Kenali 4 Faktor Penyebab Perundungan di Masyarakat
Perundungan tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi pasti ada latar belakang yang membuat tindakan itu dilakukan. Beberapa faktor ini adalah yang paling umum dirasakan.
Perundungan adalah hal yang lumrah terjadi di sekitar kita. Perundungan bisa dialami oleh siapa saja, baik di lingkungan sekolah, tempat kerja, atau bahkan di pinggir jalan. Mengutip dari Komisi Nasiona Perlindungan Anak, perundungan adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan perseorangan atau kelompok pada orang lain yang lebih lemah. Dari pengertian itu, dapat disimpulkan, biasanya terdapat aktivitas fisik maupun verbal yang dampaknya dapat ke luka trauma berkelanjutan. Oleh karena itu, eduksi terkait perundungan perlu disosialisasikan pada masyarakat luas agar tidak semakin banyak pelaku dan korban yang terlibat dalam kasus tersebut. Apa lagi, saat ini perundungan bisa terjadi secara online, tanpa bertemu langsung. Situasi ini jaid lebih serius daripada yang dibayangkan.
Perundungan bukan hanya tentang menangani korbannya saja, tetapi bagaimana menganalisis faktor penyebab seseorang dapat menjadi perundung di lingkungannya. Semua orang yang melakukan perundungan kerap kali diikuti dengan latar belakang tertentu yang menjadi dasar mengapa perbuatan itu bisa dilakukan. Faktor inipun bisa diamati dan didalami melalui berbagai kasus perundungan serta literatur terkait.
Faktor Harga Diri
Perundungan tidak pernah jauh dari persaiangan dan anggapan tentang masing-masing harga diri yang dimiliki manusia. Tentu, setiap orang ingin dihargai secara alamiah, tapi beberapa orang ingin yang lebih daripada sekadar dihargai. Perasaan lebih tingi daripada orang lain ini timbul karena beberapa alasan, misal status keluarga, peringkat kelas, pangkat di tempat kerja, dan sebagainya. Orang-orang ini akan menargetkan orang lain yang tampak lebih lemah, kecil, dan seolah tidak berani melawan. Ketika dikonfrontasi, orang yang lebih lemah cenderung tidak bisa melawan sebab merasa kuasanya tidak besar. Bila terjadi terus menerus, maka tindak perundungan tidak akan teralakan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh merasa rendah diri di hadapan orang lain, terlebih saat tahu di lingkungan sekitar ada oknum-oknum yang sudah merendahkan orang lain. Paling tidak, kita bisa melawan dan mempertahankan diri ketika diserang. Jika tidak mampu, maka jangan takut untuk melapor pada orang lain atau lembaga khusus yang menangani perundungan.
Faktor Pola Asuh Keluarga
Perundungan bisa terjadi karena adanya pola asuh dari keluarga yang dianggap keliru. Orang tua adalah mitra pertama dari anak. Orang tua merupakan orang yang mengajarkan berbagai pengetahuan awal sesorang anak, yang membekalinya untuk melanjutkan kehidupan secara mandiri di masa depan. Hal itulah yang membuat orang tua sampai belajar, berkonsutasi, dan berbagi referensi dalam menerapkan parenting pada anak-anak mereka. Usaha yang ditempuh pastinya ingin yang terbaik untuk buah hati. Namun, terkadang hal ini justru menimbulkan dampak lain. Ketika orang tua ingin memberikan yang terbaik, sehingga menerapkan pola asuh berlebihan, dapat menumbuhkan bibit-bibit perundung kelak. Sebagai contoh, parenting otoriter yang selalu mendikte anak melakukan apa yang diperintahkan orang tua, selalu meminta anak menyelesaikan masalah dengan agresif. Pada kasus tersebut, output perilaku anak tidak jauh berbeda. Anak-anak yang mencontoh orang tua mereka seperti itu bisa jadi di luar akan mencari orang yang lebih lemah sebagai samsak pelampiasan. Sifat mereka jauh lebih keras dan enggan mengalah. Contoh lainnya, yaitu parenting yang memanjakan, ketika orang tua justru meng-iya-kan apa kemauan anak dari a sampai za. Pola asuh seperti itu bakal membentuk pribadi anak yang tidak kenal aturan, menyebabkan mereka merasa bebas melakukan perundungan pada orang lain.

Faktor Lingkungan Pergaulan
Faktor selanjutnya merujuk pada lingkungan pergaulan dimana seseorang itu berada. Khususnya anak-anak yang masih berada di masa tumbuh kembangnya, memilih lingkaran pergaulan yang baik dapat membantu kepribadian anak beranjak lebih baik juga. Hal ini disebabkan, ketika orang-orang mulai bergaul, kerap kali membentuk sebuah kelompok kecil atau besar. Meskipun tidak tertulis, setiap kelompok ini memiliki aturan dan kebiasaan yang akan dilakukan oleh para anggotanya. Anggota yang ingin diterima dalam kelompok tersebut, harus melakukan apa yang dilakukan oleh kelompok itu agar diterima dengan baik. Jika perilaku yang dilakukan cenderung negatif, maka tidak menutup kemungkinan tindakan tersebut dapat menjalar serta merajalela. Pelaku perundungan bisa berasal dari kelompok yang jumlahnya pasti lebih dari satu orang, sedangkan targetnya belum tentu kelompok, bisa jadi hanya individu yang tidak berani melawan. Faktor ini jadi reminder orang-orang untuk selalu memilih circle yang tepat. Baik anak-anak atau orang dewasa, semua bisa terjerumus pada kelompok yang salah. Saat dirasa sebuah lingkungan sebaya sudah tidak nyaman, maka jangan ragu untuk memisahkan diri. Jadilah pribadi yang berani melawan, melindungi, serta melaporkan. Ajaklah kelompok pertemanan menjadi agen anti-bullying agar kasus perundungan menurun atau hilang.
Faktor Media Sosial
Di era yang serba canggih, media sosial menjadi kebutuhan pokok manusia di bumi. Media sosial menjadi tempat orang-orang mencari serta berbagi berbagai topik informasi yang cepat dan efisien. Orang tidak perlu bertemu langsung, cukup ketikan sesuatu di media sosial, lalu kirim. Namun, kemudahan menggunakan media sosial tidak bisa disaring, sehingga apapun yang dikirim akan menjadi konsumsi publik. Sayangnya, dampaknya bisa menjurus pada bullying secara online. Kondisi ini disebut cyberbullying, yaitu perundungan melalui dunia maya, khususnya media sosial. Saat seseorang sudah memiliki akun media sosial, maka mereka akan mendapatkan segala fitur yang diberikan oleh pengelola media tersebut. Mereka bebas mengirimkan gambar, video, hingga ujaran kebencian berbentuk tulisan untuk menyakiti orang lain. Lebih parahnya, akun yang digunakan bisa disembunyikan, dihilangkan, atau dihapus secara permanen. Hal ini sangat memberikan keleluasaan bagi para perundung melakukan aksinya, bersembunyi di balik akun anonim, kemudian lenyap begitu saja setelah berhasil melukai targetnya. Perundungan di media sosial bisa dikatakan lebih parah, karena kita tidak tahu secara pasti siapa pelaku dibalik akun perundung tersebut. Tiba-tiba saja, sikap seseorang berubah di kehidupan nyata akibat cyberbullying yang diterimanya. Satu orang melakukan perundungan dengan menuliskan ujaran kebencian, lalu diikuti oleh orang lain yang menuliskan hal serupa, seolah menghalalkan perundungan secara masif di dunia maya. Tindakan negatif itu dipertontonkan secara umum, dinikmati oleh segala usia, termasuk anak-anak di bawah umur. Hal yang lebih menyeramkan, dari sosial media, dibawa menuju ke dunia nyata. Maka, jangan heran kalau orang-orang zaman sekarang semakin kreatif dalam melakukan bullying verbali pada sesamanya.

Perundungan tidka bisa dibenarkan dalam kondisi apapun. Siapapun pelaku perundungan memang harus mendapatkan hukuman sesuai apa yang dilakukannya. Perundungan, tidak terjadi begitu saja karena naluriah, tetapi ada latar belakang yang mendorong pelaku menyakiti orang lain dalam hal fisik ataupun psikisnya. Maka dari itu, melindungi diri dari para perundung adalah kewajiban masing-masing manusia. Jangan takut untuk melaporkan tindak bullying pada pihak yang lebih kuat. Selalu awasi dan jaga anak-anak dalam pergaulan di dunia nyata maupun sosial media. Jangan biarkan masa depan hancur akibat perundungan yang menimpa.
Featured image: pexels.com/RDNE stock project