Thea News
Ada di Sekitarmu // 2026 Arbia Zahira

Mengenal Walkable City:
Konsep Kota yang Nyaman Dijelajahi dengan Berjalan Kaki

Pernahkah merasakan kota yang nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki? Yuk, pahami konsep walkable city, ciri, manfaat, serta contoh penerapannya di sini!

Pernahkah kamu berada di suatu kota yang terasa menyenangkan untuk dijelajahi dengan berjalan kaki? Jarak antara satu tempat dan tempat lainnya terasa masuk akal, trotoarnya nyaman, penyeberangan mudah ditemukan, dan berbagai fasilitas seperti toko, taman, tempat makan, atau halte dapat dijangkau tanpa harus terus-menerus menggunakan kendaraan. Kondisi seperti ini bukan sekadar kebetulan. Dalam perencanaan kota, ada konsep yang dikenal sebagai walkable city atau kota yang ramah untuk pejalan kaki. Istilah walkable city semakin sering digunakan ketika pembahasan tentang transportasi umum, tata kota, ruang publik, dan kualitas kehidupan perkotaan muncul. Konsep ini pada dasarnya berusaha membuat berjalan kaki menjadi pilihan yang mudah, aman, dan masuk akal untuk berbagai perjalanan sehari-hari. Namun, kota yang walkable bukan berarti kota yang mengharuskan semua orang berjalan kaki atau sama sekali tidak membutuhkan kendaraan. Lantas, seperti apa sebenarnya kota yang memenuhi konsep tersebut?

 

Apa Itu Walkable City?

 

Walkable city adalah konsep penataan kota yang membuat masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan berjalan kaki secara aman, nyaman, mudah, dan terhubung dengan berbagai tujuan. Dalam konsep ini, kemampuan seseorang untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain tidak hanya ditentukan oleh keberadaan trotoar, tetapi juga oleh hubungan antarruas jalan, tata guna lahan, jarak tujuan, fasilitas penyeberangan, keselamatan, serta akses terhadap transportasi umum. World Bank menjelaskan bahwa kemudahan berjalan kaki berkaitan dengan beberapa hal utama, termasuk keterhubungan jaringan jalan, desain jalan, dan jenis penggunaan lahan di sepanjang jalan. Jaringan jalan yang saling terhubung, misalnya, dapat menyediakan lebih banyak pilihan rute dan membuat perjalanan dengan berjalan kaki menjadi lebih langsung. Karena itu, trotoar yang bagus saja belum cukup untuk membuat sebuah kota disebut walkable. Bayangkan sebuah trotoar yang lebar dan bersih, tetapi tiba-tiba terputus ketika bertemu jalan besar. Pejalan kaki kemudian harus berjalan di bahu jalan atau mencari jalan memutar yang jauh. Dari sudut pandang pejalan kaki, kondisi tersebut tentu tidak terlalu nyaman. Kota yang mendukung aktivitas berjalan kaki juga biasanya memiliki berbagai tujuan yang relatif mudah dijangkau. Rumah, toko, sekolah, tempat makan, taman, fasilitas umum, dan transportasi umum tidak selalu harus berada dalam jarak yang sangat dekat, tetapi terdapat hubungan yang baik di antara tempat-tempat tersebut. Dengan begitu, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk berjalan kaki, menggunakan transportasi umum, atau menggabungkan keduanya. Indonesia sendiri sudah memiliki pedoman resmi untuk menilai kelayakan berjalan kaki. Direktorat Jenderal Bina Marga menerbitkan Pedoman Penentuan Indeks Kelayakan Berjalan (Walkability Index) di Kawasan Perkotaan pada 2023. Pedoman tersebut mencakup penilaian terhadap kondisi jalur pejalan kaki, fasilitas pendukung, akses bagi kelompok berkebutuhan khusus, penghalang, penyeberangan, konflik dengan moda transportasi lain, serta keamanan dari kejahatan.

 

Ciri-Ciri Kota yang Nyaman untuk Berjalan Kaki

 

Salah satu ciri paling mudah dikenali dari kota yang mendukung pejalan kaki adalah tersedianya jalur berjalan yang aman dan nyaman. Trotoar seharusnya tidak hanya tersedia, tetapi juga memiliki kondisi yang layak, tidak terputus tanpa alasan, serta bebas dari berbagai penghalang yang membuat orang harus turun ke jalan. Dalam konteks tertentu, fasilitas seperti jalur pemandu, ramp, dan permukaan yang sesuai juga dibutuhkan agar ruang pejalan kaki dapat digunakan oleh lebih banyak orang. Penyeberangan juga menjadi bagian penting. Jarak antara dua tempat mungkin sebenarnya hanya beberapa ratus meter, tetapi perjalanan tersebut akan terasa jauh jika seseorang harus menghadapi jalan yang ramai tanpa fasilitas penyeberangan yang memadai. Karena itu, kota yang ramah pejalan kaki membutuhkan penyeberangan yang mudah ditemukan dan dirancang dengan mempertimbangkan keselamatan. Selain itu, keterhubungan jalan sangat berpengaruh terhadap pengalaman berjalan kaki. Jika sebuah kawasan memiliki banyak jalan kecil yang saling terhubung, orang biasanya mempunyai beberapa pilihan rute untuk mencapai tujuan. Sebaliknya, kawasan dengan blok bangunan yang sangat besar dan sedikit akses keluar-masuk dapat membuat perjalanan berjalan kaki menjadi lebih panjang daripada jarak sebenarnya. World Bank juga menggunakan keterhubungan jaringan jalan sebagai salah satu unsur penting dalam pembahasan aksesibilitas pejalan kaki. Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberadaan berbagai fasilitas dalam satu kawasan. Kawasan dengan campuran tempat tinggal, pertokoan, restoran, sekolah, taman, perkantoran, dan fasilitas lainnya dapat menciptakan lebih banyak alasan bagi masyarakat untuk berjalan kaki. Konsep seperti ini berbeda dari kawasan yang seluruh fungsinya dipisahkan jauh-jauh sehingga masyarakat harus menempuh perjalanan panjang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Transportasi umum juga memiliki hubungan erat dengan walkable city. Seseorang tidak harus berjalan kaki sepanjang perjalanan. Ia dapat berjalan dari rumah menuju halte, menggunakan bus atau kereta untuk menempuh jarak jauh, kemudian berjalan lagi dari stasiun menuju tempat tujuan. Karena itu, kota yang ramah pejalan kaki justru dapat berjalan beriringan dengan sistem transportasi umum yang baik. Faktor keamanan dan kenyamanan juga tidak boleh dilupakan. Penerangan yang memadai, lalu lintas yang lebih aman, ruang pejalan kaki yang jelas, pepohonan, tempat berteduh, dan lingkungan yang aktif dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk berjalan kaki. Jadi, walkability bukan sekadar persoalan apakah kaki bisa melewati sebuah jalan, melainkan apakah perjalanan tersebut terasa masuk akal bagi manusia.

 

Apa Manfaat Walkable City?

 

Konsep walkable city dapat memberikan manfaat bagi masyarakat maupun lingkungan perkotaan. Ketika berbagai kebutuhan dapat dijangkau dengan berjalan kaki, masyarakat mempunyai pilihan untuk tidak selalu menggunakan kendaraan bermotor, terutama untuk perjalanan jarak pendek. Hal ini juga dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih fleksibel karena seseorang tidak selalu harus mencari tempat parkir atau menunggu kendaraan. Kawasan yang nyaman untuk berjalan kaki juga berpotensi membuat ruang publik dan area komersial menjadi lebih aktif. Ketika orang dapat berjalan dengan nyaman dari satu tempat ke tempat lain, mereka lebih mudah mengakses toko, restoran, taman, dan berbagai ruang publik di sekitarnya. Aktivitas pejalan kaki kemudian dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari suatu kawasan. Dari sisi transportasi, walkable city juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Namun, hal ini tidak berarti keberadaan kendaraan langsung menjadi tidak diperlukan. Dampaknya sangat bergantung pada kualitas transportasi umum, tata ruang, jarak perjalanan, serta kebiasaan masyarakat. Kota yang mendukung pejalan kaki juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Ruang jalan yang dirancang dengan mempertimbangkan pejalan kaki, termasuk orang lanjut usia dan penyandang disabilitas, membuat lebih banyak orang memiliki kesempatan untuk bergerak secara mandiri. World Bank menekankan pentingnya desain jalan yang memperhatikan kelompok rentan dan aksesibilitas universal dalam pembangunan jalan yang berorientasi pada manusia. Dengan demikian, manfaat walkable city tidak hanya berkaitan dengan kegiatan berjalan kaki itu sendiri. Konsep ini menyangkut bagaimana sebuah kota menyediakan pilihan mobilitas dan membuat berbagai aktivitas dapat dilakukan tanpa selalu bergantung pada kendaraan pribadi.

 

Contoh Kota yang Menerapkan Konsep Walkable City

 

Beberapa kota di dunia sering menjadi contoh ketika membicarakan lingkungan perkotaan yang mendukung pejalan kaki. Namun, istilah walkable city sebaiknya tidak dipahami sebagai label bahwa seluruh bagian kota pasti sempurna untuk berjalan kaki. Bahkan kota yang terkenal ramah pejalan kaki tetap memiliki kawasan dan kondisi yang berbeda-beda.

 

1. Kopenhagen, Denmark, 

 

Photo by Rick Steves from  https://www.ricksteves.com/

 

Kota ini memiliki banyak kawasan yang relatif kompak dan mendukung aktivitas berjalan kaki. Salah satu contohnya adalah Strøget, kawasan jalan belanja pejalan kaki sepanjang sekitar 1,1 kilometer yang menghubungkan City Hall Square dan Kongens Nytorv. Kawasan tersebut tidak hanya digunakan untuk berjalan kaki, tetapi juga dipenuhi toko dan berbagai tujuan lain. Situs pariwisata resmi Kopenhagen juga menjelaskan bahwa banyak kawasan di kota tersebut dapat dijelajahi dengan berjalan kaki, sementara transportasi umum dapat digunakan untuk mencapai kawasan yang lebih jauh.

 

2. Amsterdam, Belanda

 

https://mrm-style.com/

 

Ibu kota Belanda ini juga memiliki kebijakan yang memberikan perhatian terhadap kenyamanan pejalan kaki. Pemerintah Kota Amsterdam menyatakan bahwa masyarakat seharusnya dapat bergerak dengan aman, tenang, dan nyaman dengan berjalan kaki maupun bersepeda, termasuk anak-anak, orang lanjut usia, dan orang dengan keterbatasan fisik. Kota tersebut juga menjalankan berbagai kebijakan keselamatan lalu lintas dan penyediaan ruang yang lebih baik bagi pejalan kaki.

 

3. Tokyo, Jepang

 

https://www.expedia.com.au/

 

Sementara itu, kota Tokyo menunjukkan bahwa kota metropolitan berukuran besar juga dapat mengembangkan lingkungan yang lebih berorientasi pada pejalan kaki. Pemerintah Metropolitan Tokyo memiliki berbagai program yang bertujuan mengubah ruang jalan agar lebih berpusat pada manusia. Salah satu pendekatannya adalah menciptakan ruang yang membuat masyarakat lebih mudah berjalan dan menikmati kawasan kota, termasuk di sekitar stasiun.

 

Ketiga kota tersebut menunjukkan bahwa walkable city tidak memiliki satu bentuk yang sama. Kopenhagen memiliki banyak kawasan kompak dan ruang pejalan kaki, Amsterdam menggabungkan perhatian terhadap pejalan kaki dan pesepeda, sedangkan Tokyo mengembangkan ruang yang lebih berorientasi pada manusia di tengah kawasan metropolitan yang sangat besar.

 

Bagaimana dengan Walkable City di Indonesia?

 

Indonesia juga mulai memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kualitas ruang pejalan kaki. Beberapa kota memiliki kawasan yang relatif nyaman untuk berjalan kaki, meskipun tingkat kenyamanannya belum tentu sama di seluruh wilayah kota. Jakarta, misalnya, memiliki sejumlah kawasan yang telah mengalami peningkatan fasilitas pejalan kaki dan koneksi dengan transportasi umum. Kawasan tertentu di pusat kota dapat menjadi contoh bagaimana trotoar, halte, stasiun, penyeberangan, dan berbagai tujuan dapat saling terhubung. Kota seperti Yogyakarta, Surakarta, Bandung, dan Surabaya juga memiliki kawasan yang cukup populer untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Kawasan Malioboro di Yogyakarta, pusat kota Surakarta, kawasan Braga dan Asia Afrika di Bandung, serta Jalan Tunjungan di Surabaya merupakan contoh area yang memiliki aktivitas pejalan kaki cukup menonjol. Namun, perlu dibedakan antara kawasan yang ramah pejalan kaki dan sebuah kota yang sepenuhnya walkable. Sebuah kota bisa mempunyai satu atau beberapa ruas jalan dengan trotoar yang sangat baik, tetapi kondisi tersebut belum tentu menggambarkan seluruh wilayah kota. Faktor seperti jarak antarkawasan, kualitas trotoar, akses penyeberangan, transportasi umum, dan tata guna lahan tetap menentukan pengalaman berjalan kaki secara keseluruhan. Adanya pedoman Walkability Index dari Direktorat Jenderal Bina Marga juga menunjukkan bahwa kelayakan berjalan kaki dapat dinilai secara lebih luas daripada sekadar melihat apakah sebuah jalan mempunyai trotoar. Pedoman tersebut secara khusus menilai sejumlah aspek jalur pejalan kaki, termasuk fasilitas pendukung, penyeberangan, hambatan, konflik dengan moda transportasi lain, dan keamanan.

 

Apakah Walkable City Berarti Tidak Membutuhkan Kendaraan?

 

Tidak. Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang cukup mudah muncul ketika membicarakan walkable city. Kota yang ramah pejalan kaki bukan berarti mobil, sepeda motor, bus, kereta, atau moda transportasi lainnya harus dihilangkan. Tujuan utamanya adalah memberikan pilihan perjalanan yang lebih beragam. Untuk jarak pendek, seseorang mungkin dapat berjalan kaki. Untuk perjalanan yang lebih jauh, ia dapat menggunakan transportasi umum lalu berjalan kaki dari halte atau stasiun menuju tujuan akhir. Hubungan antara berjalan kaki dan transportasi umum bahkan sangat penting dalam banyak konsep perencanaan kota. Salah satunya adalah pembangunan berorientasi transit atau transit-oriented development, yaitu pendekatan yang menggabungkan kawasan yang lebih kompak, beragam fungsi, ramah pejalan kaki, dan terhubung dengan transportasi umum. Dengan pola seperti ini, seseorang tidak harus memilih antara “berjalan kaki sepanjang perjalanan” atau “menggunakan kendaraan pribadi dari awal sampai akhir”. Perjalanan dapat terdiri atas beberapa moda yang saling melengkapi.

 

Tantangan dalam Mewujudkan Walkable City

 

Meskipun terdengar ideal, membuat sebuah kota menjadi walkable bukan perkara sederhana. Salah satu tantangannya adalah memastikan kota tetap dapat digunakan oleh orang dengan kemampuan dan kebutuhan yang berbeda. Tidak semua orang mampu berjalan jauh, dan tidak semua perjalanan cocok dilakukan dengan berjalan kaki. Orang lanjut usia, penyandang disabilitas, orang yang membawa barang berat, atau masyarakat yang menempuh perjalanan jauh tetap membutuhkan pilihan transportasi lain. Cuaca juga menjadi pertimbangan penting, terutama bagi kota-kota di Indonesia. Suhu panas, hujan deras, dan kelembapan dapat membuat perjalanan berjalan kaki terasa kurang nyaman. Karena itu, kota tropis membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan pepohonan, tempat berteduh, drainase, permukaan jalur, serta perlindungan dari cuaca. Jarak juga tetap menjadi batasan. Tidak masuk akal mengharapkan seseorang berjalan kaki belasan kilometer untuk melakukan semua aktivitas sehari-hari. Konsep walkable city justru lebih masuk akal jika berjalan kaki digunakan untuk perjalanan yang memang sesuai, sementara perjalanan yang lebih jauh didukung oleh transportasi umum atau moda lainnya. Tantangan berikutnya adalah mengubah tata ruang kota yang sudah terbentuk. Membangun trotoar di satu ruas jalan relatif berbeda dengan membuat seluruh kawasan memiliki jaringan pejalan kaki yang saling terhubung. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan parkir, lalu lintas, bangunan, transportasi umum, tata guna lahan, ruang publik, hingga kebijakan pemerintah. Ada pula persoalan pembagian ruang jalan. Ruang perkotaan terbatas sehingga kebutuhan pejalan kaki, pesepeda, kendaraan pribadi, transportasi umum, parkir, dan aktivitas lainnya harus diatur secara seimbang. Karena itu, pembangunan walkable city membutuhkan perencanaan yang menyeluruh, bukan sekadar memperlebar trotoar di beberapa tempat.

 

Walkable City Bukan Sekadar Trotoar

 

Pada akhirnya, walkable city merupakan konsep yang jauh lebih luas daripada keberadaan trotoar. Sebuah kota dapat memiliki trotoar yang bagus, tetapi belum tentu nyaman dijelajahi jika penyeberangannya sulit, jalurnya terputus, fasilitas sehari-hari berjauhan, atau transportasi umumnya tidak mudah diakses. Kota yang mendukung pejalan kaki perlu memperhatikan hubungan antara jalan, bangunan, fasilitas, ruang publik, transportasi umum, keselamatan, dan kebutuhan masyarakat. Semakin banyak unsur tersebut saling mendukung, semakin mudah berjalan kaki menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Konsep ini juga tidak berarti semua orang harus meninggalkan kendaraan. Sebaliknya, walkable city memberikan lebih banyak pilihan agar masyarakat dapat menentukan moda yang sesuai dengan jarak dan kebutuhannya. Berjalan kaki bisa digunakan untuk perjalanan singkat, transportasi umum untuk perjalanan lebih jauh, dan kendaraan pribadi tetap tersedia ketika memang diperlukan. Dengan begitu, kota yang walkable bukan sekadar kota yang memiliki trotoar lebar dan terlihat menarik. Kota yang benar-benar nyaman untuk berjalan kaki adalah kota yang membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain terasa aman, terhubung, mudah, dan masuk akal bagi sebanyak mungkin orang. Di situlah sebenarnya inti dari konsep walkable city: bukan memaksa manusia menyesuaikan diri dengan kota, melainkan membuat kota lebih mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Kopi Gayo, Varietas Magis dari Dataran Tinggi Aceh

Next Entry

Mengapa Orang Suka Window Shopping Walaupun Tidak Membeli Apa-Apa?

Next Entry

Kenali 8 Kru Film Tak Terduga Ini yang Bikin Film Keren dan Realistis