Mengenal 3 Bentuk Film dan Karateristiknya
Nonton film jadi hobi sebagian orang. Namun, tahukah kamu ada jenis-jenis film yang berbeda? Tentu, setiap bentuk punya karakter berbeda pula.
Film adalah salah satu bagian yang tidak terpisahkan bagi manusia. Hampir setiap hari di setiap negara pasti terdapat perilisan film. Bukan hanya sebagai hiburan semata, film merupakan buah karya yang berharga bagi orang-orang yang terlibat. Jadi bagian dari seni, proses pembuatan film sendiri bahkan bisa memakan waktu bertahun-tahun. Mulai dari penggarapan naskah, yang kemudian divisualisasikan menjadi gambar, dan akhirnya dijadikan live action, dimainkan para aktor berbakat. Pihak-pihak lain tentunya turut terlibat dalam penciptakan karya film, entah itu film berdurasi pendek atau panjang. Menonton film memang jadi wahana yang menyenangkan untuk sejumlah orang. Namun, dibalik hasil yang memuaskan itu, terdapat perjalanan penuh gagasan yang akhirnya terbentuk secara sempurna agar bisa dinikmati dengan nyaman.
Sebelum masuk ke dalam ide cerita, para pembuatan film biasanya sudah menentukan bentuk karya apa yang akan mereka buat. Dilansir dari laman CSinema, menurut cara bertuturnya, film bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu naratif atau bercerita dan non-naratif atau tidak bercerita. Masing-masing kelompok punya sub tema sendiri, yaitu film fiksi pada posisi naratif serta dokumenter juga eksperimental di posisi non-naratif. Pastinya, bentuk film tersebut memiliki kelebihan, kekurangan, titik sulit, atau kemudahan.
Film Fiksi

Tentu orang langsung tahu ketika mendengar kata fiksi. Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata fiksi artinya adalah cerita rekaan, khayalan, atau sesuatu yang tidak berdasar pada kenyataan. Jika dikaitkan dengan film, maka tontonan visual itu memiliki alur cerita yang tidak nyata, dibuat oleh tim kreatif, seperti penulis skenario, produser, dan sutradara. Film fiksi dibangun dari satu gagasan pokok yang selanjutnya dikembangkan menjadi rangkaian peristiwa menarik secara setruktur. Ciri khas dari film fiksi adalah plot yang runtut, memberikan pemahaman pada penonton tentang apa yang ingin disampaikan. Dibantu karakter-karakter yang juga fiksi, membawa penonton larut dalam dunia yang dibangun oleh para pelaku film. Walaupun bersifat tidak nyata, ide yang muncul dalam cerita fiksi justru berasal dari kehidupan sekitar yang nyatanya benar-benar terjadi. Premis itu diambil, lalu dipoles berubah jadi kisah yang mungkin lebih dramatis, menegangkan, atau mengandung estetika tersendiri dalam seni audio-visual. Tujuan utama dari pembuatan cerita fiksi memang sebagai hiburan. di samping itu, menonton film fiksi pun dapat menumbuhkan budaya baru yang nantinya bisa dianut oleh banyak orang. Tanpa sadar, cerita fiksi ini cermin bagi kehidupan sehari-hair yang dijalani. Fiksi pun mampu mendorong perubahan positif, memperbaiki nilai, hingga menginspirasi adanya pergerakan yang lebih baik. Film fiksi pun nantinya akan dibagi lagi jadi berbagai genre, yaitu drama, romance, action, science-fiction, thriller, horror, dan lain-lain. Masing-masing genre nanti bisa digabungkan, sehingga cerita semakin kompleks. Durasi film fiksi sangat beragam. Paling sering, bila itu komersil di bioskop biasa berkisar antara 80 menit sampai 120 menit.
Film Dokumenter

Merujuk dari kata dokumenter yang berhubungan dengan dokumentasi atau pengumpulan, pemilihan, pengolahan, serta penyimpanan informasi dalam berbagai bidang berdasarkan bukti nyata yang diambil dalam bentuk gambar, kutipan, suara, atau referensi lain. Itu artinya, dokumenter bisa disebut asebagai proses perekaman atau pendokumentasian sebuah peristiwa secara nyata, riil, tanpa dibuat-buat. Hal inipun menjadi dasar bagi pembuatan film dokumenter. Salahsatu bentuk film non-naratif tersebut biasanya memberikan sajian tentang fakta atau kejadian otentik. Mengutip dari halaman web Telkom University, dijelaskan bahwa tujuan dari film dokumenter ialah mendidik, memberikan informasi, atau mengajak orang lain dalam memahami satu topik tertentu. Film dokumenter tidak dirangkai secara rapi dan terstruktur seperti film fiksi, melainkan kejadian nyata, peraga asli di masyarakat, dan tempat dimana peritwa itu terjadi. Ciri khas dari film dokumenter dapat dilihat dari bagaimana footage yang terjadi dalam cerita, seperti wawancara, arsip, atau aktivitas faktual di lokasi. Narasi ceritanya diungkapkan secara deskripsi atau eksplanasi. Film dokumenter masih dikelompokan jadi berbagai macam jenis, diantaranya ekspositori atau penyampaian informasi langsung oleh narator, observasional atau bentuk dari kegiatan-kegiatan yang disajikan tanpa narator maupun testimoni talent, partisipatoris dimana ada interaksi langsung antara subjek dan pembuat film, refleksif yang berisi bagaimana cara merefleksikan dari sebuah film, dan performatif yang membicarakan sebuah peristiwa melalui perspektif personal. Masalah durasi, sebab dokumenter cenderug mengedukasi penonton, maka tidak diberi patokan berapa lama film itu diputar. Ada yang mungkin hanya 5 menit, 10 menit, 15 menit, 1 jam, 2 jam, hingga berjam-jam. Semua tetap bergantung pada apa yang ingin disampaikan oleh para pembuat film serta bagaimana kepadatannya.
Masih berhubungan dengan dokumenter, ada satu bagian lagi yang dikenal sebagi mokumentari. Jenis film ini menggabungkan dua kata, yaitu mock dan documenter. Mokumenter merupakan sebuah film bernuansa satir, yang kiranya kerap digunakan sebagai bentuk kritik atas isu tertentu atau memparodikan sebuah peristiwa. Mokumentari sejatinya adalah film fiksi yang terinspirasi dari kehidupan nyata, tetapi diproduksi seolah-olah itu adalah dokumenter asli. Tokoh-tokoh rekaan dijadikan seolah-olah subjek yang berinteraksi dengan pembuat film. Menggabungkan konsep imajinasi yang dikemas alami tanpa skenario apapun.
Film Eksperimental

Di samping film dokumenter, kelompok non-naratif memiliki film eksperimental. Ketik mendengar eksperimen, mungkin sebagian orang bisa memprediksi jenis film ini akan berbentuk seperti apa. Film eksperimental atau advant-garde films bukan sesuatu yang baru. Film ini merujuk pada metode pembuatan film yang berbeda dari aturan konvensional. Para pembuatan film mulai mengeksplor wadah yang berbeda dari biasanya. Perbedaan film eksperiimentasl dengan film lain bisa dilihat dari durasi, gaya, serta tujuan yang berebda-beda. Bentuk film tersebut sebenarnya tidak benar-benar berangkat dari sesuatu yang baru, melainkan memberikan evaluasi terhadap sistem lama dan diperbaharui melalui jalan yang lebih variatif. Walaupun kelihatan menarik, perjalanan film eksperimental ini ternyata cukup sulit. Bentuk film seperti ini dianggap tidak relevan, sebab terkadang aneh, berdasarkan omong kosong, hingga tidak memiliki alur cerita. Padahal, itu jadi kekeliruan yang harus diluruskan. Film eksperimental hanya melakukan sebaliknya. Para pembuat film pastinya mengambil satu ide pokok lalu dikembangkan jadi tayangan yang menjanjikan. Proses eksperimen tidak selalu ditemui di depan layar, kok. Hal ini dikarenakan pembuatan film dapat memberikan sentuhan eksperimental pada pembuatan naskah, penyuntingan gambar, materi produksi, atau teknk pengambilan gambar yang menipu. Jadi, bisa dikatakan bahwa film eksperimental memang unik. Mereka tidak selalu berbicara gamblang, tapi tetap membawakan cerita yang punya tujuan untuk penontonnya.
Tiga jenis film di atas dapat kamu temui dimana saja. Teknologi dan fasilitas yang diterima, mampu memberikan akses udah bagi kamu mencari film-film tersebut. Masing-masing punya keistimewaan, yang menjadikannya selalu layak dinikmati. Pastinya pula, setiap bentuk film punya penggemar masing-masing. Hal lain yang perlu diyakini adalah, para filmmaker pasti punya tujuan sendiri mengapa mereka mengangkat topik tersebut untuk dijadikan live action melalui fiksi, dokumenter, atau eksperimental.
Featured image: pexels.com/Martin Lopez