Snackpacking:
Gaya Liburan Kuliner ala Gen Z yang Sedang Viral di 2026
Peta pariwisata global di tahun 2026 mengalami perubahan arah yang sangat dinamis, didorong oleh preferensi unik dari generasi muda. Berbeda dengan generasi terdahulu yang mengagendakan liburan demi mendatangi destinasi populer yang padat turis, Gen Z kini lebih mengutamakan pengalaman otentik yang intim. Salah satu fenomena paling dominan yang lahir dari pergeseran ini adalah snackpacking, sebuah gaya perjalanan yang menjadikan perburuan camilan lokal sebagai pusat dari seluruh rencana perjalanan.
Bagi pelancong muda, menjelajahi lorong-lorong minimarket asing, mengantre di kedai roti legendaris, atau mencicipi jajanan pasar tradisional memberikan kepuasan emosional yang setara dengan mengunjungi situs bersejarah. Kuliner tidak lagi diposisikan sebagai sekadar kebutuhan logistik pengisi perut di sela-sela jadwal wisata. Sebaliknya, makanan ringan justru menjadi kompas utama yang menentukan ke mana arah langkah kaki para pelancong akan tertuju sepanjang hari.
Gaya liburan santai ini sangat selaras dengan nilai-nilai hidup Gen Z yang mengutamakan spontanitas dan kebebasan. Mereka cenderung menghindari paket tur konvensional yang kaku dan terjadwal rapat. Melalui snackpacking, mereka membiarkan rasa penasaran menuntun mereka menyusuri sudut-sudut kota yang jarang terjamah, menghasilkan interaksi yang lebih organik dengan masyarakat setempat.
Landasan Data Global di Balik Fenomena Snackpacking
Tren unik ini bukanlah sekadar klaim di media sosial, melainkan fenomena nyata yang didukung oleh data industri pariwisata terbaru. Laporan bertajuk Amex Travel’s 2026 Global Travel Trends mengungkapkan bahwa snackpacking telah sah diakui sebagai salah satu penggerak utama pariwisata global saat ini. Data tersebut memaparkan bahwa sekitar 89% wisatawan dari kalangan milenial dan Gen Z menganggap aktivitas berburu camilan lokal sebagai agenda wajib yang tidak boleh dilewatkan selama perjalanan.
Lebih rinci lagi, laporan yang sama menyebutkan bahwa 69% pelancong global mencari jajanan lokal melalui gerobak jajanan kaki (street food), 53% mendatangi toko roti lokal, dan 50% memanfaatkan supermarket atau minimarket di destinasi tujuan. Hal ini diperkuat oleh laporan Booking.com 2026 Travel Predictions yang mencatat adanya pergeseran minat cinderamata. Sebanyak 74% wisatawan kini menganggap produk makanan kemasan atau bumbu dapur lokal sebagai oleh-oleh budaya yang jauh lebih berharga daripada suvenir fisik biasa.
Riset-riset tersebut membuktikan bahwa eksplorasi kuliner tidak lagi didominasi oleh restoran mewah dengan menu pencuci mulut yang mahal (fine dining). Daya tarik utama beralih ke kesederhanaan rasa yang otentik dan mudah dijangkau oleh semua kalangan. Dengan anggaran yang lebih ramah kantong, para pelaku snackpacking dapat mencoba puluhan jenis rasa baru tanpa khawatir menguras tabungan mereka secara drastis.
Relevansi Lokal: Menggeliatnya Pasar Tradisional Indonesia

Di dalam negeri, tren global ini mendapatkan sambutan yang sangat hangat dan menemukan bentuk adaptasi yang khas. Berdasarkan ulasan resmi dari Kementerian Pariwisata RI, pasar tradisional di berbagai daerah kini menjelma menjadi destinasi wisata favorit baru bagi generasi muda karena kaya akan variasi jajanan pasar. Pasar tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kumuh, melainkan ruang budaya yang hidup, hangat, dan dipenuhi oleh kuliner otentik bernilai sejarah tinggi.
Kementerian Pariwisata mencatat beberapa titik utama yang menjadi pusat berkumpulnya para pelaku snackpacking lokal. Destinasi tersebut di antaranya adalah Pasar Santa di Jakarta yang bernuansa kreatif, Pasar Ngasem di Yogyakarta yang kental akan budaya, Pasar 16 Ilir di Palembang, hingga Pasar Terapung Lok Baintan di Banjarmasin. Di tempat-tempat inilah Gen Z dapat mencicipi ragam cita rasa tradisional legendaris hanya dengan modal yang berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000 saja.
Interaksi langsung dengan para pedagang paruh baya menjadi nilai tambah spiritual yang dicari oleh para pelancong urban ini. Kehangatan tawar-menawar, cerita di balik pembuatan sebuah kue basah, hingga aroma khas pasar tradisional memberikan pengalaman sensorik yang mendalam. Snackpacking di Indonesia berhasil menjembatani modernitas gaya hidup anak muda dengan kelestarian warisan budaya kuliner nusantara.
Media Sosial dan Keinginan Mengurasi Identitas Digital
Ledakan tren snackpacking tentu tidak dapat dipisahkan dari peran masif platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Unggahan video pendek bertema pencarian jajanan tersembunyi (hidden gems) atau ulasan jujur camilan minimarket luar negeri sangat mudah menarik jutaan penonton. Efek visual yang menggugah selera serta elemen audio berupa suara kunyahan (ASMR) menciptakan rasa penasaran yang kuat bagi pengguna lainnya.
Bagi generasi yang tumbuh di era digital, estetika dari sebuah kemasan makanan atau warna-warni kue tradisional memiliki nilai visual yang sangat tinggi. Mendokumentasikan perjalanan snackpacking dianggap sebagai sarana untuk mengekspresikan diri sekaligus mengurasi estetika media sosial mereka sendiri. Keberhasilan menemukan camilan langka di sudut kota terpencil dipandang sebagai pencapaian sosial yang meningkatkan kredibilitas mereka di dunia maya.
Dalam kajian tren budaya digital, perilaku ini mencerminkan kebutuhan Gen Z akan validasi dan koneksi komunitas yang sefrekuensi. Mereka tidak lagi mencari konten wisata yang dipoles terlalu sempurna atau terlihat mewah. Mereka lebih menghargai kejujuran ulasan rasa, kesederhanaan interaksi, dan petualangan nyata yang dapat diikuti atau ditiru oleh pengikut (followers) mereka secara mudah.
Dampak Ekonomi bagi UMKM dan Keberlanjutan Kuliner Lokal
Dari sudut pandang ekonomi, fenomena snackpacking membawa angin segar yang sangat besar bagi ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aliran dana pariwisata yang biasanya hanya berputar di hotel-hotel berbintang atau restoran besar kini langsung menyentuh para pedagang kecil di pasar dan pinggir jalan. Hal ini mendorong terjadinya pemerataan ekonomi yang lebih inklusif di sekitar destinasi wisata lokal.
Ketika sebuah kedai camilan tradisional viral berkat kunjungan pelancong snackpacking, dampak ekonominya segera meluas ke sektor pendukung lainnya. Penyedia jasa transportasi lokal, pembuat bahan baku kue, hingga juru parkir di sekitar area ikut merasakan peningkatan pendapatan yang signifikan. Secara tidak langsung, tren ini juga mendorong para perajin makanan tradisional untuk tetap mempertahankan resep warisan leluhur mereka karena pasar yang terus bertumbuh.
Kesadaran Gen Z terhadap isu keberlanjutan juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Banyak dari pelancong muda ini yang mulai membawa wadah makan dan alat makan sendiri demi meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai selama berburu jajanan pasar. Melalui perpaduan antara kepedulian lingkungan, apresiasi budaya lokal, dan dukungan ekonomi terhadap UMKM, snackpacking terbukti bukan sekadar tren sesaat, melainkan model pariwisata berkelanjutan masa depan yang ramah lingkungan dan berdampak nyata bagi masyarakat kecil.
Sumber Referensi:
- American Express Travel (April 2026) – 2026 Global Travel Trends: Snackpacking, Savor the Journey, One Bite at a Time.
- Kementerian Pariwisata RI (Maret 2026) – Tren Wisata Snackpacking, Liburan Ala Gen Z untuk Eksplorasi Jajanan Lokal di Pasar Tradisional Indonesia.
- Booking.com (Oktober 2025) – Travel Predictions 2026: The Era of YOU and New Souvenir Trends.
- Pinterest Predicts (Desember 2025) – 2026 Trend Report on Consumer Behavior, Comfort, and Authenticity.
featured image: anakjajan.com