Thea News
Travel // 2026 Lea

Tata Ruang yang Istimewa dari Sumbu Filosofi Yogyakarta

Selain punya kebudayaan yang unik, Yogyakarta juga dibangun atas dasar tata ruang menarik. Namanya Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang kini telah ditetapkan jadi Warisan Budaya Dunia.

Tepat pada tanggal 31 Agustus menjadi peringatan yang begitu penting untuk salah satu provinsi di Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tanggal tersebut, 14 tahun silam, disahkan Undang-Undang terkait keistimewaan yang diberikan pada Indonesia. Undang-undang tersebut memuat hak-hak yang diberikan pada Yogyakarta sebagai daerah istimewa di Indonesia. Dalam peraturan itu, terdapat lima urusan khusus dengan perlakuan berbeda, diantaranya bagaimana tata cara pengisian jabatan kepala daerah, kelembagaan, kebudayaan, kepemilikan tanah, dan tata ruang yang telah diterapkan di daerah  ini. 
 

Status keistimewaan sebuah daerah di Indonesia diberikan dengan mempertimbangkan beberapa syarat utama, salah satunya yaitu telah memiliki bentuk pemerintahan sebelum Indonesia meredeka. Yogyakarta yang berakar dari Mataram Islam, telah berdiri sejak tahun 1700-an dengan tatanan pemerintahannya sendiri. Dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang nantinya bergelar menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana I. Sebagai negara yang berdaulat berbentuk monarki, Yogyakarta telah punya sistem sendiri yang sampai sekarang tidak berubah dan lebih lanjut dituliskan pada Undang-Undang Keistimewaan. Yogyakarta pun bergabung dengan Indonesia secara sukarela pada tahun 1945 dibawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwana IX melalui Maklumat 5 September.

 

Keunikan Tata Ruang di Yogyakarta
 

Bentuk pemerintahan di Yogyakarta mungkin bisa dibilang termasuk hal paling mencolok. Pasalnya, hanya di sini, sistem pemilihan kepala daerah tingkat satu beserta wakilnya tidak dipilih melalui pemilihan umum. Yogyakara tetap mempertahankan sistem keturunan, seperti halnya pemilihan raja pada sistem monarki, sehingga masa jabatannya pun ditentukan seperti raja. Namun, di sisi lain, orang kadang tidak menyadari betapa uniknya tata ruang di Yogykarta yang sulit ditemukan di tempat lain. Bukan dibangun sembarangan, tata ruang di Yogyakarta dijalankan sesuai dengan garis imajiner filosofis yang membentang dari selatan ke utara, melewati lokasi-lokasi krusial, serta menjadi patokan dalam pembangunan bangunan-bangunan di sekitarnya. Garis tersebut selanjutnya disebut Sumbu Filosofis Yogyakarta yang tetap lestari hingga kini. Menariknya, tata ruang tersebut mengandung sejumlah makna yang begitu bermakna untuk kehidupan manusia menjalani langkah setiap harinya. 

 

Tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta

 

Sumbu Filosofis Yogyakarta merupakan garis imajiner yang membujur dari Laut Selatan (tepatnya Parangkusuma) hingga ke Gunungapi Merapi di sisi utara. Kemudian, di dalamnya terdapat tiga bangunan utama yang menjadi titik utama, yaitu Panggung Krapyak di selatan, Kraton Yogyakarta, serta Tugu Golong Gilig (sekarang Tugu Paal Putih) di utara. Sitem ini diciptakan oleh raja pertama Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwana I, pada awal berdirinya kerajaan tersebut. Mengutip dari laman resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, pencetusan konsep ini berasal dari  prses menep atau perjalanan hidup Pangeran Mangkubumi. Menjadi bagian dari kerajaan sejak lahir, Pangeran Mangkubumi berupaya membangun wilayahnya sesuai konsepsi Jawa dengan merujuk pada bentang alam, diantaranya gunung, laut, sungai, juga daratan. Sumbu Filosofis Yogyakarta pun muncul dan jadi dasar tata rung yang sangat berpengaruh bagi masyarakat daerah ini. Prinsip dasar dari garis imajiner tersebut ialah Hamemayu Hayuning Bawana, yang bermakna mempercantik dan melestarikan dunia. Prinsip itu kemudian direpresentasikan oleh Pangeran Mangkubumi sebagai Laut Selatan dan Gunung Merapi. Pembangunan istana dipilih dekat dengan mata air, memperhitungkan kontur tanah, dan memilihan beragam vegetasi di sepanjang jalur yang mengelilingi kraton. 
 

Tiga Poros Utama yang Nyata

 

Terdapat fakta yang sebenarnya diyakin oleh umum jika Laut Selatan hingga Gunung Merapi memiliki garis lurus, ternyata tidak terlalu tepat. Oleh karena itu, bentuk nyata garis lurus itu berwujud jalan utama yang menghubungkan antara Panggung Krapyak, kraton, dan Tugu Golong Gilig. Di dalam konsep tata ruang ini, mengandung makna Sangkan Paraning Dumadi atau siklus perjalanan hidup manusia dari lahir sampai kembali asalnya lagi. Proses ini dimulai dari Panggung Krapyak yang berada di sisi selatan, dimana bangunan ini melambangkan lingga dan yoni, tempat dimana manusia pertama kali diciptakan, dikandung, dan akhirnya lahir. Sepanjang jalan menuju ke kraton, terdapat tumbuhan yang mewakili pertumbuhan manusia dari lahir sampai menjelang dewasa. Bangunan Panggung Krapyak dulunya digunakan sebagai tempat berburu sekaligus pertahanan kraton, berbentuk kubus dengan dua lantai utama. Sedangkan, perjalanan dari Tugu Golong Gilig ke kraton disebut paran atau kembali menuju ke Pencipta. Secara konsep dasar pembangunan, Tugu Golong Gilig tidak seperti Tugu Yogyakarta seperti sekarang. Tugu Golong Gilig berbentuk silinder dengan ketinggian menapai 25 meter. Bagian puncaknya berbentuk bulat panjang berwarna putih. Tugu ini melambangkan golonging cipta, rasa, lan karsa yang menghubungan manusia kepada Tuhan. Dulunya, Tugu Golong Gilig dijadikan arah pancer ketika Sri Sultan Hamengku Buwana I tengah bertapa. Dari Tugu Golong Gilig sampai kraton, dibimbing oleh tiga jalan utama yang akan membawa manusia menghadapi dunia. Pertama, ada Jalan Margatama, atau jalan keutamaan. Kedua, yaitu Jalan Maliabara (selanjutnya disebut Malioboro)  yaitu penerang dari ajan para wali. Ketiga, ada Jalan Margamulya atau jalan menuju kemuliaan. Untuk menuju ke titik mulia, manusia harus melewati berbagai hasrat dan nafsu duniawi, maka dari itu di sana terdapat satu jalan lagi yang bernama Jalan Pangurakan (ngurak artinya mengusir). Lalu, Kraton Yogyakarta sendiri berperan sebagai inti dari perjalanan manusia, titik balik dari pendewasaan dan kembali ke Sang Khalik. Di bagian depan Kraton Yogyakarta, tepatnya Alun-alun Utara, membentang tanah lapang berpasir. Makna dari area tersebut ialah segara wedi atau lautan pasir, yang bermakna kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, keseimbangan, serta sifat dasar manusia. 

 

Konsep Filosofis yang Digunakan

 

Sumbu Filosofi Yogyakarta menggunakan tiga konsep utama yang akhirnya hidup di antara masyarakatnya. Pertama, yaitu Hamemayu Hayuning Bawana, komitmen luhur dalam menjaga keindahan, kelestarian, serta keselamatan alam semesta, tercermin dari bagaimana segala pembangunan di Yogyakarta selalu memperhatikan bentang alam, struktur tanah, hingga bagaimana arah yang diambil. Kedua, Sangkan Paraning Dumadi, proses perjalanan kehidupan manusia dari lahir sampai kembali kepada Sang Pencipta. Melalui serangkaian perjalanan yang nyata adanya dialami oleh setiap insan, dari lahir, dewasa, dan akhirnya menuju ke akhir kehidupan. Mencari keutamaan dan kemuliaan, diantara hiruk pikuk duniawi yang begitu penuh nan sesak. Ketiga, Manunggaling Kawula Gusti, bersatunya antara manusia, pemimpin, dan pencipta. Kehidupan yang selaras, bisa diciptakan melalui hubungan harmonis antara mereka yang memimpin dan dipimpin. Hal ini dicerminkan dari struktur Tugu Golong Gilig, silinder dan bulat. Ketiga konsep itu selalu dipegang oleh warga Yogyakarta sebagai pelajaran hidup, agar selalu ingat bagaimana bersikap menjadi manusia beradab di dunia. 

 

Sumbu Filosofi Yogyakarta bukan sekada tata ruang belaka, melainkan sebuah mahakarya yang diciptakan dengan pertimbangan serta keteguhan hati penuh. Sumbu Filosofi Yogyakarta menciptakan ruang yang sarat akan makna penti untuk perjalanan kehidupan manusia. Konsep ini merupakan satu hal unik yang akhirnya jadi daya tarik tersendiri untuk Yogyakarta. Pada tahun 2023 lalu, tepatnya tanggal 18 September, Sumbu Filosofi Yogyakara akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. 

 

Featured image: pexels.com/AL FARIZ

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

3 Tempat yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan ke Qatar, Plus Tips Wisata untuk Turis Indonesia

Next Entry

Great Pyramid of Giza: Piramida Agung dan Misteri Abadi Peradaban Mesir Kuno

Next Entry

3 Negara dengan Cave Tubing Terbaik di Dunia