Thea News
Travel // 2026 Yusham

Panduan Wisata Terbaik di Sukabumi:
Eksplorasi Lengkap Alam, Budaya, dan Petualangan Seru

Kabut tipis yang merayap di celah pohon damar raksasa, aroma tanah basah khas pegunungan, dan gemuruh ombak samudra yang menghantam tebing purba. Selamat datang di Sukabumi, sebuah sudut magis di Jawa Barat di mana Anda bisa mencicipi magisnya dingin gunung sekaligus hangatnya pantai eksotis hanya dalam satu helai napas perjalanan.

Bagi mereka yang jenuh dengan kepungan beton dan riuhnya klakson ibu kota, kawasan ini adalah sebuah pelarian rahasia yang sempurna. Berdiri anggun di bawah dekapan Gunung Gede dan Gunung Pangrango, Sukabumi dianugerahi lanskap yang tidak hanya memanjakan mata, tapi juga menyembuhkan jiwa yang lelah.

 

Menariknya lagi, Anda tidak perlu lagi membayangkan drama macet berjam-jam untuk sampai ke surga tersembunyi ini. Sejak jalur Jalan Tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi) Seksi 2 beroperasi penuh pasca-perbaikan total, akses dari arah Jakarta menuju pusat Sukabumi kini terasa begitu singkat, mulus, dan menyenangkan. Perjalanan yang dulu memakan waktu hingga 4–5 jam kini bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2,5 saja.

 

Jika Anda sudah siap mengemas ransel untuk akhir pekan ini, berikut adalah empat destinasi ikonik di Sukabumi yang siap mengubah akhir pekan biasa Anda menjadi petualangan yang tak terlupakan:

 

1. Jembatan Gantung Situ Gunung (Situ Gunung Suspension Bridge)

 

Shutterstock

 

Kawasan Situ Gunung yang hijau di dalam dekapan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah rumah bagi salah satu mahakarya wisata petualangan modern. Di sini, Anda bisa menguji adrenalin dengan berjalan di atas jembatan gantung pertamanya yang memiliki panjang 243 meter, lebar 1,8 meter, dan membentang di ketinggian 121 meter.

 

Melangkah di atas jurang hutan konservasi akan memberikan sensasi yang mendebarkan sekaligus magis. Namun, rasa takut itu akan segera sirna saat mata Anda dimanjakan oleh hamparan pohon damar yang megah dan embusan kabut tipis yang sejuk.

 

Soal keamanan, Anda tidak perlu khawatir karena pengelola menerapkan standar keselamatan yang sangat ketat. Setiap pengunjung wajib mengenakan sabuk pengaman (safety belt) khusus yang akan dikaitkan ke tali seling baja jembatan selama melintas demi menahan guncangan. Petugas terlatih juga bersiaga penuh di setiap ujung jembatan untuk mengatur arus manusia.

 

Shutterstock

 

Memasuki tahun 2026, kawasan ini semakin bersolek dengan hadirnya Lembah Purba Suspension Bridge. Jembatan baru ini membentang sepanjang 370 meter, melintasi lembah yang lebih dalam, dan sukses memegang rekor sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara.

 

Fasilitasnya pun sudah sangat modern dengan menerapkan sistem tiket elektronik (e-ticketing) berbasis on-the-spot cashless maupun reservasi daring. Setelah menyeberang, Anda bisa melanjutkan treking santai ke Curug Sawer atau mencoba wahana Keranjang Sultan—kursi rotan gantung di atas aliran sungai deras yang sempat viral.

 

2. Keajaiban Geologi di UNESCO Global Geopark Ciletuh

 

Shutterstock

 

Beralih ke wilayah pesisir selatan, Anda akan disambut oleh UNESCO Global Geopark Ciletuh yang eksotis. Kawasan megah ini memiliki lanskap unik berbentuk amfiteater raksasa (horseshoe-shaped amphitheater) mirip tapal kuda purba yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.

 

Ciletuh adalah definisi dari paket liburan yang lengkap. Dalam satu kawasan luas yang dilindungi dunia ini, Anda bisa menyaksikan keajaiban dinding batu berumur ratusan juta tahun, jajaran air terjun megah, hamparan sawah hijau, hingga pantai berbatu yang menawan.

 

Bagi pencinta olahraga ekstrem, Pantai Cimaja di kawasan ini adalah surga tersembunyi yang tak boleh dilewatkan. Ombaknya yang besar, tebal, dan konsisten diakui secara internasional, menjadikannya langganan lokasi kompetisi selancar (surfing) berskala dunia hingga saat ini.

 

Shutterstock

 

Untuk menjelajahi seluruh sudut geopark ini secara maksimal, idealnya Anda membutuhkan waktu 3 hingga 4 hari. Namun, bagi yang memiliki waktu terbatas, jalur jalan sabuk geopark (geopark belt) yang kini sudah mulus beraspal sepenuhnya sangat memudahkan perjalanan Anda.

 

Hanya dalam satu hari, Anda sudah bisa menikmati matahari terbit di Puncak Darma yang menyajikan pemandangan lanskap teluk dari ketinggian. Setelah itu, Anda bisa berburu foto di Curug Cimarinjung, Curug Sodong, hingga Curug Awang yang megah menyerupai versi mini Air Terjun Niagara. Fasilitas pendukung seperti homestay lokal ramah lingkungan dan jaringan internet di sini pun kini sudah sangat memadai.

 

3. Akulturasi dan Keindahan Vihara Nam Hai Kwan Se Em Pu Sa

 

Shutterstock

 

Sukabumi juga menyimpan destinasi wisata religi dan budaya yang sangat unik, yaitu Vihara Nam Hai Kwan Se Em Pu Sa atau sering dijuluki Vihara Dewi Bumi. Berlokasi di perbukitan daerah Loji, Simpenan, vihara ini dibangun di atas tebing curam yang menghadap langsung ke laut lepas Pantai Loji.

 

Arsitekturnya mengadopsi gaya khas kuil Thailand dan era Dinasti Qing dengan dominasi warna merah dan emas yang mencolok. Di pintu masuk bawah, sepasang patung naga berkepala tujuh berukuran raksasa akan menyambut dan mengiringi langkah Anda ke atas meniti anak tangga.

 

Untuk mencapai puncak tertinggi tempat altar utama berada, pengunjung harus menaiki sekitar 500 anak tangga. Rasa lelah saat mendaki akan segera terbayar lunas oleh panorama laut selatan yang luar biasa indah dan embusan angin laut yang menyegarkan.

 

Hal yang paling menarik dari vihara ini adalah kentalnya nilai akulturasi budaya lokal Nusantara. Selain memajang patung dewa-dewi dalam tradisi Buddha dan Tionghoa, vihara ini memiliki tempat penghormatan khusus untuk tokoh-tokoh sejarah tanah Jawa.

 

Di tingkatan atas, terdapat Altar Semar, Altar Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran), hingga kamar khusus yang didedikasikan untuk Nyi Roro Kidul. Kamar tersebut dilengkapi kasur bernuansa hijau, meja rias, serta replika meja kerja beserta foto Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Keunikan dan toleransi budaya inilah yang membuat vihara ini selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai latar belakang.

 

4. Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

 

Shutterstock

 

Destinasi terakhir yang menjadi jantung konservasi alam di Jawa Barat adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Diresmikan sejak tahun 1980, kawasan seluas 21.975 hektar ini merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia yang mencakup wilayah Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.

 

Kawasan ini dilindungi sebagai hutan hujan tropis pegunungan yang menjadi rumah bagi ratusan flora dan fauna endemik Jawa yang langka. Salah satu spot paling legendaris dan sakral di kalangan pendaki adalah Alun-Alun Suryakencana, sebuah padang sabana luas yang dipenuhi bunga Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica).

 

Meski sangat populer sebagai jalur pendakian, taman nasional ini sebenarnya sangat ramah untuk wisata harian bersama keluarga dan anak-anak. Di salah satu gerbangnya yang menyambung ke Sukabumi, terdapat akses menuju Kebun Raya Cibodas yang memiliki taman lumut eksotis, rumah kaca, dan area piknik luas di bawah naungan pohon-pohon purba.

 

Shutterstock

 

Bagi Anda yang menyukai petualangan ringan tanpa harus menginap, banyak spot eksotis di kaki gunung yang bisa diakses dengan treking santai selama 1–2 jam saja. Anda bisa mengunjungi Telaga Biru yang airnya dapat berubah warna karena siklus alga, lintasan jembatan pohon (Canopy Trail), maupun kemegahan Curug Cibeureum.

 

Untuk menjaga kelestarian alam dan menekan penumpukan sampah, pihak Balai Besar TNGGP kini memberlakukan regulasi modern yang sangat ketat. Proses registrasi kini wajib dilakukan melalui sistem Booking Online 100% dengan pembatasan kuota harian yang tegas.

 

Selain itu, setiap pendaki kini dibekali gelang identifikasi berbasis chip digital (RFID) saat memasuki pos pemeriksaan resmi. Teknologi ini berfungsi untuk memantau pergerakan pendaki demi keamanan evakuasi sekaligus memastikan jumlah barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah dapat didata secara akurat demi pariwisata yang berkelanjutan.

 

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

British Virgin Island: Pengasingan Mewah di Tengah Laut Karibia

Next Entry

Berburu ‘Tarian’ Lady Aurora di Islandia