Update Kasus Jeju, Penemuan Jasad yang Ungkap Kecurangan Aparat
Perkembangan kasus kriminal di Jeju masih berlanjut. Sejak ditemukannya beberapa korban di sejumlah lokasi, babak baru mengungkap andilnya oknum polisi yang sengaja menghapus laporan orang hilang.
Korea Selatan saat ini tengah menghadapi kondisi mencekam, khususnya di Pulau Jeju. Selama beberapa hari terakhir, mzsyarakat digegerkan dengan kasus orang hilang, diikuti penemuan mayat di kawasan laut Pulau Jeju. Hal ini lantas menarik perhatian publik sebab korbannya tidak hanya satu, melainkan sudah ada 4 orang. Dari penemuan jasad tersebut, kemudian terkuak fakta yang lebih mengejutkan lagi karena melibatkan aparat hukum yang bertugas. Sampai saat ini, temuan demi temuan terus diupayakan untuk menuntaskan kasus yang diduga pembunuhan berantai.
Bagaimana perkembangan kasusnya? Selengkapnya bisa di cek di bawah!
Penemuan Jasad di Beberapa Lokasi
Berita tentang penemuan mayat di Jocheon menjadi cikal bakal terbukanya kasus mendebarkan di Jeju, sepanjang 2026 ini. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Agustus dini hari, waktu setempat, ketika seorang pemancing menemukan jasad berjenis kelami laki-laki. Dari karakter fisiknya, jasad diduga telah berusia 70 tahun. Penemuan jasad ini ternyata berhubungan dengan laporan hilang yang baru masuk sehari sebelumnya. Kemudian, di hari berikutnya, pada tanggal 24 Agustus, kembali ditemukan jasad berjenis kelamin perempuan yang diduga kuat bernama Jang Miran, berusia sekitar 37 tahun. Berbeda dari jasad yang dilaporkan hilang sehari sebelumnya, Jang Miran ternyata telah dilaporkan hilang selama 104 hari lamanya. Pada hari yang yang sama, kepolisian juga turut menangani penemuan mayat di lembah Aewol dan jasad perempuan usia 50-an di Jeju. Lalu, menarik sehari pada tanggal 22 Agustus, sempat ditemukan jasad laki-laki berusia 60-an yang ditemukan di Gujwa. Jadi, selama tiga hari berturut-turut Kepolisian Jeju harus menghadapi lima kasus penemuan jasad di beberapa tempat. Tentu, jumlah ini tidak sedikit.
Ditutupi Oleh Aparat Berwenang
Kasus penemuan jasad di Jeju yang menjurus ke tindakan kriminal ini semakin mencekam setelah diketahui adanya korelasi antara penemuan Jang Miran dan laki-laki berusia 60-an di Gujwa. Keduanya nyatanya ditangani oleh pihak polisi yang sama. Oknum kepolisian itu bermarga Bu, yang dengan sengaja menutup kasus Jang Miran pada bulan Mei lalu. Polisi tersebut mengatakan bahwa pihaknya telah berhasil menghubungi Jang dan mengungkapkan kondisinya baik-baik saja. Ternyata hal serupa dilakukannya pada kasus laki-laki berusia 60-an di Gujwa. Keluarga Jang Miran pun akhirnya memutuskan untuk melaporkan ulang karena sampai dilaporan sebelumnya, Jang belum juga kembali. Ternyata baru terungkap jika kasus Jang Miran dan jasad di Gujwa sengaja dihapus dari sistem, sehingga seolah-olah sudah selesai.
Kejanggalan Kasus Korban Jang dan Laki-laki di Gujwa
Dari sejumlah korban yang ditemukan selama beberapa hari terakhir di Jeju, kasus Jang Miran dan dan laki-laki berusia 60-an di Gujwa menjadi hal yang disoroti oleh masyarakat umum. Pasalnya, laporan hilang atas nama Jang Miran sudah masuk pada bulan Mei, tidak lama ketika Jang tidak kembali ke penginapan. Laporan ini diserahkan oleh sang kekasih ke pihak Kepolisian Jeju Seobu. Namun, dari pihak kepolisian, yang saat itu diwakili Polisi Bu, menyatakan telah berkomunikasi dengan Jang. Dilanjutkan jika Jang tidak ingin diungkapkan keberadaannya pada pihak keluarga serta berada pada posisi aman. Pernyataan tersebut secara otomatis menjadi jaminan bahwa kasus itu ditutup sepihak oleh kepolisian. Perasaan janggal mulai melingkupi pihak keluarga ketika Jang tidak kunjung pulang ke rumah, bahkan setelah berbulan-bulan. Kemudian, keluarga akhirnya melaporkan kembali pada tanggal 19 Juli kemarin. Penemuan jasad di Lembah Aewol pada tanggal 24 Agustus lalu memberikan secercah titik terang yang diduga kuat ialah Jang Miran. Bukti-bukti lain yang mendukung identitas jasad itu berasal dari ponsel korban, gelang emas, pakaian, tapi tidak ditemukan surat wasiat apapun, meskipun tubuhnya memang sudah membusuk, hingga sulit diidentifikasi. Langkah autopsi pun diambil untuk memperjelas fakta sebenarnya. Pengecekan lebih lanjut dilakukan pada ponsel yang mengungkap tidak terdapat riwayat telepon dengan Polisi Bu serta adanya bukti penghapusan bukti CCTV di hari kejadian. Sedangkan untuk kasus laki-laki yang ditemukan di Gujwa, keluarga mengaku sudah memberikan laporan pada kepolisian. Sebelum memutuskan untuk pergi di bulan Juni, diketahui bahwa korban memang memiliki hutang berjuta-juta won dan terancam tidak bisa melunasinya. Lalu, korban mengirimkan serangkaian pesan-pesan singkat aneh pada anak-anaknya dan pergi tanpa kabar. Jasad laki-laki itu akhirnya ditemukan pada tanggal 22 Agustus kemarin.
Pemalsuan Data Orang Hilang dan Sistem Kepolisian
Kebenaran yang miris harus diterima masyarakat Korea Selatan, khususnya para aparat kepolisian yang saat ini tengah dilanda krisis kepercayaan akibat kelakuan oknum yang terlibat dalam kasus penemuan jasad di Jeju pada beberapa hari belakangan. Hasil penyelidikan mengungkapkan bahwa oknum polisi tersebut setidaknya sudah menutup kasus ornag hilang secara sepihak sebanyak 298 kali tanpa ketahuan. Oknum Polisi Bu tersebut melakukan penutupan kasus setelah memberikan konfirmasi palsu tentang keselamatan para korban pada pelapor. Hal ini mendapatkan kritikan serius dari Anggota Dewan dari Partai Demokrat Korea, Lee Sangsik, karena tindakan impulsive tersebut menunjukan indikasi pengabaian. Pada tanggal 22 Agustus, Polisi Bu langsung ditangkap di tempat, tapi akhirya dibebaskan kembali sebab penangkapan itu tidak memenuhi kriteria hukum terkait urgensi. Walaupun begitu, pihak yang berwenang sudah mengajukan surat perintah penangkapan resmi. Oknum Polisi Bu dipastikan telah melanggar pasal hukum berlapis dan tidak bisa lari dari jerat hukum. Akibat kelakuan salah satu oknum tersebut, empat perwira senior Kepolisian Jeju Seobu harus dicpot per tanggal 25 Agustus lalu. Empat perwira tersebut adalah Kepala Kantor Polisi Jeju Seobu, mantan Kepala Kantor Polisi yang menjabat ketika kasus Jang Miran masuk, Kepala Divisi Reserse, dan Pemimpin Tim Penanganan kasus orang hilang. Keempat petugas kepolisian itu telah dibebastugaskan dengan peninjauan apakah selama bekerja melakukan pengawasan dengan benar, berkaitan tanggung jawab komando yang telah ternoda. Adanya kasus ini memaksa evaluasi menyeleruh terhadap kasus orang hilang yang ada di kepolisian Korea Selatan dari kurun waktu tertentu sampai saat ini.
Himbauan untuk Wisatawan yang Akan Pergi Ke Jeju
Muncul serentetan penemuan jasad serta kejahatan pemalsuan laporan orang hilang, memberikan trust issue yang besar untuk masyarakat lokal hingga turis yang berwisata ke sana. Jeju memang jadi tempat yang indah untuk liburan, punya lingkungan asri, dikelilingi lautan biru, serta kuliner lezat di setiap sudutnya. Sayangnya, kejadian kriminal, seperti orang hilang hingga penghilangan nyawa memang marak di sini. Masyarakat setempat sering memberikan himbauan pada pendatang agar berhati-hati, sebab bisa jadi mereka bisa saja mengalami kejadian yang tidak diinginkan ketika berlibur. Mengutip beberapa sumber yang beredar di internet, banyak orang mengaku telah mengalami kejadian serupa, seperti hampir berkelahi dengan orang asing, diancam, dan sebagainya. Padahal, kondisinya sedang berada di tempat umum. Terlebih setelah penemuan beberapa jasad dengan ketidakjelasan apa yang terjadi pada par korban, semakin memberikan peringatan bahwa Jeju sedang tidak aman.
Kasus kriminal penemuan jasad di Jeju masih bergulir sampai sekarang. Tindakan forensic masih dilakukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada para korban serta mengejar pelaku keji yang tega menghabisi nyawa seseorang. Selain itu, pengadilan terhadap Polisi Bu juga masih berlanjut dan belum menemukan titik temu teradil.
Featured image: pexels.com/Siobhan Howerton