Thea News
LifeStyle // 2026 Arbia Zahira

Mengapa Makanan Pedas Tidak Pernah Kehilangan Penggemar?

Mengapa makanan pedas selalu populer? Yuk, ketahui rahasia di balik sensasi panas kapsaisin, faktor genetik, toleransi lidah, serta perkembangan budayanya!

Makanan pedas seolah tidak pernah benar-benar kehilangan tempat di hati penggemarnya. Dari sambal yang selalu tersedia di meja makan, mi dengan tingkat kepedasan berlapis, ayam geprek, seblak, hingga berbagai makanan dengan cabai melimpah, makanan pedas terus muncul dalam berbagai bentuk. Bahkan ketika satu tren makanan pedas mulai mereda, biasanya tidak membutuhkan waktu lama sampai muncul makanan pedas lainnya yang menjadi perbincangan. Menariknya, tidak semua orang sebenarnya menyukai sensasi terbakar di mulut. Ada orang yang baru mencicipi sedikit cabai sudah merasa kepedasan, sementara orang lain justru merasa makanan kurang nikmat jika tidak disertai sambal. Ada pula yang sengaja mencari makanan dengan tingkat kepedasan semakin tinggi hanya untuk menguji kemampuan dirinya. Lantas, mengapa makanan pedas bisa mempunyai penggemar yang begitu banyak dan bertahan dari waktu ke waktu? Apakah penyebabnya hanya kebiasaan, atau faktor seperti lingkungan, budaya, bahkan genetik juga ikut berpengaruh? Jawabannya ternyata tidak sesederhana “karena orang suka pedas”.

 

Pedas Bukan Sekadar Rasa, tetapi Sensasi

 

https://www.instagram.com/ariesskuliner/

 

Sebelum membahas alasan orang menyukai makanan pedas, ada satu hal menarik yang perlu diketahui. Pedas sebenarnya bukan rasa dasar seperti manis, asin, asam, pahit, atau umami. Sensasi pedas muncul karena senyawa bernama kapsaisin yang banyak terdapat pada cabai. Ketika seseorang mengonsumsi cabai, kapsaisin berinteraksi dengan reseptor tertentu di tubuh yang juga berkaitan dengan sensasi panas dan rasa sakit. Karena itu, otak dapat menerima sinyal seolah-olah bagian tubuh yang terkena kapsaisin sedang mengalami panas. Inilah yang membuat mulut terasa terbakar, tubuh berkeringat, wajah memerah, atau hidung terasa berair setelah makan makanan yang sangat pedas. Namun, hal yang menarik adalah sensasi tersebut tidak selalu dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Bagi penggemar makanan pedas, rasa panas dan terbakar justru menjadi bagian dari kenikmatan makan. Mereka tidak hanya mencari rasa cabai, tetapi juga sensasi yang menyertainya. Itulah sebabnya seseorang bisa kepedasan sampai berkeringat, tetapi beberapa menit kemudian malah mengambil sambal lagi. Bagi orang yang tidak terbiasa, hal tersebut mungkin terdengar aneh. Namun, bagi pencinta pedas, sensasi tersebut sudah menjadi bagian dari pengalaman menikmati makanan.

 

Kenapa Ada Orang yang Suka Makanan Pedas?

 

Tidak ada satu alasan yang berlaku untuk semua orang. Kesukaan terhadap makanan pedas dapat terbentuk dari berbagai hal, mulai dari kebiasaan sejak kecil, pengalaman makan, lingkungan, hingga tingkat sensitivitas masing-masing terhadap rasa pedas. Kebiasaan sejak kecil menjadi salah satu faktor yang cukup mudah diamati. Seseorang yang tumbuh di keluarga yang sering menyediakan sambal atau makanan bercabai kemungkinan lebih terbiasa dengan sensasi pedas dibandingkan seseorang yang sejak kecil jarang mengonsumsi cabai. Semakin sering seseorang terpapar makanan pedas, semakin familiar pula sensasi tersebut baginya. Hal ini juga dapat membuat tingkat toleransi terhadap pedas terasa berbeda. Makanan yang dahulu dianggap sangat pedas bisa saja terasa biasa setelah seseorang terbiasa mengonsumsinya. Meski begitu, peningkatan toleransi bukan berarti setiap orang dapat terus meningkatkan tingkat kepedasan tanpa batas. Kemampuan setiap orang tetap berbeda. Pengalaman makan juga berperan. Jika makanan pedas yang dikonsumsi terasa lezat, seseorang dapat menghubungkan sensasi pedas dengan pengalaman makan yang menyenangkan. Lama-kelamaan, pedas bukan lagi sesuatu yang harus dihindari, tetapi justru menjadi bagian yang dicari. Sebaliknya, seseorang yang pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan karena terlalu pedas mungkin menjadi lebih berhati-hati atau bahkan tidak menyukai makanan pedas. Jadi, kesukaan terhadap cabai tidak hanya berkaitan dengan lidah, tetapi juga dengan pengalaman seseorang terhadap makanan tersebut.

 

Apakah Faktor Genetik Ikut Menentukan Seseorang Suka Pedas?

 

Pertanyaan tentang genetik juga menarik karena kemampuan orang dalam menghadapi makanan pedas memang berbeda-beda. Ada orang yang dapat menikmati cabai dengan santai, sedangkan orang lain langsung merasa tidak nyaman setelah mencicipi sedikit saja. Faktor genetik dapat ikut memengaruhi bagaimana seseorang merasakan rasa dan sensasi tertentu, termasuk perbedaan sensitivitas terhadap rangsangan yang muncul ketika mengonsumsi makanan pedas. Namun, hal ini tidak berarti terdapat “gen suka pedas” yang membuat seseorang otomatis menjadi pencinta sambal. Kesukaan terhadap makanan pedas merupakan hasil dari banyak faktor yang saling berhubungan. Genetik mungkin berperan dalam menentukan sensitivitas seseorang, tetapi lingkungan dan kebiasaan juga sangat penting. Seseorang yang sejak kecil terbiasa makan pedas tetap dapat mempunyai tingkat kesukaan yang berbeda dengan orang lain meskipun mereka tumbuh dalam lingkungan yang sama. Karena itu, kurang tepat jika mengatakan bahwa orang yang suka pedas pasti memiliki faktor genetik tertentu, sedangkan orang yang tidak tahan pedas berarti memiliki gen yang berbeda. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Sederhananya, setiap orang bisa merasakan pedas dengan cara yang berbeda. Faktor bawaan dari tubuh mungkin ikut berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah seseorang suka atau tahan makan pedas. 

 

Mengapa Orang Asia, Termasuk Indonesia, Terlihat Lebih Akrab dengan Makanan Pedas?

 

Kalau membicarakan makanan pedas, Asia memang sulit dilepaskan dari pembahasan. Indonesia memiliki sambal dalam berbagai jenis, Thailand terkenal dengan berbagai masakan bercabai, Korea mempunyai berbagai makanan dengan rasa pedas, sementara India dan sejumlah negara Asia lainnya juga memiliki tradisi kuliner yang menggunakan cabai dan rempah dalam jumlah cukup banyak. Namun, bukan berarti semua orang Asia suka pedas atau orang Eropa tidak menyukai makanan pedas. Pernyataan seperti “orang Asia lebih tahan pedas karena faktor genetik” juga terlalu sederhana. Perbedaan kebiasaan makan antar kawasan lebih masuk akal jika dilihat dari sejarah, budaya, lingkungan, dan perkembangan kuliner masing-masing. Cabai sendiri bukan tanaman asli Asia. Tanaman ini berasal dari benua Amerika dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia setelah terjadinya pertukaran tanaman antarbenua. Setelah sampai di wilayah baru, cabai kemudian diolah dan disesuaikan dengan bahan serta tradisi makanan setempat. Di Indonesia, misalnya, cabai akhirnya menjadi bagian penting dalam berbagai jenis sambal dan masakan daerah. Kebiasaan mengonsumsi makanan dengan cabai pun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akibatnya, bagi banyak masyarakat Indonesia, rasa pedas terasa sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Hal serupa terjadi di sejumlah wilayah Asia lainnya, meskipun bentuk makanan dan jenis cabainya berbeda. Artinya, tingginya popularitas makanan pedas di berbagai negara Asia lebih tepat dipahami sebagai hasil perkembangan budaya kuliner daripada bukti bahwa masyarakat Asia secara bawaan lebih menyukai pedas. Sementara itu, bukan berarti Eropa atau wilayah lain sama sekali tidak mempunyai budaya makanan pedas. Makanan bercabai juga dapat ditemukan di berbagai negara di luar Asia. Hanya saja, tingkat penggunaannya dan posisi cabai dalam tradisi kuliner setiap wilayah memang berbeda.

 

Dari Sambal hingga Makanan Pedas Kekinian

 

https://www.instagram.com/seblak_jeletet_murni/

 

Salah satu alasan makanan pedas mampu bertahan begitu lama adalah kemampuannya beradaptasi. Cabai dapat digunakan dalam banyak jenis makanan dan dipadukan dengan berbagai rasa. Rasa pedas juga bisa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari cabai segar, sambal, cabai bubuk, hingga saus pedas, sehingga mudah disesuaikan dengan berbagai jenis makanan. Pedas bisa bertemu dengan rasa asin, gurih, manis, asam, atau berlemak tanpa harus menghilangkan karakter makanan utamanya. Bahkan, rasa pedas juga dapat dipadukan dengan berbagai saus dan bahan lain, seperti keju, mayones, saus tomat, atau saus manis, sehingga menghasilkan kombinasi rasa yang berbeda. Di Indonesia, contohnya sangat mudah ditemukan. Sambal dapat menemani nasi, ayam goreng, ikan, mi, gorengan, hingga berbagai makanan tradisional. Dalam perkembangan kuliner modern, rasa pedas kemudian masuk ke makanan yang sebelumnya tidak selalu identik dengan cabai. Makanan pedas juga mudah dikembangkan menjadi berbagai tingkat kepedasan. Konsep “level” membuat konsumen dapat memilih tingkat kepedasan yang sesuai dengan kemampuannya. Pada saat yang sama, tingkat kepedasan juga dapat menjadi daya tarik tersendiri. Karena itu, makanan pedas bukan sekadar mengikuti tren. Cabai sudah telanjur menjadi bagian dari banyak tradisi makanan sehingga selalu mempunyai ruang untuk berkembang. Bentuk makanannya dapat berubah, bahan pendampingnya bisa bermacam-macam, tetapi kegemaran terhadap rasa pedas dapat terus muncul dalam bentuk baru.

 

Mengapa Pedas Bisa Membuat Makanan Terasa Lebih Menarik?

 

Bagi sebagian orang, makanan tanpa rasa pedas mungkin terasa kurang lengkap. Hal tersebut bukan selalu karena makanan tersebut benar-benar kurang rasa, tetapi karena pedas memberikan sensasi tambahan yang membuat pengalaman makan terasa lebih menarik. Rasa pedas juga sering menjadi pasangan bagi rasa lainnya. Sambal yang pedas dapat memiliki rasa asin, asam, manis, atau gurih pada saat yang sama. Kombinasi tersebut membuat pengalaman makan menjadi lebih kompleks dibandingkan sekadar merasakan panas dari cabai. Sensasi pedas juga dapat membuat seseorang lebih memperhatikan makanan yang sedang dikonsumsi. Ada rasa panas yang muncul, kemudian berkurang, lalu seseorang kembali mencicipi makanan tersebut. Bagi penggemarnya, rangkaian sensasi ini justru menjadi sesuatu yang menyenangkan. Pada tingkat tertentu, menikmati makanan pedas bahkan dapat menjadi tantangan kecil bagi diri sendiri. Seseorang mungkin penasaran apakah dirinya sanggup mencoba tingkat kepedasan berikutnya. Dari sinilah muncul kebiasaan mencoba makanan yang semakin pedas, meskipun tentu saja kemampuan setiap orang berbeda.

 

Makanan Pedas Mudah Menjadi Tren

 

Makanan pedas juga mempunyai keunggulan yang membuatnya mudah menarik perhatian. Reaksi seseorang ketika kepedasan biasanya terlihat jelas. Wajah berubah, keringat muncul, seseorang mungkin tertawa, terbatuk, atau buru-buru mencari minuman. Reaksi seperti ini membuat makanan pedas cukup menarik untuk dibicarakan dan dibagikan. Tidak mengherankan jika makanan dengan tingkat kepedasan tertentu sering muncul sebagai tantangan. Konsumen tidak hanya membeli makanan untuk menikmatinya, tetapi juga karena penasaran ingin mengetahui seberapa kuat dirinya menghadapi rasa pedas. Fenomena tersebut kemudian dapat berkembang menjadi tren kuliner. Satu makanan pedas menjadi populer, lalu muncul variasi baru dengan tingkat kepedasan berbeda. Setelah tren tersebut mulai mereda, konsep serupa dapat muncul kembali dalam bentuk makanan lain. Namun, tren semacam ini juga perlu dilihat secara wajar. Tingkat kepedasan yang tinggi bukan berarti otomatis membuat makanan menjadi lebih enak. Bagi sebagian orang, rasa pedas ekstrem justru dapat menutupi rasa asli makanan. Jadi, semakin pedas bukan berarti semakin berkualitas.

 

Pedas Juga Menjadi Bagian dari Pengalaman Sosial

 

Ada alasan lain yang sering luput dari pembahasan, yaitu makanan pedas dapat menjadi pengalaman yang dilakukan bersama orang lain. Makan bersama teman sambil mencoba sambal baru, membandingkan tingkat kepedasan, atau sekadar bercanda karena salah satu orang mulai kepedasan dapat membuat makanan terasa lebih berkesan. Dalam banyak keluarga di Indonesia, sambal juga sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan bersama. Satu meja bisa menyediakan beberapa jenis sambal sehingga setiap orang dapat menentukan sendiri jumlah yang ingin dikonsumsi. Karena itu, makanan pedas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan lidah seseorang. Ada unsur budaya dan sosial yang membuatnya terus bertahan. Pedas dapat menjadi bagian dari kebiasaan keluarga, makanan daerah, pengalaman bersama teman, hingga identitas kuliner suatu tempat.

 

Tidak Semua Orang Harus Kuat Makan Pedas

 

Meskipun makanan pedas mempunyai banyak penggemar, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang menyukai atau mampu mengonsumsi makanan dengan tingkat kepedasan yang sama. Toleransi terhadap pedas berbeda-beda, dan hal tersebut bukan sesuatu yang perlu diperlombakan. Seseorang yang tidak kuat makan pedas bukan berarti kurang berani, begitu pula orang yang mampu makan banyak cabai tidak otomatis lebih hebat. Sensasi pedas pada setiap orang memang dapat terasa berbeda, sementara kebiasaan makan juga memengaruhi tingkat toleransi. Karena itu, makanan pedas sebaiknya dinikmati sesuai kemampuan masing-masing. Tidak ada alasan untuk memaksakan diri mengikuti tingkat kepedasan orang lain hanya karena takut dianggap tidak kuat. Begitu pula ketika makan bersama, jangan memaksa teman atau keluarga mengonsumsi makanan yang jauh lebih pedas daripada yang sanggup mereka nikmati. Pada akhirnya, tujuan makan adalah menikmati makanan, bukan membuktikan siapa yang paling kuat menahan rasa terbakar di mulut. Jika rasa pedas sudah membuat makanan tidak lagi terasa nikmat, menurunkan tingkat kepedasan tentu bukan sebuah kegagalan.

 

Mengapa Makanan Pedas Tetap Digemari?

 

Credit: Rachel Marek from https://www.bhg.com/

 

Makanan pedas mampu bertahan bukan karena satu alasan saja. Kesukaannya terbentuk dari perpaduan kebiasaan, pengalaman, budaya, lingkungan makanan, perbedaan sensitivitas setiap orang, serta sensasi unik yang ditimbulkan oleh cabai. Faktor genetik juga dapat memengaruhi seberapa sensitif seseorang terhadap rasa pedas, tetapi bukan berarti genetik menentukan apakah seseorang pasti suka atau tidak suka makanan pedas. Di banyak wilayah Asia, termasuk Indonesia, cabai juga sudah menjadi bagian dari perjalanan kuliner selama beberapa generasi. Karena sudah menyatu dengan berbagai makanan dan kebiasaan makan, pedas tidak mudah menghilang hanya karena muncul tren kuliner baru. Justru kemampuan untuk beradaptasi itulah yang membuat makanan pedas seolah tidak pernah kehabisan penggemar. Sambal bisa tetap menjadi teman nasi di rumah, sementara pada saat yang sama makanan pedas dengan berbagai bentuk baru dapat muncul di restoran dan menjadi tren. Pada akhirnya, tidak ada tingkat kepedasan yang paling benar. Bagi sebagian orang, sedikit sambal sudah cukup. Bagi yang lain, semakin pedas justru semakin menggugah selera. Selama dinikmati sesuai kemampuan tubuh dan tidak dipaksakan, sensasi pedas memang bisa menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman makan terasa lebih menarik.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

4 Tujuan Mengapa Sesorang Menerapkan Frugal Living

Next Entry

Mengapa Orang Betah Menonton Video Orang Lain Membersihkan Sesuatu yang Kotor? Ternyata Ini Alasannya

Next Entry

4 Gaya Hidup Negara Nordik untuk Capai Kebahagiaan