Thea News
Hot News // 2026 Rima R Noviana

Macklemore Mendapat Dukungan dari Finneas, Lukas Graham dan Donasikan Hasil Konser untuk Palestina Usai Didepak dari Tur Ed Sheeran

Macklemore tetap teguh dukung Palestina dan donasikan seluruh hasil konser usai dikeluarkan dari tur Ed Sheeran. Aksi ini didukung solidaritas massal Finneas, Aaron Rowe, Lukas Graham, dan Beoga.

Gelombang solidaritas global untuk Palestina kembali mencatatkan momen penting di industri musik internasional. Rapper asal Amerika Serikat, Macklemore, menunjukkan keteguhan sikap yang luar biasa setelah dirinya dikeluarkan dari jajaran penampil pembuka (opener) dalam rangkaian tur konser penyanyi asal Inggris, Ed Sheeran. Keputusan kontroversial tersebut diambil setelah Macklemore secara terbuka menyuarakan dukungan penuh bagi kemerdekaan Palestina dan mengkritik kebijakan yang menindas warga sipil di Jalur Gaza melalui lagu protesnya yang berjudul HIND'S HALL.

 

​Kendati harus menerima konsekuensi kehilangan panggung besar berskala internasional, pelantun lagu Thrift Shop ini sama sekali tidak surut langkah. Bahkan, aksi pemecatan sepihak ini justru memicu gelombang solidaritas yang masif dari para musisi lintas genre. Sejumlah penampil pembuka lainnya, yakni Finneas, Aaron Rowe, Lukas Graham, dan grup musik tradisional asal Irlandia, Beoga, secara kesatria mengambil keputusan besar untuk mundur secara massal sebagai bentuk protes atas perlakuan tidak adil terhadap Macklemore serta sebagai wujud pembelaan terhadap isu kemanusiaan di Palestina.

 

​Kronologi Pemecatan dan Kontroversi Lagu HIND'S HALL

​Ketegangan antara pihak manajemen tur dan Macklemore bermula dari konsistensi sang musisi dalam menggunakan panggung serta karya seninya untuk menyuarakan ketidakadilan global. Beberapa waktu lalu, Macklemore merilis sebuah lagu berjudul HIND'S HALL, yang namanya diambil dari Hall Hind, sebuah gedung di Universitas Columbia yang sempat diubah namanya oleh para mahasiswa demonstran pro-Palestina untuk mengenang Hind Rajab, seorang anak korban perang di Gaza.

 

Source: Instagram/Macklemore 

 

​Lagu tersebut berisi kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, industri militer, serta opresi yang dialami oleh rakyat Palestina. Video musik dan liriknya dengan cepat viral di berbagai platform media sosial, mendulang jutaan penayangan, dan mendapatkan pujian luas dari para aktivis hak asasi manusia. Namun, di sisi lain, sikap vokal ini dinilai mengusik kenyamanan sejumlah pihak di industri hiburan komersial arus utama.

 

​Menjelang bergulirnya jadwal tur bersama Ed Sheeran, pihak penyelenggara secara mendadak mengumumkan bahwa Macklemore dicoret dari daftar penampil pembuka. Keputusan ini langsung memicu kecaman dari para penggemar musik di seluruh dunia. Banyak pihak menyayangkan langkah promotor yang dianggap melakukan pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat, terutama ketika menyangkut isu kemanusiaan universal seperti genosida dan krisis pangan di Gaza.

 

Aksi Solidaritas Massal: Finneas, Aaron Rowe, Lukas Graham, dan Beoga Mundur

​Alih-alih meredam situasi, pencoretan Macklemore justru melahirkan sebuah gerakan solidaritas yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan musisi pembuka tur tersebut. Sebagai bentuk penolakan terhadap tindakan sensor dan diskriminasi politik di panggung musik, empat penampil lainnya memutuskan untuk mengundurkan diri secara serentak.

 

Source: Instagram/Finneas 

 

​Finneas, musisi dan produser pemenang Grammy Awards yang juga adik kandung dari Billie Eilish, menyatakan bahwa dirinya tidak bisa tinggal diam ketika seorang seniman dibungkam hanya karena menyuarakan kebenaran dan kemanusiaan.

 

Source: Instagram/aaronrowe__

 

​Aaron Rowe, penyanyi berbakat yang dikenal dengan vokal emosionalnya, turut menyatakan mundur guna menegaskan bahwa panggung seni seharusnya menjadi ruang bagi empati, bukan ketakutan akan tekanan politik.

 

 

Source: Instagram/lukasgraham 

 

​Lukas Graham, band pop asal Denmark yang terkenal lewat hits global 7 Years, mengambil langkah serupa dengan menarik diri dari jadwal konser, menunjukkan bahwa prinsip moral jauh lebih berharga daripada kontrak komersial yang menggiurkan.

 

 

Source: Instagram/beogamusic

 

​Beoga, grup musik folk asal Irlandia yang terkenal lewat kolaborasi ikoniknya bersama Ed Sheeran dalam lagu Galway Girl, juga memilih keluar dari jajaran penampil sebagai wujud solidaritas yang mengakar kuat pada sejarah perjuangan kebebasan rakyat Irlandia.

 

​Keputusan kolektif kelima musisi dan grup ini memberikan pukulan telak bagi narasi penyelenggara konser. Langkah mereka membuktikan bahwa solidaritas lintas batas negara dan genre musik mampu melampaui kepentingan industri hiburan komersial semata.

 

​Komitmen Nyata: Mendonasikan Seluruh Hasil Penampilan untuk Palestina

​Di tengah tekanan dan badai kontroversi yang menerpa kariernya, Macklemore memilih untuk merespons situasi ini dengan tindakan nyata yang berorientasi pada kemanusiaan. Dalam sebuah pernyataan resmi yang diunggah melalui akun media sosial pribadinya, musisi bernama asli Ben Haggerty ini menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah berhenti bersuara untuk warga Palestina yang menderita akibat konflik berkepanjangan.

 

​Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan kecintaannya pada perdamaian, Macklemore mengumumkan sebuah langkah luar biasa: ia memutuskan untuk mendonasikan seluruh hasil keuntungan finansial dari penampilan-penampilannya yang terkait dengan proyek tersebut langsung kepada badan amal kemanusiaan yang beroperasi di Jalur Gaza. Dana tersebut dialokasikan untuk penyediaan kebutuhan darurat seperti makanan siap saji, air bersih, obat-obatan medis, serta tenda pengungsian bagi anak-anak dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

 

​"Uang dan panggung besar bisa dicabut kapan saja, tetapi hati nurani dan kemanusiaan tidak akan pernah bisa dibeli atau dibungkam. Apa yang terjadi di Palestina adalah tragedi kemanusiaan terbesar abad ini, dan sebagai manusia, kita memiliki kewajiban moral untuk berdiri di sisi yang benar dari sejarah," ungkap Macklemore dalam pesannya yang menyentuh jutaan warganet.

 

​Dampak Positif dan Reaksi Publik Global

​Keputusan berani yang diambil oleh Macklemore bersama Finneas, Aaron Rowe, Lukas Graham, dan Beoga mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari berbagai elemen masyarakat internasional. Tagar dukungan untuk Macklemore dan seruan boikot terhadap pihak-pihak yang mencoba membungkam suara Palestina sempat mendominasi jajaran trending topic di platform X (sebelumnya Twitter) dan Instagram selama beberapa hari berturut-turut. ​Banyak pengamat industri musik berpendapat bahwa peristiwa ini menandai pergeseran paradigma yang signifikan. Para musisi muda masa kini tidak lagi mau bersikap apolitis terhadap isu-isu kemanusiaan global. Mereka menyadari bahwa pengaruh besar yang mereka miliki melalui media sosial dan karya seni harus digunakan secara bertanggung jawab untuk membela mereka yang tertindas.

 

​Bagi warga Palestina dan para aktivis perdamaian di seluruh dunia, kehadiran figur publik sebesar Macklemore memberikan suntikan moral yang amat berharga. Dukungan finansial melalui donasi penuh hasil penampilan tersebut juga memberikan dampak langsung yang nyata di lapangan, membantu meringankan beban hidup masyarakat Gaza yang hancur akibat blokade dan serangan militer.

 

​Kisah ini tidak hanya mencerminkan keteguhan seorang seniman di tengah tekanan industri, tetapi juga menjadi bukti abadi bahwa seni dan musik akan selalu menemukan jalannya untuk menyuarakan keadilan, cinta kasih, dan kemanusiaan tanpa batas teritori. Peristiwa bersejarah ini pada akhirnya membuka mata publik luas bahwa industri hiburan internasional tidak lagi kebal terhadap isu-isu kemanusiaan global yang mendesak. Ketika para seniman besar berani mempertaruhkan kontrak bernilai fantastis demi mempertahankan integritas moral mereka, batas antara dunia hiburan dan tanggung jawab sosial menjadi semakin melebur. Gelombang dukungan yang terus mengalir dari berbagai penjuru dunia menunjukkan bahwa suara kebenaran tidak akan pernah bisa diredam oleh sensor korporasi maupun tekanan politik mana pun, melainkan akan terus bergema melintasi batas negara demi menegakkan keadilan sejati bagi seluruh rakyat Palestina yang tertindas.

 

FREE, FREE, PALESTINE!!

 

 

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Faktor Keamanan, Konser T.O.P PRE-STUDIO dan MAMAMOO 2026 World Tour di Jakarta Batal

Next Entry

Cara Membersihkan Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Perlindungan Kesehatan yang Tepat

Next Entry

Bertemu dan Melebur Lewat Kopi dalam Jogja Coffee Week #6