Thea News
LifeStyle // 2026 Lea

Kenali Faktor Burnout, Penurunan Motivasi Kerja di Masa Muda

Burnout menjadi sahabat dekat untuk anak muda. Faktor penyebabnya cukup beragam, tapi secara umum dapat dikelompokan menjadi beberapa hal yang bisa dikenali dari kehidupan sehari-hari.

Pernahkah kamu merasakan lelah fisik secara berlebihan, emosi yang tidak stabil, serta perasaan tidak nyaman ketika bekerja atau melakukan aktivitas tertentu? Kondisi ini biasa disebut dengan burnout. Merujuk dari American Psychological Association, burnout merupakan situasi ketika seseornag mengalami penurunan motivsi dengan ditandai berbagai tanda-tanda dari fisik serta mental yang menjurul ke hal negatif baik kepada diri sendiri atau orang lain. Konisi burnout dapat dipicu dari menumpuknya rasa stres setiap hari sebab beban berlebih. Burnout memang terkadang tidak terlihat. Orang yang mengalaminya sering tidak sadar atau menolak tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mungkin, itu hanya perasaan letih saja setelah bekerja atau aktivitas rutin, bukan sesuatu yang perlu dipedulikan sebegitunya. Namun, burnout dapat berubah menjadi topik yang serius saat terlambat ditangani. Apalagi waktu orang memilih jalan menyibukkan diri menggunakan pekerjaan lain. 

 

Lantas, apa sebenarnya yang memicu burnout ini?

 

Beban Kerja Berlebih

 

Penyebab burnout yang paling umum terjadi pada usia produktif yaitu tentang beban kerja setiap harinya. Usia produktif di sini meruju pada angka dimana orang-orang masih mampu berakivitas dan mengaasilkan sesuatu secara maksimal. Tentu, orang butuh bekerja untuk memenuhi apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Khususnya di angka 20-40 tahunan, dimana seseorang sedang pada titik gairahnya dalam menjelajahi dunia. Tidak masalah itu dilakukan, asalkan tetap melihat workload yang diberikan. Seseorang memiliki batas dalam mengerjakan sesuatu, baik secara kualitas maupun kuantitas. Ketika orang dipaksa melebihinya, maka tubuh, pikiran, serta mental secara otomatis bersinergi membentuk strategi untuk mencapai titik tersebut. Hanya saja, sering terjadi ketidakseimbangan. Saat tubuh mampu, belum tentu mental bisa mengimbanginya, juga sebaliknya. Belum lagi tentang bagaimana penghargaan yang kurang diberikan. Bagaimanapun, manusia memiliki nurani dalam menerima sanjungan atau pujian sebagai apresesiasi yang telah diupayakannya, mereka tidak akan menolak. Namun, sayangnya di beberapa kasus, nilai-nilai seperti ini kurang diperhatikan. Hasilnya tetap menumpuk pada individu dan akhirnya burnout

 

Kurangnya Dukungan
 

Mandat yang diberikan pada seseorang untuk menuntaskan pekerjaan menjadi sebuah tanggung jawab yang besar. Tentu, seseorang dipilih karena punya kemampuan yang diakui untuk menyelesaikannya. Walaupun terkadang, orang tidak akan bisa berdiri sendiri dalam proses pelaksanaannya. Tetap harus ada pihak-pihak lain yang memberikan dukungan positif, misalnya afirmasi positif atau tindakan lain. Misalnya, ketika seorang anak harus belajar giat agar diterima di universitas impiannya. Memang, anak itu akan melakukannya sendiri, tapi orang tua atau teman bisa jadi penopang di belakangnya. Tidak harus ditemani setiap hari, cukup tanyakan bagaimana kabar, perlu bantuan apa, atau sampai mana progres yang ingin dicapai. Contoh lain saat seorang pekerja yang diberi proyek besar. Atasan yang memberikan tanggung jawab itu tidak bisa lepas tangan. Menjalin komunikasi secara berkala mampu memberikan dukungan moral pada para pekerjanya. Hubungan antara keduanya bisa terjalin lebih erat. Jadi, dukungan sangat diperlukan dalam aktivitas sehari-hari untuk menghindari burnout

 

Source: pexels.com/Anna Shvets

 

Peran Ganda

 

Faktor ini masih ada kaitannya dengan faktor banyaknya pekerjaan yang harus dilaksanakan. Biasanya, pekerjaan yang menumpuk terjadi karena adanya double job atau bahkan lebih. Sering ditemukan kasus saat orang juga mengerjakan apa yang tidak seharusnya dikerjakan. Contohnya, saat seorang sekretaris tetapi harus mengurus keuangan. Pekerjaan utamanya bisa jadi terhambat, sedangkan tanggung jawab tambahannya tidak diselesaikan secara optimal. Hasilnya, pekerjaan yang diberikan tidak dapat dituntaskan maksimal. Kondisi ini membuat ketidakjelasan peran yang diterima oleh seseorang. Penambahan pekerjaan yang bukan bidangnya justru membuat beban kerja jadi dua kali lebih berat, baik fisik yang harus diforsir dan mental yang entah siap tidak siap harus menghadapi urusan baru. Pada sejumlah orang bahkan rasa stres itu bisa muncul sebelum pekerjaan dilakukan. Jadi, bisa disimpulkan bahwa double job yang tidak sesuai kompetensi hanya membuat bingung, ketidakjelasan, serta identitas lambat laun memudar sendirinya. 

 

Lingkungan yang Tidak Kondusif
 

Lingkungan menjadi salah satu hal yang dekat dengan manusia. Walaupun merupakan faktor eksternal, keadaan lingkungan dapat mempengaruhi tindakan serta perasaan seseorang. Lingkungan yang baik, pastinya mampu membawa suasana lebih nyaman, ringan, sehingga ketika seseorang harus menyelesaikan pekerjaan beratpun bisa tuntas dengan maksimal. Berbeda dari lingkungan toxic, dimana keadaan serasa tidak kondusif. Bisa jadi suara bising yang mengganggu konsentrasi, konflik antar pekerja yang tidak ada habisnya, budaya kerja yang buruk, atau kurangnya apresiasi dari atasan memberikan beban tak kasat mata yang semakin berat. Menghadapi situasi seperti ini, orang tentu sadar harus segera keluar, tapi alasan lain menahannya, mulai dari masih ada kewajiban yang belum selesai, ekonomi, sampai sulitnya cari pengganti bila tanggung jawab itu dilepas. Bak terperangkan di dalam labiran yang tak berujung, waktu menghadapi lingkungan toxic memang serba salah dan parahnya diri sendiri nanti yang jadi korbannya. 

 

Source: pexels.com/cups of couple


 

Kurangnya Work-Life Balance
 

Manusia memang dapat berperan menjadi apa saja, umumnya jadi versi diri sendiri dan versi ketika bekerja, menyesuaikan keadaan. Dari setiap keadaan, harus ada tembok pembatas untuk memberikan pembeda, kapan bisa bersantai dan serius dalam bekerja. Sayangnya, masalah ini masih kerap terjadi di antara para pekerja, dimana mereka kesulitan dalam membedakan waktu bekerja dan beristirahat. Hal ini dapat terjadi karena masalah banyak pekerjaan yang harus digarap. Pekerjaan-pekerjaan itu tidak bisa diselesaikan dalam waktu singka atau sebatas 8 jam kerja di kantor, sedangkan masa tenggatnya terlalu singkat. Solusi akhirnya hanya membawa pekerjaan itu ke rumah dan menggunakan waktu istirahat untuk menyelesaikannya. Kelihatannya efektif ketika seseorang bersikap impulsif mengejar target sebegitunya. Padahal, justru inilah yang menjadi bibit-bibit burnout di kemudian hari. Keseimbangan antara hidup normal dan bekerja jadi bias, tidak ada batas. Setelah lelah bekerja di rumah, tubuh justru akan ambruk saat seharusnya bekerja di kantor. Kegiatan yang terus berulang-ulang menuntut manusia menuju kehidupan terbalik. Lingkup sosialpun ikut mengecil sebab kurangnya waktu bersosialisasi. Individu semakin terisolasi dalam kesibukan yang membuat stres itu tak terbendung lagi. 
 

Burnout lumrah terjadi di antara anak-anak muda usia produktif, khususnya usia pekerja. Masa muda memang waktu gemilang untuk memberdayakan diri melalui banyak kegiatan. Namun, jangan sampai kamu terlalu tenggelam dalam aktivitas, sampai lupa siapa jati diri sebenarnya. Boleh saja ketika kamu mengerjakan sesuatu yang disukai, tapi berilah jeda dan tetapkan batas kapan harus berhenti serta mulai kembali. Kenali potensi diri untuk memudahkan mengambil tanggung jawab setiap harinya. Luangkan waktu bersosialisasi, hang out, me time, atau apapun yang dapat menyegarkan fisik juga pikiran. Burnout bukan hal yang tiba-tiba ada begitu saja. Burnout hadir dari waktu ke waktu, berawal merasa tidak terjadi masalah apapun, sampai akhirnya berubah wujud jadi bom waktu yang meledak kapan saja.  

 

Featured image: pexels.com/www.kaboompics.com

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Seni Menolak: Bagaimana Berkata ‘Tidak’ Bisa Menyelamatkan Kesehatan Mentalmu

Next Entry

Menjadi Kompas dan Jangkar: Peran Ayah sebagai Cerminan dan Penyelamat Tumbuh Kembang Anak

Next Entry

Slow Living: Gaya Hidup Santai yang Membantu Menikmati Hidup dengan Lebih Bermakna