengantarkan kekayaan tradisi lokal agar mampu berbicara banyak di kancah peradaban dunia. Budaya yang berada di hulu berhasil diterjemahkan secara gemilang ke dalam sektor ekonomi kreatif dan pariwisata di hilir.
Melalui pencapaian rekor MURI ini, terbukti bahwa batik sebagai salah satu warisan budaya tak benda dunia yang diakui UNESCO tetap memiliki ruang yang sangat luas untuk terus berkembang tanpa harus kehilangan identitas aslinya. Sentuhan inovatif, kreativitas tanpa batas, serta kolaborasi lintas disiplin ilmu yang dihadirkan membuktikan bahwa tradisi lokal dapat bertransformasi menjadi karya seni modern yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus membanggakan nama Indonesia di kancah internasional. Kesuksesan "Nusanova 2.0: Sekar Jagat" diharapkan mampu memantik motivasi bagi para pelaku industri kreatif lainnya untuk terus berinovasi dan mencintai kekayaan pusaka Nusantara.