Thea News
LifeStyle // 2026 Arbia Zahira

JOMO (Joy of Missing Out):
Seni Menikmati Ketenangan Tanpa Harus Takut Ketinggalan Tren di Media Sosial

Mengenal JOMO (Joy of Missing Out), gaya hidup untuk menikmati ketenangan tanpa takut tertinggal tren media sosial beserta manfaat dan tips menerapkannya.

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap saat kita bisa melihat kabar terbaru, tren yang sedang viral, hingga aktivitas teman, keluarga, maupun tokoh terkenal. Di satu sisi, media sosial memudahkan kita mendapatkan informasi dan tetap terhubung dengan banyak orang. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga sering membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan. Akibatnya, banyak orang merasa cemas jika terlambat mengetahui berita, tidak ikut tren, atau tidak menghadiri suatu acara yang sedang populer. Perasaan tersebut dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. Namun beberapa tahun terakhir muncul konsep yang menjadi kebalikannya, yaitu JOMO atau Joy of Missing Out. Alih-alih merasa takut tertinggal, JOMO mengajak seseorang menikmati hidup dengan lebih tenang tanpa harus mengikuti semua hal yang sedang ramai di media sosial. Gaya hidup ini semakin banyak diterapkan karena dianggap mampu membantu menjaga kesehatan mental sekaligus membuat seseorang lebih fokus pada kehidupan nyata. Lantas, apa sebenarnya JOMO, apa manfaatnya, siapa yang cocok menerapkannya, dan bagaimana cara menjalankannya secara seimbang? Berikut penjelasannya.

 

Apa Itu JOMO? Memahami Arti Joy of Missing Out dengan Sederhana

 

https://www.ooma.com/

 

JOMO merupakan singkatan dari Joy of Missing Out, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai "kegembiraan karena tidak harus selalu ikut." Jika FOMO membuat seseorang merasa gelisah ketika melewatkan sesuatu, JOMO justru mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu diikuti. Sebagai contoh, ketika media sosial sedang dipenuhi tren tertentu, seseorang yang menerapkan JOMO tidak merasa tertekan untuk ikut membuat konten hanya agar dianggap tidak ketinggalan zaman. Ia memahami bahwa melewatkan tren tersebut bukanlah masalah besar apabila memang tidak sesuai dengan kebutuhan atau minatnya. Begitu pula ketika banyak teman mengunggah foto liburan, menghadiri konser, atau membeli barang terbaru. Orang yang menerapkan JOMO tidak langsung merasa hidupnya kurang menarik. Sebaliknya, ia mampu menikmati aktivitas yang sedang dijalani tanpa terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. JOMO bukan berarti membenci media sosial atau menolak perkembangan zaman. JOMO juga bukan berarti hidup menyendiri tanpa berinteraksi dengan orang lain. Inti dari JOMO adalah memilih secara sadar apa yang memang layak mendapat perhatian dan apa yang boleh dilewatkan. Dengan kata lain, kita tetap mengikuti perkembangan yang penting, tetapi tidak merasa wajib mengikuti semuanya. Konsep ini semakin relevan di era digital karena setiap hari jutaan informasi baru muncul dalam hitungan detik. Tidak mungkin seseorang mampu mengikuti seluruh berita, video, tren, maupun perbincangan yang terjadi di internet. JOMO mengingatkan bahwa melewatkan sebagian besar informasi tersebut bukanlah kegagalan, melainkan sesuatu yang wajar.

 

Mengapa Banyak Orang Mulai Menerapkan JOMO?

 

Ada beberapa alasan mengapa JOMO semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah meningkatnya penggunaan media sosial di berbagai kalangan usia. Semakin lama seseorang menghabiskan waktu untuk menggulir layar ponsel, semakin besar pula kemungkinan ia membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang. Foto yang terlihat sempurna belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Namun jika terus melihat unggahan seperti itu, seseorang bisa merasa dirinya tertinggal, kurang sukses, atau kurang bahagia. Selain itu, munculnya tren baru hampir setiap hari membuat banyak orang merasa lelah. Hari ini sedang ramai tantangan tertentu, besok muncul produk yang dianggap wajib dimiliki, lalu lusa muncul tempat wisata yang disebut-sebut harus dikunjungi. Siklus yang sangat cepat tersebut membuat sebagian orang mengalami kelelahan digital. Di sinilah JOMO menjadi pilihan yang lebih sehat. Seseorang tidak lagi merasa harus selalu mengejar semua hal yang sedang populer. Ia menyadari bahwa waktu, tenaga, dan perhatian merupakan sumber daya yang terbatas sehingga perlu digunakan untuk hal-hal yang benar-benar penting.

 

Fungsi dan Manfaat JOMO bagi Kehidupan Sehari-hari

 

Menerapkan JOMO bukan sekadar mengurangi penggunaan media sosial. Ada berbagai manfaat yang bisa dirasakan apabila dilakukan secara seimbang. Manfaat pertama adalah mengurangi stres dan kecemasan. Ketika seseorang berhenti merasa harus mengikuti semua informasi, pikirannya menjadi lebih tenang. Tidak ada lagi tekanan untuk selalu menjadi yang paling cepat mengetahui berita terbaru atau mengikuti setiap tren yang muncul. Manfaat kedua adalah meningkatkan fokus. Terlalu banyak informasi dapat mengganggu konsentrasi. Dengan membatasi paparan konten yang tidak penting, seseorang dapat lebih fokus menyelesaikan pekerjaan, belajar, atau menikmati waktu bersama keluarga. JOMO juga membantu seseorang lebih menghargai kehidupan nyata. Saat tidak terus-menerus sibuk memeriksa media sosial, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk berbicara dengan orang-orang di sekitarnya, membaca buku, berolahraga, menjalankan hobi, atau sekadar menikmati suasana tanpa terganggu notifikasi. Selain itu, JOMO dapat membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki jalan hidup, kemampuan, dan kondisi yang berbeda. Ketika tidak terlalu sering melihat pencapaian orang lain di media sosial, seseorang lebih mudah mensyukuri apa yang dimilikinya. Manfaat lainnya adalah meningkatkan kualitas istirahat. Banyak orang terbiasa membuka media sosial sebelum tidur dan tanpa sadar menghabiskan waktu hingga larut malam. Dengan menerapkan JOMO, penggunaan gawai menjadi lebih teratur sehingga waktu tidur pun menjadi lebih berkualitas. Dalam jangka panjang, JOMO juga membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih rasional. Ia tidak mudah membeli barang hanya karena sedang viral atau mengikuti suatu kegiatan hanya karena takut dianggap ketinggalan. Keputusan diambil berdasarkan kebutuhan, bukan tekanan dari lingkungan.

 

Apakah JOMO Memiliki Kekurangan?

 

Meskipun menawarkan banyak manfaat, JOMO bukan berarti tanpa batasan. Seperti gaya hidup lainnya, penerapannya juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Salah satu kekurangannya adalah kemungkinan tertinggal informasi yang memang penting. Jika terlalu membatasi akses terhadap berita dan media sosial, seseorang bisa saja tidak mengetahui informasi pekerjaan, perubahan jadwal, atau kabar penting dari keluarga maupun teman. Selain itu, pada profesi tertentu, mengikuti perkembangan informasi justru merupakan bagian dari pekerjaan. Seorang jurnalis, pembuat konten, pengelola media sosial, analis pasar, pelaku usaha, hingga praktisi pemasaran perlu terus memantau tren agar tetap mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam kondisi seperti ini, menerapkan JOMO secara berlebihan justru bisa menghambat pekerjaan. JOMO juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab sosial. Ada kalanya seseorang memang perlu mengetahui isu-isu penting yang sedang terjadi, seperti bencana alam, kebijakan pemerintah, atau informasi kesehatan masyarakat. Menikmati ketenangan bukan berarti menutup diri dari kenyataan. Karena itu, tujuan JOMO bukan menghilangkan media sosial sepenuhnya, melainkan menggunakannya secara lebih bijaksana.

 

Siapa yang Cocok Menerapkan JOMO?

 

Pada dasarnya, hampir semua orang dapat menerapkan JOMO dalam kadar tertentu. Namun manfaatnya biasanya lebih terasa bagi beberapa kelompok. Pelajar dan mahasiswa dapat memanfaatkan JOMO ketika sedang mempersiapkan ujian atau mengerjakan tugas penting. Dengan mengurangi gangguan media sosial untuk sementara waktu, mereka dapat belajar dengan lebih fokus. Karyawan yang sering merasa kewalahan akibat notifikasi pekerjaan maupun media sosial juga dapat menerapkan JOMO setelah jam kerja selesai. Waktu istirahat menjadi kesempatan untuk memulihkan tenaga, bukan terus-menerus menerima informasi baru. Orang tua juga bisa menerapkan JOMO agar memiliki lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga. Anak-anak umumnya lebih membutuhkan perhatian secara langsung dibanding melihat orang tuanya sibuk memegang ponsel. Mereka yang sedang merasa lelah secara mental akibat terlalu banyak menggunakan media sosial juga dapat mencoba JOMO sebagai salah satu langkah untuk mengurangi tekanan. Sementara itu, bagi pekerja yang memang bergantung pada perkembangan informasi, seperti jurnalis, pengelola media sosial, pembuat konten, analis tren, investor, atau pelaku bisnis digital, JOMO tetap bisa diterapkan tetapi dengan penyesuaian. Misalnya, mereka hanya memantau informasi pada jam kerja, kemudian membatasi penggunaan media sosial di luar waktu tersebut. Dengan demikian, JOMO bukan soal profesi tertentu boleh atau tidak boleh melakukannya. Yang membedakan hanyalah seberapa besar porsi penerapannya agar tetap sesuai dengan kebutuhan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

 

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menerapkan JOMO?

 

https://karmahill.com/

 

Tidak ada aturan bahwa JOMO hanya boleh dilakukan pada hari atau jam tertentu. Namun ada beberapa situasi ketika gaya hidup ini terasa sangat bermanfaat. Pertama, saat sedang belajar atau bekerja. Menonaktifkan notifikasi selama beberapa jam dapat membantu meningkatkan konsentrasi. Kedua, saat berkumpul bersama keluarga atau teman. Memberikan perhatian penuh kepada orang-orang di sekitar sering kali lebih berharga dibanding terus memeriksa media sosial. Ketiga, sebelum tidur. Mengurangi paparan layar setidaknya beberapa puluh menit sebelum tidur dapat membantu tubuh lebih rileks sehingga kualitas tidur meningkat. Keempat, ketika sedang berlibur. Banyak orang sibuk mengambil foto dan mengunggahnya ke media sosial hingga lupa menikmati suasana. JOMO mengajak kita menikmati momen tersebut tanpa merasa harus membagikannya kepada semua orang. Kelima, ketika merasa mulai lelah, mudah cemas, atau terus membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda dari arus informasi digital.

 

Tips Agar JOMO Memberikan Manfaat Maksimal

 

Menerapkan JOMO tidak harus dilakukan secara drastis. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Mulailah dengan menentukan waktu bebas media sosial setiap hari. Misalnya satu hingga dua jam tanpa membuka aplikasi apa pun. Setelah terbiasa, durasinya bisa ditambah sesuai kebutuhan. Matikan notifikasi yang tidak penting. Tidak semua aplikasi perlu mengirim pemberitahuan setiap saat. Dengan mengurangi notifikasi, perhatian tidak mudah teralihkan. Pilih sumber informasi yang benar-benar bermanfaat. Daripada mengikuti ratusan akun, lebih baik mengikuti akun yang memberikan informasi sesuai kebutuhan atau minat. Isi waktu luang dengan kegiatan di dunia nyata. Membaca buku, berolahraga, memasak, berkebun, berjalan santai, atau mengembangkan keterampilan baru bisa menjadi pengganti kebiasaan menggulir media sosial tanpa tujuan. Belajar menerima bahwa tidak semua tren harus diikuti. Setiap hari akan selalu ada hal baru yang menjadi pembicaraan. Tidak mengikuti semuanya bukan berarti seseorang tertinggal, melainkan sedang memilih apa yang memang penting. Yang tidak kalah penting, tetaplah membuka ruang untuk informasi yang benar-benar dibutuhkan. JOMO bukan berarti memutus komunikasi dengan dunia luar. Tetap ikuti berita penting, informasi pekerjaan, maupun kabar keluarga agar keseimbangan tetap terjaga.

 

Menemukan Keseimbangan antara Dunia Digital dan Kehidupan Nyata

 

Pada akhirnya, tujuan JOMO bukan membuat seseorang menjauh dari teknologi. Teknologi tetap memiliki banyak manfaat apabila digunakan dengan tepat. Media sosial juga dapat menjadi sarana belajar, bekerja, membangun relasi, bahkan mengembangkan usaha. Yang perlu dihindari adalah kebiasaan menggunakan media sosial tanpa kendali hingga mengganggu kesehatan mental, produktivitas, maupun hubungan dengan orang-orang terdekat. JOMO mengingatkan bahwa kita memiliki hak untuk memilih apa yang ingin dilihat, diikuti, dan diabaikan. Tidak mengikuti semua tren bukan berarti hidup menjadi kurang menarik. Justru dengan mengurangi kebisingan digital, seseorang memiliki lebih banyak ruang untuk menikmati hal-hal sederhana yang sering terlewatkan, seperti mengobrol dengan keluarga, menikmati secangkir kopi tanpa gangguan ponsel, menyelesaikan pekerjaan dengan fokus, atau sekadar beristirahat tanpa rasa bersalah.

 

Penutup: JOMO Bukan Tentang Menolak Tren, tetapi Mengendalikan Diri

 

https://www.beckyprater.com/

 

Di era ketika informasi datang tanpa henti, JOMO atau Joy of Missing Out menawarkan cara pandang yang lebih tenang terhadap kehidupan digital. Gaya hidup ini mengajarkan bahwa tidak semua tren harus diikuti, tidak semua kabar harus diketahui saat itu juga, dan tidak semua aktivitas perlu dibagikan ke media sosial. Selama diterapkan secara seimbang, JOMO dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan fokus, memperbaiki kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat, serta membuat seseorang lebih menghargai momen yang sedang dijalani. Meski demikian, JOMO juga memiliki batasan. Tetap penting untuk mengikuti informasi yang berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, maupun kondisi darurat. Pada akhirnya, bukan seberapa banyak tren yang berhasil diikuti yang menentukan kualitas hidup seseorang, melainkan seberapa bijak ia menggunakan waktu, perhatian, dan energinya. Ketika mampu memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang boleh dilewatkan, ketenangan bukan lagi sesuatu yang sulit dicapai. Itulah esensi dari JOMO, menikmati hidup apa adanya tanpa harus terus-menerus takut tertinggal.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Fenomena Me Time: Mengapa Waktu Sendiri Itu Penting untuk Menjaga Keseimbangan Hidup?

Next Entry

Mengapa Kita Butuh 'Niksen', Konsep Seni Tidak Melakukan Apa-pun ala Orang Belanda

Next Entry

Seni Mengurangi Beban Pikiran Lewat 'Brain Dumping' Sebelum Tidur