Mengintip Kebiasaan High Net Worth Individuals dalam Berinvestasi
Pernah nggak sih kamu penasaran, gimana rasanya jadi orang super kaya yang duitnya nggak habis-habis? Di dunia keuangan, mereka ini punya julukan keren, yaitu High Net Worth Individuals (HNWI). Gampangnya, mereka adalah orang-orang yang memiliki aset likuid—alias dana segar yang siap diinvestasikan—minimal 1 juta dolar AS atau sekitar Rp15 miliar!
Nominal ini tentu bukan angka yang kecil. Bagi sebagian besar dari kita, membayangkan punya uang dingin sebanyak itu saja sudah bikin geleng-geleng kepala. Namun, rahasia mereka bisa makin kaya itu bukan karena faktor keberuntungan semata, lho. Bukan juga karena mereka tahu kode rahasia atau punya mantra ajaib yang instan.
Ada cara pandang yang matang, kedisiplinan yang luar biasa ketat, serta strategi investasi yang terukur yang bikin uang mereka bisa "beranak pinak" dengan sangat subur. Menariknya, pola yang mereka gunakan sebenarnya bisa dipelajari oleh siapa saja yang mau membuka diri terhadap literasi keuangan.
Yuk, kita intip bareng-bareng gimana sih cara para sultan ini memutar uang mereka! Kita akan bedah satu per satu strategi mereka secara mendalam, santai, dan mengalir. Siapa tahu, kita bisa mencontek pola pikir dan strateginya untuk kemudian dipraktikkan langsung ke dalam portofolio investasi kita sendiri.
1. Nggak Cuma Main di Pasar Saham yang "Biasa"
Kalau investor ritel seperti kita biasanya sudah merasa cukup dengan memantau naik-turunnya harga saham melalui aplikasi di ponsel pintar setiap pagi, kaum HNWI mainnya sudah di level yang jauh berbeda. Mereka sangat paham dengan prinsip dasar investasi yang paling legendaris, yaitu jangan pernah menaruh semua telur di dalam satu keranjang yang sama.
Oleh karena itu, pilihan instrumen investasi mereka sangat luas. Mereka gemar merambah ke sektor-sektor eksklusif yang jarang sekali terpikirkan oleh orang awam. Selain tetap mengoleksi saham-saham dari perusahaan besar yang sudah terdaftar di bursa efek, mereka juga sangat gemar menyuntikkan dana segar secara langsung ke perusahaan swasta yang belum IPO (private equity).
Mereka juga kerap mengambil peran sebagai investor awal (angel investor) atau menyalurkan modal bagi perusahaan rintisan (startup) teknologi yang dinilai punya potensi pertumbuhan eksponensial di masa depan (venture capital). Pendanaan seperti ini memang berisiko tinggi, tapi keuntungan yang dihasilkan saat perusahaan tersebut sukses besar bisa berkali-kali lipat.
Bukan cuma itu, mereka juga hobi mengoleksi apa yang disebut dengan aset alternatif. Ini adalah jenis investasi unik yang nilainya justru makin tua makin mahal. Contohnya adalah karya seni otentik dari pelukis legendaris dunia, jam tangan mewah edisi terbatas yang jumlahnya sangat sedikit, hingga minuman anggur (wine) langka yang disimpan di ruang khusus.
2. Properti Tetap Jadi "Jangkar" yang Bikin Tenang
Bagi para miliarder dunia, membeli sebuah properti itu bukan sekadar untuk ajang pamer rumah mewah yang punya kolam renang luas atau vila estetik di pinggir pantai Bali. Di mata mereka, properti adalah jangkar penyeimbang yang bertugas menjaga stabilitas seluruh kekayaan yang mereka miliki agar tidak mudah goyah.
Mereka biasanya tidak terlalu tertarik pada rumah tapak biasa untuk investasi, melainkan lebih mengincar real estat komersial skala besar. Sebut saja seperti gedung perkantoran bertingkat di pusat kota, deretan ruko di kawasan bisnis premium, atau bahkan pusat perbelanjaan dan hotel.
Alasan utamanya sebenarnya cukup simpel. Properti komersial menawarkan dua keuntungan besar sekaligus yang sulit ditandangi instrumen lain. Keuntungan pertama adalah mereka mendapatkan pemasukan rutin yang stabil dari uang sewa bulanan atau tahunan (passive income).
Keuntungan kedua adalah harga tanah dan bangunan tersebut hampir pasti akan terus mengalami kenaikan nilai dalam jangka panjang (capital gain). Ditambah lagi, secara psikologis, melihat dan menyentuh aset yang memiliki wujud fisik yang nyata itu selalu sukses bikin hati terasa jauh lebih tenang.
3. Anti-Ribet Menebak Pasar, Fokusnya di Alokasi Aset
Banyak sekali investor pemula yang hidupnya penuh dengan stres dan kecemasan gara-gara setiap hari sibuk menebak pasar (timing the market). Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan kapan harga pasar bakal menyentuh titik terendah untuk mulai membeli, dan kapan waktu yang paling pas untuk menjualnya kembali demi keuntungan instan.
Kebiasaan menebak-nebak arah angin seperti ini justru menjadi salah satu hal yang paling dihindari oleh kaum HNWI. Daripada pusing dan membuang-buang energi yang berharga untuk memprediksi pergerakan harian pasar yang sangat acak, mereka lebih memilih untuk fokus pada satu strategi yang bernama alokasi aset (asset allocation).
Ini adalah fondasi utama yang menjaga portofolio mereka tetap sehat. Mereka akan membagi total kekayaan mereka ke dalam beberapa pos investasi dengan persentase yang sudah diperhitungkan dengan sangat matang berdasarkan profil risiko mereka sendiri.
Sebagai contoh, mereka mungkin akan menaruh 30% uang mereka di obligasi pemerintah yang sangat aman, 40% di sektor saham yang agresif, 20% di properti, dan sisanya 10% tetap disimpan dalam bentuk kas tunai atau emas. Secara berkala, mereka bakal melakukan apa yang disebut dengan rebalancing alias menata ulang porsi tersebut.
4. Sadar Diri dengan Keterbatasan, Makanya Pakai Jasa Profesional
Satu hal yang membuat orang kaya lama berbeda adalah mereka sangat sadar bahwa waktu yang mereka miliki itu terbatas. Mereka juga tahu tidak mungkin bisa menguasai semua hal di dunia ini sendirian. Oleh karena itu, mereka tidak bakal pernah mengambil keputusan investasi cuma gara-gara termakan tren FOMO (fear of missing out).
Mereka tidak akan dengerin omongan tanpa dasar dari para influencer keuangan di media sosial. Mereka lebih memilih untuk berinvestasi pada jasa profesional yang terbukti rekam jejaknya. Mereka menggunakan layanan wealth management dari bank-bank papan atas yang bereputasi tinggi.
Bahkan, bagi keluarga yang kekayaannya sudah masuk tingkat ekstrem, mereka biasanya akan mendirikan apa yang disebut dengan family office sendiri. Ini adalah sebuah tim khusus yang isinya terdiri dari para manajer investasi senior, ahli strategi pajak, hingga pengacara korporat kelas kakap yang tugas utamanya mengurus kekayaan mereka.
Dengan bantuan dari para ahli lintas bidang ini, setiap langkah investasi yang diambil oleh kaum HNWI sudah dipastikan melalui proses kurasi yang super ketat. Semuanya sudah diperhitungkan matang-matang, mulai dari analisis risiko terkecil, legalitas hukum yang bersih, hingga bagaimana caranya agar bisa mengoptimalkan efisiensi pajak secara legal.
5. Mikirnya Jauh ke Depan, Bahkan Sampai Lintas Generasi
Ini dia perbedaan psikologis yang paling mencolok dan menjadi jurang pemisah besar antara orang kaya lama dengan orang-orang yang sekadar ingin cepat kaya secara instan. Kalau kebanyakan orang di luar sana selalu mencari instrumen investasi yang bisa bikin modal mereka berlipat ganda besok pagi, kaum HNWI justru berpikir dalam hitungan dekade.
Bagi mereka yang sudah berada di puncak piramida finansial, tujuan utama berinvestasi bukan lagi cuma sekadar mencari untung cepat demi kesenangan jangka pendek. Fokus utama mereka sudah bergeser pada konsep yang bernama wealth preservation alias menjaga dan mempertahankan kekayaan agar nilainya tidak tergerus zaman.
Mereka ingin memastikan uang tersebut tidak habis karena inflasi, dan kelak bisa diwariskan dengan utuh dan aman ke tangan anak cucu mereka nanti. Pola pikir jangka panjang yang sangat kokoh ini membuat mental mereka tidak gampang goyah atau panik ketika melihat pasar saham sedang mengalami penurunan tajam (market crash).
Saat investor ritel awam sedang sibuk menjual rugi semua aset mereka karena didera rasa ketakutan yang hebat, para HNWI justru melihatnya sebagai peluang. Mereka menganggap momen krisis ekonomi tersebut sebagai waktu "diskon besar-besaran" yang langka untuk memborong kembali aset-aset berkualitas tinggi dengan harga yang sangat murah.
6. Berinvestasi pada "Leher ke Atas" dan Kualitas Jaringan
Ada sebuah rahasia umum di kalangan miliarder. Mereka percaya bahwa aset terbaik yang mampu memberikan imbal hasil (return) paling tinggi dan tidak akan pernah bisa bangkrut adalah diri mereka sendiri. Makanya, kaum HNWI tidak pernah merasa sayang atau pelit untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi investasi "leher ke atas".
Mereka rela membayar mahal untuk terus belajar hal-hal baru, membeli akses laporan riset eksklusif yang tidak beredar di publik, hingga menghadiri konferensi bisnis tingkat tinggi. Selain kapasitas diri, mereka juga sangat fokus dalam menjaga dan menyaring kualitas jaringan pertemanan mereka (networking).
Di dunia kelas atas, ada sebuah pepatah populer yang berbunyi: "your network is your net worth"—lingkaran pertemananmu menentukan nilai kekayaanmu. Akses terhadap informasi yang valid dan cepat adalah komoditas yang harganya sangat mahal di dunia modern saat ini.
Sering kali, berbagai peluang investasi terbaik yang menghasilkan keuntungan luar biasa tidak pernah sekali pun diumumkan atau diiklankan kepada publik. Peluang-peluang emas ini biasanya cuma berputar di dalam lingkaran jaringan tertutup, dibahas secara kasual di obrolan meja makan malam, atau saat mereka sedang bermain golf bersama.
7. Memanfaatkan Utang secara Cerdas sebagai Pengungkit Modal
Bagi sebagian besar dari kita, kata "utang" adalah sebuah momok menakutkan atau mimpi buruk finansial yang sebisa mungkin harus dihindari seumur hidup. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang kaum HNWI, utang justru bisa berubah wujud menjadi sebuah alat pengungkit modal (leverage) yang sangat ampuh.
Utang tersebut bisa melipatgandakan kekayaan mereka dengan waktu yang jauh lebih cepat, dengan catatan utang tersebut bersifat produktif. Contoh gampangnya begini: dibanding membeli sebuah gedung komersial senilai Rp100 miliar secara tunai, seorang HNWI akan lebih memilih untuk membayar uang mukanya saja, misalnya sebesar Rp20 miliar.
Sisa kekurangannya yang Rp80 miliar akan mereka tutup dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman dari bank yang menawarkan suku bunga rendah. Lalu, sisa uang tunai Rp80 miliar yang masih mereka pegang di tangan tidak didiamkan begitu saja di rekening tabungan.
Uang tersebut akan mereka putar dan dialokasikan lagi ke berbagai instrumen investasi lain yang mampu menghasilkan imbal hasil jauh lebih tinggi daripada bunga pinjaman bank tadi. Hasil akhirnya, aset mereka bisa berkembang dua kali lipat lebih cepat dengan memanfaatkan modal yang sama.
***
Featured Image: ceoworld.biz